Rabu, 15 Juli 2020

SEKOLAH & SOSIALISASI

BAB I

PENDAHULUAN

A.    Latar Belakang

Sekolah merupakan salah satu tempat terjadinya proses sosialisasi. Disekolah, anak tidak hanya mempelajari pengetahuan dan keterampilan, melainkan juga sikap, nilai-nilai dan norma-norma. Sebagian besar sikap dan nilai-nilai itu dipelajari secara informal melalui situasi formal dikelas dan disekolah pada umumnya, bisa juga melalui contoh pribadi guru, isi cerita buku-buku bacaan, pelajaran sejarah dan geografi serta suasana anak mempelajari sikap, nilai-nilai dan norma-norma masyarakat.

Setiap anak memiliki kecenderungan untuk meniru dan mencontoh, baik itu perilaku ataupun ucapan. Oleh karena itu, seorang guru ataupun orangtua haruslah menjadi teladan bagi anak-anaknya, terutama dalam masalah pendidikan, baik dirumah ataupun disekolah.

Kita semua menyadari betapa pentingnya pendidikan itu. Karena pendidikan merupakan faktor penting dan menentukan dalam kehidupan suatu bangsa yang berbudaya. Kemajuan suatu bangsa sangat tergantung pada tingkat pendidikan yang diperolehnya.

Berdasarkan hal itu, maka sekolah sebagai sebuah lembaga penyelenggaraan pendidikan perlu mengembangkan budaya sekolah, seperti disiplin, tanggung jawab, jujur, ikhlas, biasa memecahkan masalah dengan solusi yang baik dan sebagainya.

Maka dari itu, makalah ini kami buat untuk membahas bagaimana sosialisasi yang ada disekolah itu terjadi.

 

B.     Rumusan Masalah

1.      Bagaimana sistem persekolahan disebut sebagai suatu organisasi formal ?

2.      Apa fungsi-fungsi pendidikan sekolah ?

3.      Bagaimana kebudayaan sekolah itu?

4.      Bagaimana sosialisasi disekolah itu terjadi dan apa saja kesulitan yang dialami?

 

BAB II

PEMBAHASAN

A.   Sistem Persekolahan Sebagai Suatu Organisasi Formal.

Etzioni (1964) mendefinisikan organisasi sebagai “Unit Sosial (pengelompokan-pengelompokan manusia) yang dengan sengaja dibentuk dan dibentuk kembali untuk mencapai tujuan-tujuan tertentu.

Tiap anggota organisasi akan menginginkan hal-hal yang berbeda atas keterlibatannya, dan banyak diantara tujuan-tujuan itu berada jauh disebalik tujuan pembangunan yang dengan sengaja mendirikan sekolah itu. Seperti dikatakan Davies, “didalam setiap lembaga tertentu, satu-satunya hal yang dapat kita katakan dengan pasti sebelum kita memulai penyelidikan adalah bahwa apa yang dikejar oleh para individu dan kelompok-kelompok individu adalah hal-hal yang untuk sebagian sama tapi sering berbeda”.

Sekolah merupakan contoh dari suatu organisasi formal, dan dalam tahun 1985 Parsons menulis, “Banyak sekali pekerjaan yang harus dilakukan sebelum kita memiliki sesuatu yang pantas diberi nama teori mengenai organisasi formal”. Bidwell (1965) dan Davies (1973) telah mengulangi komentar Parsons itu dalam hubungannya dengan pendidikan; Davies beranggapan bahwa, “Meskipun sekolah merupakan benda yang sudah tidak asing lagi bagi kita semua, dan college-college bagi banyak orang, kemampuan kita untuk menjelaskan  dan menggeneralisasikan cara kerjanya dengan cara yang agak mendalam masih sangat dibatasi oleh kekurangan-kekurangan dalam analisa organisasi itu sendiri dan oleh kelangkaan telaah-telaah empiris yang layak dalam bidang pendidikan”.[1]

