Rabu, 15 Juli 2020

TUGAS DAN FUNGSI SUPERVISI PENDIDIKAN

BAB I

PENDAHULUAN

 

 

A.    Latar Belakang

Pendidikan tidak terlepas dengan supervisi yang selalu mengacu kepada kegiatan untuk memperbaiki proses pembelajaran. Supervisi pendidikan berkaitan dengan suatu usaha dalam memipin guru-guru dan petugas-petugas lainnya dalam memperbaiki pengajaran, termasuk menstimulasi, menyeleksi pertumbuhan jabatan dan perkembangan guru-guru serta merevisi tujuan-tujuan pendidikan, bahan pengajaran dan metode serta evaluasi pengajaran.

Keterangan tentang tugas dan fungsi supervisi pendidikan berikut semoga dapat membantu kita untuk mengetahui apa sebenarnya tugas dan fungsi dari supervisi pendidikan.

 

B.     Rumusan Masalah

1.      Apa saja tugas supervisi pendidikan?

2.      Apa saja fungsi supervisi pendidikan?

 

C.    Tujuan Penulisan

1.      Memahami tugas supervisi pendidikan

2.      Memahami fungsi supervisi pendidikan

 

 

 

 

 

 

 

 

BAB II

TUGAS DAN FUNGSI SUPERVISI PENDIDIKAN

 

 

A.    Tugas Supervisi Pendidikan

Kata supervisi berasal dari bahasa latin super (atas) dan videre (menonton, melihat).[1] Pengawasan dapat didefinisikan sebagai mengawasi pekerjaan orang lain dengan wewenang yang disetujui untuk memantau dan mengarahkan kinerja, untuk memastikan kinerja yang memuaskan (yang mencakup keselamatan klien).[2] Supervisi merupakan salah satu strategi untuk memastikan bahwa seluruh langkah pada proses penyelenggaraan dan semua komponen hasil pendidikan yang akan dicapai memenuhi target. Supervisi adalah strategi manajemen yang terdiri atas serangkaian kegiatan untuk memastikan bahwa mutu yang diharapkan dalam proses perencanaan, pelaksanaan kegiatan, dan evaluasi memenuhi standar yang telah ditentukan.[3] Dalam dunia pendidikan sendiri, supervisi selalu mengacu kepada kegiatan memperbaiki proses pembelajaran.[4]

Tujuan utama kegiatan supervisi adalah meningkatkan kualitas pembelajaran, yang harapan akhirnya juga pada prestasi belajar siswa. Tentu saja peningkatan tersebut tidak dapat hanya mengenai suatu aspek saja, tetapi semua unsur yang terkait dengan proses pembelajaran, antara lain siswa itu sendiri, guru dan personel lain, peralatan, pengelolaan, maupun lingkungan belajar.[5] Sehingga supervisi tidak bisa terpisahkan dari seluruh proses administrasi pendidikan yang ditujukan terutama untuk mengembangkan efektivitas performan (personaliti sekolah) yang berhubungan dengan tugas-tugas utama dalam usaha-usaha pendidikan.[6]

Seorang supervisor dapat dilihat dari tugas yang dikerjakannya. Seorang pemimpin pendidikan yang berfungsi sebagai supervisor tampak jelas perannya. Sesuai dengan pengertian hakiki supervisi, maka supervisi berperan atau bertugas memberi support (supporting), membantu (assisting) dan mengikutsertakan (sharing).[7]

Selain itu, seorang supervisor menurut Peter F. Oliva, (1976: 19-20) bertugas sebagai:

1.      Koordinator.

2.      Konsultan.

3.      Pemimpin Kelompok.

4.      Evaluator.[8]

Dilihat dari fungsi yang telah ada, tampak jelas tugas supervisi pendidikan. Tugas supervisi dapat dikemukakan oleh berbagai pendapat para ahli yang menyimpulkan tetang tugas dan fungsi supervisor:

1.      Koordinator, sebagai koordinator supervisor dapat mengkoordinasi program-program belajar mengajar, tugas-tugas anggota staf berbagai kegiatan yang berbeda-beda diantara guru-guru.

2.      Konsultan, sebagai konsultan supervisor dapat memberikan bantuan, bersama mengkonsultasikan masalah yang dialami guru baik secara individual maupun secara kelompok.

3.      Pemimpin kelompok, supervisor dapat memimpin sejumlah staf guru dalam mengembangkan potensi kelompok, pada saat mengembangkan kurikulum, materi pelajaran dan kebutuhan profesional guru secara bersama-sama.

