BAB I
PENDAHULUAN
A.
Latar Belakang
Didalam proses belajar kita mengenal yang namanya metode menulis dan
menghafal. Kedua metode ini sudah lama diterapkan oleh umat Islam, khususnya
pada masa Rasulullah saw. banyak dari para shahabat Nabi yang mendengarkan hadits-hadits yang disampaikan
oleh Nabi Muhammad saw. Ada diantara mereka yang hanya megnhafalnya saja,
karena ingatannya sangat kuat dalam menghafal hadits. Tetapi ada juga yang
menulisnya, mungkin karena ia merasa hafalannya atau ingatannya kurang kuat.
Kalau dihubungkan dengan proses belajar kita sekarang, kedua metode itu
sangatlah penting. Karena, telah dibuktikan dan diteliti oleh para
ilmuwan-ilmuwan bahwa kedua metode itu sangat berpengaruh banyak kontribusinya
demi kelangsungan proses belajar.
Untuk itu, supaya lebih jelasnya mengetahui hadits-hadits yang
berhubungan dengan kedua metode tadi. Bisa anda lihat pada bab pembahasan
berikutnya.
B. Rumusan Masalah
1.
Apa saja hadits tentang anjuran
menulis dan menghafal ilmu?
2.
Bagaimana cara menghafal pada
masa Nabi?
3.
Bagaimana cara menghafal pada
masa ini?
C. Tujuan
1.
Mengetahui hadits tentang
anjuran menulis dan menghafal ilmu.
2.
Mengetahui cara menghafal pada
masa Nabi.
3.
cara menghafal pada masa ini.
BAB II
PEMBAHASAN
ANJURAN MENULIS DAN MENGHAFAL ILMU
A. Hadits Pertama
حَدَّثَنَا مُحَمَّدُ بْنُ سَلَامٍ قَالَ اَخْبَرَنَا
وَكِيْعٌ عَنْ سُفْيَانَ عَنْ مُطَرِّفٍ عَنِ الشَّعْبِيِّ عَنْ اَبِي جُحَيْفَةَ
قَالَ قُلْتُ لِعَلِيِّ بْنِ اَبِي طَالِبٍ هَلْ عِنْدَكُمْ كِتَابٌ قَالَ لَا إِلَّا
كِتَابُ اللهِ أَوْ فَهْمٌ أعْطِيَهُ رَجُلٌ مُسْلِمٌ أَوْ مَا فِي هَذِهِ الصَّحِيْفَةِ
قَالَ الْعَقْلُ وَفَكَاكُ الْأَسِيْرِ وَلَا يُقْتَلُ مُسْلِمٌ بِكَافِرٍ. (رواه الشيخان والترمذيّ)
Artinya:
“Menceritakan
kepada kami oleh Muhammad bin Salam berkata: mengkhabarkan kepada kami oleh
Waki’ dari Supyan dari Mutharrif dari Asy Sya’bi dari Abu Juhaifah katanya:
“Aku pernah bertanya kepada ‘Ali: “Apakah engkau mempunyai sebuah kitab?” Jawab
‘Ali: “Tidak, kecuali hanya Kitabullah
atau kefahaman yang diberikan kepada seorang Muslim atau apa yang ada didalam
catatan ini.” Tanyaku: “Apa yang ada didalam catatan itu? “ Jawab ‘Ali: “Yang
ada didalam catatan ini adalah catatan masalah hukum Diyah, membebaskan kaum
tawanan dan keterangan tentang tidak diperbolehkannya seorang Muslim dibunuh
dikarenakan jiwa seorang kafir.” (HR. Bukhari, Muslim dan Tirmidzi)
1) Keterangam Hadits
هَلْ عِنْدَكُمْ
(Apakah anda sekalian memiliki). pertanyaan ini di tujukan kepada Ali
Ra. Penggunaan kata ganti plural dalam kalimat tersebut dimungkinkan, karena
hal itu merupakan cara Abi Juhaifah dalam berinteraksi dengan ahlul bait atau
sebagai rasa penghormatan.
كِتَابُ (Kitab). Kitab yang kamu tulis
dari rasul. Hal ini telah di isyaratkan oleh riwayat imam Bukhari dalam bab
’’jihad’’,هَلْ
عِنْدَكُمْ
شَيْءٌ مِنَ الْوَحْيِ إِلَّا مَا فِي كِتَابِ اللهِ (Apakah anda memiliki catatan wahyu selain
yang tertulis di Al-Qur’an) atau dalam bab “Diyat” هَلْ عِنْدَكُمْ شَيْءٌ مِمَّا لَيْسَ فِي الْقُرْآنِ (Apakah anda
memiliki catatan selain yang terdapat dalam Al Qur’an(.