Sekolah sebagai suatu sistem, menurut tinjauan sosiologis juga memiliki banyak karakteristik umum sebagaimana pada jenis-jenis organisasi lainnya. Sistem persekolahan mempunyai organisasi kelas yang mempunyai tujuan. Tujuan itulah yang menjadi arah dan pedoman kemana organisasi sekolah itu dibawa. Secara umum tujuan sekolah adalah untuk mencerdaskan kehidupan bangsa.[2]

Organisasi tidak begitu saja ada, tapi diciptakan dengan maksud tertentu; artinya mempunyai tujuan-tujuan atau yang oleh miller dan rice (1967) dinamakan Tugas Primer (Primary Task). Untuk dapat menunaikan tugas primernya, suatu organisasi memerlukan masukan-masukan (inputs); dalam hal sekolah masukan itu adalah para murid, guru dan material. Masukan diproses didalam organisasi untuk menjadi keluaran dari sistem itu; suatu keluaran yang kiranya sesuai dengan tujuan atau tugas primer organisasi.

           

B.     Fungsi-Fungsi Pendidikan Sekolah

Anak yang telah menyelesaikan sekolah diharapkan sanggup melakukan pekerjaan sebagai mata pencaharian atau setidaknya mempunyai dasar keterampilan untuk mencari nafkahnya. Hal ini bukan berarti sekolah hanya ingin memenuhi kebutuhan pragmatis, tetapi pandangan ini berangkat dari persoalan dan problematika yang dihadapi secara azasi dalam kahidupan manusia. Manusia terdorong bergairah untuk melanjutkan sekolah diantaranya beranggapan bahwa semakin tinggi pendidikannya, semakin tinggi harapannya memperoleh pekerjaan yang lebih baik.[3]

Ada berbagai pendapat mengenai fungsi pendidikan sekolah. Beberapa pendapat akan dikemukakan berikut ini :

Menurut bogardus, fungsi pendidikan sekolah ada dua macam, yaitu[4] :

1)      Memberantas kebodohan, dan

2)      Memberantas salah pengertian.

Secara positif, kedua fungsi tersebut dapat dirumuskan sebagai berikut :

-          Menolong anak untuk menjadi melek huruf dan mengembangkan kemampuan-kemampuan intelektualnya.

-          Mengembangkan pengertian yang luas tentang manusia lain yang berbeda kebudayaan dan interestnya.

Gillin dan Gillin berpendapat, bahwa fungsi pendidikan sekolah ialah penyesuaian diri anak dan stabilisasi masyarakat.

David Popenoe mengemukakan pendapat yang lebih terperinci mengenai fungsi pendidikan sekolah. Menurut beliau ada empat macam fungsi itu, yaitu[5] :

1)      Transmisi kebudayaan masyarakat,

2)      Menolong individu memilih dan melakukan peranan sosialnya,

3)      Menjamin integrasi sosial,

4)      Sebagai sumber inovasi sosial.

Menurut S. Nasution fungsi pendidikan sekolah adalah[6] :

1)      Sekolah memberikan keterampilan dasar.

2)      Sekolah membuka kesempatan memperbaiki nasib.

3)      Sekolah mempersiapkan anak-anak suatu pekerjaan.

4)      Sekolah menyediakan tenaga pembangunan.

5)      Sekolah membantu memecahkan masalah-masalah sosial.

6)      Sekolah mentransmisi kebudayaan.

7)      Sekolah membentuk manusia yang sosial.

8)      Sekolah merupakan alat transformasi kebudayaan.

 

Dari beberapa pendapat itu, dapat dipahami bahwa fungsi pendidikan sekolah adalah[7] :

-          Transmisi dan transformasi kebudayaan

Fungsi transformasi kebudayaan pendidikan sekolah ada dua yaitu : 1) transmisi pengetahuan dan keterampilan, seperti pengetahuan tentang bahasa, pengetahuan alam, sosial dan teknologi.

