![]()
BAB
I
PENDAHULUAN
A.
Latar Belakang
Sekolah merupakan salah satu tempat
terjadinya proses sosialisasi. Disekolah, anak tidak hanya mempelajari
pengetahuan dan keterampilan, melainkan juga sikap, nilai-nilai dan
norma-norma. Sebagian besar sikap dan nilai-nilai itu dipelajari secara
informal melalui situasi formal dikelas dan disekolah pada umumnya, bisa juga
melalui contoh pribadi guru, isi cerita buku-buku bacaan, pelajaran sejarah dan
geografi serta suasana anak mempelajari sikap, nilai-nilai dan norma-norma
masyarakat.
Setiap anak memiliki kecenderungan
untuk meniru dan mencontoh, baik itu perilaku ataupun ucapan. Oleh karena itu,
seorang guru ataupun orangtua haruslah menjadi teladan bagi anak-anaknya,
terutama dalam masalah pendidikan, baik dirumah ataupun disekolah.
Kita semua menyadari betapa
pentingnya pendidikan itu. Karena pendidikan merupakan faktor penting dan
menentukan dalam kehidupan suatu bangsa yang berbudaya. Kemajuan suatu bangsa
sangat tergantung pada tingkat pendidikan yang diperolehnya.
Berdasarkan hal itu, maka sekolah
sebagai sebuah lembaga penyelenggaraan pendidikan perlu mengembangkan budaya
sekolah, seperti disiplin, tanggung jawab, jujur, ikhlas, biasa memecahkan
masalah dengan solusi yang baik dan sebagainya.
Maka dari itu, makalah ini kami buat
untuk membahas bagaimana sosialisasi yang ada disekolah itu terjadi.
B.
Rumusan Masalah
1.
Bagaimana
sistem persekolahan disebut sebagai suatu organisasi formal ?
2.
Apa
fungsi-fungsi pendidikan sekolah ?
3.
Bagaimana
kebudayaan sekolah itu?
4.
Bagaimana
sosialisasi disekolah itu terjadi dan apa saja kesulitan yang dialami?
BAB II
PEMBAHASAN
A.
Sistem
Persekolahan Sebagai Suatu Organisasi Formal.
Etzioni (1964) mendefinisikan
organisasi sebagai “Unit Sosial (pengelompokan-pengelompokan manusia) yang
dengan sengaja dibentuk dan dibentuk kembali untuk mencapai tujuan-tujuan
tertentu.
Tiap anggota organisasi akan
menginginkan hal-hal yang berbeda atas keterlibatannya, dan banyak diantara
tujuan-tujuan itu berada jauh disebalik tujuan pembangunan yang dengan sengaja
mendirikan sekolah itu. Seperti dikatakan Davies, “didalam setiap lembaga
tertentu, satu-satunya hal yang dapat kita katakan dengan pasti sebelum kita
memulai penyelidikan adalah bahwa apa yang dikejar oleh para individu dan
kelompok-kelompok individu adalah hal-hal yang untuk sebagian sama tapi sering
berbeda”.
Sekolah merupakan contoh dari suatu organisasi formal, dan dalam tahun 1985
Parsons menulis, “Banyak sekali pekerjaan yang harus dilakukan sebelum kita
memiliki sesuatu yang pantas diberi nama teori mengenai organisasi formal”.
