Rabu, 15 Juli 2020

ANJURAN MENULIS DAN MENGHAFAL ILMU

BAB I

PENDAHULUAN

A.     Latar Belakang

Didalam proses belajar kita mengenal yang namanya metode menulis dan menghafal. Kedua metode ini sudah lama diterapkan oleh umat Islam, khususnya pada masa Rasulullah saw. banyak dari para shahabat Nabi yang  mendengarkan hadits-hadits yang disampaikan oleh Nabi Muhammad saw. Ada diantara mereka yang hanya megnhafalnya saja, karena ingatannya sangat kuat dalam menghafal hadits. Tetapi ada juga yang menulisnya, mungkin karena ia merasa hafalannya atau ingatannya kurang kuat.

Kalau dihubungkan dengan proses belajar kita sekarang, kedua metode itu sangatlah penting. Karena, telah dibuktikan dan diteliti oleh para ilmuwan-ilmuwan bahwa kedua metode itu sangat berpengaruh banyak kontribusinya demi kelangsungan proses belajar.

Untuk itu, supaya lebih jelasnya mengetahui hadits-hadits yang berhubungan dengan kedua metode tadi. Bisa anda lihat pada bab pembahasan berikutnya.

B.     Rumusan Masalah

1.      Apa saja hadits tentang anjuran menulis dan menghafal ilmu?

2.      Bagaimana cara menghafal pada masa Nabi?

3.      Bagaimana cara menghafal pada masa ini?

C.     Tujuan

1.      Mengetahui hadits tentang anjuran menulis dan menghafal ilmu.

2.      Mengetahui cara menghafal pada masa Nabi.

3.      cara menghafal pada masa ini.

 

 

 

 

 

 

 

 

 

 

 

 

 

 

 

 

 

 

BAB II

PEMBAHASAN

ANJURAN MENULIS DAN MENGHAFAL ILMU

 

A.    Hadits Pertama

 

 حَدَّثَنَا مُحَمَّدُ بْنُ سَلَامٍ قَالَ اَخْبَرَنَا وَكِيْعٌ عَنْ سُفْيَانَ عَنْ مُطَرِّفٍ عَنِ الشَّعْبِيِّ عَنْ اَبِي جُحَيْفَةَ قَالَ قُلْتُ لِعَلِيِّ بْنِ اَبِي طَالِبٍ هَلْ عِنْدَكُمْ كِتَابٌ قَالَ لَا إِلَّا كِتَابُ اللهِ أَوْ فَهْمٌ أعْطِيَهُ رَجُلٌ مُسْلِمٌ أَوْ مَا فِي هَذِهِ الصَّحِيْفَةِ قَالَ الْعَقْلُ وَفَكَاكُ الْأَسِيْرِ وَلَا يُقْتَلُ مُسْلِمٌ بِكَافِرٍ. (رواه الشيخان والترمذيّ)

Artinya:

            “Menceritakan kepada kami oleh Muhammad bin Salam berkata: mengkhabarkan kepada kami oleh Waki’ dari Supyan dari Mutharrif dari Asy Sya’bi dari Abu Juhaifah katanya: “Aku pernah bertanya kepada ‘Ali: “Apakah engkau mempunyai sebuah kitab?” Jawab ‘Ali: “Tidak, kecuali hanya  Kitabullah atau kefahaman yang diberikan kepada seorang Muslim atau apa yang ada didalam catatan ini.” Tanyaku: “Apa yang ada didalam catatan itu? “ Jawab ‘Ali: “Yang ada didalam catatan ini adalah catatan masalah hukum Diyah, membebaskan kaum tawanan dan keterangan tentang tidak diperbolehkannya seorang Muslim dibunuh dikarenakan jiwa seorang kafir.” (HR. Bukhari, Muslim dan Tirmidzi)

 

1)      Keterangam Hadits

              هَلْ عِنْدَكُمْ  (Apakah anda sekalian memiliki). pertanyaan ini di tujukan kepada Ali Ra. Penggunaan kata ganti plural dalam kalimat tersebut dimungkinkan, karena hal itu merupakan cara Abi Juhaifah dalam berinteraksi dengan ahlul bait atau sebagai rasa penghormatan.