Begitu pula dengan hadits dari jalur Ishaq bin Rahawaih, dari Jarir, dari
Mutharrif, شَيْئًا
مِنَ الْوَحْيِ عَلِمْتَ هَلْ (Apakah anda mengetahui sesuatu dari wahyu(.
Abu Juhaifah menanyakan hal ini di karena kan kelompok islam Syiah
menganggap bahwa ahlul bait terutama Ali RA memiliki pengetahuan tentang wahyu
yang di khusus kan oleh nabi dan tidak diketahui orang lain. Ali juga di tanya tentang hal ini oleh Qais bin Ubadah dan Al Asytar An
Nakha’i. Kedua petanyaan mereka diriwayatkan oleh Musnad Imam Nasa’i.
) إِلَّا كِتَابُ اللهِ Kecuali Al qur’an(. Ibnu
Munir mengatakan,”Hadits ini menunjukkan bahwa Ali memiliki catatan mengenai
fiqih yang diintisari kan dari Al Qur’an, pemahaman seperti ini adalah maksud
dari kata) أَوْ فَهْمٌ أعْطِيَهُ رَجُلٌ pemahaman yang di berikan kepada
seseorang). Tujuan disebutkannya kata الفهم (pemahaman)
adalah, untuk menetapkan kemungkinan ada nya tambahan yang diintisarikan dari
Al Qur’an.
Riwayat imam Bukhari pada bab ad Diyat
berbunyi,ما عندنا إلا ما في القرآن إلا فهما يعطى رجل في الكتاب )kami tidak memiliki selain yang ada dalam al
Qur’an, kecuali pemahaman yang diberikan kepada seseorang tentang al Qur’an( Artinya, apabila Allah memberikan pemahaman
kepada seorang akan al Qur’an, maka tentunya orang tersebut akan mampu
mengambil intisari al Qur’an, dengan begitu orang tersebut mendapatkan tambahan
dari al Qur’an.
Dalam
riwayat Ahmad dengan sanad hasan )baik(. Disampaikan dari Thariq bin Syihab, dia berkata, “Aku menyaksikan Ali berpidato di atas
mimbar, beliau berkata, “Demi Allah aku tidak memiliki lagi yang dapat kami
bacakan di depan kalian semua, selain kitab Allah dan kertas-kertas ini.” Hadist inilah
yang mendukung pernyataan kami di atas.
) الصَّحِيْفَةِ kertas(
kertas catatan, diriwyatkan dari an Nasa’I melalui sanad Thariq Al Asytar
disebutka, “kemudian beliau mengeluarkan
sebuah kitab dari kantong dekat pedangnya.”
) العقل Diyat atau denda(. Disebutkan dengan istilah ini karena mereka membayar denda
tersebut dengan onta yang diikat dengan tali di halaman rumah orang yang
terbunuh. Maksud dari kata ini mencakup hukum, kadar dan sifat denda tersebut.
) وَفَكَاكُ Pembebasan(.
Maksudnya adalah pembebasan tawanan perang dari tangan musuh.
) وَلَا يُقْتَلُ Tidak diqishash(.
Yaitu seorang muslim yang membunuh seorang kafir, tidak dikenai hukum qishash.
Pembahasan mengenai masalah ini akan dijabarkan pada bab “Qishash” dan “Diyat”.
Imam Bukhari dan Imam Muslim meriwayatkan dari jalur sanad Yazid at Taimi dari
Ali, ia berkata, “Kami tidak membaca al
Qur’an dan kertas kertas ini dimana di dalamnya tercatat bahwa kota Madinah
adalah haram…”
Hadist riwayat Muslim dari Abu Thufail dari Ali, “Rasulullah tidak mengkhususkan kepada kami
sesuatu yang tidak diketahui masyarakat pada umumnya, kecuali yang tercatat
dalam kertas dekat pedangku ini. Kemudian beliau mengeluarkan kertas tersebut,
tercatat di dalamnya )Allah melaknat
orang orang yang membunuh bukan karena Allah(.
Menurut Imam Nasa’I bahwa catatan
dalam kertas tersebut berbunyi, “Dari Asytar dan lainnya, dari Ali RA, ia
berkata, “Orang orang mukmin dilarang
saling membunuh.” Menurut Imam Ahmad yang diriwayatkan dari Jalur Thariq
bin Syihab. “Dalam kertas tersebut tercatat
permasalahan faraidh atau warisan dan shadaqah.”