Bidwell (1965) dan Davies (1973) telah mengulangi komentar Parsons itu dalam
hubungannya dengan pendidikan; Davies beranggapan bahwa, “Meskipun sekolah
merupakan benda yang sudah tidak asing lagi bagi kita semua, dan
college-college bagi banyak orang, kemampuan kita untuk menjelaskan dan menggeneralisasikan cara kerjanya dengan
cara yang agak mendalam masih sangat dibatasi oleh kekurangan-kekurangan dalam
analisa organisasi itu sendiri dan oleh kelangkaan telaah-telaah empiris yang
layak dalam bidang pendidikan”.[1]
Sekolah sebagai suatu sistem,
menurut tinjauan sosiologis juga memiliki banyak karakteristik umum sebagaimana
pada jenis-jenis organisasi lainnya. Sistem persekolahan mempunyai organisasi
kelas yang mempunyai tujuan. Tujuan itulah yang menjadi arah dan pedoman kemana
organisasi sekolah itu dibawa. Secara umum tujuan sekolah adalah untuk
mencerdaskan kehidupan bangsa.[2]
Organisasi tidak begitu saja ada,
tapi diciptakan dengan maksud tertentu; artinya mempunyai tujuan-tujuan atau
yang oleh miller dan rice (1967) dinamakan Tugas Primer (Primary Task). Untuk
dapat menunaikan tugas primernya, suatu organisasi memerlukan masukan-masukan
(inputs); dalam hal sekolah masukan itu adalah para murid, guru dan material. Masukan
diproses didalam organisasi untuk menjadi keluaran dari sistem itu; suatu
keluaran yang kiranya sesuai dengan tujuan atau tugas primer organisasi.
B.
Fungsi-Fungsi Pendidikan Sekolah
Anak yang telah menyelesaikan sekolah diharapkan sanggup melakukan
pekerjaan sebagai mata pencaharian atau setidaknya mempunyai dasar keterampilan
untuk mencari nafkahnya. Hal ini bukan berarti sekolah hanya ingin memenuhi
kebutuhan pragmatis, tetapi pandangan ini berangkat dari persoalan dan
problematika yang dihadapi secara azasi dalam kahidupan manusia. Manusia
terdorong bergairah untuk melanjutkan sekolah diantaranya beranggapan bahwa
semakin tinggi pendidikannya, semakin tinggi harapannya memperoleh pekerjaan
yang lebih baik.[3]
Ada berbagai pendapat mengenai
fungsi pendidikan sekolah. Beberapa pendapat akan dikemukakan berikut ini :
Menurut bogardus, fungsi pendidikan
sekolah ada dua macam, yaitu[4] :
1)
Memberantas
kebodohan, dan
2)
Memberantas
salah pengertian.
Secara positif, kedua fungsi
tersebut dapat dirumuskan sebagai berikut :
-
Menolong
anak untuk menjadi melek huruf dan mengembangkan kemampuan-kemampuan
intelektualnya.
-
Mengembangkan
pengertian yang luas tentang manusia lain yang berbeda kebudayaan dan interestnya.
Gillin dan Gillin berpendapat, bahwa fungsi pendidikan sekolah ialah penyesuaian
diri anak dan stabilisasi masyarakat.
David Popenoe mengemukakan pendapat yang lebih terperinci mengenai fungsi
pendidikan sekolah. Menurut beliau ada empat macam fungsi itu, yaitu[5] :
1)
Transmisi
kebudayaan masyarakat,
2)
Menolong
individu memilih dan melakukan peranan sosialnya,
3)
Menjamin
integrasi sosial,
4)
Sebagai
sumber inovasi sosial.
Menurut S. Nasution fungsi pendidikan sekolah adalah[6] :
1)
Sekolah
memberikan keterampilan dasar.
2)
Sekolah
membuka kesempatan memperbaiki nasib.
3)
Sekolah
mempersiapkan anak-anak suatu pekerjaan.
4)
Sekolah
menyediakan tenaga pembangunan.
5)
Sekolah
membantu memecahkan masalah-masalah sosial.
6)
Sekolah
mentransmisi kebudayaan.
7)
Sekolah
membentuk manusia yang sosial.
8)
Sekolah
merupakan alat transformasi kebudayaan.
Dari beberapa
pendapat itu, dapat dipahami bahwa fungsi pendidikan sekolah adalah[7] :
-
Transmisi
dan transformasi kebudayaan
Fungsi transformasi kebudayaan
pendidikan sekolah ada dua yaitu : 1) transmisi pengetahuan dan keterampilan,
seperti pengetahuan tentang bahasa, pengetahuan alam, sosial dan teknologi.