4.      Evaluator, supervisor dapat membantu guru dalam menilai hasil dan proses belajar, dapat menilai kurikulum yang sedang dikembangkan.[9]

B.     Fungsi Supervisi Pendidikan

Supervisi Pendidikan merupakan instrumen penting dalam quality control proses pendidikan  yang dilaksanakan pada satuan pendidikan.[10] Seringkali orang sulit dalam membedakan antara fungsi dan tujuan, sebenarnya fungsi bertalian erat dengan badan atau organisasi secara keseluruhan, sedangkan tujuan bertalian dengan kegunaan.[11]

Diadakannya sebuah pengawasan (supervisi) oleh pimpinan sekolah atau atasan adalah sebuah tindakan yang semestinya harus dilakukan untuk mengawasi timbulnya situasi-situasi yang menghambat jalannya administrasi pendidikan di sekolah. Karena hambatan itu semakin lama semakin banyak maka ada kemungkinan tujuan tidak tercapai dalam waktu yang telah dierncanakan. Situasi yang menghambat itu dapat barasal dari berbagai pihak.[12]

Tujuan-tujuan yang telah ditetapkan dalam suatu proses kerjasama hanyalah merupakan cita-cita yang masih perlu diwujudkan melalui tindakan-tindakan yang nyata. Begitu juga seorang supervisor dalam merealisasikan program supervisinya memiliki sejumlah tugas dan tanggung jawab yang harus dijalankan secara sistematis.

Fungsi utama supervisi pendidikan ditujukan pada perbaikan dan peningkatan kualitas pengajaran. Franseth Jane dan Ayer (dalam Encyclopedia of Education Research: Chester Harris, 1958: 1442),  mengemukakan bahwa fungsi utama supervisi adalah membina program pengajaran yang ada sebaik-baiknya sehingga selalu ada usaha perbaikan.[13]

Fungsi utama supervisi modern ialah menilai dan memperbaiki faktor-faktor yang mempengaruhi proses pembelajaran peserta didik (Burton dan Bruckner 1955: 3). Sedangkan Briggs mengungkapkan bahwa fungsi utama supervisi bukan perbaikan pembelajaran saja, tetapi untuk mengkoordinasi, menstimulasi, dan mendorong ke arah pertumbuhan profesi guru.[14]

Usaha perbaikan merupakan proses yang kontinu  sesuai dengan perubahan masyarakat. Masyarakat selalu mengalami perubahan. Perubahan masyarakat membawa pula konsekuensi dalam bidang pendidikan dan pengajaran. Suatu penemuan baru mengakibatkan timbulnya dimensi-dimensi dan persepektif baru dalam bidang ilmu penegetahuan.

Makin jauh pembahasan tentang supervisi makin nampak bahwa kunci supervisi bukan hanya membicarakan perbaikan itu sendiri, melainkan supervisi yang diberikan kepada guru-guru, seperti yang telah dikemukakan oleh Briggs bahwa supervisi juga merupakan alat untuk mengkoordinasi, menstimulasi dan mengarahkan pertumbuhan guru-guru.

Berikut ini adalah fungsi-fungsi  supervisi pendidikan berdasakan bidangnya:

1.      Dalam bidang kepemimpinan

a.       Menyusun rencana dan policy (kebijakan) bersama.

b.      Memberikan bantuan kepada anggota kelompok dalam menghadapi dan memacahkan persoalan- persoalan.

c.       Membangkitkan dan memupuk semangat kelompok, atau memupuk moral yang tinggi kepada anggota kelompok.

d.      Mempertinggi daya kreatif pada anggota kelompok.

2.      Dalam hubungan kemanusiaan

a.       Memanfaatkan kekeliruan ataupun kesalahan-kesalahan yang ada untuk dijadikan pelajaran demi perbaikan selanjutnya, bagi diri sendiri maupun bagi anggota kelompoknya.

b.      Membantu mengatasi kekurangan ataupun kesulitan yang dihadapi anggota kelompok, seperti dalam hal kemalasan, merasa rendah diri, acuh tak acuh, pesimistis (mudah putus asa).

c.       Menghilangkan rasa saling mencurigai antara anggota kelompok.

3.      Dalam pembinaan proses  kelompok

a.       Mengenal masing-masing pribadi anggota kelompok, baik kelemahan maupun kemampun masing-masing.

b.      Memperbesar rasa tanggung jawab para anggota.

