Rabu, 15 Juli 2020

VARIASI/MACAM-MACAM INDIVIDU DALAM PEMBELAJARAN MENURUT ISLAM DAN PSIKOLOGI

 

BAB I

PENDAHULUAN

 

 

A.    Latar Belakang

Di dalam sebuah lingkungan belajar seperti ruang kelas terdapat berbagai macam karakteristik peserta didik. Sebagian besar orang menganggap di dalam proses pembelajaran tidak ada perbedaan antara siswa satu dengan siswa yang lainnya. Semua siswa dianggap sama rata. Siswa diberi materi yang sama, menggunakan bahan ajar yang sama, cara belajar yang sama, mendapat perlakuan yang sama dari pengajar dan diharapkan mendapat hasil belajar yang semuanya baik. Padalah seperti yang diketahui, setiap individu memiliki karakteristik yang berbeda-beda. Begitu pula dengan siswa, sebagai individu, siswa yang satu dengan yang lainnya memiliki perbedaan. Perbedaan antar inidividu tersebut nantinya dapat berpengaruh bagaimana proses belajar akan berlangsung. Guru sebagai seorang pengajar tidak bisa begitu saja menyamaratakan semua anak didiknya. Untuk mencapai proses pembelajaran yang optimal, seorang guru harus mengetahui apa saja yang dibutuhkan siswanya dan berusaha membantu memenuhi kebutuhannya dalam belajar.

Seorang guru sebagai salah satu fasilitator dalam pembelajaran sebaiknya dapat memastikan setiap anak didiknya mendapatkan apa yang ia butuhkan. Oleh karena itu, seorang guru dituntut untuk dapat memahami perbedaan-perbedaan individu tiap anak didiknya. Dengan memahami hal tersebut, diharapkan guru dapat menyediakan upaya-upaya agar setiap siswa dapat mengikuti proses pembelajaran seefektif mungkin.

 

B.     Rumusan Masalah   

1.      Macam-macam individu dalam proses pembelajaran menurut Islam?

2.      Macam-macam individu dalam proses pembelajaran menurut psikologi?

3.      Bagaimana cara menyikapi perbedaan individu tersebut?

 

C.    Tujuan Penulisan

1.      Menjelaskan macam-macam individu dalam proses pembelajaran menurut Islam

2.      Menjelaskan macam-macam individu dalam proses pembelajaran menurut psikologi

3.      Menguraikan cara menyikapi perbedaan individu tersebut

BAB II

VARIASI/MACAM-MACAM INDIVIDU DALAM PEMBELAJARAN MENURUT ISLAM DAN PSIKOLOGI

 

 

Variasi atau macam-macam individu dalam pembelajaran yang dimaksud disini adalah macam-macam individu dalam proses pembelajaran disekolah. Dalam proses belajar mengajar di sekolah meskipun  guru dan materi pelajaran yang dipelajari siswa serta waktu yang dan lingkungan belajar di kelas bagi setiap siswa juga sama, tetapi terjadi perbedaan individu dalam hasil belajar. Hal itu kemungkinan besar karena kondisi setiap individu siswa masing-masing berbeda, sehingga proses belajar yang dilakukan siswa juga berbeda-beda.[1]

 

A.    Macam-macam Individu Menurut Islam

Mempertimbangkan fakta bahwa kehendak Allah bervariasi dalam penciptaan masing-masing individu, perbedaan individu telah mulai ditentukan sebelum munculnya keberadaan manusia. Dapat dikatakan setiap individu yang dilahirkan ke dunia itu unik.[2] Perbedaan individual merupakan kehendak Allah dan ditentukan melaui pembawaan hereditas dan pengaruh lingkungan. Alquran menyatakan bahwa Allah menciptakan dan membentuk setiap manusia dalam rahim ibunya dengan cara dan bentuk yang berbeda dan unik seperti yang diinginkan-Nya:[3]

$pkšr'¯»tƒ ß`»|¡RM}$# $tB x8¡xî y7În/tÎ/ ÉOƒÌx6ø9$# ÇÏÈ   Ï%©!$# y7s)n=yz y71§q|¡sù y7s9yyèsù ÇÐÈ   þÎû Ädr& ;ouqß¹ $¨B uä!$x© št7©.u ÇÑÈ  