كِتَابُ (Kitab). Kitab yang kamu tulis dari rasul. Hal ini telah di isyaratkan oleh riwayat imam Bukhari dalam bab ’’jihad’’,هَلْ عِنْدَكُمْ شَيْءٌ مِنَ الْوَحْيِ إِلَّا مَا فِي كِتَابِ اللهِ   (Apakah anda memiliki catatan wahyu selain yang tertulis di Al-Qur’an) atau dalam bab “Diyat” هَلْ عِنْدَكُمْ شَيْءٌ مِمَّا لَيْسَ فِي الْقُرْآنِ (Apakah anda memiliki catatan selain yang terdapat dalam Al Qur’an(. Begitu pula dengan hadits dari jalur Ishaq bin Rahawaih, dari Jarir, dari Mutharrif, شَيْئًا مِنَ الْوَحْيِ عَلِمْتَ هَلْ  (Apakah anda mengetahui sesuatu dari wahyu(.

                 Abu Juhaifah menanyakan hal ini di karena kan kelompok islam Syiah menganggap bahwa ahlul bait terutama Ali RA memiliki pengetahuan tentang wahyu yang di khusus kan oleh nabi dan tidak diketahui orang lain. Ali juga di tanya tentang hal ini oleh Qais bin Ubadah dan Al Asytar An Nakha’i. Kedua petanyaan mereka diriwayatkan oleh Musnad Imam Nasa’i.

) إِلَّا كِتَابُ اللهِ Kecuali Al qur’an(. Ibnu Munir mengatakan,”Hadits ini menunjukkan bahwa Ali memiliki catatan mengenai fiqih yang diintisari kan dari Al Qur’an, pemahaman seperti ini adalah maksud dari kata) أَوْ فَهْمٌ أعْطِيَهُ رَجُلٌ pemahaman yang di berikan kepada seseorang). Tujuan disebutkannya kata  الفهم (pemahaman) adalah, untuk menetapkan kemungkinan ada nya tambahan yang diintisarikan dari Al Qur’an.

               Riwayat imam Bukhari pada bab ad Diyat berbunyi,ما عندنا إلا ما في القرآن إلا فهما يعطى رجل في الكتاب  )kami tidak memiliki selain yang ada dalam al Qur’an, kecuali pemahaman yang diberikan kepada seseorang tentang al Qur’an(  Artinya, apabila Allah memberikan pemahaman kepada seorang akan al Qur’an, maka tentunya orang tersebut akan mampu mengambil intisari al Qur’an, dengan begitu orang tersebut mendapatkan tambahan dari al Qur’an.

            Dalam riwayat Ahmad dengan sanad hasan )baik(. Disampaikan dari Thariq bin Syihab, dia berkata, “Aku menyaksikan Ali berpidato di atas mimbar, beliau berkata, “Demi Allah aku tidak memiliki lagi yang dapat kami bacakan di depan kalian semua, selain kitab Allah dan kertas-kertas ini.” Hadist inilah yang mendukung pernyataan kami di atas.

            ) الصَّحِيْفَةِ kertas( kertas catatan, diriwyatkan dari an Nasa’I melalui sanad Thariq Al Asytar disebutka, “kemudian beliau mengeluarkan sebuah kitab dari kantong dekat pedangnya.”

) العقل Diyat atau denda(. Disebutkan dengan istilah ini karena mereka membayar denda tersebut dengan onta yang diikat dengan tali di halaman rumah orang yang terbunuh. Maksud dari kata ini mencakup hukum, kadar dan sifat denda tersebut.

            ) وَفَكَاكُ Pembebasan(. Maksudnya adalah pembebasan tawanan perang dari tangan musuh.

            ) وَلَا يُقْتَلُ Tidak diqishash(. Yaitu seorang muslim yang membunuh seorang kafir, tidak dikenai hukum qishash. Pembahasan mengenai masalah ini akan dijabarkan pada bab “Qishash” dan “Diyat”. Imam Bukhari dan Imam Muslim meriwayatkan dari jalur sanad Yazid at Taimi dari Ali, ia berkata, “Kami tidak membaca al Qur’an dan kertas kertas ini dimana di dalamnya tercatat bahwa kota Madinah adalah haram…”

            Hadist riwayat Muslim dari Abu Thufail dari Ali, “Rasulullah tidak mengkhususkan kepada kami sesuatu yang tidak diketahui masyarakat pada umumnya, kecuali yang tercatat dalam kertas dekat pedangku ini. Kemudian beliau mengeluarkan kertas tersebut, tercatat di dalamnya )Allah melaknat orang orang yang membunuh bukan karena Allah(.