-
Peranan
manusia sosial
Sekolah diharapkan mampu menciptakan
manusia sosial yang dapat bergaul dengan sesama manusia, meskipun berbeda agama,
suku, bangsa, pendirian, ekonomi, dan sebagainya.
-
Membentuk
kepribadian sebagai dasar keterampilan
Sekolah tidak saja mengajarkan
tentang pengetahuan dan keterampilan yang bertujuan mempengaruhi perkembangan
intelektual anak, melainkan juga memperhatikan perkembangan jasmaniah melalui
program olahraga, senam, dan kesehatan.
-
Sekolah
mempersiapkan anak untuk suatu pekerjaan
Anak telah lulus sekolah diharapakan
sanggup melaksanakan pekerjaan sebagai sumber mata pencaharian.
-
Integrasi
sosial
Indonesia merupakan Negara yang
mempunyai multikultural, aneka suku, agama dan adat istiadat, bermacam bahasa,
kelas sosial, politik, ekonomi sarat dengan integrasi. Untuk menjaga keutuhan sosial
adalah tugas sekolah yang sangat penting.
C.
Kebudayaan Sekolah
Sebagaimana halnya dengan keluarga
dan institusi sosial lainnya, sekolah merupakan salah satu institusi sosial
yang mempengaruhi proses sosialisasi dan berfungsi mewariskan kebudayaan
msyarakat kepada anak.[8]
Budaya sekolah adalah kualitas
kehidupan sekolah yang tumbuh dan berkembang berdasarkan spirit dan nilai-nilai
tertentu yang dianut sekolah. Lebih lanjut dikatakan bahwa budaya sekolah
adalah keseluruhan latar fisik, lingkungan, suasana, rasa, sifat, dan iklim
sekolah yang secara produktif mampu memberikan pengalaman baik bagi
bertumbuhkembangnya kecerdasan, keterampilan, dan aktivitas siswa. Budaya
sekolah dapat ditampilkan dalam bentuk hubungan kepala sekolah, guru, dan
tenaga kependidikan lainnya bekerja, kedisiplinan, rasa tanggung jawab,
berpikir rasional, motivasi belajar, kebiasaan memecahkan masalah secara
rasional.[9]
Kebudayaan sekolah ialah “a
complex set of beliefs values and traditions, way of thinking and behaving”
yang membedakannya dari institusi-institusi lainnya. Kebudayaan sekolah itu mempunyai
beberapa unsur penting, yaitu[10] :
·
Letak,
lingkungan, dan prasarana fisik sekolah (gedung sekolah, mebiler, perlengkapan
yang lain).
·
Kurikulum
sekolah yang memuat gagasan-gagasan maupun fakta-fakta yang menjadi keseluruhan
program pendidikan.
·
Pribadi-pribadi
yang merupakan warga sekolah yang terdiri atas siswa, guru, non teaching
specialist, dan tenaga administrasi.
·
Nilai-nilai
moral, sistem peraturan, dan iklim kehidupan sekolah.
Tiap-tiap sekolah mempunyai
kebudayaan sendiri yang bersifat unik. Penelitian-penelitian menunjukkan, bahwa
kebudayaan sekolah ini mempunyai pengaruh yang mendalam terhadap proses dan
cara belajar siswa. Ungkapan mengatakan, bahwa “children learn not what is
taught, but what is caught”, apa yang dihayati oleh siswa itu (sikap dalam
belajar, sikap terhadap kewibawaan, sikap terhadap nilai-nilai, dan sebagainya)
tidak berasal dari kurikulum sekolah yang bersifat formal, melainkan dari
kebudayaan sekolah itu.[11]
D.
Sosialisasi Di Sekolah dan Kesulitannya
-
Sosialisasi
Di Sekolah
Sekolah adalah sarana pendidikan
yang paling besar. Sekolah itu dirancang dan dibangun untuk pendidikan anak dan
tidak mempunyai fungsi lain selain itu, karena dia hanya dirancang dan dibangun
untuk pendidikan itu.[12]
Sesungguhnya fungsi sekolah itu
tidak terbatas pada pengisian pikiran murid-murid dengan ilmu pengetahuan, akan
tetapi sekolah adalah salah satu sarana yang besar untuk tempat pembentukan
akhlak mulia dan membiasakan anak bersosialisasi dengan baik, kepada orangtua,
teman, guru-gurunya bahkan oranglain yang disekitarnya.