Artinya: “Hai manusia, Apakah yang telah memperdayakan kamu (berbuat durhaka) terhadap Tuhanmu yang Maha Pemurah. yang telah menciptakan kamu lalu menyempurnakan kejadianmu dan menjadikan (susunan tubuh)mu seimbang, dalam bentuk apa saja yang Dia kehendaki, Dia menyusun tubuhmu.” (Q.S. Al-Infithar: 6-8)

 

uqèd Ï%©!$# óOà2âÈhq|ÁムÎû ÏQ%tnöF{$# y#øx. âä!$t±o 4 Iw tm»s9Î) žwÎ) uqèd âƒÍyèø9$# ÞOŠÅ3ysø9$# ÇÏÈ  

Artinya: “Dialah yang membentuk kamu dalam rahim sebagaimana dikehendaki-Nya. tak ada Tuhan (yang berhak disembah) melainkan Dia, yang Maha Perkasa lagi Maha Bijaksana.” (Q.S. Ali Imran: 6)

                Ayat ini menunjukkan karena masing-masing individu dibentuk dalam rahim ibunya oleh Allah dengan cara dan bentuk yang unik, individu memiliki perbedaan dalam segala kecendrungan fisiopsikologis mereka. Hal ini merupakan faktor dasar yang membuat adanya perbedaan individu antarmanusia. Lebih lanjut, dan dalam pernyataan yang jelas, Alquran menyatakan manusia berbeda-beda satu sama lainnya dalam sifat, karakter, perilaku dan perbutan sesuai firman Allah Swt.:

ö@è% @@à2 ã@yJ÷ètƒ 4n?tã ¾ÏmÏFn=Ï.$x© öNä3š/tsù ãNn=÷ær& ô`yJÎ/ uqèd 3y÷dr& WxÎ6y ÇÑÍÈ  

Artinya: “ Katakanlah: "Tiap-tiap orang berbuat menurut keadaannya masing-masing". Maka Tuhanmu lebih mengetahui siapa yang lebih benar jalan-Nya.” (Q.S. Al-Isra: 84)

              Ayat ini menyatakan bahwa setiap individu memiliki disposisi yang unik. Keunikan yang demikian dapat termanifestasi dalam bentuk fisik, kognitif, emosional, moral dan karakteristik sosial. Alquran, dengan demikian, menyatakan bahwa perbedaan individual antarmanusia tidak hanya meliputi perkembangan kognitif, namun juga seluruh aspek perkembangan. Dengan melihat hal ini, orang akan melihat bahwa perbedaan individu merupakan hal yang sangat diperhatikan bahkan dalam berbagai perintah dan larangan Alquran untuk menaati Allah dan juga keringanan dalam memenuhi kewajiban-Nya. Contoh tipikal dari ayat ini adalah perintah untuk memenuhi peraturan Allah, semampu mungkin, baik secara individu maupun kolektif:

(#qà)¨?$$sù ©!$# $tB ÷Läê÷èsÜtFó$# (#qãèyJó$#ur (#qãèÏÛr&ur (#qà)ÏÿRr&ur #ZŽöyz öNà6Å¡àÿRX{ 3 `tBur s-qム£xä© ¾ÏmÅ¡øÿtR y7Í´¯»s9'ré'sù ãNèd tbqßsÎ=øÿçRùQ$# ÇÊÏÈ  

Artinya: “Maka bertakwalah kamu kepada Allah menurut kesanggupanmu dan dengarlah serta taatlah dan nafkahkanlah nafkah yang baik untuk dirimu. dan Barangsiapa yang dipelihara dari kekikiran dirinya, Maka mereka Itulah orang-orang yang beruntung.” (Q.S. At-Taghaabun: 16)

Dalam ayat di atas, Allah mengalamatkannya baik pada individu maupun kolektif. Masing-masing individu diharapkan untuk bertaqwa dan mematuhi-Nya sejauh dapat diusahakan secara individual.

