BAB I
PENDAHULUAN
A.
LATAR BELAKANG
Setiap
individu adalah unik dan memiliki perbedaan baik dari sifat, karakter,
kecerdasan, maupun lainnya. Tidak ada dua individu yang sama persis, tiap
individu berbeda antara satu dengan yang lainnya. Perbedaan pada individu
merupakan suatu karunia dari Allah SWT yang karena perbedaan tersebut dapat
menghasilkan karakter dan kecerdasan luar biasa pada setiap individu. Oleh
karena itu sebagai seorang pendidik, guru diharapkan mampu untuk mengenali dan
memahami perbedaan pada setiap sisa didiknya agar tahu bagaimana cara untuk
menangani setiap perbedaan tersebut ke arah yang baik. Perbedaan individu
penting untuk dipahami karena karakteristik individu yang berbeda seringkali
menimbulkan permasalahan. Dari permaslahan yang timbul, pendidik dapat
mengetahui berbagai macam perbedaan individu, diantaranya perbedaan kognitif,
perbedaan kecakapan, perbedaan bahasa, perbedaan fisik motorik, perbedaan
lingkungan keluarga, perbedaan tingkat pencapaian, perbedaan latar
belakang dan yang lainnya.
Perbedaan-perbedaan tersebut perlu adanya penanganan dalam rangka upaya
pembelajaran. Pada anak usia dini yang notabenenya sangat antusias dan aktif tentunya
mempunyai kesulitan tersendiri dalam menghadapi perbedaan karakteristiknya
karena seringkali perilaku, kecerdasan dan lainnya dari anak usia dini tidak terduga.
Oleh
karena itu, sebagai calon seorang pendidik hendaknya mampu memahami setiap
karakteristik maupun sifat-sifat dari masing-masing individu atau siswa
didiknya. Dengan memahami dan mengetahuinya, pendidik akan tahu bagaimana
caranya untuk mengatasi dengan cara-cara yang yang menghibur tetapi mendidik
bagi anak usia dini dan mudah dipahami oleh mereka. Melalui pembahasan ini di
harapkan dapat memberikan pengetahuan tentang perbedaan individu dan
aplikasinya.
B. RUMUSAN
MASALAH
1. Apa yang dimaksud individu?
2. Apa yang dimaksud dengan perbedaan
individu dan menurut para ahli?
3. Apa saja faktor-faktor dari perbedaan
individu?
4. Apa saja macam-macam perbedaan karakteristik
individu?
5. Bagaimana implikasi dari perbedaan individu?
C.
TUJUAN
1. Memahami pengertian individu.
2. Mengetahui dan memahamai yang dimaksud
dari perbedaan individu dan pengertiannya menurut para ahli.
3. Mengetahui apa saja faktor yang
menyebabkan munculnya perbedaan individu.
4. Mengetahui macam-macamkarakteristik
perbedaan individu
5. Mengetahui dan dapat menerapkan aplikasi
yang tepat untuk menangani
permasalahan
yang timbul dari perbedaan individu.
BAB II
PEMBAHASAN
A.
PENGERTIAN INDIVIDU
Manusia
adalah makhluk yang dapat dipandang dari berbagai sudut pandang. Setiap manusia
memiliki ciri atau karakter yang berbeda-beda. Terdapat banyak faktor yang
mempengaruhi munculnya perbedaan pada setiap individu. Dalam kamus echols &
shadaly (1975), individu adalah kata benda dari individual yang berarti orang,
perseorangan, dan oknum. Sedangkan
menurut kamus besar bahasa indonesia
(KBBI) online, individu berarti orang seorang: pribadi
orang (terpisah dari yang lain). Bisa juga disebut individual yang berarti
mengenai atau berhubungan dengan manusia secara pribadi, bersifat perseorangan.
