BAB I
PENDAHULUAN
A. Latar Belakang
Di dalam sebuah lingkungan
belajar seperti ruang kelas terdapat berbagai macam karakteristik peserta
didik. Sebagian besar orang menganggap di dalam proses pembelajaran tidak ada
perbedaan antara siswa satu dengan siswa yang lainnya. Semua siswa dianggap
sama rata. Siswa diberi materi yang sama, menggunakan bahan ajar yang sama,
cara belajar yang sama, mendapat perlakuan yang sama dari pengajar dan
diharapkan mendapat hasil belajar yang semuanya baik. Padalah seperti yang diketahui,
setiap individu memiliki karakteristik yang berbeda-beda. Begitu pula dengan
siswa, sebagai individu, siswa yang satu dengan yang lainnya memiliki
perbedaan. Perbedaan antar inidividu tersebut nantinya dapat berpengaruh
bagaimana proses belajar akan berlangsung. Guru sebagai seorang pengajar tidak
bisa begitu saja menyamaratakan semua anak didiknya. Untuk mencapai proses
pembelajaran yang optimal, seorang guru harus mengetahui apa saja yang
dibutuhkan siswanya dan berusaha membantu memenuhi kebutuhannya dalam belajar.
Seorang guru sebagai salah satu
fasilitator dalam pembelajaran sebaiknya dapat memastikan setiap anak didiknya
mendapatkan apa yang ia butuhkan. Oleh karena itu, seorang guru dituntut
untuk dapat memahami perbedaan-perbedaan individu tiap anak
didiknya. Dengan memahami hal tersebut, diharapkan guru dapat menyediakan
upaya-upaya agar setiap siswa dapat mengikuti proses pembelajaran seefektif
mungkin.
1. Macam-macam individu dalam proses pembelajaran menurut Islam?
2. Macam-macam individu dalam proses pembelajaran menurut psikologi?
3. Bagaimana cara menyikapi perbedaan individu tersebut?
C.
Tujuan Penulisan
1.
Menjelaskan macam-macam individu
dalam proses pembelajaran menurut Islam
2.
Menjelaskan macam-macam individu
dalam proses pembelajaran menurut psikologi
3.
Menguraikan cara menyikapi
perbedaan individu tersebut
BAB II
VARIASI/MACAM-MACAM INDIVIDU
DALAM PEMBELAJARAN MENURUT ISLAM DAN PSIKOLOGI
Variasi atau macam-macam individu
dalam pembelajaran yang dimaksud disini adalah macam-macam individu dalam
proses pembelajaran disekolah. Dalam proses belajar mengajar di sekolah
meskipun guru dan materi pelajaran yang
dipelajari siswa serta waktu yang dan lingkungan belajar di kelas bagi setiap
siswa juga sama, tetapi terjadi perbedaan individu dalam hasil belajar. Hal itu
kemungkinan besar karena kondisi setiap individu siswa masing-masing berbeda,
sehingga proses belajar yang dilakukan siswa juga berbeda-beda.[1]
A. Macam-macam Individu Menurut Islam
Mempertimbangkan fakta bahwa
kehendak Allah bervariasi dalam penciptaan masing-masing individu, perbedaan
individu telah mulai ditentukan sebelum munculnya keberadaan manusia. Dapat
dikatakan setiap individu yang dilahirkan ke dunia itu unik.[2]
Perbedaan individual merupakan kehendak Allah dan ditentukan melaui pembawaan
hereditas dan pengaruh lingkungan. Alquran menyatakan bahwa Allah menciptakan
dan membentuk setiap manusia dalam rahim ibunya dengan cara dan bentuk yang
berbeda dan unik seperti yang diinginkan-Nya:[3]
$pkr'¯»t ß`»|¡RM}$# $tB x8¡xî y7În/tÎ/ ÉOÌx6ø9$# ÇÏÈ Ï%©!$# y7s)n=yz y71§q|¡sù y7s9yyèsù ÇÐÈ þÎû Ädr& ;ouqß¹ $¨B uä!$x© t7©.u ÇÑÈ
Artinya: “Hai manusia, Apakah
yang telah memperdayakan kamu (berbuat durhaka) terhadap Tuhanmu yang Maha
Pemurah. yang telah menciptakan kamu lalu menyempurnakan kejadianmu dan
menjadikan (susunan tubuh)mu seimbang, dalam bentuk apa saja yang Dia
kehendaki, Dia menyusun tubuhmu.” (Q.S. Al-Infithar: 6-8)
uqèd Ï%©!$# óOà2âÈhq|Áã Îû ÏQ%tnöF{$# y#øx. âä!$t±o 4 Iw tm»s9Î) wÎ) uqèd âÍyèø9$# ÞOÅ3ysø9$# ÇÏÈ
Artinya: “Dialah yang
membentuk kamu dalam rahim sebagaimana dikehendaki-Nya. tak ada Tuhan (yang
berhak disembah) melainkan Dia, yang Maha Perkasa lagi Maha Bijaksana.” (Q.S.