 

óOèdr& tbqßJÅ¡ø)tƒ |MuH÷qu y7În/u 4 ß`øtwU $oYôJ|¡s% NæhuZ÷t/ öNåktJt±ŠÏè¨B Îû Ío4quŠysø9$# $u÷R9$# 4 $uZ÷èsùuur öNåk|Õ÷èt/ s-öqsù <Ù÷èt/ ;M»y_uyŠ xÏ­GuÏj9 NåkÝÕ÷èt/ $VÒ÷èt/ $wƒÌ÷ß 3 àMuH÷quur y7În/u ׎öyz $£JÏiB tbqãèyJøgs ÇÌËÈ  

Artinya: “Apakah mereka yang membagi-bagi rahmat Tuhanmu? Kami telah menentukan antara mereka penghidupan mereka dalam kehidupan dunia, dan Kami telah meninggikan sebahagian mereka atas sebagian yang lain beberapa derajat, agar sebagian mereka dapat mempergunakan sebagian yang lain. dan rahmat Tuhanmu lebih baik dari apa yang mereka kumpulkan.” (Q.S. Az-Zukhruf: 32)

Menurut Ibnu katsir, Allah menerangkan dalam ayat ini bahwa Dia menciptakan keberagaman pada makhluk-makhluk-Nya, termasuk manusia, dalam hal kekayaan, intelektual, pemahaman, dan kemampuan lain yang bersifat internal dan eksternal.

$£Jn=sù $pk÷Jyè|Êur ôMs9$s% Éb>u ÎoTÎ) !$pkçJ÷è|Êur 4Ós\Ré& ª!$#ur ÞOn=÷ær& $yJÎ/ ôMyè|Êur }§øŠs9ur ãx.©%!$# 4Ós\RW{$%x. ( ÎoTÎ)ur $pkçJø£Jy zOtƒötB þÎoTÎ)ur $ydäŠÏãé& šÎ/ $ygtG­ƒÍhèŒur z`ÏB Ç`»sÜø¤±9$# ÉOŠÅ_§9$# ÇÌÏÈ  

Artinya: “Maka tatkala isteri 'Imran melahirkan anaknya, diapun berkata: "Ya Tuhanku, sesunguhnya aku melahirkannya seorang anak perempuan; dan Allah lebih mengetahui apa yang dilahirkannya itu; dan anak laki-laki tidaklah seperti anak perempuan. Sesungguhnya aku telah menamai Dia Maryam dan aku mohon perlindungan untuknya serta anak-anak keturunannya kepada (pemeliharaan) Engkau daripada syaitan yang terkutuk." (Q.S. Ali Imran: 36)

Perbedaan yang diacu oleh ayat ini memiliki rentang yang luas. Intinya, hal ini menunjukkan adanya perbedaan postur biologis dan kecendrungan psikologis. Tidak dapat diragukan bahwa laki-laki dan perempuan memiliki postur biologis dan sifat yang berbeda yang menghasilkan sejumlah besar perbedaan dalam pola perkembangannya. Pertumbuhan anak perempuan dalam tahap remaja lebih cepat daripada anak laki-laki.[4]

 

B.     Macam-macam Perbedaan Individu Menurut Psikologi

Perbedaan individual menunjukkan pada banyaknya variasi dan variabilitas dari perbedaan-perbedaan yang dimiliki individu.[5] Menurut Oemar Hamalik (2003: 181-186) menyebutkan terdapat bentuk-bentuk perbedaan individu yang sering dikaji sehingga perlu diperhatikan dalam proses pembelajaran, antara lain:

1.      Kecerdasan (intelegence)

2.      Bakat (aptitude)

3.      Keadaan jasmaniah (physical background)

4.      Penyesuaian sosial dan emosional (social and emotional adjustment)

5.      Latar belakang keluarga (home background)

6.      Hasil belajar (academic achievment)

7.      Siswa yang cepat dan lambat dalam belajar, dan

8.      Siswa yang mengalami kesulitan-kesulitan jasmani, berbicara, dan menyesuaikan diri secara sosial.

Seperti yang sudah di jelaskan sebelumnya, setiap manusia merupakan individu yang unik dan berbeda antara satu dengan yang lainnya. Begitu pula di dalam sebuah proses pembelajaran. Peserta didik selaku individu memiliki karakteristik tersendiri yang membedakan antara satu dengan yang lainnya. Khususnya dalam proses pembelajaran. Sebagai seorang pengajar dan pendidik guru tidak bisa meremehkan perbedaan-perbedaan yang ada. Berikut akan dijabarkan macam-macam perbedaan individual dalam proses pembelajaran.