Dapat kita simpulkan bahwa semua
permasalahan telah tercatat dalam lembaran yang ada pada Ali. Kemudian setiap
permasalahan itu diriwayatkan oleh para periwayat hadist sesuai dengan hafalan
dari kertas tersebut. Hal ini sudah dijelaskan oleh Qatadah dalam hadist yang
diriwayatkan Abi Hissan dari Ali. Beliau juga menjelaskan sebab sebab
pertanyaan para sahabat mengenai permasalahan ini kepada Ali.
Imam Ahmad dan Imam Baihaqi dalam
kitab Dalail dari Abi Hissan, “Ali pernah
memerintahkan sebuah perintah, kemudian dijawab, “Kami sudah mengerjakakannya.”
Ali berkata, “Maha benar Allah dan RasulNya,” Asytar berkata kepada Ali,
“Apakah yang anda ucapkan ini merupakan suatu hal yang disampaikan oleh Rasul
kepadamu secara khusus, tanpa sepengetahuan orang lain pada umumnya?” Kemudian
disebutkan olehnya satu persatu secara terperinci.”
B. Hadits Kedua
حَدَّثَنَا
عَبْدُ الْعَزِيْزِ يْنُ عَبْدِ اللهِ قَالَ حَدَّثَنِي مَالِكٌ عَنْ اِبْنِ شِهَابٍ
عَنِ الْأَعْرَاجِ عَنْ اَبِي هُرَيْرَةَ قَالَ إِنَّ النَّاسّ يَقُولُونَ أَكْثَرَ
أَبُو هُرِيْرَةَ وَلَوْلَا آيَتَانِ فِي كِتَابِ
اللهِ مَا حَدَّثْتُ حَدِيْثًا ثُمَّ يَتْلُو إِنَّ اللَّذِيْنَ يَكْتُمُونَ
مَا أَنْزَلْنَا مِنَ الْبَيِّنَاتِ وَالْهُدَى إِلَى قَوْلِهِ الرَّحِيْمُ إِنَّ
إِخْوَانَنَا مِنَ الْمُحَاجِرِيْنَ كَانَ يَشْغَلُهُمْ الصَّفْقُ بِالْأَسْوَاقِ وَإِنَّ
إِخْوَانَنَا مِنَ الْأَنْصَارِ كَانَ يَشْغَلُهُمْ الْعَمَلُ فِي أَمْوَالِهِمْ وَإِنَّ
أَبَا هُرَيْرَةَ كَانَ يَلْزَمُ رَسُولَ اللهِ صَلَّي اللهُ عَلَيْهِ وَسَلَّمَ بِشِبَعِ
بَطْنِهِ وَيَحْضُرُ مَا لَا يَحْضُرُونَ وَيَحْفَظُ مَا لَا يَحْفَظُونَ.
Artinya:
“ Diceritakan kepada kami oleh ‘Abdul ‘Aziz bin ‘Abdullah berkata diceritakan
kepadaku oleh Malik dari Ibnu Syihab dari al-A’raj dari Abi Hurairah RA, “Orang
mengatakan, bahwa Abu Hurairah paling banyak meriwayatkan hadits.”
“Kalau tidak karena dua ayat dalam Al-Qur’an, niscaya
saya tidak akan meriwayatkan hadits.”