            Menurut Imam Nasa’I bahwa catatan dalam kertas tersebut berbunyi, “Dari Asytar dan lainnya, dari Ali RA, ia berkata, “Orang orang mukmin dilarang saling membunuh.” Menurut Imam Ahmad yang diriwayatkan dari Jalur Thariq bin Syihab. “Dalam kertas tersebut tercatat permasalahan faraidh atau warisan dan shadaqah.”

            Dapat kita simpulkan bahwa semua permasalahan telah tercatat dalam lembaran yang ada pada Ali. Kemudian setiap permasalahan itu diriwayatkan oleh para periwayat hadist sesuai dengan hafalan dari kertas tersebut. Hal ini sudah dijelaskan oleh Qatadah dalam hadist yang diriwayatkan Abi Hissan dari Ali. Beliau juga menjelaskan sebab sebab pertanyaan para sahabat mengenai permasalahan ini kepada Ali.

            Imam Ahmad dan Imam Baihaqi dalam kitab Dalail dari Abi Hissan, “Ali pernah memerintahkan sebuah perintah, kemudian dijawab, “Kami sudah mengerjakakannya.” Ali berkata, “Maha benar Allah dan RasulNya,” Asytar berkata kepada Ali, “Apakah yang anda ucapkan ini merupakan suatu hal yang disampaikan oleh Rasul kepadamu secara khusus, tanpa sepengetahuan orang lain pada umumnya?” Kemudian disebutkan olehnya satu persatu secara terperinci.”

B.     Hadits Kedua

 

 حَدَّثَنَا عَبْدُ الْعَزِيْزِ يْنُ عَبْدِ اللهِ قَالَ حَدَّثَنِي مَالِكٌ عَنْ اِبْنِ شِهَابٍ عَنِ الْأَعْرَاجِ عَنْ اَبِي هُرَيْرَةَ قَالَ إِنَّ النَّاسّ يَقُولُونَ أَكْثَرَ أَبُو هُرِيْرَةَ وَلَوْلَا آيَتَانِ فِي كِتَابِ  اللهِ مَا حَدَّثْتُ حَدِيْثًا ثُمَّ يَتْلُو إِنَّ اللَّذِيْنَ يَكْتُمُونَ مَا أَنْزَلْنَا مِنَ الْبَيِّنَاتِ وَالْهُدَى إِلَى قَوْلِهِ الرَّحِيْمُ إِنَّ إِخْوَانَنَا مِنَ الْمُحَاجِرِيْنَ كَانَ يَشْغَلُهُمْ الصَّفْقُ بِالْأَسْوَاقِ وَإِنَّ إِخْوَانَنَا مِنَ الْأَنْصَارِ كَانَ يَشْغَلُهُمْ الْعَمَلُ فِي أَمْوَالِهِمْ وَإِنَّ أَبَا هُرَيْرَةَ كَانَ يَلْزَمُ رَسُولَ اللهِ صَلَّي اللهُ عَلَيْهِ وَسَلَّمَ بِشِبَعِ بَطْنِهِ وَيَحْضُرُ مَا لَا يَحْضُرُونَ وَيَحْفَظُ مَا لَا يَحْفَظُونَ.

Artinya:

            Diceritakan kepada kami oleh ‘Abdul ‘Aziz bin ‘Abdullah berkata diceritakan kepadaku oleh Malik dari Ibnu Syihab dari al-A’raj dari Abi Hurairah RA, “Orang mengatakan, bahwa Abu Hurairah paling banyak meriwayatkan hadits.”

“Kalau tidak karena dua ayat dalam Al-Qur’an, niscaya saya tidak akan meriwayatkan hadits.”

Kemudian dia membaca ayat, Sesungguhnya orang-orang yang menyembunyikan apa yang telah Kami turunkan berupa keterangan-keterangan (yang jelas) dan petunjuk, setelah Kami menerangkannya kepada manusia dalam Al Kitab, mereka itu dilaknati Allah dan dilaknati (pula) oleh semua (makhluk) yang dapat melaknati, kecuali mereka yang telah tobat dan mengadakan perbaikan dan menerangkan (kebenaran), maka terhadap mereka itu Aku menerima tobatnya dan Akulah Yang Maha Penerima tobat lagi Maha Penyayang.” (QS. Al Baqarah :159-160) Lalu Abu Hurairah meneruskan, “Saudara-saudara kita para Muhajirin sibuk dengan perniagaan mereka di pasar-pasar, dan saudara-saudara kita dari kaum Anshar  sibuk dengan urusan harta kekayaan mereka masing-masing. Tetapi saya selalu mengikuti Rasulullah ke mana-mana; disamping saya dapat memenuhi kebutuhan perut saya, sayapun dapat menghadiri ceramah-ceramah Nabi yang mereka tidak dapat hadir, serta menghafal apa yang tidak dapat mereka hafal.”(HR. Bukhari)