1.      Perbedaan gender dan jenis kelamin.

Istilah gender dan jenis-kelamin sering dianggap sama. Perbedaan jenis kelamin terkait dengan perbedaan biologis atau fisik yang tampak antara laki-laki dengan perempuan. Sedangkan perbedaan gender merupakan aspek psikososial yang berbeda antara laki-laki dan perempuan. Perbedaan gender termasuk dalam hal peran, tingkah laku, kecenderungan, sifat, dan atribut lain yang menjelaskan arti menjadi seorang laki-laki atau perempuan.

Dalam proses pembelajaran sebenarnya perbedaan jenis kelamin dan gender itu sendiri tidak bisa dikatakan penentu keberhasilan belajar para siswa. Namun faktor sosial dan kultural dapat menyebabkan adanya perbedaan gender dalam prestasi akademik. Faktor tersebut meliputi familiaritas siswa dengan mata pelajaran, perubahan aspirasi pekerjaan, persepsi terhadap mata pelajaran khusus yang dianggap tipikal gender tertentu, dan harapan guru terhadap siswa.

Perbedaan gender terkait dengan kemampuan akademik siswa terlihat pada perbedaan kemampuan verbal, kemampuan spasial, kemampuan matematika dan sains. Pada umumnya dalam mata pelajaran matematika dan sains, perempuan cenderung menunjukkan prestasi yang lebih baik dari laki-laki. Namun pada tahun-tahun berikutnya di sekolah menengah, prestasi perempuan cenderung menurun dan laki-laki menunjukkan prestasi yang meningkat. Padahal sebenarnya dalam penelitian kemampuan kognitif tidak ada yang menunjukkan bahwa laki-laki mempunyai bakat yang lebih besar dalam pelajaran sains dan matematika.[6]

Keadaan ini memunculkan mitos bahwa perempuan dianggap tidak dapat mengerjakan pelajaran matematika dan sains dengan baik, sehingga menyebabkan adanya perbedaan perlakuan terhadap siswa laki-laki dan perempuan. Dalam proses pembelajaran khususnya matematika, seringkali guru lebih memperhatikan siswa laki-laki dibandingkan perempuan, sehingga perempuan merasa tidak harus menguasai pelajaran. Hal ini menimbulkan motivasi belajar matematika siswa perempuan menjadi rendah. Perempuan merasa tidak perlu mempelajari matematika karena pelajaran tersebut dikhususkan untuk laki-laki saja.

2.      Perbedaan kemampuan

Pada umumnya, kemampuan sering disamaratakan dengan kecerdasan. Dalam konteks perbedaan individual, kecerdasan merujuk pada kemampuan belajar siswa. Sejak lahir manusia diberi kecerdasan yang berbeda-beda. Perbedaan kecerdasan tersebut dapat dilihat dari perbedaan skor IQ yang didapat dari hasil test kecerdasan. Angka yang didapatkan dari skor menunjukkan tingkatan kemampuan intelejen siswa. Dari penggolongan skor IQ tersebut, terdapat dua jenis golongan yang perlu mendapat perhatian yaitu gifted dan retarded.

 

a.       Gifted (Anak cerdas)

Kelompok ini merupakan kelompok dengan IQ di atas 140.[7] Dalam proses pembelajaran khususnya matematika, siswa yang tergolong gifted ditunjukkan dengan prestasi belajar yang tinggi. Siswa gifted akan mudah memahami pelajaran yang diberikan bahkan lebih dahulu mempelajari materi yang belum diajarkan. Mereka dapat mengerjakan soal-soal sulit yang kebanyakan siswa tidak bisa mengerjakannya. Bahkan terkadang siswa gifted dapat mengerjakan soal-soal untuk tingkat yang lebih tinggi.

Karakteristik siswa gifted yang terlihat dalam proses pembelajaran antara lain prestasinya yang di atas rata-rata, cara berfikir yang kreatif dan komitmen terhadap tugas yang tinggi. Pada saat proses belajar-mengajar berlangsung misalnya, saat guru menjelaskan tentang suatu rumus matematika, siswa pada umumnya akan menelan bulat-bulat penjelasan yang mereka terima. Namun siswa gifted biasannya akan aktif bertanya darimana rumus itu berasal, bagaimana mendapatkan penyelesaian masalah dengan rumus lain dan sebagainya. Begitu pula dalam mengerjakan tugas, ia akan mengerjakan tugas yang sulit-sulit, sedangkan tugas yang mudah tidak akan dikerjakannya karena dianggapnya membosankan.

