BAB II
PEMBAHASAN
Datangnya Islam ke Nusantara adalah
apa yang dikatakan sebagai salah satu fenomena “encounter of
civilizations”. Kepulauan Nusantara pada waktu Kebangkitan Islam 1400 tahun yanglalu
sudah memiliki suatu kebudayaan dan peradaban. Sekalipun bukan setingkat dan
karenanya tidak begitu terkenal seperti peradaban Farao Berber, peradaban
Judea-Christendom, peradaban Greso-Romawi, peradaban Byzantium, peradaban
Parsi, peradaban Sino-Confucianisme, namun Ia cukup tinggi. Ia berakar kepada
sumber-sumber kebudayaannya sendiri. Ia kemudian menyerap kedalamnya pengaruh peradaban
Hindu-Buddha dari India.
Pada abad ke-VII Masehi sudah
dikenal adanya kerajaan-kerajaan dengan kebudayaan dan peradaban demikian itu;
seperti Keprabuhan Sriwijaya, yang menguasai Nusantara, dengan disamping adanya
kerajaan Tarumanegara di Jawa Barat dan Kutai di Kalimantan Timur, serta Kedah
di Semenanjung Malaya. Kemudian antara
abad ke-VII sampai abad ke-X Masehi
leebih tampil kedepan Kerajaan Mataram yang pertama, dengan candi-candinya di
Dieng, Borobudur, Mendut, Prambanan dan sebagainya. Sesudah abad ke-X Masehi itu peranan Kerajaan Mataram di Jawa
Tengah mengalami kemunduran. Jawa Timur tampil kedepan. Dimulai dengan kerajaan
Kediri, dan Singosari, tumbuhlah kemudian keprabuhan Majapahit, yang mencakup
keseluruh Nusantara, seperti keprabuhan Sriwijaya sebelumnya.
A.
KERAJAAN SAMUDERA
PASAI
Kerajaan
Samudera Pasai terletak di Aceh, dan merupakan kerajaan Islam pertama di
Indonesia. Kerajaan ini didirikan oleh Meurah Silu pada tahun 1267 M. Bukti-bukti arkeologis
keberadaan kerajaan ini adalah ditemukannya makam raja-raja Pasai di kampung
Geudong, Aceh Utara. Makam ini terletak di dekat reruntuhan bangunan pusat kerajaan Samudera di desa
Beuringin, kecamatan Samudera, sekitar 17 km sebelah timur Lhokseumawe. Di
antara makam raja-raja tersebut, terdapat nama Sultan Malik al-Saleh, Raja
Pasai pertama. Malik al-Saleh adalah nama baru Meurah Silu setelah ia
masukIslam, dan merupakan sultan Islam pertama di Indonesia. Berkuasa lebih
kurang 29 tahun (1297-1326 M). Kerajaan Samudera Pasai merupakan gabungan dari
Kerajaan Pase dan Peurlak, dengan raja pertama Malik al-Saleh.Seorang
pengembara Muslim dari Maghribi, Ibnu Bathutah sempat mengunjungi Pasai tahun
1346 M. ia juga menceritakan bahwa, ketika ia di Cina, ia melihat adanya kapal
Sultan Pasai di negeri Cina. Memang, sumber-sumber Cina ada menyebutkan bahwa
utusan Pasai secara rutin datang ke Cina untuk menyerahkan upeti.
Informasi lain
juga menyebutkan bahwa, Sultan Pasai mengirimkan utusan ke Quilon, India Barat
pada tahun 1282 M. Ini membuktikan bahwa Pasai memiliki relasi yang cukup luas
dengan kerajaan luar Pada masa jayanya, Samudera Pasai merupakan pusat
perniagaan penting di kawasan itu, dikunjungi oleh para saudagar dari berbagai
negeri,seperti Cina, India, Siam, Arab dan Persia. Komoditas utama adalah lada.
Sebagai bandarperdagangan yang besar, Samudera Pasai mengeluarkan mata uang
emas yang disebut dirham. Uang ini digunakan secara resmi di kerajaan tersebut.
Di samping sebagai pusat perdagangan, Samudera Pasai juga merupakan pusat
perkembangan agama Islam.Seiring perkembangan zaman, Samudera mengalami
kemunduran, hingga ditaklukkan oleh Majapahit sekitar tahun 1360 M. Pada tahun
1524 M ditaklukkan oleh kerajaan Aceh.
B. KESULTANAN PERLAK
Analisis dan
pemikiran tentang bagaimana sejarah masuknya Islam di Indonesia dipahami
melalui sejumlah teori. Aji Setiawan, misalnya melihat bahwa Kesultanan
Perlakdatangnya Islam ke nusantara bisa ditelisik melalui tiga teori, yaitu
teori Gujarat, teori Arab, dan teori Persia.
Teori Gujarat
memandang bahwa asal muasal datangnya Islam di Indonesia adalah melalui jalur
perdagangan Gujarat India pada abad 13-14. Teori ini biasanya banyak digunakan
oleh ahli-ahli dari Belanda. Salah seorang penganutnya, W.F. Stuterheim
menyatakan bahwa Islam mulai masuk ke nusantara pada abad ke-13 yang didasarkan
pada bukti batu nisan sultan pertama dari Kerajaan Samudera Pasai, yakni Malik
Al-Saleh pada tahun 1297. Menurut teori ini, masuknya Islam ke nusantara
melalui jalur perdagangan Indonesia-Cambay (India)-Timur Tengah–Eropa.