 

1)      Keterangan Hadits

            Dalam bab ini tidak disebutkan selain hadits Abu Hurairah RA, karena dia adalah sahabat yang paling hafal tentang hadits Rasulullah saw. Imam Syafi’i mengatakan, “Abu Hurairah adalah orang yang paling hafal hadits pada masanya.” Untuk itu Ibnu Umar menyayangi jenazahnya, dan mengatakan,”Abu Hurairah telah menghafal hadits Nabi untuk kaum muslimin.” (HR. Ibnu Sa’ad)

 

            Dalam hadits yang ketiga menunjukkan, bahwa Abu Hurairah tidak meriwayatkan semua hadits yang dihafalnya. Meskipun demikian, dia adalah orang yang paling banyak meriwayatkan hadits Nabi. Maka hadits ini tidak bertentangan dengan hadits sebelumnya, dimana Abu Hurairah menyatakan bahwa Ibnu Umar lebih banyak meriwayatkan hadits daripada dirinya, yang alasannya sudah dijelaskan. Adapun hadits yang kedua ini menunjukkan, bahwa Abu Hurairah tidak lupa apa yang didengarnya dari rasulullah, dimana hal itu tidak ada pada selainnya.

            Hal ini membuktikan bahwa Abu Hurairah memiliki Akhlak yang baik yaitu sikap merendahkan diri. Oleh sebab itu dapat diambil petunjuk bahwa kehidupan sosial sepanjang tuntutan Etika Islam adalah suatu sikap mulia yang harus timbul dari dalam diri secara ikhlas yang ditopang dengan kesadaran akhlak mahmudah atau akhlaqul karimah.[1]

            أكثر أبو هريرة (Abu Hurairah paling banyak meriwayatkan hadits), yaitu hadits dari rasulullah saw. Sebagaimana telah disebutkan oleh penulis dalam bab “Buyu’ (jual-beli)” dari Syu’aib, dari Az-Zuhri, dan dalam bab “Muzara’ah” dari Ibrahim bin Sa’ad, dari Az-Zuhri dengan tambahan (Mereka berkata, ”Mengapa orang-orang Muhajirin dan Anshar tidak meriwayatkan hadits seperti hadits Abu Hurairah.”). Dengan demikian, jelaslah hikmah disebutkannya Muhajirin dan Anshar.

            ولولآ آيتان (Kalau tidak karena dua ayat). Artinya kalau tidak karena Allah mencela orang-orang yang menyembunyikan ilmu, maka Abu Hurairah tidak akan meriwayatkan (hadits); dan ketika dilarang untuk menyembunyikan ilmu, maka yang harus dilakukan adalah menampakkan dan menjelaskannya. Untuk itu banyaknya hadits yang diriwayatkan oleh Abu Hurairah , adalah karena banyaknya hadits yang dihafalnya. Kemudian beliau menyebutkan sebab banyaknya hadits yang diriwayatkannya dengan perkataan,  إنّ إخواننا(Sesungguhnya saudara-saudara kita), yaitu saudara seagama (Islam).

Kata الصفق berarti memukul tangan di atas tangan. Hal itu merupakan kebiasaan yang mereka lakukan dalam akad atautransaksi jual beli.

في أموالهم (Dalam harta kekayaan mereka) atau bekerja untuk kemaslahatan pertanian mereka. Dalam riwayat Muslim dikatakan,  كان يغشلهم عمل أرضهم(Mereka disibukkan dengan pekerjaan pertanian mereka), dan riwayat Ibnu Sa’ad berbunyi, كان يغشلهم القيام على أرضهم

Abu Hurairah RA senantiasa menghadiri majelis rasulullah dan menghafal ucapan atau sabda beliau. Imam Bukhari telah meriwayatkan dalam kitab Tarikh dan Hakim dalam Al Mustadrak dari hadits Thalhah bin Ubaidillah yang menjadi penguat hadits Abu Hurairah, “Saya tidak ragu, bahwa dia telah mendengar dari Rasulullah apa yang tidak kami dengar, hal itu karena dia adalah orang miskin yang tidak punya apa-apa dan menjadi tamu Rasulullah.”