Siswa gifted memiliki kemungkinan kesulitan bersosialisasi. Akan terjadi kesenjangan sosial antara anak gifted dan siswa lainya. Ia menganggap siswa lain dengan kemampuan jauh dibawahnya tidak sebanding dengan dirinya sehingga menarik diri dari pergaulan. Kemungkinan lainnya yaitu siswa gifted akan menganggap remeh gurunya karena kemampuannya mungkin melebihi sang guru. Ia menganggap belajar di dalam kelas membosankan karena materi yang diajarkan terlalu mudah.

b.      Retarded (Anak terbelakang)

Siswa yang tergolong retarded yaitu yang memiliki IQ dibawah 70. Pada umumnya siswa retarded mendapat perhatian yang lebih khusus dan terpisah dengan siswa pada umumnya. Anak retarded terbagi menjadi beberapa klasifikasi yaitu mild (IQ 50-70), moderate (IQ 36-50), severe retardation  (IQ 20-36), dan profound (IQ dibawah 20).

Siswa retarded membutuhkan bimbingan yang lebih khusus untuk belajar. Pengajaran kepada siswa retarded lebih diutamakan untuk bersosialisasi dan keterampilan yang sesuai dengan bakatnya. Pembelajaran seperti matematika tidak perlu ditekankan. Hanya untuk siswa dengan tingkat kecerdasan yang mendekati normal. Sedangkan untuk anak yang tergolong moderate dan severe retarded lebih ditekankan pada bimbingan untuk merawat dirinya sendiri.

 

3.      Perbedaan Kepribadian

Menurut asal katanya, kepribadian atau personality berasal dari bahasa latin personare, yang berarti mengeluarkan suara (to sound through). Istilah ini digunakan untuk menunjukkan suara dari percakapan seorang pemain sandiwara melalui topeng (masker) yang dipakainya. Pada mulanya istilah persona berarti topeng yang dipakai oleh pemain sandiwara, dimana suara pemain sandiwara itu diproyeksikan. Kemudian kata persona itu berarti pemain sandiwara itu sendiri.[8] Sedangkan definisi kepribadian menurut Atkinson dkk adalah pola perilaku dan cara berpikir yang khas, yang menentukan penyesuaian diri seseorang terhadap lingkungan. Seseorang mempunyai kepribadian yang berbeda satu dan lainya. Perbedaan kepribadian menyebabkan adanya perbedaan perilaku dalam proses kegiatan belajar pula. Terdapat berbagai model untuk menunjukkan perbedaan kepribadian, salah satunya yaitu model big five. Dalam model big five kepribadian dikelompokkan menjadi lima dimensi.

a.       Extroversion

Siswa dengan kepribadian ini menyukai belajar dengan berkelompok. Mereka sangat antusias dalam diskusi kelompok. Sedangkan siswa introvert cenderung menyukai belajar seorang diri. Bukan karena menarik diri dari pergaulan, namun siswa tipe ini membutuhkan keadaan yang tenang untuk menyerap materi pelajaran.

b.      Agreeableness

Siswa jenis ini senang bergaul dengan orang lain dan terbuka dengan pendapat orang lain. Sedangkan disagreeable akan mempertahankan pendapatnya sendiri. Dalam proses belajar matematika siswa disagreeable dapat menunjukkan sikap kritisnya. Misalnya saat mengerjakan soal yang berbentuk pembuktian, jika siswa disagreeable merasa dirinya benar, ia akan mempertahankan jawabannya dengan membuktikan kebenarannya. Siswa ini hanya dapat menerima jawaban lain apabila jawabannya terbukti salah dengan dalil-dalil yang sudah ada. Sedangkan siswa agreeable kemungkinan menerima semua jawaban tanpa mencoba membuktikan dulu apakah jawaban itu benar atau salah.

c.       Concientiousness

Berkaitan dengan cara seseorang mengontrol, mengatur dan memerintah inpuls. Anak yang conscientious akan menghindari kesalahan, mempunyai tujuan yang jelas dan gigih demi mencapai tujuan yang diinginkannya. Sedangkan unconcientious kurang berambisi, tidak terikat dengan tujuan yang harus dicapai. Siswa conscientious cenderung serius dan bersungguh-sungguh dalam belajar demi mencapai target prestasi yang terbaik. Namun hal ini menyebabkan hubungan dengan sesama temannya terlihat kaku karena terpaku pada belajar saja. Sedangkan siswa unconcientious lebih luwes dalam bergaul namun kurang dapatserius dalam belajar.

