Rabu, 15 Juli 2020

10 HADIS HASAN LIDZ DZATIHI

BAB II

PEMBAHASAN

1). Hadis Hasan

         Kata Hasan, menurut bahasa artinya (baik) sesuatu yang diinginkan nafsu. Sedangkan menurut istilah, Hadis Hasan adalah hadis yang sanadnya sambung dengan pemindahan perawi yang kekuatan hafalannya lebih rendah daripada perawi Hadis Shahih serta sunyi dari syadz dan illat.

         Ibnu Taimiyah menguraikan batasan hadis hasan yang diberikan al-Turmudzi. Menurutnya, hadis hasan adalah  hadis yang diriwayatkan dari dua arah (jalur), dan para periwayatnya tidak tertuduh dusta, tidak mengandung syadz yang menyalahi hadis-hadis shahih. Hadis hasan li dzatihi ini bias biak derajatnya menjadi hadis hadis shahih (li ghairihi) bila ada hadis lain yang sejenis diriwayatkan melalui jalur sanad yang lain.[1]

            Hadis yang sanad-nya hasan, menurut mayoritas ulama hadis, ialah hadis yang sanad-nya bersambung, para periwayatnya bersifat adil, tetapi kurang sedikit sifat ke-dhabith-annya (khafif al-dhabth), tidak terdapat syudzudz dan ‘illat.[2] Dalam hal ini, perbedaan pokok antara hadis yang sand-nya sahih dan yang hasan terletak pada ke-dhabith-an periwayat. Ke-dhabith-an periwayat pada hadis hasan  tidak sesempurna ke-dhabith-an periwayat untuk hadis sahih. Sedang unsur-unsur lainnya , antara hadis hasan dan hadis sahih tidak terdapat perbedaan.[3]

  1. Definisi al- Chatabi: adalah hadis yang diketahui tempat keluarnya, dan telah mashur rawi-rawi sanadnya, dan kepadanya tempat berputar kebanyakan hadis, dan yang diterima kebanyakan ulama, dan yang dipakai oleh umumnya fukoha
  2. Definisi Tirmidzi: yaitu semua hadis yang diriwayatkan, dimana dalam sanadnya tidak ada yang dituduh berdusta, serta tidak ada syadz (kejangalan), dan diriwatkan dari selain jalan sepereti demikian, maka dia menurut kami adalah hadis hasan.
  3. Definisi Ibnu Hajar: beliau berkata, adalah hadis ahad yang diriwayatkan oleh yang adil, sempurna ke-dhabit-annya, bersanbung sanadnya, tidak cacat, dan tidak syadz (janggal) maka dia adalah hadis shahih li-dzatihi, lalu jika ringan ke-dhabit-annya maka dia adalah hadis hasan li dszatihi.

Kriteria hadis hasan sama dengan kriteria hadis shahih. Perbedaannya hanya terletak pada sisi ke-dhabit-annya. yaitu hadis shahih lebih sempurna ke-dhabit-annya dibandingkan dengan hadis hasan. Tetapi jika dibandingkan dengan ke-dhabit-an perawi hadis dha’if tentu belum seimbang, ke-dhabit-an perawi hadis hasan lebih unggul.

2).  Kehujahan Hadis Hasan

Hadis hasan sebagai mana halnya hadis shahih, meskipun derajatnya dibawah hadis shahih, adalah hadis yang dapat diterima dan dipergunakan sebagai dalil atau hujjah dalam menetapkan suatu hukum atau dalam beramal. Paraulama hadis, ulama ushul fiqih, dan fuqaha sepakat tentang kehujjahan hadis hasan.

 

 

3). Macam-Macam Hadis Hasan        

Hadis Hasan, adalah hadis yang dari segi hafalannya kurang dari hadis sahih. Hadis Hasan dibahagi dua:

  1. Hasan Lizatihi, yakni hadis yang dengan sendirinya dikatakan Hasan, Hadis ini ada yang sampai tingkat sahih lighairihi.
  2. Hasan Lighairihi, yakni hadis yang Hasannya dibantu keterangan lain. Contohnya, "Sembelihan bagi bayi haiwan yang ada dalam perut ibunya {janin} cukuplah dengan sembelihan ibunya saja." (H.R beberapa Imam, antara lain Tirmizi, Hakim dan Darimi).