Imam Bukhari meriwayatkan dari hadits Muhammad bin Umarah bin Hazm, bahwa ia duduk dalam majelis para sahabat yang berjumlah kurang lebih puluhan orang, dimana dalam majelis itu Abu Hurairah telah meriwayatkan hadits dari Rasulullah yang tidak diketahui oleh mereka yang hadir, kemudian mereka menelaah dan meneliti kembali sehingga mengetahuinya. Demikian ia meriwayatkan hadits terus menerus, sehingga dikenal pada waktu itu bahwa Abu Hurairah adalah orang yang paling hafal tentang hadits rasulullah saw.

            Imam Ahmad dan Tirmidzi meriwayatkan hadits dari ibnu Umar. Dia berkata kepada Abu Hurairah, “ Kamu adalah orang yang selalu menyertai Rasulullah diantara kita dan paling hafal tentang hadits beliau.” Sanad kedua hadits ini telah dinyatakan shahih oleh Imam Bukhari dan Muslim.

 

C.    Hadits Ketiga

 حَدَّثَنَا أَحْمَدُ بْنُ أَبِي بَكْرٍ أَبُو مُصْعَبٍ قَالَ حَدَّثَنَا مُحَمَّدُ بْنُ إِبْرَاهِيْمَ بْنِ دِيْنَارٍ عَنْ ابْنِ أَبِي ذِئْبٍ عَنْ سَعِيْدٍ الْمَقْبُرِيِّ عَنْ أَبِي هُرَيْرَةَ قَالَ قُلْتُ يَا رَسُولَ اللهِ إِنِّي أَسْمَعُ مِنْكَ حَدِيْثًا كَثِيْرًا أَنْسَاهُ قَالَ أبْسُطْ رِدَاءَكَ فَبَسَتْطُهُ قَالَ فَغَرَفَ بِيَدَيْهِ ثُمَّ قَالَ ضُمَّهُ فَضَمَمْتُهُ فَمَا نَسِيْتُ شَيْئًا بَعْدَهُ حَدَّثَنَا إِبْرَاهِيْمُ بْنُ الْمُنْذِرِ قَالَ حَدَّثَنَا ابْنُ أَبِي فُدَيْكٍ بِهَذَا أَوْ قَالَ غَرَفَ بِيَدِهِ فِيْهِ.

Artinya:

            “Menceritakan kepada kami oleh Ahmad bin Abi Bakar Abu Mush’ab berkata, menceritakan kepada kami oleh Muhammad bin Ibrahim bin Dinar dari Ibnu Abi dzi’bi dari sa’id al Maqrubi dari Abu Hurairah RA, ia berkata, “Wahai rasulullah, saya banyak menerima hadits dari engkau, tapi saya banyak lupa.” Rasulullah berkata, “Singkapkanlah jubahmu!” Lalu kusingkapkan jubahku. Kemudian Rasulullah menyauk dengan kedua tangannya dan berkata, “Kumpulkanlah!” Lalu kukumpulkan dan setelah itu aku tidak pernah lupa lagi.” (HR. Bukhari)

 

1)      Keterangan Hadits

            فَمَا نَسِيْتُ شَيْئًا بَعْدَهُ (Maka aku tidak lupa lagi setelah itu). Dalam riwayat Ibnu Uyainah dan lainnya dari Zuhri dalam hadits yang lalu dikatakan, “Demi tuhan yang telah mengutusnya dengan benar, saya tidak lupa apa yang telah saya dengar dari Rasulullah .” Dalam riwayat Yunus dalam hadits Muslim dikatakan,” Maka setelah itu saya tidak lupa apa yang dikatakan beliau kepada saya.” Hadits ini menjelaskan bahwa Abu Hurairah tidak lupa semua hadits.

            Dalam riwayat Syu’aib, “Maka saya tidak lupa perkataan beliau setelah itu,” dimana hadits ini hanya mengkhususkan bahw Abu Hurairah tidak lupa hadits itu saja. Namun demikian konteks hadits telah menguatkan apa yang diriwayatkan oleh Yunus, bahwa Abu Hurairah tidak lupa semua hadits, karena Abu Hurairah telah menerangkan bahwa dia banyak menghafal hadits.