Kemudian dia membaca ayat, “Sesungguhnya orang-orang yang
menyembunyikan apa yang telah Kami turunkan berupa keterangan-keterangan (yang
jelas) dan petunjuk, setelah Kami menerangkannya kepada manusia dalam Al Kitab,
mereka itu dilaknati Allah dan dilaknati (pula) oleh semua (makhluk) yang dapat
melaknati, kecuali mereka yang telah tobat dan mengadakan perbaikan dan
menerangkan (kebenaran), maka terhadap mereka itu Aku menerima tobatnya dan
Akulah Yang Maha Penerima tobat lagi Maha Penyayang.” (QS. Al Baqarah :159-160) Lalu Abu
Hurairah meneruskan, “Saudara-saudara kita para Muhajirin sibuk dengan
perniagaan mereka di pasar-pasar, dan saudara-saudara kita dari kaum
Anshar sibuk dengan urusan harta
kekayaan mereka masing-masing. Tetapi saya selalu mengikuti Rasulullah ke
mana-mana; disamping saya dapat memenuhi kebutuhan perut saya, sayapun dapat
menghadiri ceramah-ceramah Nabi yang mereka tidak dapat hadir, serta menghafal
apa yang tidak dapat mereka hafal.”(HR. Bukhari)
1) Keterangan Hadits
Dalam
bab ini tidak disebutkan selain hadits Abu Hurairah RA, karena dia adalah sahabat
yang paling hafal tentang hadits Rasulullah saw. Imam Syafi’i mengatakan, “Abu
Hurairah adalah orang yang paling hafal hadits pada masanya.” Untuk itu Ibnu
Umar menyayangi jenazahnya, dan mengatakan,”Abu Hurairah telah menghafal hadits
Nabi untuk kaum muslimin.” (HR. Ibnu Sa’ad)
Dalam hadits yang ketiga menunjukkan, bahwa Abu Hurairah tidak meriwayatkan
semua hadits yang dihafalnya. Meskipun demikian, dia adalah orang yang paling
banyak meriwayatkan hadits Nabi. Maka hadits ini tidak bertentangan dengan
hadits sebelumnya, dimana Abu Hurairah menyatakan bahwa Ibnu Umar lebih banyak
meriwayatkan hadits daripada dirinya, yang alasannya sudah dijelaskan. Adapun
hadits yang kedua ini menunjukkan, bahwa Abu Hurairah tidak lupa apa yang
didengarnya dari rasulullah, dimana hal itu tidak ada pada selainnya.
Hal ini
membuktikan bahwa Abu Hurairah memiliki Akhlak yang baik yaitu sikap
merendahkan diri. Oleh sebab itu dapat diambil petunjuk bahwa kehidupan sosial
sepanjang tuntutan Etika Islam adalah suatu sikap mulia yang harus timbul dari
dalam diri secara ikhlas yang ditopang dengan kesadaran akhlak mahmudah atau
akhlaqul karimah.[1]
أكثر أبو هريرة (Abu Hurairah paling
banyak meriwayatkan hadits), yaitu hadits dari rasulullah saw. Sebagaimana
telah disebutkan oleh penulis dalam bab “Buyu’ (jual-beli)” dari Syu’aib, dari
Az-Zuhri, dan dalam bab “Muzara’ah” dari Ibrahim bin Sa’ad, dari Az-Zuhri
dengan tambahan (Mereka berkata, ”Mengapa orang-orang Muhajirin dan Anshar tidak
meriwayatkan hadits seperti hadits Abu Hurairah.”). Dengan demikian, jelaslah
hikmah disebutkannya Muhajirin dan Anshar.
ولولآ آيتان (Kalau tidak karena dua ayat). Artinya kalau tidak karena Allah mencela
orang-orang yang menyembunyikan ilmu, maka Abu Hurairah tidak akan meriwayatkan
(hadits); dan ketika dilarang untuk menyembunyikan ilmu, maka yang harus
dilakukan adalah menampakkan dan menjelaskannya. Untuk itu banyaknya hadits
yang diriwayatkan oleh Abu Hurairah , adalah karena banyaknya hadits yang
dihafalnya. Kemudian beliau menyebutkan sebab banyaknya hadits yang
diriwayatkannya dengan perkataan, إنّ إخواننا(Sesungguhnya saudara-saudara
kita), yaitu saudara seagama (Islam).
Kata الصفق berarti memukul tangan di atas
tangan. Hal itu merupakan kebiasaan yang mereka lakukan dalam akad
atautransaksi jual beli.
في أموالهم (Dalam harta kekayaan
mereka) atau bekerja untuk kemaslahatan pertanian mereka. Dalam riwayat Muslim
dikatakan, كان يغشلهم عمل أرضهم(Mereka disibukkan dengan pekerjaan pertanian mereka), dan
riwayat Ibnu Sa’ad berbunyi, كان يغشلهم القيام على أرضهم
Abu Hurairah RA senantiasa
menghadiri majelis rasulullah dan menghafal ucapan atau sabda beliau. Imam
Bukhari telah meriwayatkan dalam kitab Tarikh dan Hakim dalam Al
Mustadrak dari hadits Thalhah bin Ubaidillah yang menjadi penguat hadits Abu
Hurairah, “Saya tidak ragu, bahwa dia telah mendengar dari Rasulullah apa yang
tidak kami dengar, hal itu karena dia adalah orang miskin yang tidak punya
apa-apa dan menjadi tamu Rasulullah.”