Berdasarkan beberapa pengertian diatas individu yang berbeda membutuhkan tempat
yang tepat untuk mengembangkan setiap potensi yang berbeda pada dirinya untuk
berkembang menjadi lebih baik. Pembelajaran yang tepat akan sangat dibutuhkan,
sehingga pendidik harus memahami setiap potensi dan kebutuhan potensi para anak
didiknya.
B.
PENGERTIAN PERBEDAAN INDIVIDU
Perbedaan
individu berkaitan dengan “psikologi pribadi” yang menjelaskan perbedaan
psikologis antara orang-orang serta berbagai persamaanya. Psikologi perbedaan
individu menguji dan menjelaskan bagaimana setiap orang berbeda dalam berpikir,
berperasaan, dan bertindak. Menurut Lindgren (1980) makna “perbedaan” dan
“perbedaan individual” menyangkut tentang variasi yang terjadi, baik variasi
dari segi fisik dan psikologis. Perbedaan individu menurut Chaplin (1995:244)
adalah “sebarang sifat atau perbedaan kuantitatif dalam suatu sifat, yang bisa
membedakan satu individu dengan individu lainnya. Sedangkan menurut Gerry
(1963) ddalam buku perkembangan peserta didik karya Sunarto dan B. Agung
Hartono mengkategorikan perbedaan individual seperti berikut:
1. Perbedaan fisik, tingkat dan berat
badan, jenis kelamin, pendengaran, penglihatan, dan kemampuan bertindak.
2. Perbedaan sosial termasuk status
ekonomi, agama, hubungan keluarga, dan suku.
3. Perbedaan kepribadian termasuk watak,
motif, minat, dan sikap.
4. Perbedaan intelegensi dan kemampuan
dasar(skema).
5. Perbedaan kecakapan atau kepandaian di
sekolah dalam mencapai pengetahuan baru.
Bermacam-macam
aspek perbedaan individu, ada dua fakta yang di kenal dan menonjol, yaitu: dari
dua garis keluarga, yaitu garis keturunan ayah dan garis keturunan ibu. Sejak
terjadinya pembuahan atau konsepsi kehidupan yang baru, maka secara
berkesinambungan dipengaruhi oleh bermacam-macam faktor lingkungan di
sekitarnya yang merangsang pertumbuhan dan perkembangannya. Semua manusia
mempunyai unsur-unsur kesamaan di dalam pola perkembangannya. Di dalam pola
yang bersifat umum dari apa yang membentuk warisan manusia secara biologis dan
sosial, tiap-tiap individu mempunyai kecenderungan berbeda. Perbedaan-perbedaan
tersebut secara keseluruhan lebih banyak besifat kuantitatif dan bukan
kualitatif. Sejauh mana individu berbeda akan mewujudkan kualitas perbedaan
individu yang bersangkutan. Individu menunjukkan kedudukan eseorang sebagai
orang perorangan maupun perseorangan, berkaitan dengan perbedaan individual
perseorangan. Ciri serta sifat atau karakteristik setiap individu tidaklah
sama. Perbedaan tersebut di sebut perbedaan individu dan perbedaan individual.
Alfred
Adler berpendapat bahwa
manusia adalah mahluk
sosial yang bertanggung jawab. Ia percaya manusia sejak
lahir dikarunia dengan kesadaran bersosial dan hanya keterpaksaan (kompensasi)
yang membuatnya bertanggung jawab kepada manusia lain untuk dapat mencapai
sebuah kesejahteraan yang baikbagi dirinya dan orang lain. Pada akhirnya Adler
meyakinkan bahwa manusia
adalah mahluk yang
menyimpan interest sosial yang sangat
dalam. Teori psikologi individual
Adler ini, memang
lebih banyak berupaya
menyadarkan manusia, bahwa
ia merupakan mahluk
yang berdaya dan memiliki
rasa sosial yang dalam, sehingga itu pulalah ia dapat “survive” dalam
menjalani hidup. Teori ini pula, memiliki
kekuatan dalam hal
memprediksi perilaku manusia
melalui tujuan semu atau akhir
dari perilaku yang diperbuatnya, sebagai tujuan akhir yang merupakan
gambaran dari diri
manusia tersebut. hal
ini sangat menarik karena
merupakan pandangan yang kami
kira sangat positif
dan futureristik, dan
hal ini tentunya
dapat membangkitkan semangat dan gaya hidup manusia dalammelakukan
aktivitas.