Hadis di atas jika kita ambil dari sanad Imam Darimi, ialah Darimi menerima
dari
1. Ishak bin Ibrahim,
dari
2. Itab bin Basir,
dari
3. Ubaidillah bin Abu Ziyad,
dari
4. Abu Zubair,
dari
5. Jabir,
dari Nabi Muhammad s.a.w.

Nama yang tercela dalam sanad di atas ialah nomor 3 (Ubaidillah bin Abu Ziyad) sebab ia bukan seorang yang kuat dan teguh menurut Abu Yatim.

4). Contoh-Contoh Hadis Hasan Lizd Dzatihi

1). وَ عَنْ ابْنِ عُمَرَ رَضِىَ اللهُ عَنْهُ قَالَ : قَالَ رَسُوْلُ اللهِ ص م : (رَحِمَ اللهُ اِمْرَاً صَلَّى أَرْبَعًا قَبْلَ الْعَصْرِ). رَوَاهُ أَحْمَدُ وَ أَبُوْ دَاوُدَ

وَالتِّرْمِذِىُّ, وَحَسَّنَهُ, وَابْنُ خُزَيْمَةَ, وَصَحَّحَهُ.

1). Dari Ibnu Umar r.a. berkata: Rasulullah saw. bersabda: “Semoga Allah memberi rahmat kepada semua yang shalat (sunnah) 4 rakaat sebelum ashar.” Riwayat Ahmad, Abu Daud dan Turmudzi, yang dihasankan oleh Turmudzi, serta ibnu Khuzaimah yang dishahihkannya.[4]

2). وَعَنْ جَابِرِ بْنِ سَمُرَةَ رَضِيَ اللهُ عَنْهُ, اَنَّ النَّبِيَّ ص ع كَانَ فِي الْخُطْبَةِ يَقْرَأُ آيَاتٍ مِنَ الْقُرْآنِ, وَيُذَكِّرُ النَّاسَ. رَوَاهُ أَبُو دَاوُدَ, وَأَصلُهُ فِي مُسْلِمٍ.

2). Dan dari Jubair bin Samurah r.a. : Sesungguhnya Nabi saw. Dalam khutbahnya membaca ayat-ayat Al-Qur’an, dan mengingatkan orang-orang. Diriwayatkan oleh Abu Daud, dan asalnya dari hadist Muslim.[5]

3). وَعَنْ عَائِشَةَ رَضِيَ اللهُ عَنْهَا قَاَلتْ: لَمَّا اَرَادُوا غَسْلَ النَّبِيِّ ص م, قَالُوا وَاللهِ مَا نَدْرِيْ نُجَرِّدُ رَسُوْلَ اللهِ ص م مِنْ ثِيَابِهِ كَمَا نُجَرِّدُ مَوْتَانَا اَمْ نَغْسِلُهُ وَعَلَيْهِ ثِيَابُهُ الْحَدِيْثَ. اَلْحَدِيْثَ. رَوَاهُ أَحْمَدُ وَاَبُو دَاوُدَ.

3). Dari Aisyah r.a. berkata: Ketika para sahabat hendak memandikan Rasulullah saw. Mereka berkata: “Demi Allah kamia tidak tahu apakah kami akan melepaskan baju Rasulullah saw. Sebagaimana kami melepaskan baju orang-orang mati kami, atau kami memandikannya dengan baju melekat dibadannya.” Al-Hadist (H.R. Ahmad dan Abu Daud).[6]

4). وَعَنْ حُذَيْفَةَ رَضِيَ اللهُ عَنْهُ, اَنَّ النَّبِيَّ ص م كَانَ يَنْهَي عَنِ النَّعْيِ. رَوَاهُ أَحْمَدُ وَالتِّرْمِذِيُّ, وَحَسَّنَهُ.

4). Dan dari Hudzaifah r.a. bahwasanya Nabi saw. Melarang untuk memberitakan kematian seseorang. (H.R. Ahmad dan Turmudzi dan ia menghasankannya).[7]

5). وَلِأَبِي دَاوُدَ: (مَنْ بَاعَ بَيْعَتَيْنِ فِي بَيْعَةٍ فَلَهُ أَوْ كَسُهُمَا أَوِ الرِّبَا).