Imam Bukhari meriwayatkan
dari hadits Muhammad bin Umarah bin Hazm, bahwa ia duduk dalam majelis para
sahabat yang berjumlah kurang lebih puluhan orang, dimana dalam majelis itu Abu
Hurairah telah meriwayatkan hadits dari Rasulullah yang tidak diketahui oleh
mereka yang hadir, kemudian mereka menelaah dan meneliti kembali sehingga
mengetahuinya. Demikian ia meriwayatkan hadits terus menerus, sehingga dikenal
pada waktu itu bahwa Abu Hurairah adalah orang yang paling hafal tentang hadits
rasulullah saw.
Imam Ahmad dan Tirmidzi meriwayatkan hadits dari ibnu Umar. Dia berkata
kepada Abu Hurairah, “ Kamu adalah orang yang selalu menyertai Rasulullah
diantara kita dan paling hafal tentang hadits beliau.” Sanad kedua hadits ini
telah dinyatakan shahih oleh Imam Bukhari dan Muslim.
C. Hadits Ketiga
حَدَّثَنَا أَحْمَدُ بْنُ أَبِي بَكْرٍ أَبُو مُصْعَبٍ
قَالَ حَدَّثَنَا مُحَمَّدُ بْنُ إِبْرَاهِيْمَ بْنِ دِيْنَارٍ عَنْ ابْنِ أَبِي ذِئْبٍ
عَنْ سَعِيْدٍ الْمَقْبُرِيِّ عَنْ أَبِي هُرَيْرَةَ قَالَ قُلْتُ يَا رَسُولَ
اللهِ إِنِّي أَسْمَعُ مِنْكَ حَدِيْثًا كَثِيْرًا أَنْسَاهُ قَالَ أبْسُطْ رِدَاءَكَ
فَبَسَتْطُهُ قَالَ فَغَرَفَ بِيَدَيْهِ ثُمَّ قَالَ ضُمَّهُ فَضَمَمْتُهُ فَمَا نَسِيْتُ
شَيْئًا بَعْدَهُ حَدَّثَنَا إِبْرَاهِيْمُ بْنُ الْمُنْذِرِ قَالَ حَدَّثَنَا ابْنُ
أَبِي فُدَيْكٍ بِهَذَا أَوْ قَالَ غَرَفَ بِيَدِهِ فِيْهِ.
Artinya:
“Menceritakan
kepada kami oleh Ahmad bin Abi Bakar Abu Mush’ab berkata, menceritakan kepada
kami oleh Muhammad bin Ibrahim bin Dinar dari Ibnu Abi dzi’bi dari sa’id al
Maqrubi dari Abu Hurairah RA, ia berkata, “Wahai rasulullah, saya banyak
menerima hadits dari engkau, tapi saya banyak lupa.” Rasulullah berkata,
“Singkapkanlah jubahmu!” Lalu kusingkapkan jubahku. Kemudian Rasulullah menyauk
dengan kedua tangannya dan berkata, “Kumpulkanlah!” Lalu kukumpulkan dan
setelah itu aku tidak pernah lupa lagi.” (HR. Bukhari)
1) Keterangan Hadits
فَمَا نَسِيْتُ شَيْئًا بَعْدَهُ (Maka aku tidak lupa lagi
setelah itu). Dalam riwayat Ibnu Uyainah dan lainnya dari Zuhri dalam hadits
yang lalu dikatakan, “Demi tuhan yang telah mengutusnya dengan benar, saya
tidak lupa apa yang telah saya dengar dari Rasulullah .” Dalam riwayat Yunus
dalam hadits Muslim dikatakan,” Maka setelah itu saya tidak lupa apa yang
dikatakan beliau kepada saya.” Hadits ini menjelaskan bahwa Abu Hurairah tidak
lupa semua hadits.
Dalam
riwayat Syu’aib, “Maka saya tidak lupa perkataan beliau setelah itu,” dimana
hadits ini hanya mengkhususkan bahw Abu Hurairah tidak lupa hadits itu saja.
Namun demikian konteks hadits telah menguatkan apa yang diriwayatkan oleh
Yunus, bahwa Abu Hurairah tidak lupa semua hadits, karena Abu Hurairah telah
menerangkan bahwa dia banyak menghafal hadits.