Ali Imran: 6)
Ayat ini menunjukkan karena masing-masing individu dibentuk dalam rahim ibunya
oleh Allah dengan cara dan bentuk yang unik, individu memiliki perbedaan dalam
segala kecendrungan fisiopsikologis mereka. Hal ini merupakan faktor dasar yang
membuat adanya perbedaan individu antarmanusia. Lebih lanjut, dan dalam
pernyataan yang jelas, Alquran menyatakan manusia berbeda-beda satu sama
lainnya dalam sifat, karakter, perilaku dan perbutan sesuai firman Allah Swt.:
ö@è% @@à2 ã@yJ÷èt 4n?tã ¾ÏmÏFn=Ï.$x© öNä3/tsù ãNn=÷ær& ô`yJÎ/ uqèd 3y÷dr& WxÎ6y ÇÑÍÈ
Artinya: “ Katakanlah: "Tiap-tiap
orang berbuat menurut keadaannya masing-masing". Maka Tuhanmu lebih
mengetahui siapa yang lebih benar jalan-Nya.” (Q.S. Al-Isra: 84)
Ayat ini menyatakan bahwa setiap
individu memiliki disposisi yang unik. Keunikan yang demikian dapat termanifestasi
dalam bentuk fisik, kognitif, emosional, moral dan karakteristik sosial.
Alquran, dengan demikian, menyatakan bahwa perbedaan individual antarmanusia
tidak hanya meliputi perkembangan kognitif, namun juga seluruh aspek
perkembangan. Dengan melihat hal ini, orang akan melihat bahwa perbedaan
individu merupakan hal yang sangat diperhatikan bahkan dalam berbagai perintah
dan larangan Alquran untuk menaati Allah dan juga keringanan dalam memenuhi
kewajiban-Nya. Contoh tipikal dari ayat ini adalah perintah untuk memenuhi
peraturan Allah, semampu mungkin, baik secara individu maupun kolektif:
(#qà)¨?$$sù ©!$# $tB ÷Läê÷èsÜtFó$# (#qãèyJó$#ur (#qãèÏÛr&ur (#qà)ÏÿRr&ur #Zöyz öNà6Å¡àÿRX{ 3 `tBur s-qã £xä© ¾ÏmÅ¡øÿtR y7Í´¯»s9'ré'sù ãNèd tbqßsÎ=øÿçRùQ$# ÇÊÏÈ
Artinya: “Maka bertakwalah kamu
kepada Allah menurut kesanggupanmu dan dengarlah serta taatlah dan nafkahkanlah
nafkah yang baik untuk dirimu. dan Barangsiapa yang dipelihara dari kekikiran
dirinya, Maka mereka Itulah orang-orang yang beruntung.” (Q.S. At-Taghaabun:
16)
Dalam ayat di atas,
Allah mengalamatkannya baik pada individu maupun kolektif. Masing-masing
individu diharapkan untuk bertaqwa dan mematuhi-Nya sejauh dapat diusahakan
secara individual.