C.
FAKTOR-FAKTOR PERBEDAAN INDIVIDU
1. Faktor bawaaan atau genetik
Faktor
bawaan merupakan faktor-faktor biologis yang dilakukan melalui pewarisan
genetik oleh orang tua. Pewarisan genetik ini dimulai saat terjadinya
pembuahan. Yaitu ketika sel reproduksi perempuan yang disebut ovum dibuahi oleh
sel reproduksi laki-laki yang disebut spermatozoon. Hal ini terjadi kira-kira
280 hari sebelum lahir. Dalam masing-masing sel reproduksi, baik spermatozoa
maupun ovum atau sel telur terdapat 23 kromosom. Kromosom adalah partikel
seperti benang yang masing-masing didalamnya terdapat untaian partikel yang
sangat kecil, yang disebut gen. Gen inilah pembawa ciri bawaan yang diwariskan
orangtua kepada keturunannya (Hurlock,1995). Perkiraan jumlah gen dalam genome
(kumpulan gen) manusia bergerak antara 60.000 sampai 150.000, masing-masing
membawa potensi ciri bawaan fisik dan mental. Gen ini mengandung petunjuk untuk
produksi protein, yang selanjutnya protein ini yang akan mengatur proses
fisiologis tubuh dan penampakan sifat-sifat fenotip: bentuk tubuh, kekuatan
fisik, kecerdasan, dan berbagai pola perilaku lainnya (Zimbardo & Gerig
1999).
Perbedaan
gen merupakan salah satu alasan mengapa setiap individu berbeda dengan individu
lainnya, baik secara fisik, psikologis, maupun perilaku meskipun merupakan
saudara sendiri. Selain faktor genetik selebihnya dipengaruhi oleh lingkungan,
karena setiap individu tidak pernah berada di lingkungan yang sama persis
(Zimbardo & Gerig, 1999).
2. Faktor lingkungan
Lingkungan
menunjuk pada segala sesuatu yang terjadi di luar diri individu. faktor ini
meliputi:
a. Status sosial ekonomi dan pola asuh orang tua,
meliputi tingkat pendidikan
orangtua,
pekerjaan orang tua, dan penghasilan orangtua. Meskipun tidak mutlak, tingkat
pendidikan orangtua mempengaruhi sikap orangtua terhadap pendidikan anak serta
aspirasinya terhadap pendidikan anak. Begitu pula dengan pekerjaan dan
penghasilan orangtua yang berbeda-beda. Perbedaan ini akan membawa implikasi
pada berbedanya aspirasi orangtua terhadap pendidikan anak,dan aspirasi anak
terhadap pendidikannya, fasilitas yang diberikan, dan juga waktu yang diberikan
pada anak untuk pendidikan. Demikian juga dengan perbedaan status ekonomi akan
mempengaruhi perbeedaan individu, salah satu implikasinya adalah perbedaan pola
gizi yang diterapkan dalam keluarga. Tidak dipungkiri bahwa gizi merupakan
aspek penting yang mempangaruhi perkembangan kecerdasan anak. Keluarga dengan
status ekonomi rendah tidak memungkinkan untuk memenuhi pola gizi anak dengan
baik. Sedangkan, keluarga dengan status ekonomi tinggi, akan memberikan gizi
yang terbaik untuk anaknya. Padahal gizi yang baik merupukan kebutuhan yang
harus dipenuhi pada anak untuk tumbuh kembang fisik dan kecerdasannya. Selain
itu, pola asuh dalam keluarga juga merupakan salah satu faktor lingkungan yang
mempengaruhi perbedaan setiap individu.
b. Budaya, Budaya merupakan pikiran, akal budi, hasil karya manusia,
atau dapat juga didefinisikan sebagai adat-istiadat. Budaya dan kebudayaan sebagai
rangkaian tindakan dan aktifitas manusia yang berpola dapat dilihat dalam tiga wujud.