            Perkataan yang dimaksud dalam hadits Zuhri belum jelas semua jalurnya, tapi saya dapatkan dengan jelas dalam kitab Jami’ milik Tirmidzi dan kitab Al Hilyah milik Abu Nu’aim dari jalur lain dari Abu Hurairah. Ia berkata, bahwa Rasulullah saw. bersabda, “Tidak ada seorang yang mendengar satu kalimat, dua, tiga, empat atau lima dari apa yang diwajibkan oleh Allah, kemudian ia mempelajarinya dan mengajarkannya, kecuali dia akan masuk surga.”

            Dalam dua hadits ini, nampak jelas keutamaan Abu Hurairah RA dan mukjizat kenabian, karena lupa merupakan suatu hal yang lazim bagi manusia dan Abu Hurairah telah mengakui hal itu, kemudian sifat (lupa) itu hilang dengan berkah kenabian Muhammad saw.

Menurut Eysenck (1998), ingatan jangka pendek berisi informasi dalam kondisi psikologis terbaru. Kebalikannya, ingatan jangka panjang berisi informasi dalam kondisi psikologis masa lampau, yaitu semua informasi yang telah disimpan, tetapi saat ini tidak sedang dipikirkan.[2]

            Dalam Al Mustadrak Hakim dari hadits Zaid bin Tsabit berkata, “Aku dan Abu Hurairah serta yang lainnya bersama Nabi, lalu beliau berkata, “ Berdoalah kalian berdua!” Maka aku dan temanku berdoa, dan Nabi mengamininya. Lalu kami berkata, “dan kami juga demikian wahai Rasulullah.” Rasulullah berkata, “Ghulam Ad-Dusi telah mendahului kalian.”

            Hadits ini menganjurkan untuk menghafal dan menjaga ilmu, dan hal itu dapat dicapai dengan tidak tamak terhadap dunia. Dunia yang dimaksudkan disini, yang dapat menjadi penghalang bagi seseorang dalam berbuat baik, yaitu harta benda. Harta adalah suatu bagian yang utama sekali dari dunia. Karena itu al-Ghazali secara khusus membicarakan soal harta, yakni harata dapat membawa malapetaka bagi manusia dan harta pula yang dapat membawa kebahagiaan baginya.[3]

Disamping itu juga menjelaskan tentang keutamaan bekerja bagi orang yang sudah berkeluarga, dan diperbolehkannya mengabarkan tentang suatu keutamaan jika tidak di-khawatirkan munculnya sifat ujub.

 

D.    Penjelasan Terkait

1)      Ikhlas di Dalam Menuntut Ilmu

Sebagaimana hadits ketiga, maka dalam menuntut ilmu dan ber’amal kita juga harus ikhlas dengan cara meluruskan niat. Di dalam hadits lain, Dari Amirul Mu’minin, (Abu Hafsh atau Umar bin Khottab rodiyallohu’anhu) dia berkata: ”Aku pernah mendengar Rosululloh shollallohu’alaihi wassalam bersabda: ’Sesungguhnya seluruh amal itu tergantung kepada niatnya, dan setiap orang akan mendapatkan sesuai niatnya. Oleh karena itu, barangsiapa yang berhijrah karena Alloh dan Rosul-Nya, maka hijrahnya kepada Alloh dan Rosul-Nya. Dan barangsiapa yang berhijrah karena (untuk mendapatkan) dunia atau karena wanita yang ingin dinikahinya maka hijrahnya itu kepada apa yang menjadi tujuannya (niatnya).’” (Diriwayatkan oleh dua imam ahli hadits; Abu Abdillah Muhammad bin Ismail bin Ibrohim bin Mughiroh bin Bardizbah Al-Bukhori dan Abul Husain Muslim bin Al-Hajjaj bin Muslim Al-Qusairy An-Naisabury di dalam kedua kitab mereka yang merupakan kitab paling shahih diantara kitab-kitab hadits).

2)      Kaitannya dengan Metode Belajar

Dalam belajar ada beberapa tokoh yang menerangkan kiat-kiat yang secara spesifik dirancang untuk memahami isi teks yang disebut SQ3R yang dikembangkan oleh Francis P. Robinson di Universitas Negeri Ohio Amerika Serikat. Metode tersebut bersifat praktis dan dapat diaplikasikan dalam berbagai pendekatan belajar.

      SQ3R pada prinsipnya merupakan singkatan langkah-kangkah mempelajari teks yang meliputi:

1)      Survey, maksudnya memeriksa atau meneliti atau mengidentifikasi seluruh teks;

2)      Question, maksudnya menyusun daftar pertanyaan yang relevan dengan teks;

3)      Read, maksudnya membaca teks secara aktif untuk mencari jawaban atas pertanyaan-pertanyaan yang telah tersusun;

4)      Recite, maksudnya menghafal setiap jawaban yang telah ditemukan;

5)      Review, maksudnya meninjau ulang seluruh jawaban atas pertanyaan yang tersusun pada langkah kedua dan ketiga.