óOèdr& tbqßJÅ¡ø)t |MuH÷qu y7În/u 4 ß`øtwU $oYôJ|¡s% NæhuZ÷t/ öNåktJt±Ïè¨B Îû Ío4quysø9$# $u÷R9$# 4 $uZ÷èsùuur öNåk|Õ÷èt/ s-öqsù <Ù÷èt/ ;M»y_uy xÏGuÏj9 NåkÝÕ÷èt/ $VÒ÷èt/ $wÌ÷ß 3 àMuH÷quur y7În/u ×öyz $£JÏiB tbqãèyJøgs ÇÌËÈ
Artinya: “Apakah mereka yang
membagi-bagi rahmat Tuhanmu? Kami telah menentukan antara mereka penghidupan
mereka dalam kehidupan dunia, dan Kami telah meninggikan sebahagian mereka atas
sebagian yang lain beberapa derajat, agar sebagian mereka dapat mempergunakan
sebagian yang lain. dan rahmat Tuhanmu lebih baik dari apa yang mereka
kumpulkan.” (Q.S. Az-Zukhruf: 32)
Menurut Ibnu katsir,
Allah menerangkan dalam ayat ini bahwa Dia menciptakan keberagaman pada
makhluk-makhluk-Nya, termasuk manusia, dalam hal kekayaan, intelektual,
pemahaman, dan kemampuan lain yang bersifat internal dan eksternal.
$£Jn=sù $pk÷Jyè|Êur ôMs9$s% Éb>u ÎoTÎ) !$pkçJ÷è|Êur 4Ós\Ré& ª!$#ur ÞOn=÷ær& $yJÎ/ ôMyè|Êur }§øs9ur ãx.©%!$# 4Ós\RW{$%x. ( ÎoTÎ)ur $pkçJø£Jy zOtötB þÎoTÎ)ur $ydäÏãé& Î/ $ygtGÍhèur z`ÏB Ç`»sÜø¤±9$# ÉOÅ_§9$# ÇÌÏÈ
Artinya: “Maka tatkala isteri
'Imran melahirkan anaknya, diapun berkata: "Ya Tuhanku, sesunguhnya aku
melahirkannya seorang anak perempuan; dan Allah lebih mengetahui apa yang
dilahirkannya itu; dan anak laki-laki tidaklah seperti anak perempuan.
Sesungguhnya aku telah menamai Dia Maryam dan aku mohon perlindungan untuknya
serta anak-anak keturunannya kepada (pemeliharaan) Engkau daripada syaitan yang
terkutuk." (Q.S. Ali Imran: 36)
Perbedaan yang diacu
oleh ayat ini memiliki rentang yang luas. Intinya, hal ini menunjukkan adanya
perbedaan postur biologis dan kecendrungan psikologis. Tidak dapat diragukan
bahwa laki-laki dan perempuan memiliki postur biologis dan sifat yang berbeda
yang menghasilkan sejumlah besar perbedaan dalam pola perkembangannya.
Pertumbuhan anak perempuan dalam tahap remaja lebih cepat daripada anak
laki-laki.[4]
B. Macam-macam Perbedaan Individu Menurut Psikologi
Perbedaan individual menunjukkan
pada banyaknya variasi dan variabilitas dari perbedaan-perbedaan yang dimiliki
individu.[5]
Menurut Oemar Hamalik (2003: 181-186) menyebutkan terdapat bentuk-bentuk
perbedaan individu yang sering dikaji sehingga perlu diperhatikan dalam proses
pembelajaran, antara lain:
1.
Kecerdasan (intelegence)
2.
Bakat (aptitude)
3.
Keadaan jasmaniah (physical
background)
4.
Penyesuaian sosial dan emosional
(social and emotional adjustment)
5.
Latar belakang keluarga (home
background)
6.
Hasil belajar (academic
achievment)
7.
Siswa yang cepat dan lambat dalam
belajar, dan
8.
Siswa yang mengalami kesulitan-kesulitan
jasmani, berbicara, dan menyesuaikan diri secara sosial.
Seperti yang sudah di jelaskan
sebelumnya, setiap manusia merupakan individu yang unik dan berbeda antara satu
dengan yang lainnya. Begitu pula di dalam sebuah proses pembelajaran. Peserta
didik selaku individu memiliki karakteristik tersendiri yang membedakan antara
satu dengan yang lainnya. Khususnya dalam proses pembelajaran. Sebagai seorang
pengajar dan pendidik guru tidak bisa meremehkan perbedaan-perbedaan yang ada.
Berikut akan dijabarkan macam-macam perbedaan individual dalam proses
pembelajaran.
1. Perbedaan gender dan jenis kelamin.
Istilah gender dan jenis-kelamin
sering dianggap sama. Perbedaan jenis kelamin terkait dengan perbedaan biologis
atau fisik yang tampak antara laki-laki dengan perempuan. Sedangkan perbedaan
gender merupakan aspek psikososial yang berbeda antara laki-laki dan perempuan.