Menurut kimbal young, sosialisasi
adalah hubungan interaktif yang dengannya seseorang mempelajari
keperluan-keperluan sosial dan kultural, yang menjadikan seseorang sebagai
anggota masyarakat. Secara sosiologis, sosialisasi adalah belajar untuk
menyesuaikan diri dengan adat, tradisi, dan kecakapan-kecakapan kelompok, dan
secara psikologis, sosialisasi adalah kebiasaan-kebiasaan, perangai-perangai,
ide-ide, sikap dan nilai.[13]
Sosialisasi
adalah masalah belajar, dalam proses sosialisasi individu belajar bertingkah
laku, kebiasaan, serta pola-pola kebudayaan lainnya, juga belajar tentang
keterampilan-keterampilan sosial seperti berbahasa, bergaul, berpakaian, cara
makan, dan sebagainya. Seluruh proses sosialisasi berlangsung dalam interaksi
individu dengan lingkungan, seperti orangtua, saudara-saudara, guru-guru, teman
sekolah/sepermainan, informasi-informasi insidental, seperti membaca buku,
mendengarkan radio, menonton TV, mendengar percakapan oranglain, berinteraksi
dengan lingkungan dan sebagainya. Dalam hal ini yang penting adalah penggunaan
“filter” untuk menyaring hal-hal yang kurang atau tidak baik.[14]
Secara teori proses sosialisasi akan
terus berjalan pada tiap saat dan tempat. Sosialisasi tidak akan pernah
berhenti selama manusia masih berinteraksi dengan orang lain, maka disitu
terjadi proses saling memberi, sekaligus proses sosialisasi berjalan.
Menurut ilmu pendidikan, paling
tidak ada tiga pusat berlangsungnya proses sosialisasi yaitu, keluarga, sekolah
dan masyarakat.
Sekolah memegang peranan penting
dalam proses sosialisasi anak, walaupun sekolah hanya merupakan salah satu
lembaga yang bertanggung jawab atas pendidikan anak. Anak akan mengalami
perubahan dalam kelakuan sosial setelah ia masuk sekolah. Dan anak dituntut
untuk dapat menyesuaikan diri dengan kondisi serta aturan-aturan sekolah yang
berlaku dan formulatif. Untuk itulah secara berangsur-angsur sosialisasi
disekolah harus dilakukan oleh anak, disamping guru juga harus menyesuaikan diri
dengan tuntutan atau kondisi sekolah.[15]
Dari interaksi anak dengan
lingkungan sekolahnya, lambat laun ia akan memperoleh kesadaran akan dirinya
sebagai pribadi. Ia juga belajar memandang dirinya sebagai objek, seperti
oranglain memandang dirinya. Dengan
menyadari dirinya sebagai pribadi, ia dapat menyesuaikan dirinya dalam struktur
sosial, dan dengan demikian, ia lebih mengenal dirinya dalam lingkungan
sosialnya, dapat menyesuaikan kelakuan dan tindakannya sesuai harapan
masyarakat yang baik melalui proses sosialisasi disekolah yang dilaluinya. Jadi
dalam interaksi sosial disekolah memperoleh “self concept” tentang
dirinya atau menemukan dirinya.
Tanpa peranan dan pengaruh
institusi-institusi pendidikan, sosialisasi terhadap anak-anak dengan peranan
dan pengaruh orangtuanya memang dapat berlangsung, tetapi penyesuaiannya dengan
situasi kebutuhan dan kemajuan atau perkembangan zaman untuk kedepannya
kemungkinan sulit dicapai, sehingga kurang menguntungkan dalam sosialisasi itu.