Perkataan
yang dimaksud dalam hadits Zuhri belum jelas semua jalurnya, tapi saya dapatkan
dengan jelas dalam kitab Jami’ milik Tirmidzi dan kitab Al Hilyah
milik Abu Nu’aim dari jalur lain dari Abu Hurairah. Ia berkata, bahwa
Rasulullah saw. bersabda, “Tidak ada seorang yang mendengar satu kalimat,
dua, tiga, empat atau lima dari apa yang diwajibkan oleh Allah, kemudian ia
mempelajarinya dan mengajarkannya, kecuali dia akan masuk surga.”
Dalam
dua hadits ini, nampak jelas keutamaan Abu Hurairah RA dan mukjizat kenabian,
karena lupa merupakan suatu hal yang lazim bagi manusia dan Abu Hurairah telah
mengakui hal itu, kemudian sifat (lupa) itu hilang dengan berkah kenabian Muhammad
saw.
Menurut
Eysenck (1998), ingatan jangka pendek berisi informasi dalam kondisi psikologis
terbaru. Kebalikannya, ingatan jangka panjang berisi informasi dalam kondisi
psikologis masa lampau, yaitu semua informasi yang telah disimpan, tetapi saat
ini tidak sedang dipikirkan.[2]
Dalam Al
Mustadrak Hakim dari hadits Zaid bin Tsabit berkata, “Aku dan Abu Hurairah
serta yang lainnya bersama Nabi, lalu beliau berkata, “ Berdoalah kalian
berdua!” Maka aku dan temanku berdoa, dan Nabi mengamininya. Lalu kami
berkata, “dan kami juga demikian wahai Rasulullah.” Rasulullah berkata, “Ghulam
Ad-Dusi telah mendahului kalian.”
Hadits
ini menganjurkan untuk menghafal dan menjaga ilmu, dan hal itu dapat dicapai dengan
tidak tamak terhadap dunia. Dunia yang dimaksudkan disini, yang dapat menjadi
penghalang bagi seseorang dalam berbuat baik, yaitu harta benda. Harta adalah
suatu bagian yang utama sekali dari dunia. Karena itu al-Ghazali secara khusus
membicarakan soal harta, yakni harata dapat membawa malapetaka bagi manusia dan
harta pula yang dapat membawa kebahagiaan baginya.[3]
Disamping itu juga
menjelaskan tentang keutamaan bekerja bagi orang yang sudah berkeluarga, dan
diperbolehkannya mengabarkan tentang suatu keutamaan jika tidak di-khawatirkan
munculnya sifat ujub.
D. Penjelasan Terkait
1) Ikhlas di Dalam Menuntut
Ilmu
Sebagaimana hadits ketiga,
maka dalam menuntut ilmu dan ber’amal kita juga harus ikhlas dengan cara
meluruskan niat. Di dalam hadits lain, Dari Amirul Mu’minin, (Abu Hafsh atau Umar bin Khottab
rodiyallohu’anhu) dia berkata: ”Aku pernah mendengar Rosululloh
shollallohu’alaihi wassalam bersabda: ’Sesungguhnya seluruh amal itu tergantung
kepada niatnya, dan setiap orang akan mendapatkan sesuai niatnya. Oleh karena
itu, barangsiapa yang berhijrah karena Alloh dan Rosul-Nya, maka hijrahnya
kepada Alloh dan Rosul-Nya. Dan barangsiapa yang berhijrah karena (untuk
mendapatkan) dunia atau karena wanita yang ingin dinikahinya maka hijrahnya itu
kepada apa yang menjadi tujuannya (niatnya).’” (Diriwayatkan oleh
dua imam ahli hadits; Abu Abdillah Muhammad bin Ismail bin Ibrohim bin Mughiroh
bin Bardizbah Al-Bukhori dan Abul Husain Muslim bin Al-Hajjaj bin Muslim
Al-Qusairy An-Naisabury di dalam kedua kitab mereka yang merupakan kitab paling
shahih diantara kitab-kitab hadits).
2) Kaitannya dengan Metode
Belajar
Dalam belajar ada beberapa
tokoh yang menerangkan kiat-kiat yang secara spesifik dirancang untuk memahami
isi teks yang disebut SQ3R yang dikembangkan oleh Francis P. Robinson di
Universitas Negeri Ohio Amerika Serikat. Metode tersebut bersifat praktis dan
dapat diaplikasikan dalam berbagai pendekatan belajar.