Wujud pertama adalah wujud ideal dari kebudayaan. Hal ini berupa ide-ide,
gagasan, nilai-nilai, norma-norma, peraturan dan sebagainya. Wujud kedua adalah
budaya dari suatu aktifitas dan tindakan berpola dari manusia dan masyarakat.
Wujud ketiga, kebudayaan sebagai benda-benda hasil karya manusia. Kebudayaan ini
berupa benda-benda yang dapat dilihat, diraba, atau difoto. Ketiga bentuk budaya
dan kebudayaan tersebut mempengaruhi perilaku manusia.
c. Urutan kelahiran, beberapa penelitian menunjukkan bahwa
perbedaan perilaku individu dipengaruhi salah satunya oleh urutan kelahiran.
Teori Alfred Adler adalah yang pertama kali mempelajari hubungan antara urutan
kelahiran dengan kepribadian. Adler sangat percaya bahwa urutan kelahiran di
antara saudara dapat memiliki efek yang langgeng dan kuat pada kepribadiannya.
Menurut Adler,, urutan kelahiran mempengaruhi cara seseorang menangani suatu
persoalan dan faktor-faktor seperti pengambilan keputusan, komunikasi dan
berhubungan dengan orang lain. Alfred Adler mempunyai alasan bahwa anak yang
lebih tua menunjukkan ciri-ciri seperti kesadaran dan keramahan. Anak yang lahir pertama atau anak sulung cenderung lebih
teliti, ambisius, dan agresif jika dibandingkan dengan adik-adiknya. Anak tengah
atau anak kedua biasanya berperan sebagai mediator dan pecinta damai. Sementara
itu, anak yang terlahir terakhir atau anak bungsu cenderung lebih kreatif dan menarik.
Karena terkadang dianggap anak bawang, anak bungsu ingin diperlakukan sama.
Sedangkan anak tunggal atau anak semata wayang biasanya lebih percaya diri,
supel, dan memiliki imajinasi tinggi. Meskipun anak tunggal sering merasa terbebani
dengan harapan yang tinggi dari orangtua mereka terhadap diri mereka sendiri.
Karakteristik yang berbeda-beda tersebut disebabkan karena perlakuan yang
berbeda-beda dari orangtua maupun anggota keluarga lainnya berdasarkan urutan kelahiran
masing-masing.
D. MACAM-MACAM
PERBEDAAN INDIVIDU.
1. Intelegensi
Novelis Inggris abad ke-20 Aldous Huxley mengatakan bahwa anak-anak itu
hebat dalam
hal rasa ingin tahu dan intelegensinya. Apa yang dimaksud Huxley ketika dia
menggunakan kata intelegensi? Intelegensi adalah salah satu milik kita yang
paling berharga, tetapi bahkan orang yang paling cerdas sekalipun tidak sepakat
tentang apa inteligensi itu. Beberapa pakar mendeskripsikan intelegensi sebagai
keahlian untuk memecahkan masalah (problem solving). Yang lainnya
mendeskripsikannya sebagai kemampuan untuk beradaptasi dan belajar dari
pengalaman hidup sehari-hari. Dari beberapa pengertian tersebut dapat
disimpulkan definisi intelegensi yang cukup fair. Keahlian memecahkan masalah
dan kemampuan untuk beradaptasi dan belajar dari, pengalamn hidup sehari-hari.
Minat terhadap intelegensi seringkali difokuskan pada perbedaan individual dan
penilaian individual (Kaufman & Lictenberger, 2002; Lubinski, 2000; Molfse
& Martin, 2001).