Jadi diperlukan sosialisasi disekolah yang matang untuk membantu penyesuaian
diri dengan perkembangan zaman kedepan.
-
Kesulitan
Sosialisasi Di Sekolah
Setiap orang atau individu harus
berusaha menyesuaikan diri semaksimal mungkin dengan tuntutan lingkungannya,
sebab kegagalan dalam proses sosialisasi dapat menyebabkan gangguan kejiwaan.
Kesulitan-kesulitan yang dihadapi individu dalam masyarakat, dapat timbul
sebagai akibat modernisasi, industrialisasi, urbanisasi, teknologi maju dan
sebagainya. Maka pandai-pandailah untuk menanggapi hal-hal tersebut dengan
penuh kebijaksanaan, sehingga kehidupan sosial kita dapat seirama dengan
kondisi dan tuntutan masyarakat.[16]
Secara sederhana, sosialisasi yang
sukses adalah bila disertai dengan toleransi yang tulus (hidup berdampingan
secara damai) melalui jiwa tepa selira, disiplin dan patuh terhadap norma-norma
masyarakat, saling hormat menghormati dan saling menghargai.
Dalam sosialisasi terdapat dua
kendala yang dapat menghambat, yaitu :
1.
Adanya
kesulitan komunikasi
Komunikasi ada yang berbentuk verbal, dan atau tindakan (action).
Komunikasi sangat diperlukan dalam upaya memperlancar terhadap apa yang diinginkan. Keinginan untuk
menyampaikan sesuatu bisa terkendala karena komunikasi tidak berjalan baik. Keinginan
yang ingin disampaikan, atau keinginan untuk menyerap sesuatu yang ada, tidak
sepenuhnya dapat dipahami atau terkadang sama sekali tidak dimengerti.
Akibatnya, muncul kesulitan dalam menerima sosialisasi.
2.
Adanya
pola kelakuan yang berbeda-beda atau bertentangan.
Keluarga terdiri dari berbagai individu, begitu juga sekolah
apalagi masyarakat. Masing-masing individu kadangkala memiliki kepribadian
sendiri-sendiri. Sehingga, orang yang menyerap sikap dan perilaku dari
individu-individu tertentu terkadang dihadapkan ketidaksamaan dengan individu
lain. Adanya ketidaksamaan masing-masing individu ini, melahirkan kebingungan
atau keraguan, kepribadian individu mana yang menjadi acuan. Terlebih lagi
kalau dirinci, unsur-unsur atau aspek perbuatan, sikap dan perilaku mana yang
patut untuk diserap untuk pengembangan kepribadian diri.
Dalam proses sosialisasi individu berkembang menjadi suatu pribadi
atau makhluk sosial. Menurut robbins dalam vembriarto (1978) perkembangan
kepribadian manusia itu dipengaruhi oleh beberapa faktor antara lain :
a.
Sifat
dasar, yaitu sifat-sifat yang diwarisi individu dari kedua orangtuanya.
b.
Lingkungan
prenatal, yaitu lingkungan sebelum lahir atau waktu dalam kandungan.
c.
Perbedaan
individu, yaitu keunikan atau ciri yang dimiliki oleh masing-masing individu.
d.
Lingkungan,
yaitu kondisi-kondisi disekitar individu baik berupa alam, budaya, dan manusia
lain dan masyarakat.
e.
Motivasi,
yaitu kekuatan atau dorongan yang menyebabkan individu berbuat.
BAB III
PENUTUP
SIMPULAN
1.
Sekolah merupakan contoh dari suatu organisasi
formal, Organisasi tidak begitu saja ada, tapi diciptakan dengan maksud
tertentu; artinya mempunyai tujuan-tujuan yang dinamakan tugas primer (Primary
Task). Untuk dapat menunaikan tugas primernya, suatu organisasi memerlukan
masukan-masukan (inputs); dalam hal sekolah masukan itu adalah para murid, guru
dan material. Masukan diproses didalam organisasi untuk menjadi keluaran dari sistem
itu; suatu keluaran yang kiranya sesuai dengan tujuan atau tugas primer
organisasi.