4.      Dalam bidang administrasi personel

a.       Memilih personil yang memiliki syarat-syarat dan kecakapan yang diperlukan untuk suatu pekerjan.

b.      Menempatkan personil pada tempat dan tugas yang sesuai dengan kecakapan dan kemampuan masing-masing.[15]

Adapun analisis yang lebih luas seperti yang dibahas oleh Swearingen dalam bukunya Supervision Of Instruction – Foundation and Dimension (1961), ia mengemukakan delapan fungsi supervisi. Delapan fungsi tersebut adalah mengkoordinasi semua usaha kelas, melengkapi kepemimpinan sekolah, memperluas pengalaman guru-guru, menstimulasi usaha-usaha yang kreatif, memberi fasilitas dan penilaian yang terus menerus, menganalisis situasi belajar mengajar, memberikan pengetahuan dan keterampilan kepada setiap anggota staf, memberi wawasan yang lebih luas dan terintegrasi dalam merumuskan tujuan-tujuan pendidikan dan meningkatkan kemampuan mengajar guru-guru. Adapun fungsi supervisi pendidikan tersebut ialah:

1.      Mengkoordinasi  semua usaha sekolah

Perubahan dalam dunia pendidikan terjadi secara terus-menerus, maka kegiatan sekolah juga semakin bertambah, usaha-usaha sekolah juga semakin menyebar. Maka dari itu perlu adanya koordinasi yang baik terhadap semua usaha sekolah.

2.      Memperlengkap kepemimpinan sekolah

Dalam masyarakat demokratis kepemimpinan yang demokratis perlu dikembangkan. Kepemimpinan merupakan suatu yang harus dipelajari. Jadi dalam hal ini fungsi supervisi adalah melatih dan memperlengkapi guru-guru agar mereka memiliki ketrampilan dan kepemimpinan dalam kepemimpinan sekolah.

3.      Memperluas pengalaman guru-guru

Fungsi supervisi pendidikan adalah memberi pengalaman-pengalaman baru kepada para guru, anggota-anggota staff sekolah, sehingga mereka semakin bertambah pengalaman dalam hal mengajar maupun dalam administrasi sekolah.

4.      Menstimulasi usaha-usaha sekolah yang kreatif

Supervisi bertugas menciptakan suasana yang meyakinkan guru-guru dapat berusaha meningkatkan potensi-potensi kreativitas dalam dirinya. Selain itu juga kemampuan untuk menstimulir segala daya kreasi baik bagi anak-anak, orang yang dipimpinnya dan bagi dirinya sendiri.

5.      Memberikan fasilitas dan penilaian secara terus-menerus

Untuk meningkatkan kualitas diperlukan penilaian secara kontinu. Melalui penelitian dapat diketahui kelemahan dan kelebihan dari hasil dan proses belajar mengajar. Penilaian ini harus bersifat menyeluruh dan kontinu. Menyeluruh berarti penilaian itu menyangkut semua aspek kegiatan sekolah, misalnya memiliki bahan-bahan pengajaran, buku-buku pengajaran, perpustakaan, cara mengajar guru, dan kemajuan murid-muridnya. kontinu dalam arti penilaian berlangsung setiap saat, yaitu pada awal, pertengahan, dan pada akhir.

6.      Menganalisis situasi belajar mengajar

Agar usaha memperbaiki situasi belajar dapat tercapai, maka perlu dianalisis hasil dan proses pembelajaran. Dalam situasi belajar-mengajar peranan guru dan peserta didik sangatlah penting. Memperoleh data mengenai aktivitas guru dan peserta didik akan memberikan pengalaman dan umpan balik terhadap perbaikan pembelajaran. Banyak sekali faktor yang mempengaruhi perbaikan pembelajaran. Fungsi supervisi adalah menganalisis faktor-faktor tersebut. Penganalisisan memberi pengalaman baru dalam menyusun strategi dan usaha ke arah perbaikan.

7.      Memperlengkap setiap para guru dengan pengetahuan yang baru dan keterampilan-keterampilan baru

Setiap guru memiliki potensi dan dorongan untuk berkembang. Sebagian besar potensi-potensi tersebut tidak berkembang, maka dari itu supervisi berfungsi sebagai pemberi dorongan dan membantu guru agar mengembangkan pengetahuan dan keterampilan dalam hal mengajar.

8.      Memadukan dan menyelaraskan tujuan-tujuan pendidikan dan membentuk kemampuan-kemampuan

Untuk mencapai suatu tujuan yang lebih tinggi harus berdasarkan tujuan-tujuan yang sebelumnya, ada hierarki (urutan, tingkatan, atau jenjang jabatan (kedudukan)) kebutuhan yang harus selaras. Fungsi supervisi di sini adalah membantu setiap individu, maupun kelompok agar sadar akan nilai-nilai yang akan dicapai itu, memungkinkan penyadaran akan kemampuan diri sendiri.[16]

 

 

 

 

 

 

 

 

 

 

 

 

 

 

 

 

 

BAB III

PENUTUP

 

 

Simpulan

Supervisi adalah strategi manajemen yang terdiri atas serangkaian kegiatan untuk memastikan bahwa mutu yang diharapkan dalam proses perencanaan, pelaksanaan kegiatan, dan evaluasi memenuhi standar yang telah ditentukan.