Perbedaan gender termasuk dalam hal peran, tingkah laku, kecenderungan, sifat,
dan atribut lain yang menjelaskan arti menjadi seorang laki-laki atau
perempuan.
Dalam proses pembelajaran
sebenarnya perbedaan jenis kelamin dan gender itu sendiri tidak bisa dikatakan
penentu keberhasilan belajar para siswa. Namun faktor sosial dan kultural dapat
menyebabkan adanya perbedaan gender dalam prestasi akademik. Faktor tersebut
meliputi familiaritas siswa dengan mata pelajaran, perubahan aspirasi
pekerjaan, persepsi terhadap mata pelajaran khusus yang dianggap tipikal gender
tertentu, dan harapan guru terhadap siswa.
Perbedaan gender terkait dengan
kemampuan akademik siswa terlihat pada perbedaan kemampuan verbal, kemampuan
spasial, kemampuan matematika dan sains. Pada umumnya dalam mata pelajaran
matematika dan sains, perempuan cenderung menunjukkan prestasi yang lebih baik
dari laki-laki. Namun pada tahun-tahun berikutnya di sekolah menengah, prestasi
perempuan cenderung menurun dan laki-laki menunjukkan prestasi yang meningkat.
Padahal sebenarnya dalam penelitian kemampuan kognitif tidak ada yang
menunjukkan bahwa laki-laki mempunyai bakat yang lebih besar dalam pelajaran
sains dan matematika.[6]
Keadaan ini memunculkan mitos
bahwa perempuan dianggap tidak dapat mengerjakan pelajaran matematika dan sains
dengan baik, sehingga menyebabkan adanya perbedaan perlakuan terhadap siswa
laki-laki dan perempuan. Dalam proses pembelajaran khususnya matematika,
seringkali guru lebih memperhatikan siswa laki-laki dibandingkan perempuan,
sehingga perempuan merasa tidak harus menguasai pelajaran. Hal ini menimbulkan
motivasi belajar matematika siswa perempuan menjadi rendah. Perempuan merasa
tidak perlu mempelajari matematika karena pelajaran tersebut dikhususkan untuk
laki-laki saja.
2. Perbedaan kemampuan
Pada umumnya, kemampuan sering
disamaratakan dengan kecerdasan. Dalam konteks perbedaan individual, kecerdasan
merujuk pada kemampuan belajar siswa. Sejak lahir manusia diberi kecerdasan
yang berbeda-beda. Perbedaan kecerdasan tersebut dapat dilihat dari perbedaan
skor IQ yang didapat dari hasil test kecerdasan. Angka yang didapatkan dari
skor menunjukkan tingkatan kemampuan intelejen siswa. Dari penggolongan skor IQ
tersebut, terdapat dua jenis golongan yang perlu mendapat perhatian yaitu gifted dan retarded.
a.
Gifted (Anak cerdas)
Kelompok ini merupakan kelompok
dengan IQ di atas 140.[7]
Dalam proses pembelajaran khususnya matematika, siswa yang tergolong gifted ditunjukkan
dengan prestasi belajar yang tinggi. Siswa gifted akan mudah
memahami pelajaran yang diberikan bahkan lebih dahulu mempelajari materi yang
belum diajarkan. Mereka dapat mengerjakan soal-soal sulit yang kebanyakan siswa
tidak bisa mengerjakannya. Bahkan terkadang siswa gifted dapat
mengerjakan soal-soal untuk tingkat yang lebih tinggi.
Karakteristik siswa gifted yang
terlihat dalam proses pembelajaran antara lain prestasinya yang di atas
rata-rata, cara berfikir yang kreatif dan komitmen terhadap tugas yang tinggi.
Pada saat proses belajar-mengajar berlangsung misalnya, saat guru menjelaskan
tentang suatu rumus matematika, siswa pada umumnya akan menelan bulat-bulat penjelasan
yang mereka terima. Namun siswa gifted biasannya akan aktif
bertanya darimana rumus itu berasal, bagaimana mendapatkan penyelesaian masalah
dengan rumus lain dan sebagainya. Begitu pula dalam mengerjakan tugas, ia akan
mengerjakan tugas yang sulit-sulit, sedangkan tugas yang mudah tidak akan
dikerjakannya karena dianggapnya membosankan.