5). Dalam riwayat Abu Daud “Bbarang siapa melakukan dua jual beli dalam satu transaksi, maka baginya harga yang paling murah atau riba.[8]

                                                                                                                                                                           

6). وَعَنْ أَبِي هُرَيْرَةَ رَضِيَ اللهُ عَنْهُ عَنِ النَّبِيِّ ص ع قَالَ: (تَهَادُوا تَحَابُّوا) رَوَاهُ الْبُخَارِيُّ فِي الْأَدَبِ الْمُفْرَدِ, وَأَبُو يَعْلَي بِإِسْنَادٍ حَسَنٍ.

6). Dari Abu Hurairah r.a., dari Nabi saw., dia berkata: “Saling memberi hadiah akan membuat kamu saling mencintai,” Diriwayatkan oleh Bukhari dalam Adabul Mufrad dan Abu Ya’la dengan sanad yang hasan.[9]

7). وَعَنْ رُوَيْفِعِ بْنِ ثَابِتٍ رَضِيَ اللهُ عَنْهُ عَنِ النَّبِيِّ ص م قَالَ: لَا يَحِلُّ لِامْرِئٍ يُؤْمِنُ بِا للهِ وَالْيَوْمِ الْآخِرِ أَنْ يَسْقِيَ مَاءَهُ زَرْعَ غَيْرِهِ. أَخْرَجَهُ أَبُو دَاوُدَ وَالتِّرْمِذِيِّ, وَصَحَّحَهُ ابْنُ حِبَّانَ, وَحَسَّنَهُ الْبَزَّار.

7). Dari Ruwaifi’ bin tsabit r.a., dari Nabi saw. Beliau berkata, ”Tidak halal bagi seorang yang beriman kepada Allah dan hari akhir menyiramkan airnya pada ladang orang lain (berbuat zina).” Dikeluarkan oleh Abu Daud dan Turmudzi. Dishahihkan oleh Ibnu Hibban dan dihasankan oleh al-Bazzar.[10]

8). عَنْ عَائِشَةَ رَضِيَ اللهُ عَنْهُا, قَالَتْ: لَمَّا نَزَلَ عُذْرِي, قَامَ رَسُوْلُ اللهِ ص م عَلَى الْمِنْبَرِ, فَذَكَرَ ذَلِكَ وَتَلَا الْقُرْآنَ, فَلَمَّا نَزَلَ أَمَرَ بِرَجُلَيْنِ وَإِمْرَأَةٍ فَضُرِبُوا الْحَدَّ. أَخْرَجَهُ أَحْمَدُ وَالْأَرْبَعَةُ, وَأَشَارَ إِلَيْهِ البُخَارِيُّ.

8). Dari Aisyah r.a., dia berkata, “Ketika turun ayat yang membebaskan aku (dari tuduhan berzina), Rasulullah berdiri di atas mimbar dan menerangkan hal itu dan membacakan ayat Al-Qur’an. Setelah turun beliau memerintahkan mencambuk dua orang laki-laki dan perempuan karena melaksanakan hukum had.” Dikeluarkan oleh Ahmad dan Imam Empat. Bukhari memberi isyarat terhadap haidst ini.[11]

9). وَعَنْ مُعَاذٍ بْنِ جَبَلٍ رَضِيَ اللهُ عَنْهُ, قَالَ: غَزَوْنَا مَعَ رَسُوْلِ اللهِ ص م خَيْبَرَ فَأَصَبْنَا فِيْهَا غَنَمًا, فَقَسَمَ فِيْنَا  رَسُوْلُ اللهِ ص م طَائِفَةً, وَجَعَلَ بَقِيَّتَهَا فِي الْمَغْنَمِ. رَوَاهُ أَبُو دَاوُدَ, وَرِجَالُهُ لَابَأْسَ بِهِمْ.