d.      Stabilitas emosional

Neoriticism merujuk pada kecenderungan untuk mengalami emosi negatif. Siswa yang mempunyai neoriticism yang tinggi akan mudah terpancing oleh hal-hal yang kecil. Mereka mudah terganggu pada saat belajar sehingga menyebabkan bad mood dan akhirnya mengganggu proses belajar. Siswa yang tingkat neoriticism nya rendah dapat mengontrol emosi dengan baik sehingga tidak mudah terganggu oleh hal-hal kecil.

e.       Openness to experience

Kepribadian siswa yang terbuka dengan hal-hal yang baru dan mau mencoba. Berani mengambil resiko demi menjawab keingintahuan mereka. Dalam pembelajaran, siswa dengan tipe ini tidak cepat puas dengan apa yang mereka dapatkan di pelajaran. Siswa akan mencoba soal-soal yang baru, mencari rumus-rumus baru yang berkaitan dengan topic yang sedang mereka pelajari. Sedangkan siswa pada umumnya mugnkin hanya menerima apa yang mereka dapat saja.

4.      Perbedaan gaya belajar

Setiap inidividu mempunyai cara tersendiri dalam memahami sesuatu. Begitu pula cara siswa dalam menyerap materi pelajaran yang didapatkan dari guru berbeda-beda. Gaya belajar siswa berkaitan dengan cara belajar yang mereka sukai, atau yang mereka anggap paling efektif. Gaya belajar siswa juga dapat dipengaruhi bentuk kepribadiannya. Seperti siswa dengan kepribadian extrovert akan senang dengan pembelajaran yang melibatkan kelompok. Siswa yang introvert lebih menyukai belajar di tempat yang tenang.

Namun gaya belajar tidak bersifat statis, artinya dapat berubah-ubah sesuai dengan situasi. Misalnya dalam pembelajaran yang membutuhkan visualisasi dan praktek dalam kehiuspan sehari-hari. Siswa yang terbiasa belajar sendiri mungkin akan merasa kesulitan dalam visualisasi dan membutuhkan bantuan orang lain. Siswa tersebut mau tidak mau harus bertanya pada siswa lain, dengan begitu akan terciptalah kelompok diskusi.

 

C.    Upaya Menyikapi Perbedaan Individu dalam Proses Pembelajaran

Seperti yang telah dijelaskan sebelumnya, di dalam sebuah proses pembelajaran terdapat siswa dengan berbagai perbedaan individual. Perbedaan itu sangatlah lumrah dan tidak dapat dihindari. Sebagai seorang pengajar yang baik, guru tidak dapat meniadakan perbedaan-perbedaan tersebut dengan menganggap semua siswa sama. Oleh karena itu dibutuhkan upaya dalam menyikapi perbedaan-perbedaan setiap siswa. Upaya tersebut dapat berupa cara mengajar yang bervariatif.

Untuk menyikapi perbedaan gender antara siswa laki-laki dan perempuan di kelas, hendaknya guru memberikan pengertian bahwa pembelajaran khususnya matematika tidak hanya diperuntukkan untuk laki-laki saja. Guru memberikan kesempatan pada siswa perempuan untuk dapat lebih aktif dalam pembelajaran. Selain itu membantu siswa yang kurang memahami pelajaran baik itu siswa laki-laki maupun siswa perempuan.

Menyikapi perbedaan kemampuan siswa di dalam kelas dapat dengan cara variasi dalam penyampaian materi. Siswa dengan kecerdasan tinggi dapat menerima materi yang diajarkan dengan cepat. Namun siswa yang mempunyai kecerdasan rata-rata kebawah mungkin akan membutuhkan sekali dua kali pengulangan lagi. Siswa gifted membutuhkan perhatian khusus agar tidak terjadi ketimpangan dengan siswa lainnya. Guru menjelaskan materi secara umum untuk seluruh siswa. Kemudian guru memberikan soal-soal latihan bagi siswa-siswa yang dirasa telah jelas dengan materi yang disampaikan. Setelah itu guru menanyakan lagi kepada siswa lainnya jika ada materi yang perlu dijelaskan kembali.