SQ3R pada prinsipnya merupakan singkatan langkah-kangkah
mempelajari teks yang meliputi:
1) Survey, maksudnya memeriksa atau meneliti atau mengidentifikasi seluruh teks;
2) Question, maksudnya menyusun daftar pertanyaan yang relevan dengan teks;
3) Read, maksudnya membaca teks secara aktif untuk mencari jawaban atas
pertanyaan-pertanyaan yang telah tersusun;
4) Recite, maksudnya menghafal setiap jawaban yang telah ditemukan;
5) Review, maksudnya meninjau ulang seluruh jawaban atas pertanyaan yang tersusun
pada langkah kedua dan ketiga.
Jadi, menghafal merupakan
salah satu metode belajar yang telah dikemukakan oleh beberapa ahli yang telah
diteliti dan dirancang secara spesifik.
Dalam
penjelasan lain, bahwa melalui pengulangan sel-sel saraf menjadi terhubung
sehingga memudahkan dalam mengingat informasi.
3) Hubungan Menghafal dengan
Belajar
Menurut pandangan psikologi kuno, belajar
ditafsirkan sebagai menghafal (Effendi & Praja, 1993). Oleh karena itu,
belajar dilakukan semata-mata dengan menghafal. Hasil belajar ditandai dengan
hafalnya seseorang tentang meteri yang dipelajarinya. Bahwa antara
belajar dan menghafal terdapat hubungan timbal balik, memang benar. Namun,
belajar dalam arti sesungguhnya, sebetulnya berbeda dengan menghafal. Menghafal
hanya merupakan sebagian dari kegiatan belajar secara keseluruhan. Persamaannya
adalah keduannya menyebabkan perubahan dalam diri individu.
Menghafal erat hubungannya dengan proses
mengingat, yaitu proses untuk menerima, menyimpan, dan memproduksikan
tanggapan-tanggapan yang telah diperolehnya melalui pengamatan (antara lain
melalui belajar). Menghafal adalah kemampuan untuk memproduksikan
tanggapan-tanggapan yang telah tersimpan secara cepat dan tepat, sesuai dengan
tanggapan-tanggapan yang diterimanya.
Dalam menghafal, aspek perubahannya terbatas
dalam kemampuan menyimpan dan memproduksikan tanggapan. Adapun dalam belajar,
perubahan itu tidak saja dalam hal kemampuan tersebut, namun juga meliputi
perubahan tingkah laku lainnya, seperti sikap, pengertian, skills, dan
sebagainya. Dengan demikian, belajar akan berhadil dengan baik jika disertai
kemampuan menghafal.
Sementara itu,
sekalipun dalam belajar, kita menuju pengertian, tidak dapat kita abaikan
peranan ingatan dalam hal ini. Bahkan, apa yang kita mengerti, apa yang kita
alami sendiri, itu mudah kita ingat dan sukar kita lupa.
Dengan demikian, jelas, antara proses-proses
belajar dan ingatan terdapat hubungan yang erat. Tidak mungkin kita dapat
mempelajari sesuatu tanpa tersangkutnya fungsi ingatan sebagai salah satu aspek
atau fungsi psikis. Belajar tanpa memori, tanpa mengingat apa yang dipelajari
adalah nonsens, tidak ada artinya. Dengan belajar, kita bermaksud mendapatkan
sesuatu, ini tidak mungkin tanpa pertolongan ingatan. Ingatan yang kaya dan
kuat sangat berjasa sekali proses belajar.
Proses belajar telah kita ketahui mempunyai
hubungan yang erat dengan pengertian perubahan. Berbagai perubahan ini dialami
secara setapak demi setapak, yaitu suatu rangsangan dipersepsikan, kemudian
diingat atau dicamkan, baru kemudian menginjak tahap proses pengecaman
misalnya, suatu rangsangan itu sangat berkesan. Dengan proses yang sifanya
berurutan ini, kita dapat mempelajari sesuatu secara keseluruhan.
Manusia sebagai pribadi,
tidak saja dikenai oleh pengaruh-pengaruh dan proses-proses pada waktu ini,
atau yang akan datang saja, tetapi dikenai pula oleh sesuatu yang pernah
dialami, oleh pengalaman-pengalaman yang tertinggal pada dirinya dan
memungkinkan untuk mengaktifkan kembali.
Mengaktifkan kembali segala apa yang pernah
dialami atau diamati, sebenarnya bergantung dari fungsi-fungsi ingatan pada
diri kita. Tertinggalnya jejak-jejak ingatan ini dlama kesadaran kita adalah
hakikat dari fungsi ingatan. Dengan demikian, sebenarnya ingatan meliputi
diperolehnya kesan-kesan (impression) dan pengalaman-pengalaman,
kemudian pencaman kesan-kesan ini, dan akhirnya mengeluarkan kembali dalam
kesadaran.