9). Dari Mu’az bin Jabal r.a., dia berkata, “Kami berperang bersama Rasulullah saw. Pada perang Khaibar. Di dalam peperangan itu kami mendapatkan beberapa kambing, lalu Rasulullah saw. Membaginya kepada sekelompok orang di antara kami sedangkan sisanya dijadikan ghanimah.” Diriwayatkan oleh Abu Daud dan perawinya tidak ada masalah.[12]

10). وَعَنْ عَاصِمٍ بْنِ عُمَرَ, عَنْ أَنَسٍ, وَعَنْ عُثْمَانَ بْنِ أَبِي سُلَيْمَانَ أَنَّ النَّبِيَّ ص م بَعَثَ خَالِدَ بْنِ الْوَلِيْدِ اِلَى أُكَيْدِرِ دُومَةَ الْجَنْدَلِ فَأَخَذُوهُ. فَأَتَوا بِهِ فَحَقَنَ دَمَهُ وَصَالَحَهُ عَلَى الْجِزْيَةِ. رَوَاهُ أَبُو دَاوُدَ.

10). Dari ‘Ashim bin Umar dari Anas dan dari Utsman bin Abi Sulaiman bahwa Rasulullah saw. Pernah mengirim Khalid bin Walid kepada Ukaidir di Daumatul Jandal, lalu mereka (Khalid dan pasukannya) menangkapnya. Mereka membawanya kepada Nabi saw., lalu beliau menyelamatkan jiwanya dan berdamai dengan membayar upeti. Diriwayatkan oleh Abu daud.[13]

 

 

 

 

 

 

 

 

 

 

 

 

 

 

 

 

 

 

 

 

 

 

BAB III
    PENUTUP

SIMPULAN

Berdasarkan wacana di atas dapat diambi kesimpulan bahwa Hadis Hasan adalah hadis yang sanadnya sambung dengan pemindahan perawi yang kekuatan hafalannya lebih rendah daripada perawi Hadis Shahih serta sunyi dari syadz dan illat. Hadis Hasan, adalah hadis yang dari segi hafalannya kurang dari hadis sahih. Hadis Hasan dibahagi dua:

  1. Hasan Lizatihi, yakni hadis yang dengan sendirinya dikatakan Hasan, Hadis ini ada yang sampai tingkat sahih lighairihi.
  2. Hasan Lighairihi, yakni hadis yang Hasannya dibantu keterangan lain. Contohnya, "Sembelihan bagi bayi haiwan yang ada dalam perut ibunya {janin} cukuplah dengan sembelihan ibunya saja." (H.R beberapa Imam, antara lain Tirmizi, Hakim dan Darimi).

 

                                                                                                                                                                                                                                                                                                                                                            

 

 

 

 

 

 

 

 

 

 

 

 

 

 

DAFTAR PUSTAKA

·         Ahmad, Muhammad, dan Mudzakir, Muhammad, Ulumul Hadits, Pustaka Setia,  Bandung, 2000  .

·         Asqalani, Ibnu Hajar, Bulughul Maram, Pustaka as-Sunnah, Jakarta, 2009.

·         Muhammad bin Alawi Al Maliki, Kaidah-kaidah Dasar Ilmu Hadist, Apollo, Surabaya.

·         Muhammadiyah Amin, M. Ag, Prof. Dr. H., Ilmu Hadist, Sultan Amai Press, Gorontalo, 2008.

·         Munzier Suparta, MA, Drs. Ilmu Hadis, PT RajaGrafindo Persada, Jakarta, 2003.



[1] Drs. Munzier Suparta, MA., Ilmu Hadis, (Jakarta: PT RajaGrafindo Persada, 2003), hlm. 146.

[2] Shubhi Shalih, ‘Ulum al-Hadis wa Mushthalahuhu, (Beirut: Dar al-‘Ilm Li al-Malayin, 1977), hlm. 156-157.

[3] Prof. Dr. H. M. Syuhudi Ismail, Kaedah Kesahihan Sanad Hadis, (Jakarta: PT Bulan Bintang, 1995), hlm. 172.

[4] Hasan: Diriwayatkan oleh Ahmad (5944), Abu Daud (1271 dalam as-Sholaah, dan dishahihkan Al-Albani dalam Shahih Abi Daudno (1271),. Juga diriwayatkan Turmudzi (430), dalam Abwaabus sholaah, Ibnu Khuzaimah dalam Shahihnya (1193). Al-Albani berkata: “Hasan,” dalam al-Misykah (1170). Lihat pula “at-Ta’liq ‘labnu Khuzaimah” (1193).