-          Peranan manusia sosial

Sekolah diharapkan mampu menciptakan manusia sosial yang dapat bergaul dengan sesama manusia, meskipun berbeda agama, suku, bangsa, pendirian, ekonomi, dan sebagainya.

-          Membentuk kepribadian sebagai dasar keterampilan

Sekolah tidak saja mengajarkan tentang pengetahuan dan keterampilan yang bertujuan mempengaruhi perkembangan intelektual anak, melainkan juga memperhatikan perkembangan jasmaniah melalui program olahraga, senam, dan kesehatan.

-          Sekolah mempersiapkan anak untuk suatu pekerjaan

Anak telah lulus sekolah diharapakan sanggup melaksanakan pekerjaan sebagai sumber mata pencaharian.

-          Integrasi sosial

Indonesia merupakan Negara yang mempunyai multikultural, aneka suku, agama dan adat istiadat, bermacam bahasa, kelas sosial, politik, ekonomi sarat dengan integrasi. Untuk menjaga keutuhan sosial adalah tugas sekolah yang sangat penting.

 

C.    Kebudayaan Sekolah

Sebagaimana halnya dengan keluarga dan institusi sosial lainnya, sekolah merupakan salah satu institusi sosial yang mempengaruhi proses sosialisasi dan berfungsi mewariskan kebudayaan msyarakat kepada anak.[8]

Budaya sekolah adalah kualitas kehidupan sekolah yang tumbuh dan berkembang berdasarkan spirit dan nilai-nilai tertentu yang dianut sekolah. Lebih lanjut dikatakan bahwa budaya sekolah adalah keseluruhan latar fisik, lingkungan, suasana, rasa, sifat, dan iklim sekolah yang secara produktif mampu memberikan pengalaman baik bagi bertumbuhkembangnya kecerdasan, keterampilan, dan aktivitas siswa. Budaya sekolah dapat ditampilkan dalam bentuk hubungan kepala sekolah, guru, dan tenaga kependidikan lainnya bekerja, kedisiplinan, rasa tanggung jawab, berpikir rasional, motivasi belajar, kebiasaan memecahkan masalah secara rasional.[9]

Kebudayaan sekolah ialah “a complex set of beliefs values and traditions, way of thinking and behaving” yang membedakannya dari institusi-institusi lainnya. Kebudayaan sekolah itu mempunyai beberapa unsur penting, yaitu[10] :

·         Letak, lingkungan, dan prasarana fisik sekolah (gedung sekolah, mebiler, perlengkapan yang lain).

·         Kurikulum sekolah yang memuat gagasan-gagasan maupun fakta-fakta yang menjadi keseluruhan program pendidikan.

·         Pribadi-pribadi yang merupakan warga sekolah yang terdiri atas siswa, guru, non teaching specialist, dan tenaga administrasi.

·         Nilai-nilai moral, sistem peraturan, dan iklim kehidupan sekolah.

Tiap-tiap sekolah mempunyai kebudayaan sendiri yang bersifat unik. Penelitian-penelitian menunjukkan, bahwa kebudayaan sekolah ini mempunyai pengaruh yang mendalam terhadap proses dan cara belajar siswa. Ungkapan mengatakan, bahwa “children learn not what is taught, but what is caught”, apa yang dihayati oleh siswa itu (sikap dalam belajar, sikap terhadap kewibawaan, sikap terhadap nilai-nilai, dan sebagainya) tidak berasal dari kurikulum sekolah yang bersifat formal, melainkan dari kebudayaan sekolah itu.[11]

 

D.    Sosialisasi Di Sekolah dan Kesulitannya

-          Sosialisasi Di Sekolah

Sekolah adalah sarana pendidikan yang paling besar. Sekolah itu dirancang dan dibangun untuk pendidikan anak dan tidak mempunyai fungsi lain selain itu, karena dia hanya dirancang dan dibangun untuk pendidikan itu.[12]

Sesungguhnya fungsi sekolah itu tidak terbatas pada pengisian pikiran murid-murid dengan ilmu pengetahuan, akan tetapi sekolah adalah salah satu sarana yang besar untuk tempat pembentukan akhlak mulia dan membiasakan anak bersosialisasi dengan baik, kepada orangtua, teman, guru-gurunya bahkan oranglain yang disekitarnya.