Tugas supervisi pendidikan menurut para ahli yaitu: koordinator, konsultan, pemimpin kelompok evaluator.

Adapun fungsi supervisi pendidikan ialah: mengkoordinasi  semua usaha sekolah, memperlengkap kepemimpinan sekolah, memperluas pengalaman guru-guru, menstimulasi usaha-usaha sekolah yang kreatif, memberikan fasilitas dan penilaian secara terus-menerus, menganalisis situasi belajar mengajar, memperlengkap setiap para guru dengan pengetahuan yang baru dan keterampilan-keterampilan baru, dan memadukan dan menyelaraskan tujuan-tujuan pendidikan dan membentuk kemampuan-kemampuan.

 

 

 

 

 

 

 

 

 

 

 

 

 

 

DAFTAR PUSTAKA

 

Aedi, Nur, 2014, Pengawasan Pendidikan: Tinjauan Teori dan Praktik, Jakarta:     PT RajaGrafindo Persada.

 

Arikunto, Suharsimi, 2004, Dasar-dasar Supervisi, Jakarta: Rineka Cipta.

 

Caspi, Jonathan dan William J. Reid, 2002., Education Supervasion In Social         Work, New York: Columbia University Press.

 

Daryanto, M., 2005, Administrasi Pendidikan, Jakarta: Rineke Cipta.

 

Kadushin, Alfred dan Daniel Harkness, 2014., Supervision In Social Work, New    York: Columbia University Press.

 

Makawimbang, Jerry H., 2011, Supervisi dan Peningkatan Mutu Pendidikan,          Bandung: Alfabeta.

 

Nur Mufidah, Luk-Luk, 2009, Supervisi Pendidikan, Yogyakarta: Teras.

 

Pidarta, Made, 1992, Pemikiran tentang Supervisi Pendidikan, Jakarta: Bumi          Aksara.

 

-------------------, 2009, Supervisi Pendidikan Kontekstual, Jakarta: Rineka Cipta.

 

Purwanto, Ngalim, 1995, Administrasi dan Supervisi Pendidikan, Bandung: PT      Remaja Rosdakarya

 

Sahertien, Piet A., 2008, Konsep Dasar & Teknik Supervisi Pendidikan dalam        Rangka Pengembangan Sumber Daya Manusia, Jakarta: Rineka Cipta.

 

 

 

 



[1] Alfred Kadushin dan Daniel Harkness, Supervision In Social Work, ((New York: Columbia University Press, 2014), h. 8

 

[2] Jonathan Caspi dan William J. Reid, Education Supervasion In Social Work, (New York: Columbia University Press, 2002), h. 3

 

[3] Jerry H. Makawimbang, Supervisi dan Peningkatan Mutu Pendidikan, (Bandung: Alfabeta, 2011), h. 70

 

[4] Made Pidarta, Supervisi Pendidikan Kontekstual, (Jakarta: Rineka Cipta, 2009), h. 1

 

[5] Suharsimi Arikunto, Dasar-dasar Supervisi, (Jakarta: Rineka Cipta, 2004), h. 13

 

[6] Made Pidarta, Pemikiran tentang Supervisi Pendidikan, (Jakarta: Bumi Aksara, 1992), h. 3

[7] Piet A. Sahertien, Konsep Dasar & Teknik Supervisi Pendidikan dalam Rangka Pengembangan Sumber Daya Manusia, (Jakarta: Rineka Cipta, 2008), h. 25

 

[8] Ibid., h. 25

 

[9] Ibid., h. 25-26

[10] Nur Aedi, Pengawasan Pendidikan: Tinjauan Teori dan Praktik, (Jakarta: PT RajaGrafindo Persada, 2014), h. 17

 

[11] Made Pidarta, Op.Cit., h. 3

 

[12] M. Daryanto, Administrasi Pendidikan, (Jakarta: Rineke Cipta, 2005), h. 178

 

[13] Piet A. Sahertien, Op. Cit., h. 21

 

[14] Ibid., h. 21

[15] Ngalim Purwanto, Administrasi dan Supervisi Pendidikan, (Bandung: PT Remaja Rosdakarya, 1995),  h. 87.

[16] Luk-Luk Nur Mufidah, Supervisi Pendidikan, (Yogyakarta: Teras, 2009), h. 20-24


Tidak ada komentar:

Posting Komentar