Howard Gardner (1983,1993,2002) mengemukakan delapan kerangka pikirannya
tentang macam-macam kecerdasan (multiple intellegence):
a.) Keahlian verbal
Kemampuan untuk berpikir dengan kata dan menggunakan bahasa untuk
mengekspresikan makna.
b.) Keahlian spiritual/ eksistensial
Keterampilan,
kemampuan dan perilaku yang diperlukan untuk mengembangkan dan mempertahankan
hubungan dengan sumber utama (Tuhan Yang Maha Esa) dari segala sesuatu.
c.) Keahlian logika matematika
Kemampuan untuk
menyelesaikan operasi matematika
d.)
Keahlian spasial
Kemampuan
untuk berpikir tiga dimensi. Kemampuan melihat
ruang dan bangunan. Kecerdasan ini berpotensi untuk menjadi seorang arsitek,
insinyur dan lain-lain.
e.) Keahlian kinestetik
Kemampuan
untuk memanipulasi objek dan kecerdasan dalam hal-hal yang berhubungan dengan
fisik.
f.) Keahlian musikal
Kemampuan
dalam memahami nada, melodi, irama, dan suara.
g.) Keahlian intrapersonal
Kemampuan
untuk memahami diri sendiri dan menata kehidupan dirinya secara efektif,
h.) Keahlian interpersonal
Kemampuan
untuk memahami dan berinteraksi secara efektif dengan orang lain.
i.) Keahlian naturalis
Kemampuan
untuk mengamati pola-pola di alam dan memahami sistem alam dan sistem buatan
manusia.
2. Gaya belajar dan gaya berpikir
Gaya belajar dan berpikir bukanlah kemampuan, tetapi cara yang dipilih
seseorang untuk menggunakan kemampuannya (Drysdale, Ross, & Schuylts, 2001;
Stenberg, 1997). Dua dikotomi gaya belajar dan berpikir yang paling banyak didiskusikan
adalah:
a) Gaya impulsive/reflektif. Disebut sebagai tempo
konseptual, yakni murid cenderung bertindak cepat dan impulsive atau
menggunakan lebih banyak waktu untuk merespons dan merenungkan akurasi dari
suatu jawaban (Kagan, 1965). Penelitian
impulsif/refleksi menunjukan bahwa siswa reklektif lebih memungkinkan untuk
melakukan tugas-tugas dengan baik daripada siswa impulsive (Jonassen &
Grabowski, 1993) yaitu, mengingat informasi yang terstruktur, pemahaman bacaan
dan interpretasi teks, dan pemecahan masalah dan pengambilan keputusan. Siswa
reflektif juga cenderung lebih mungkin daripada siswa impulsive untuk
menetapkan tujuan belajar mereka sendiri dan berkonsentrasi pada informasi yang
relevan. Siswa reflektif biasanya memiliki standar yang lebih tinggi untuk
kinerja.
b)
Gaya dalam/permukaan, adalah bagaimana siswa mendekati bahan
pembelajaran. Apakah mereka melakukan hal ini dengan cara yang membantu mereka
memahami arti dari bahan (gaya dalam) atau hanya sebagai apa yang harus
dipelajari (gaya permukaan) (Marton, Hounsell, & Entwistle, 1984). Siswa
yang belajar pendekatan dengan gaya permukaan gagal untuk mengikat apa yang
mereka pelajari ke dalam kerangka kerja konseptual yang lebih besar. Mereka
cenderung belajar dengan cara pasif, sering menghafal total informasi. Peserta
didik dalam lebih mungkin
untuk aktif membangun apa yang mereka pelajari dan member makna apa yang mereka
butuhkan untuk mengingat (Snow, Corno, & Jackson, 1996).
3.
Kepribadian dan temperamen
a.