Menurut kimbal young, sosialisasi adalah hubungan interaktif yang dengannya seseorang mempelajari keperluan-keperluan sosial dan kultural, yang menjadikan seseorang sebagai anggota masyarakat. Secara sosiologis, sosialisasi adalah belajar untuk menyesuaikan diri dengan adat, tradisi, dan kecakapan-kecakapan kelompok, dan secara psikologis, sosialisasi adalah kebiasaan-kebiasaan, perangai-perangai, ide-ide, sikap dan nilai.[13]

Sosialisasi adalah masalah belajar, dalam proses sosialisasi individu belajar bertingkah laku, kebiasaan, serta pola-pola kebudayaan lainnya, juga belajar tentang keterampilan-keterampilan sosial seperti berbahasa, bergaul, berpakaian, cara makan, dan sebagainya. Seluruh proses sosialisasi berlangsung dalam interaksi individu dengan lingkungan, seperti orangtua, saudara-saudara, guru-guru, teman sekolah/sepermainan, informasi-informasi insidental, seperti membaca buku, mendengarkan radio, menonton TV, mendengar percakapan oranglain, berinteraksi dengan lingkungan dan sebagainya. Dalam hal ini yang penting adalah penggunaan “filter” untuk menyaring hal-hal yang kurang atau tidak baik.[14]

Secara teori proses sosialisasi akan terus berjalan pada tiap saat dan tempat. Sosialisasi tidak akan pernah berhenti selama manusia masih berinteraksi dengan orang lain, maka disitu terjadi proses saling memberi, sekaligus proses sosialisasi berjalan.

Menurut ilmu pendidikan, paling tidak ada tiga pusat berlangsungnya proses sosialisasi yaitu, keluarga, sekolah dan masyarakat.

Sekolah memegang peranan penting dalam proses sosialisasi anak, walaupun sekolah hanya merupakan salah satu lembaga yang bertanggung jawab atas pendidikan anak. Anak akan mengalami perubahan dalam kelakuan sosial setelah ia masuk sekolah. Dan anak dituntut untuk dapat menyesuaikan diri dengan kondisi serta aturan-aturan sekolah yang berlaku dan formulatif. Untuk itulah secara berangsur-angsur sosialisasi disekolah harus dilakukan oleh anak, disamping guru juga harus menyesuaikan diri dengan tuntutan atau kondisi sekolah.[15]

Dari interaksi anak dengan lingkungan sekolahnya, lambat laun ia akan memperoleh kesadaran akan dirinya sebagai pribadi. Ia juga belajar memandang dirinya sebagai objek, seperti oranglain memandang  dirinya. Dengan menyadari dirinya sebagai pribadi, ia dapat menyesuaikan dirinya dalam struktur sosial, dan dengan demikian, ia lebih mengenal dirinya dalam lingkungan sosialnya, dapat menyesuaikan kelakuan dan tindakannya sesuai harapan masyarakat yang baik melalui proses sosialisasi disekolah yang dilaluinya. Jadi dalam interaksi sosial disekolah memperoleh “self concept” tentang dirinya atau menemukan dirinya.

Tanpa peranan dan pengaruh institusi-institusi pendidikan, sosialisasi terhadap anak-anak dengan peranan dan pengaruh orangtuanya memang dapat berlangsung, tetapi penyesuaiannya dengan situasi kebutuhan dan kemajuan atau perkembangan zaman untuk kedepannya kemungkinan sulit dicapai, sehingga kurang menguntungkan dalam sosialisasi itu. Jadi diperlukan sosialisasi disekolah yang matang untuk membantu penyesuaian diri dengan perkembangan zaman kedepan.