Jadi, menghafal merupakan salah satu metode belajar yang telah dikemukakan oleh beberapa ahli yang telah diteliti dan dirancang secara spesifik.

            Dalam penjelasan lain, bahwa melalui pengulangan sel-sel saraf menjadi terhubung sehingga memudahkan dalam mengingat informasi.

3)      Hubungan Menghafal dengan Belajar

Menurut pandangan psikologi kuno, belajar ditafsirkan sebagai menghafal (Effendi & Praja, 1993). Oleh karena itu, belajar dilakukan semata-mata dengan menghafal. Hasil belajar ditandai dengan hafalnya seseorang tentang meteri yang dipelajarinya. Bahwa antara belajar dan menghafal terdapat hubungan timbal balik, memang benar. Namun, belajar dalam arti sesungguhnya, sebetulnya berbeda dengan menghafal. Menghafal hanya merupakan sebagian dari kegiatan belajar secara keseluruhan. Persamaannya adalah keduannya menyebabkan perubahan dalam diri individu.

Menghafal erat hubungannya dengan proses mengingat, yaitu proses untuk menerima, menyimpan, dan memproduksikan tanggapan-tanggapan yang telah diperolehnya melalui pengamatan (antara lain melalui belajar). Menghafal adalah kemampuan untuk memproduksikan tanggapan-tanggapan yang telah tersimpan secara cepat dan tepat, sesuai dengan tanggapan-tanggapan yang diterimanya.

Dalam menghafal, aspek perubahannya terbatas dalam kemampuan menyimpan dan memproduksikan tanggapan. Adapun dalam belajar, perubahan itu tidak saja dalam hal kemampuan tersebut, namun juga meliputi perubahan tingkah laku lainnya, seperti sikap, pengertian, skills, dan sebagainya. Dengan demikian, belajar akan berhadil dengan baik jika disertai kemampuan menghafal.

Sementara itu, sekalipun dalam belajar, kita menuju pengertian, tidak dapat kita abaikan peranan ingatan dalam hal ini. Bahkan, apa yang kita mengerti, apa yang kita alami sendiri, itu mudah kita ingat dan sukar kita lupa.

Dengan demikian, jelas, antara proses-proses belajar dan ingatan terdapat hubungan yang erat. Tidak mungkin kita dapat mempelajari sesuatu tanpa tersangkutnya fungsi ingatan sebagai salah satu aspek atau fungsi psikis. Belajar tanpa memori, tanpa mengingat apa yang dipelajari adalah nonsens, tidak ada artinya. Dengan belajar, kita bermaksud mendapatkan sesuatu, ini tidak mungkin tanpa pertolongan ingatan. Ingatan yang kaya dan kuat sangat berjasa sekali proses belajar.

Proses belajar telah kita ketahui mempunyai hubungan yang erat dengan pengertian perubahan. Berbagai perubahan ini dialami secara setapak demi setapak, yaitu suatu rangsangan dipersepsikan, kemudian diingat atau dicamkan, baru kemudian menginjak tahap proses pengecaman misalnya, suatu rangsangan itu sangat berkesan. Dengan proses yang sifanya berurutan ini, kita dapat mempelajari sesuatu secara keseluruhan.

Manusia sebagai pribadi, tidak saja dikenai oleh pengaruh-pengaruh dan proses-proses pada waktu ini, atau yang akan datang saja, tetapi dikenai pula oleh sesuatu yang pernah dialami, oleh pengalaman-pengalaman yang tertinggal pada dirinya dan memungkinkan untuk mengaktifkan kembali.

Mengaktifkan kembali segala apa yang pernah dialami atau diamati, sebenarnya bergantung dari fungsi-fungsi ingatan pada diri kita. Tertinggalnya jejak-jejak ingatan ini dlama kesadaran kita adalah hakikat dari fungsi ingatan. Dengan demikian, sebenarnya ingatan meliputi diperolehnya kesan-kesan (impression) dan pengalaman-pengalaman, kemudian pencaman kesan-kesan ini, dan akhirnya mengeluarkan kembali dalam kesadaran.