Kepribadian mengacu pada pemikiran, emosi dan perilaku khas yang menjadi
cirri bagaimana individu beradaptasi dengan kehidupan. Beberapa peneliti telah
menemukan bahwa kepribadian pada masa remaja cenderung tidak stabil seperti
masa dewasa (Roberts, Kayu, & Caspi, 2008). Lima besar faktor kepribadian yaitu keterbukaan, kesadaran,
ekstraversi, keramahan, dan neurotitisme (kestabilan emosi).
b.
Temperamen terkait erat dengan kepribadian dan gaya belajar dan
berpikir, temperamen adalah gaya perilaku seseorang dan cara karakteristik merespons.
Perbedaan individu muncul dalam perkembangan gaya temperamen anak (Elisenberg
& Lain, 2010). Kesesuaian antara temperamen individu dan tuntutan
lingkungan yang harus individu batasi, disebut kebaikan dari kesesuaian, dapat
menjadi penting untuk penyesuaian anak (Miller, Tserakhava, & Miller,
2010).
.
4. Perbedaan Jenis Kelamin atau Gender
Istilah jenis kelamin dan gender sering diartikan sama. Jenis kelamin menunjuk
pada perbedaan biologis dari laki-laki dan perempuan, sementara gender
merupakan aspek psikososial dari laki-laki dan perempuan. Perbedaan gender
termasuk dalam hal peran, tingkah laku, kecenderungan, sifat, dan atribut lain
yang menjelaskan arti seorang laki-laki atau perempuan dalam kenyataan yang
ada. Barbara Mackoff (dalam Baron dan Byrne, 2004) menyatakan bahwa perbedaan terbesar
antara laki-laki dan perempuan adalah cara memperlakukan mereka.
5. Perbedaan Kemampuan
Diartikan sebagai kecerdasan. Definisi secara umum diartikan sebagai prestasi
komparatif individu dalam berbagai tugas, termasuk memecahkan masalah dengan waktu
yang terbatas dengan meliputi prestasi individu dalam sebagian besar tugas-tugas
belajar. Perbedaan kecerdasan individu dapat dilihat dari perbedaan skor IQ.
6. Perbedaan Kepribadian
Merupakan pola perilaku dan berfikir yang khas, yang menentukan penyesuaian
diri seseorang terhadap lingkungan.Orang cenderung bertindak dan berfikir dengan cara tertentu
dalam berbagai situasi. Sebagai karakteristik yang membedakan satu individu dengan individu yang
lain.
7. Perbedaan Gaya Belajar
Merupakan pola perilaku yang spesifik dalam menerima informasi dan mengembangkan
kemampuan baru, serta proses menyimpan informasi
dan keterampilan baru.
8. Perbedaan dalam bakat
Bakat merupakan kemampuan khusus yang dibawa sejak lahir. Kemampuan
tersebut akan berkembang dengan baik apabila mendapat rangsangan dan pempukan
secara tepat, sebaliknya bakat tidak dapat berkembang sama sekali manakala
ingkungan tidak memberikan kesemppatan
untuk berkembang. Pekembangan bakat dimiliki secara individual.
E. IMPLIKASI PERBEDAAN
INDIVIDUAL DALAM PROSES PEMBELAJARAN
1.
Program Percepatan
Yaitu pemberian pelayanan pendidikan sesuai dengan potensi
kecerdasan dan bakat istimewa yang dimiliki oleh siswa, dengan memberikan
kesempatan kepada mereka untuk dapat menyelesaikan program reguler dalam angka
waktu yang lebih singkat dibandingkan teman-temannya.
2.
Remidial
Pemberian layanan pendidikan kepada siswa yang mengalami
kesulitan/hambatan dengan memberikan pelajaran dan atau tugas tambahan sehingga
mereka dapat menyelesaikan program sesuai dengan waktu yang ditentukan.
3.
Program Pengayaan
Yaitu pemberian layanan pendidikan sesuai dengan potensi
kecerdasan yang dimiliki siswa, dengan penyediaan kesempatan dan fasilitas
belajar tambahan yang bersifat perluasan/ pendalaman, setelah yang bersangkutan
menyelesaikan tugas-tugas yag diprogramkan untuk siswa lainnya.