Siswa gifted memiliki
kemungkinan kesulitan bersosialisasi. Akan terjadi kesenjangan sosial antara
anak gifted dan siswa lainya. Ia menganggap siswa lain dengan
kemampuan jauh dibawahnya tidak sebanding dengan dirinya sehingga menarik diri
dari pergaulan. Kemungkinan lainnya yaitu siswa gifted akan
menganggap remeh gurunya karena kemampuannya mungkin melebihi sang guru. Ia
menganggap belajar di dalam kelas membosankan karena materi yang diajarkan
terlalu mudah.
b.
Retarded (Anak terbelakang)
Siswa yang tergolong retarded yaitu
yang memiliki IQ dibawah 70. Pada umumnya siswa retarded mendapat
perhatian yang lebih khusus dan terpisah dengan siswa pada umumnya. Anak retarded
terbagi menjadi beberapa klasifikasi yaitu mild (IQ 50-70), moderate
(IQ 36-50), severe retardation (IQ 20-36), dan profound (IQ dibawah
20).
Siswa retarded membutuhkan
bimbingan yang lebih khusus untuk belajar. Pengajaran kepada siswa retarded
lebih diutamakan untuk bersosialisasi dan keterampilan yang sesuai dengan
bakatnya. Pembelajaran seperti matematika tidak perlu ditekankan. Hanya untuk
siswa dengan tingkat kecerdasan yang mendekati normal. Sedangkan untuk anak
yang tergolong moderate dan severe retarded lebih ditekankan pada
bimbingan untuk merawat dirinya sendiri.
3. Perbedaan Kepribadian
Menurut asal katanya, kepribadian
atau personality berasal dari bahasa latin personare, yang
berarti mengeluarkan suara (to sound through). Istilah ini digunakan
untuk menunjukkan suara dari percakapan seorang pemain sandiwara melalui topeng
(masker) yang dipakainya. Pada mulanya istilah persona berarti topeng yang
dipakai oleh pemain sandiwara, dimana suara pemain sandiwara itu diproyeksikan.
Kemudian kata persona itu berarti pemain sandiwara itu sendiri.[8]
Sedangkan definisi kepribadian menurut Atkinson dkk adalah pola perilaku dan
cara berpikir yang khas, yang menentukan penyesuaian diri seseorang terhadap
lingkungan. Seseorang mempunyai kepribadian yang berbeda satu dan lainya.
Perbedaan kepribadian menyebabkan adanya perbedaan perilaku dalam proses
kegiatan belajar pula. Terdapat berbagai model untuk menunjukkan perbedaan
kepribadian, salah satunya yaitu model big five. Dalam model big
five kepribadian dikelompokkan menjadi lima dimensi.
a.
Extroversion
Siswa dengan kepribadian ini
menyukai belajar dengan berkelompok. Mereka sangat antusias dalam diskusi
kelompok. Sedangkan siswa introvert cenderung menyukai belajar
seorang diri. Bukan karena menarik diri dari pergaulan, namun siswa tipe ini
membutuhkan keadaan yang tenang untuk menyerap materi pelajaran.
b.
Agreeableness
Siswa jenis ini senang bergaul
dengan orang lain dan terbuka dengan pendapat orang lain. Sedangkan disagreeable
akan mempertahankan pendapatnya sendiri. Dalam proses belajar matematika
siswa disagreeable dapat menunjukkan sikap kritisnya. Misalnya
saat mengerjakan soal yang berbentuk pembuktian, jika siswa disagreeable merasa
dirinya benar, ia akan mempertahankan jawabannya dengan membuktikan kebenarannya.
Siswa ini hanya dapat menerima jawaban lain apabila jawabannya terbukti salah
dengan dalil-dalil yang sudah ada. Sedangkan siswa agreeable kemungkinan
menerima semua jawaban tanpa mencoba membuktikan dulu apakah jawaban itu benar
atau salah.
c.
Concientiousness
Berkaitan dengan cara seseorang
mengontrol, mengatur dan memerintah inpuls. Anak yang conscientious akan
menghindari kesalahan, mempunyai tujuan yang jelas dan gigih demi mencapai
tujuan yang diinginkannya. Sedangkan unconcientious kurang berambisi, tidak terikat
dengan tujuan yang harus dicapai. Siswa conscientious cenderung serius dan
bersungguh-sungguh dalam belajar demi mencapai target prestasi yang terbaik.