[5] Hasan: Diriwayatkan oleh Abu Daud (1101) as-Sholaah, dan dishahihkan oleh Albani dalam Shahih Abu Daud (1101), dan asalnya terdapat dalam Muslim (862) al- Jumu’ah, bab Takhfisus Sholati wal Khuthbati.

[6] Hasan: Dikeluarkan oleh Abu Daud (3141), Ahmad (25774), Ibnu Jarud (257) dalam al- Muntaqa, Hakim (III/59-60) dan dishahihkannya berdasarkan syarat Muslim, Baihaqi (III/387), ath-Thayalisi (1530), Ibnu Hibban (2156) dalam Shahihnya. Al-Albani menghasankannya dalam Shahih Abu Daud [Ahkamul Janaaiz (66) Ma’arif].

[7] Hasan: Diriwayatkan oleh Ahmad (22945), Tirmidzi (986) bab Maa Jaa’a fii Karaahiyah an-Na’i, Ibnu Majah (1476), Baihaqi (IV/740. Tirmidzi berkata, “ini hadis hasan shahih.” Dihasankan oleh Al-Albani dalam Shahih at-Tirmidzi (986). Lihat Ahkaamul Janaaiz (44) Ma’arif.

[8] Hasan: Dikeluarkan oleh Ibnu Abi Syaibah dalam ‘al-Mushannif’ (VII/192/2), Abu Daud (3461), Ibnu Hibban (1110), Hakim (II/45), Baihaqi (V/343). Hakim berkata,” Shahih berdasarkan syarat Muslim,” disepakati oleh adz-Dzahabi, dishahihkan oleh Ibnu Hazm dalam al-Muhalla (IX/16). Al-Albani berkata, “Ia hanya hasan saja, karena Muhammad bin Amru ada sedikit komentar tentang hafalannya.” [al-Irwa’ (V/150)].

[9] Hasan: Dikeluarkan oleh Bukhari (594) dalam Adabul Mufrad dan ad-Daulabi dalam al-Kuna (I/150, II/7). Yang lengkap terdapat dalam al=Fawaaid (46/2), Ibnu Adi (204/2), Ibnu Asakir (17/207/2), Baihaqi (VI/169) dari beberapa jalur dari Dhammam bin Ismail, dia berkata,”Aku mendengar (hadis dari) Musa bin Wardan dari Abu Hurairah dari Nabi saw. Al-Albani berkat,”Hadis ini sanadnya hasan .” Lihat a-Irwa’ (1601).

[10] Hasan: Diriwayatkan oleh Abu Daud (2158) dalam ath-Thaalaq, bab Watha’ as-Sabaaya, Tirmidzi (1131) bab Maa Jaa’a Fii ar-Rajul Yasytari al-Jariyah wa Hiya Haamil dan dia berkata,”Hadist hasan,” Ahmad (16544), Ibnu Hibban (1675) dari Yahya bin Ayyub dari Rabi’ah dan bin Salim dari Ruwaifi’bin Tsabit. Al-Albani berkata,”Rabi’ah adalah Abu Mazruq at-Tajibi. Al-Hafizh dan Ibnu Hibban menganggapnya tsiqah, maka hadis ini hasan,” [Lihat al-Irwa’ (2137)].

[11] Hasan: Bukhari mengisyaratkannya (4827), diriwayatkan oleh Ahmad (23546), AbuDaud (4474) dalam al-Huduud, Tirmidzi (3181) dalam tafsir al-Qur’an, bab Wa Min Surah an- Nuur, Ibnu Majah (2567) dalam al-Huduud. Al-Albani menshahihkannya dalam shahih at-Tirmidzi (3181).

[12] Hasan: Diriwayatkan oleh Abu Daud (2707) dalam al-Jihaad, bab Fii Bai’a ath-Tha’aam Idza Fudhdhila ‘an an-Naas Fii Ardh al-‘Aduw. Al-Albani menshahihkannya dalam Shahih Abu Daud (2707).

[13] Hasan: Diriwayatkan oleh Bukhari (3157) al-Jizyah wa al-Muwaada’ah, Abu Daud (3043), Malik dalam al-Muwaththa’ (601) dari Ibnu Syihab, tetapi sanadnya terputus. Lihat al-Irwa’ (1249).


Tidak ada komentar:

Posting Komentar