Masalahnya sekarang,
bagaimana agar kemampuan yang ada pada diri kita dapat digunakan sebaik-baiknya
dalam proses belajar kita? Dalam hal ini Poespoprodjo (1969) memberikan
beberapa petunjuk sebagai berikut:
- Sebelum
anda mulai, tanamlah selalu keinginan kuat untuk mengingat yang harus atau
hendak diingat. Sesuatu akan melekat pada ingatan anda bila anda memang
menghendaki mengingatnya. Akan tetapi, pastikan apa yang hendak anda
ingat-ingat. Mengingat segala sesuatunya adalah tidak mungkin, karena
tidak semua perlu diingat.
- Buatlah
apa yang anda ingat itu mempunyai arti sebesar mungkin. Aturlah terlebih
dahulu apa yang hendak anda ingat. Arahkan pikiran pada hal tersebut.
Sering pikirkanlah. Bila mengulang, gunakanlah kalimat kunci yang dapat
menarik keluar seluruh rantai.
- Mengetahui
rantai hubungan diperlukan untuk ingatan. Ini memudahkan kerjanya ingatan.
Dan kita memasukkan hal berguna dalam proses belajar.
- Perkaya
dan perdalam dengan membaca buku-buku yang ada sangkut pautnya.
- Karena
ingatan tanpa campur tangan akal budi bisa bekerja onfeilbaar,
tanpa salah sedikit pun, bila pada permulaan anda menemukan suatu
kesalahan, segeralah mengambil tindakan menyingkirkan kesalahan tersebut.
Gantilah dengan benar. Segeralah! Jangan sekali-kali membiarkan kesalahan
tadi berkecambah dan berakat dalam ingatan anda. Sangat berbahaya.
- Jangan
memusatkan terlalu banyak bahan pada ingatan. Ini mematikan kerja akal
budi dan menggangu perhatian. Ingatlah baik-baik hal yang pokok, esensial,
lebih-lebih untuk menolong anda maju nantinya. Pikiran bisa lumpuh karena
terlalu sarat muatan ingatan. Seperti makan terlalu banyak, merusak
kesehatan. Kita memakai memori untuk hidup.
- Jangan
menyimpan hal-hal yang tidak ada hubungannya. Ini tidak berguna hanya
meracuni.
- Jangan
menimbun materi, kemudian memompanya dalam ingatan.
SIMPULAN
·
Hadits ini menganjurkan untuk menghafal dan menjaga ilmu, dan hal itu dapat
dicapai dengan tidak tamak terhadap dunia. Dunia yang dimaksudkan disini, yang
dapat menjadi penghalang bagi seseorang dalam berbuat baik, yaitu harta benda.
Harta adalah suatu bagian yang utama sekali dari dunia. Karena itu al-Ghazali
secara khusus membicarakan soal harta, yakni harata dapat membawa malapetaka
bagi manusia dan harta pula yang dapat membawa kebahagiaan baginya.
·
Disamping itu juga menjelaskan tentang keutamaan bekerja bagi orang yang
sudah berkeluarga, dan diperbolehkannya mengabarkan tentang suatu keutamaan
jika tidak di-khawatirkan munculnya sifat ujub.
DAFTAR PUSTAKA
v
Al Asqalani, Ibnu Hajar, (2006) Fathul Baari, Jakarta, Pustaka
Azzam.
v
Asmaran AS, M. A, Drs. (1994) Pengantar Studi Akhlak, Jakarta, PT
RajaGrafindo Persada.
v
Eysenck, M. (1998) Memory, in M. Eysenck (ed) Psychologi: an integrated
approach. Harlow, Addison-Wesley longman.
v
Bobbi DePorter dan Mike Hernarcki (1992), Quantum Learning
(Dialihbahasakan), Bandung, KAIFA.
v Drs. Alex
Sobur, M. Si., Psikologi Umum.
[1] Drs. A. Munir, Drs. Sudarsono, S.H.,
M.Si., Dasar-Dasar Agama Islam, (Jakarta: PT Rineka Cipta, 2001), hlm,
408.
[2] Matt Jarvis, Theoretical Approaches in
Psychology, (London: Routledge, 2000), hlm. 113.
[3] Imam al-Ghazali, Ihya Ulumiddin,
III, al-Masyhad al-Husain, Cairo, t.t., hlm, 226-232.
Tidak ada komentar:
Posting Komentar