Namun hal ini menyebabkan hubungan dengan sesama temannya terlihat kaku karena
terpaku pada belajar saja. Sedangkan siswa unconcientious lebih luwes dalam
bergaul namun kurang dapatserius dalam belajar.
d.
Stabilitas emosional
Neoriticism merujuk pada
kecenderungan untuk mengalami emosi negatif. Siswa yang mempunyai neoriticism
yang tinggi akan mudah terpancing oleh hal-hal yang kecil. Mereka mudah
terganggu pada saat belajar sehingga menyebabkan bad mood dan akhirnya
mengganggu proses belajar. Siswa yang tingkat neoriticism nya rendah dapat
mengontrol emosi dengan baik sehingga tidak mudah terganggu oleh hal-hal kecil.
e.
Openness to experience
Kepribadian siswa yang terbuka
dengan hal-hal yang baru dan mau mencoba. Berani mengambil resiko demi menjawab
keingintahuan mereka. Dalam pembelajaran, siswa dengan tipe ini tidak cepat
puas dengan apa yang mereka dapatkan di pelajaran. Siswa akan mencoba soal-soal
yang baru, mencari rumus-rumus baru yang berkaitan dengan topic yang sedang
mereka pelajari. Sedangkan siswa pada umumnya mugnkin hanya menerima apa yang
mereka dapat saja.
4. Perbedaan gaya belajar
Setiap inidividu mempunyai cara
tersendiri dalam memahami sesuatu. Begitu pula cara siswa dalam menyerap materi
pelajaran yang didapatkan dari guru berbeda-beda. Gaya belajar siswa berkaitan
dengan cara belajar yang mereka sukai, atau yang mereka anggap paling efektif.
Gaya belajar siswa juga dapat dipengaruhi bentuk kepribadiannya. Seperti siswa
dengan kepribadian extrovert akan senang dengan pembelajaran yang
melibatkan kelompok. Siswa yang introvert lebih menyukai belajar di tempat yang
tenang.
Namun gaya belajar tidak bersifat
statis, artinya dapat berubah-ubah sesuai dengan situasi. Misalnya dalam
pembelajaran yang membutuhkan visualisasi dan praktek dalam kehiuspan
sehari-hari. Siswa yang terbiasa belajar sendiri mungkin akan merasa kesulitan
dalam visualisasi dan membutuhkan bantuan orang lain. Siswa tersebut mau tidak
mau harus bertanya pada siswa lain, dengan begitu akan terciptalah kelompok
diskusi.
C.
Upaya Menyikapi Perbedaan
Individu dalam Proses Pembelajaran
Seperti yang telah dijelaskan
sebelumnya, di dalam sebuah proses pembelajaran terdapat siswa dengan berbagai
perbedaan individual. Perbedaan itu sangatlah lumrah dan tidak dapat dihindari.
Sebagai seorang pengajar yang baik, guru tidak dapat meniadakan perbedaan-perbedaan
tersebut dengan menganggap semua siswa sama. Oleh karena itu dibutuhkan upaya
dalam menyikapi perbedaan-perbedaan setiap siswa. Upaya tersebut dapat berupa
cara mengajar yang bervariatif.
Untuk menyikapi perbedaan gender
antara siswa laki-laki dan perempuan di kelas, hendaknya guru memberikan
pengertian bahwa pembelajaran khususnya matematika tidak hanya diperuntukkan
untuk laki-laki saja. Guru memberikan kesempatan pada siswa perempuan untuk
dapat lebih aktif dalam pembelajaran. Selain itu membantu siswa yang kurang
memahami pelajaran baik itu siswa laki-laki maupun siswa perempuan.
Menyikapi perbedaan kemampuan
siswa di dalam kelas dapat dengan cara variasi dalam penyampaian materi. Siswa
dengan kecerdasan tinggi dapat menerima materi yang diajarkan dengan cepat.
Namun siswa yang mempunyai kecerdasan rata-rata kebawah mungkin akan
membutuhkan sekali dua kali pengulangan lagi. Siswa gifted membutuhkan
perhatian khusus agar tidak terjadi ketimpangan dengan siswa lainnya. Guru
menjelaskan materi secara umum untuk seluruh siswa. Kemudian guru memberikan
soal-soal latihan bagi siswa-siswa yang dirasa telah jelas dengan materi yang
disampaikan. Setelah itu guru menanyakan lagi kepada siswa lainnya jika ada
materi yang perlu dijelaskan kembali.