Masalahnya sekarang, bagaimana agar kemampuan yang ada pada diri kita dapat digunakan sebaik-baiknya dalam proses belajar kita? Dalam hal ini Poespoprodjo (1969) memberikan beberapa petunjuk sebagai berikut:

  1. Sebelum anda mulai, tanamlah selalu keinginan kuat untuk mengingat yang harus atau hendak diingat. Sesuatu akan melekat pada ingatan anda bila anda memang menghendaki mengingatnya. Akan tetapi, pastikan apa yang hendak anda ingat-ingat. Mengingat segala sesuatunya adalah tidak mungkin, karena tidak semua perlu diingat.
  2. Buatlah apa yang anda ingat itu mempunyai arti sebesar mungkin. Aturlah terlebih dahulu apa yang hendak anda ingat. Arahkan pikiran pada hal tersebut. Sering pikirkanlah. Bila mengulang, gunakanlah kalimat kunci yang dapat menarik keluar seluruh rantai.
  3. Mengetahui rantai hubungan diperlukan untuk ingatan. Ini memudahkan kerjanya ingatan. Dan kita memasukkan hal berguna dalam proses belajar.
  4. Perkaya dan perdalam dengan membaca buku-buku yang ada sangkut pautnya.
  5. Karena ingatan tanpa campur tangan akal budi bisa bekerja onfeilbaar, tanpa salah sedikit pun, bila pada permulaan anda menemukan suatu kesalahan, segeralah mengambil tindakan menyingkirkan kesalahan tersebut. Gantilah dengan benar. Segeralah! Jangan sekali-kali membiarkan kesalahan tadi berkecambah dan berakat dalam ingatan anda. Sangat berbahaya.
  6. Jangan memusatkan terlalu banyak bahan pada ingatan. Ini mematikan kerja akal budi dan menggangu perhatian. Ingatlah baik-baik hal yang pokok, esensial, lebih-lebih untuk menolong anda maju nantinya. Pikiran bisa lumpuh karena terlalu sarat muatan ingatan. Seperti makan terlalu banyak, merusak kesehatan. Kita memakai memori untuk hidup.
  7. Jangan menyimpan hal-hal yang tidak ada hubungannya. Ini tidak berguna hanya meracuni.
  8. Jangan menimbun materi, kemudian memompanya dalam ingatan.

 

 

SIMPULAN

 

·         Hadits ini menganjurkan untuk menghafal dan menjaga ilmu, dan hal itu dapat dicapai dengan tidak tamak terhadap dunia. Dunia yang dimaksudkan disini, yang dapat menjadi penghalang bagi seseorang dalam berbuat baik, yaitu harta benda. Harta adalah suatu bagian yang utama sekali dari dunia. Karena itu al-Ghazali secara khusus membicarakan soal harta, yakni harata dapat membawa malapetaka bagi manusia dan harta pula yang dapat membawa kebahagiaan baginya.

·         Disamping itu juga menjelaskan tentang keutamaan bekerja bagi orang yang sudah berkeluarga, dan diperbolehkannya mengabarkan tentang suatu keutamaan jika tidak di-khawatirkan munculnya sifat ujub.

 

 

 

 

 

 

 

 

 

 

 

 

 

 

 

 

 

 

 

 

 

 

 

 

 

 

 

 

 

DAFTAR PUSTAKA

 

v  Al Asqalani, Ibnu Hajar, (2006) Fathul Baari, Jakarta, Pustaka Azzam.

v  Asmaran AS, M. A, Drs. (1994) Pengantar Studi Akhlak, Jakarta, PT RajaGrafindo Persada.

v  Eysenck, M. (1998) Memory, in M. Eysenck (ed) Psychologi: an integrated approach. Harlow, Addison-Wesley longman.

v  Bobbi DePorter dan Mike Hernarcki (1992), Quantum Learning (Dialihbahasakan), Bandung, KAIFA.

v  Drs. Alex Sobur, M. Si., Psikologi Umum.

 

 

 

 

 

 

 

 



[1] Drs. A. Munir, Drs. Sudarsono, S.H., M.Si., Dasar-Dasar Agama Islam, (Jakarta: PT Rineka Cipta, 2001), hlm, 408.

[2] Matt Jarvis, Theoretical Approaches in Psychology, (London: Routledge, 2000), hlm. 113.

[3] Imam al-Ghazali, Ihya Ulumiddin, III, al-Masyhad al-Husain, Cairo, t.t., hlm, 226-232.


Tidak ada komentar:

Posting Komentar