                       

-          Kesulitan Sosialisasi Di Sekolah

Setiap orang atau individu harus berusaha menyesuaikan diri semaksimal mungkin dengan tuntutan lingkungannya, sebab kegagalan dalam proses sosialisasi dapat menyebabkan gangguan kejiwaan. Kesulitan-kesulitan yang dihadapi individu dalam masyarakat, dapat timbul sebagai akibat modernisasi, industrialisasi, urbanisasi, teknologi maju dan sebagainya. Maka pandai-pandailah untuk menanggapi hal-hal tersebut dengan penuh kebijaksanaan, sehingga kehidupan sosial kita dapat seirama dengan kondisi dan tuntutan masyarakat.[16]

Secara sederhana, sosialisasi yang sukses adalah bila disertai dengan toleransi yang tulus (hidup berdampingan secara damai) melalui jiwa tepa selira, disiplin dan patuh terhadap norma-norma masyarakat, saling hormat menghormati dan saling menghargai.

Dalam sosialisasi terdapat dua kendala yang dapat menghambat, yaitu :

1.      Adanya kesulitan komunikasi

Komunikasi ada yang berbentuk verbal, dan atau tindakan (action). Komunikasi sangat diperlukan dalam upaya memperlancar  terhadap apa yang diinginkan. Keinginan untuk menyampaikan sesuatu bisa terkendala karena komunikasi tidak berjalan baik. Keinginan yang ingin disampaikan, atau keinginan untuk menyerap sesuatu yang ada, tidak sepenuhnya dapat dipahami atau terkadang sama sekali tidak dimengerti. Akibatnya, muncul kesulitan dalam menerima sosialisasi.

 

2.      Adanya pola kelakuan yang berbeda-beda atau bertentangan.

Keluarga terdiri dari berbagai individu, begitu juga sekolah apalagi masyarakat. Masing-masing individu kadangkala memiliki kepribadian sendiri-sendiri. Sehingga, orang yang menyerap sikap dan perilaku dari individu-individu tertentu terkadang dihadapkan ketidaksamaan dengan individu lain. Adanya ketidaksamaan masing-masing individu ini, melahirkan kebingungan atau keraguan, kepribadian individu mana yang menjadi acuan. Terlebih lagi kalau dirinci, unsur-unsur atau aspek perbuatan, sikap dan perilaku mana yang patut untuk diserap untuk pengembangan kepribadian diri.

Dalam proses sosialisasi individu berkembang menjadi suatu pribadi atau makhluk sosial. Menurut robbins dalam vembriarto (1978) perkembangan kepribadian manusia itu dipengaruhi oleh beberapa faktor antara lain :

a.       Sifat dasar, yaitu sifat-sifat yang diwarisi individu dari kedua orangtuanya.

b.      Lingkungan prenatal, yaitu lingkungan sebelum lahir atau waktu dalam kandungan.

c.       Perbedaan individu, yaitu keunikan atau ciri yang dimiliki oleh masing-masing individu.

d.      Lingkungan, yaitu kondisi-kondisi disekitar individu baik berupa alam, budaya, dan manusia lain dan masyarakat.

e.       Motivasi, yaitu kekuatan atau dorongan yang menyebabkan individu berbuat.

 

 

 

 

 

 

 

 

 

 

 

 

 

BAB III

PENUTUP

SIMPULAN

1.      Sekolah merupakan contoh dari suatu organisasi formal, Organisasi tidak begitu saja ada, tapi diciptakan dengan maksud tertentu; artinya mempunyai tujuan-tujuan yang dinamakan tugas primer (Primary Task). Untuk dapat menunaikan tugas primernya, suatu organisasi memerlukan masukan-masukan (inputs); dalam hal sekolah masukan itu adalah para murid, guru dan material. Masukan diproses didalam organisasi untuk menjadi keluaran dari sistem itu; suatu keluaran yang kiranya sesuai dengan tujuan atau tugas primer organisasi.           