Perbedaan kepribadian dan gaya
belajar siswa dapat disikapi dengan variasi metode pengajaran oleh guru. Pada
pertemuan pertama biasanya digunakan guru untuk mengobservasi macam-macam
perilaku siswa ketika di kelas, sehingga guru mempunyai referensi untuk
menentukan metode mengajar yang akan digunakan. Misalnya untuk menyikapi
anak extroversion, guru sesekali mengadakan diskusi kelompok untuk
memudahkan belajar siswa extrovert. Pemberian tugas mandiri atau tugas
rumah akan memberi kesempatan siswa introvert untu lebih memahami materi
sendiri.
Menyikapi siswa yang kritis
diperlukan metode pembelajarn yang terbuka. Memberi kesempatan siswa untuk
mencoba dan membuktikan jawaban yang benar atau salah. Guru juga harus memberi
jalan untuk siswa yang mengeksplorasi materi yang diajarkan. Tetapi perlu
diperhatikan agar tidak memaksakan kehendak kepada siswa-siswa karena akan
menjadi beban mereka. Selain itu guru diharapkan dapat memberi motivasi secara
terus menerus kepada siswa untuk dapat berprestasi.
BAB III
PENUTUP
Simpulan
Dalam proses pembelajaran
khususnya mata pelajaran matematika, sudah sewajarnya terdapat perbedaan antara
siswa satu dengan yang lain. Tugas seorang guru adalah memenuhi kebutuhan
setiap siswanya. Dengan memahami perbedaan individu yang ada pada
siswa-siswanya, guru dapat mengantisipasi dengan memberikan metode pembelajaran
yang bervariatif sehingga semua siswanya dapat mengikuti pembelajaran
matematika dengan baik.
DAFTAR PUSTAKA
Al Maruzy, Amir, 2010. Karakteristik dan Perbedaan Individu. (http://edukasi.kompasiana.com/2010/09/01/karakteristik-dan-perbedaan-individu/). Diakses pada Senin tanggal 19 Maret 2018.
B. Purwakania Hasan, Aliah, 2006., Psikologi Perkembangan
Islami: Menyingkap Rentang Kehidupan
Manusia dari Prakelahiran hingga Pascakematian, Jakarta: PT RajaGrafindo Persada
Hashim, Shahabuddin dkk., 2006., Psikologi Pendidikan, Kuala
Lumpur: PTS Professional Publishing
Irham, Muhammad, Novan Ardy Wiyani, 2017., Psikologi Pendidikan:
Teori dan Aplikasi dalam Proses Pembelajaran, Jogjakarta: Ar-Ruzz
Media
Purwanto, MP., M. Ngalim, 1996., Psikologi Pendidikan,
Bandung: PT Remaja Rosdakarya
Sabri, M. Alisuf, 1996., Psikologi Pendidikan: Berdasarkan
Kurikulum Nasional, Jakarta: Pedoman
Ilmu Jaya
Sugihartono, dkk., 2007., Psikologi Pendidikan. Yogyakarta:
UNY Press
[1] M. Alisuf
Sabri, Psikologi Pendidikan: Berdasarkan Kurikulum Nasional, (Jakarta:
Pedoman Ilmu Jaya, 1996), h. 78
[2] Shahabuddin
Hashim dkk., Psikologi Pendidikan, (Kuala Lumpur: PTS Professional
Publishing, 2006), h. 115
[3] Aliah B.
Purwakania Hasan, Psikologi Perkembangan Islami: Menyingkap Rentang
Kehidupan Manusia dari Prakelahiran hingga Pascakematian, (Jakarta: PT
RajaGrafindo Persada, 2006), h. 42
[4] Ibid.,
h. 46
[5] Muhammad
Irham, Novan Ardy Wiyani, Psikologi Pendidikan: Teori dan Aplikasi dalam
Proses Pembelajaran, (Jogjakarta: Ar-Ruzz Media, 2017), h. 77
[6] Ibid., h. 81
[7] Ibid.,
h. 84
[8] M. Ngalim
Purwanto, MP., Psikologi Pendidikan, (Bandung: PT Remaja Rosdakarya, 1996),
h. 154
Tidak ada komentar:
Posting Komentar