Selain dari tiga program di atas, implikasi pembelajaran dari
perbedaan individual setiap siswa dapat dilakukan evaluasi sebagai berikut:
a)
Menggunakan pendekatan
pembelajaran ekletik dan fleksibel; disertai penggunaan multimedia dan
multimetode
b)
Memahami pilihan gaya belajar
siswa kemudian menyediakan lingkungan belajar yang mendukung gaya belajar
mereka.
c)
Memberikan pengalaman-pengalaman
belajar yang menggabungkan pilihan cara belajar siswa, menggunakan metode
mangajar, insentif, alat, dan situasi yang direncanakan sesuai dengan pilihan
siswa
a.
Gunakan kombinasi cooperative
learning, pembelajaran individual, dan pembelajaran kelompok, atau antara
aktifitas-aktifitas belajar yang berpusat pada guru dengan pembelajaran yang
berpusat pada siswa.
b.
Berikan waktu yang cukup untuk
memproses dan memahami informasi.
c.
Gunakan alat-alat multi sensory
untuk memproses, mempraktekkan dan memperoleh informasi.
BAB III
PENUTUP
A. KESIMPULAN
Manusia
atau individu adalah makhluk yang dapat dipandang dari berbagai sudut pandang.
Individu adalah kata benda dari individual yang berarti orang, perseorangan dan
oknum. Perbedaan individual secara umum adalah hal-hal yang berkaitan dengan
psikolgi pribadi yang menjelaskan perbedaan psikologis antara orang-orang serta
berbagai persamaanya. Sumber perbedaan individu disebabkan faktor bawaan dan
faktor lingkungan. Terdapat beberapa macam bidang perbedaan individu yaitu
perbedaan kognitif, perbedaan kecakapan berbahasa, perbedaan kecakapan motorik,
perbedaan latar belakang, perbedaan bakat, perbedaan kesiapan belajar,
perbedaan jenis kelamin, perbedaan kepribadian, dan perbedaan gaya belajar.
Perbedaan individu dapat diaplikasikan dalam beberapa cara yaitu menggunakan
pelayanan pendidikan sesuai dengan potensi kecerdasan dan bakat istimewa yang
dimiliki oleh siswa. Menggunakan pendekatan pembelajaran ekletik dan fleksible,
menggunakan kombinasi cooperative learning, menggunakan alat-alat multi sensori
untuk mempraktekan dan memperoleh informasi.
B. SARAN
Semoga
makalah ini dapat bermanfaat bagi penyusun dan khalayak yang membacanya.
Makalah ini masih jauh dari sempurna, sehingga kami mengharapkan saran dan
kritik yang membangun dari pembaca, agar kedepannya kami bisa lebih baik lagi.
DAFTAR PUSTAKA
Khairyararastiti. 2014.tugas-mata-kuliah psikolgi-pendidikan.www.wordpress.com. Diakses
pada
tanggal 10 Oktober 2015.
Warsono. 2014. Files pendidikan.Staff.uny.ac.id. Diakses pada 19 Oktober 2015.
Kajian- psikologi-UPI.com/perbedaan-individual.html. diakses pada 20
oktober 2015.
Santrock, John W. 2014. Psikologi
pendidikan edisi kelima buku 1. Jakarta: Salemba Humanika.
Santrock, John W. 2015. Psikologi pendidikan edisi kedua.
Jakarta: prenada media grup.
Amir. 2014. karakteristik-dan-perbedaan-individu./m.kompasiana.com/.Diakses pada 21 Oktober 2015.
Yudhasmasara,
Sandiaz. 2014. Anakku cerdas tapi sulit konsentrasi./m.kompasiana.com/ Diakses pada 21 Oktober 2015.
Tidak ada komentar:
Posting Komentar