Perbedaan kepribadian dan gaya belajar siswa dapat disikapi dengan variasi metode pengajaran oleh guru. Pada pertemuan pertama biasanya digunakan guru untuk mengobservasi macam-macam perilaku siswa ketika di kelas, sehingga guru mempunyai referensi untuk menentukan metode mengajar yang akan digunakan. Misalnya untuk menyikapi anak extroversion, guru sesekali mengadakan diskusi kelompok untuk memudahkan belajar siswa extrovert. Pemberian tugas mandiri atau tugas rumah akan memberi kesempatan siswa introvert untu lebih memahami materi sendiri.

Menyikapi siswa yang kritis diperlukan metode pembelajarn yang terbuka. Memberi kesempatan siswa untuk mencoba dan membuktikan jawaban yang benar atau salah. Guru juga harus memberi jalan untuk siswa yang mengeksplorasi materi yang diajarkan. Tetapi perlu diperhatikan agar tidak memaksakan kehendak kepada siswa-siswa karena akan menjadi beban mereka. Selain itu guru diharapkan dapat memberi motivasi secara terus menerus kepada siswa untuk dapat berprestasi.

 

 

 

 

BAB III

PENUTUP

 

 

Simpulan

 

Dalam proses pembelajaran khususnya mata pelajaran matematika, sudah sewajarnya terdapat perbedaan antara siswa satu dengan yang lain. Tugas seorang guru adalah memenuhi kebutuhan setiap siswanya. Dengan memahami perbedaan individu yang ada pada siswa-siswanya, guru dapat mengantisipasi dengan memberikan metode pembelajaran yang bervariatif sehingga semua siswanya dapat mengikuti pembelajaran matematika dengan baik.

 

 

 

 

 

 

 

 

 

 

 

 

 

 

 

 

 

 

 

 

 

 

 

DAFTAR PUSTAKA

 

 

Al Maruzy, Amir, 2010. Karakteristik dan Perbedaan Individu.             (http://edukasi.kompasiana.com/2010/09/01/karakteristik-dan-perbedaan-individu/).           Diakses pada Senin tanggal 19 Maret 2018.

 

B. Purwakania Hasan, Aliah, 2006., Psikologi Perkembangan Islami: Menyingkap Rentang           Kehidupan Manusia dari Prakelahiran hingga Pascakematian, Jakarta: PT        RajaGrafindo Persada

 

Hashim, Shahabuddin dkk., 2006., Psikologi Pendidikan, Kuala Lumpur: PTS Professional           Publishing

 

Irham, Muhammad, Novan Ardy Wiyani, 2017., Psikologi Pendidikan: Teori dan Aplikasi            dalam Proses Pembelajaran, Jogjakarta: Ar-Ruzz Media

 

Purwanto, MP., M. Ngalim, 1996., Psikologi Pendidikan, Bandung: PT Remaja Rosdakarya

 

Sabri, M. Alisuf, 1996., Psikologi Pendidikan: Berdasarkan Kurikulum Nasional, Jakarta:             Pedoman             Ilmu Jaya

 

Sugihartono, dkk., 2007., Psikologi Pendidikan. Yogyakarta: UNY Press

 

 



[1] M. Alisuf Sabri, Psikologi Pendidikan: Berdasarkan Kurikulum Nasional, (Jakarta: Pedoman Ilmu Jaya, 1996), h. 78

 

[2] Shahabuddin Hashim dkk., Psikologi Pendidikan, (Kuala Lumpur: PTS Professional Publishing, 2006), h. 115

 

[3] Aliah B. Purwakania Hasan, Psikologi Perkembangan Islami: Menyingkap Rentang Kehidupan Manusia dari Prakelahiran hingga Pascakematian, (Jakarta: PT RajaGrafindo Persada, 2006), h. 42

[4] Ibid., h. 46

 

[5] Muhammad Irham, Novan Ardy Wiyani, Psikologi Pendidikan: Teori dan Aplikasi dalam Proses Pembelajaran, (Jogjakarta: Ar-Ruzz Media, 2017), h. 77

[6] Ibid., h. 81

[7] Ibid., h. 84

[8] M. Ngalim Purwanto, MP., Psikologi Pendidikan, (Bandung: PT Remaja Rosdakarya, 1996), h. 154


Tidak ada komentar:

Posting Komentar