2.      Fungsi-fungsi pendidikan sekolah sebenarnya terdapat banyak pendapat tentang pembagiannya, namun yang sering diungkapkan bahwa fungsi pendidikan sekolah itu adalah sebagai jalan untuk memberantas kebodohan, dan memberantas salah paham antara satu individual dengan yang lainnya.

3.      Kebudayaan sekolah ialah “a complex set of beliefs values and traditions, way of thinking and behaving” yang membedakannya dari institusi-institusi lainnya. kebudayaan sekolah ini mempunyai pengaruh yang mendalam terhadap proses dan cara belajar siswa.

4.      Sekolah memegang peranan penting dalam proses sosialisasi anak, walaupun sekolah hanya merupakan salah satu lembaga yang bertanggung jawab atas pendidikan anak. Anak akan mengalami perubahan dalam kelakuan sosial setelah ia masuk sekolah. Kesulitan sosialisasi disekolah dapat timbul sebagai akibat modernisasi, industrialisasi, urbanisasi, teknologi maju dan sebagainya.

 

 

 

 

 

 

 

 

DAFTAR PUSTAKA

 

Ahmadi, Abu. 2004. Sosiologi Pendidikan. PT Rineka Cipta : Jakarta.

 

H. Gunawan, Ary. 2000. Sosiologi Pendidikan. Rineka Cipta : Jakarta.

 

Muhammad, Abu bakar. 1981. Pedoman Pendidikan Dan Pengajaran. Usaha Nasional: Surabaya.

 

Padil, Moh, dan Triyo Suprayitno. 2010. Sosiologi Pendidikan. UIN-Maliki Press : Malang.

 

Radiansyah. 2012. Sosiologi Pendidikan Tri Pusat Pendidikan. IAIN Antasari Press : Banjarmasin.

 

Robinson, Philip. 1986. Beberapa Persefsi Sosiologi Pendidikan. CV. Rajawali : Jakarta.

 

Vembriarto, ST. 1981. Sosiologi Pendidikan. Paramita : Yogyakarta.

 

Yusuf, Choirul Fuad. 2008. Budaya Sekolah & Mutu Pendidikan. PT Rena Citasatria : Jakarta.

 



[1] Philip Robinson, Beberapa Persefsi Sosiologi Pendidikan, (Jakarta : CV. Rajawali, 1986), hal 238-239

[2] Radiansyah, Sosiologi Pendidikan Tri Pusat Pendidikan, (Banjarmasin : IAIN Antasari Press, 2012), hal. 130-131

[3] Moh. Padil dan Triyo Suprayitno, Sosiologi Pendidikan, (Malang : UIN-Maliki Press, 2010), hal. 148

[4] ST. Vembriarto, Sosiologi Pendidikan, (Yogyakarta : Paramita, 1981), hal. 93

[5] Abu Ahmadi, Sosiologi Pendidikan, (Jakarta : PT Rineka Cipta, 2004), hal. 182

[6] Moh. Padil dan Triyo Suprayitno, Sosiologi Pendidikan, hal. 149-150

[7] Ibid, hal. 150-156

[8] Abu Ahmadi, op.cit, hal. 186

[9] Choirul Fuad Yusuf, Budaya Sekolah & Mutu Pendidikan, (Jakarta : PT Rena Citasatria, 2008), hal. 17.

[10] ST. Vembriarto, op.cit, hal 106-107

[11] Abu Ahmadi, op.cit, hal. 187

[12] Abu Bakar Muhammad, Pedoman Pendidikan dan Pengajaran, (Surabaya : Usaha Nasional, 1981), hal. 61

[13] Radiansyah, op.cit, hal. 135-136

[14] Ary. H. Gunawan, Sosiologi Pendidikan, (Jakarta : Rineka Cipta, 2000), hal. 48

[15] Radiansyah, op.cit, hal. 139-140

[16] ibid, hal. 138-139


Tidak ada komentar:

Posting Komentar