2.
Fungsi-fungsi
pendidikan sekolah sebenarnya terdapat banyak pendapat tentang pembagiannya,
namun yang sering diungkapkan bahwa fungsi pendidikan sekolah itu adalah
sebagai jalan untuk memberantas kebodohan, dan memberantas salah paham antara
satu individual dengan yang lainnya.
3.
Kebudayaan
sekolah ialah “a complex set of beliefs values and traditions, way of
thinking and behaving” yang membedakannya dari institusi-institusi lainnya.
kebudayaan sekolah ini mempunyai pengaruh yang mendalam terhadap proses dan
cara belajar siswa.
4.
Sekolah
memegang peranan penting dalam proses sosialisasi anak, walaupun sekolah hanya
merupakan salah satu lembaga yang bertanggung jawab atas pendidikan anak. Anak
akan mengalami perubahan dalam kelakuan sosial setelah ia masuk sekolah. Kesulitan
sosialisasi disekolah dapat timbul sebagai akibat modernisasi, industrialisasi,
urbanisasi, teknologi maju dan sebagainya.
DAFTAR PUSTAKA
Ahmadi, Abu. 2004. Sosiologi Pendidikan. PT Rineka Cipta :
Jakarta.
H. Gunawan, Ary. 2000. Sosiologi Pendidikan. Rineka Cipta :
Jakarta.
Muhammad, Abu bakar. 1981. Pedoman Pendidikan Dan Pengajaran.
Usaha Nasional: Surabaya.
Padil, Moh, dan
Triyo Suprayitno. 2010. Sosiologi Pendidikan. UIN-Maliki Press : Malang.
Radiansyah. 2012. Sosiologi Pendidikan Tri Pusat Pendidikan. IAIN
Antasari Press : Banjarmasin.
Robinson, Philip. 1986. Beberapa Persefsi Sosiologi Pendidikan.
CV. Rajawali : Jakarta.
Vembriarto, ST.
1981. Sosiologi Pendidikan. Paramita : Yogyakarta.
Yusuf, Choirul Fuad. 2008. Budaya Sekolah & Mutu Pendidikan.
PT Rena Citasatria : Jakarta.
[1] Philip
Robinson, Beberapa Persefsi Sosiologi Pendidikan, (Jakarta : CV.
Rajawali, 1986), hal 238-239
[2]
Radiansyah, Sosiologi
Pendidikan Tri Pusat Pendidikan, (Banjarmasin : IAIN Antasari Press, 2012),
hal. 130-131
[3] Moh. Padil dan
Triyo Suprayitno, Sosiologi Pendidikan, (Malang : UIN-Maliki Press,
2010), hal. 148
[4] ST.
Vembriarto, Sosiologi Pendidikan, (Yogyakarta : Paramita, 1981), hal. 93
[5] Abu Ahmadi, Sosiologi
Pendidikan, (Jakarta : PT Rineka Cipta, 2004), hal. 182
[6] Moh. Padil dan
Triyo Suprayitno, Sosiologi Pendidikan, hal. 149-150
[7] Ibid, hal.
150-156
[8] Abu Ahmadi, op.cit,
hal. 186
[9] Choirul Fuad
Yusuf, Budaya Sekolah & Mutu Pendidikan, (Jakarta : PT Rena
Citasatria, 2008), hal. 17.
[10] ST.
Vembriarto, op.cit, hal 106-107
[11] Abu Ahmadi, op.cit,
hal. 187
[12] Abu Bakar
Muhammad, Pedoman Pendidikan dan Pengajaran, (Surabaya : Usaha Nasional,
1981), hal. 61
[13]
Radiansyah, op.cit,
hal. 135-136
[14] Ary. H.
Gunawan, Sosiologi Pendidikan, (Jakarta : Rineka Cipta, 2000), hal. 48
[15] Radiansyah, op.cit,
hal. 139-140
[16] ibid,
hal. 138-139
Tidak ada komentar:
Posting Komentar