Teori Persia
lebih menitikberatkan pada realitas kesamaan kebudayaan antara masyarakat
Indonesia pada saat itu dengan budaya Persia. Sebagai contoh misalnya kesamaan
konsep wahdatul wujud-nya Hamzah Fanshuri dengan al-Hallaj.
Sedangkan teori
Arab berpandangan sebaliknya. T.W. Arnold, salah seorang penganutnya berargumen bahwa para pedagang Arab yang
mendominasi perdagangan Barat-Timur sejak abadke-7 atau 8 juga sekaligus
melakukan penyebaran Islam di nusantara pada saat itu. Penganut teori ini
lainnya, Naquib al-Attas melihat bahwa bukti kedatangan Islam ke nusantara
ditandai dengan karaktek Islam yang khas, atau disebut dengan “teori umum
tentang Islamisasi nusantara” yang
didasarkan pada literatur nusantara dan pandangan dunia Melayu. Di samping tiga
teori umum di atas, ada teori lain yang memandang bahwa datangnya Islamke
nusantara berasal dari Cina, atau yang disebut dengan teori Cina.Berdasarkan
paparan teori-teori di atas, dapat diperkirakan bahwa Islam telah masuk ke
Indonesia sejak abad 7 atau 8 M. Pada abad ke-13, Islam sudah berkembang pesat.
Menurut catatan A. Hasymi, Kesultanan Perlak merupakan kerajaan Islam pertama di
Indonesia yang berdiri pada tanggal 1 Muharam 225 H atau 804 M. Kesultanan ini
terletak di wilayah Perlak, Aceh Timur, Nangroe Aceh Darussalam, Indonesia.Nama
Kesultanan Perlak sebagai sejarah permulaan masuknya Islam di Indonesia kurang
begitu dikenal dibandingkan dengan Kesultanan Samudera Pasai. Namun demikian,
nama Kesultanan Perlak justru terkenal di Eropa karena kunjungan Marco Polo pada tahun 1293.
a. Sejarah Masuknya Islam
Kesultanan
Perlak berdiri pada tahun 840 dan berakhir pada tahun 1292. Proses berdirinya
tidak terlepas dari pengaruh Islam di wilayah Sumatera. Sebelum Kesultanan
Perlak berdiri, di wilayah Perlak sebenarnya sudah berdiri Negeri Perlak yang
raja dan rakyatnya merupakan keturunan dari Maharaja Pho He La (Meurah Perlak
Syahir Nuwi) serta keturunan dari pasukan-pasukan pengikutnya.Pada tahun 840
ini, rombongan berjumlah 100 orang dari Timur Tengah menuju pantai Sumatera
yang dipimpin oleh Nakhoda Khilafah. Rombongan ini bertujuan untuk berdagang
sekaligus membawa sejumlah da‘i yang bertugas untukmembawa dan menyebarkan
Islam ke Perlak. Dalam waktu kurang dari setengah abad, rajadan rakyat Perlak
meninggalkan agama lama mereka (Hindu dan Buddha), yang kemudian secara
sukarela berbondong-bondong memeluk Islam.Perkembangan selanjutnya menunjukkan
bahwa salah seorang anak buah dari Nakhoda Khalifah, Ali bin Muhammad bin
Ja‘far Shadiq dikawinkan dengan Makhdum Tansyuri, yang merupakan adik dari
Syahir Nuwi, Raja Negeri Perlakyang berketurunan Parsi. Dari buah perkawinan
mereka lahirlah Sultan Alaiddin Sayyid
Maulana Abdul Aziz Shah, yang menjadi sultan pertama di Kesultanan
Perlak sejak tahun 840. Ibu kotanya Perlak yang semula bernama Bandar Perlak
kemudian diubah menjadi Bandar Khalifah sebagai bentuk perhargaan terhadap jasa
Nakhoda Khalifah.
C. KESULTANAN MALAKA
Kerajaan Malaka
didirikan oleh Parameswara antara tahun 1380-1403 M. Parameswara berasal dari
Sriwijaya, dan merupakan putra Raja Sam Agi. Saat itu, ia masih menganut agama
Hindu. Ia melarikan diri ke Malaka karena kerajaannya di Sumatera runtuh akibat
diserang Majapahit. Pada saat Malaka didirikan, di situ terdapat penduduk asli
dari Suku Laut yang hidup sebagai nelayan. Mereka berjumlah lebih kurang tiga puluh keluarga. Raja dan
pengikutnya adalah rombongan pendatang yang memiliki tingkat kebudayaan yang
jauh lebih tinggi, karena itu, mereka berhasil mempengaruhi masyarakat asli.
Kemudian, bersama penduduk asli tersebut, rombongan pendatang mengubah Malaka
menjadi sebuah kota yang ramai. Selain menjadikan kota tersebut sebagai pusat
perdagangan, rombongan pendatang juga mengajak penduduk asli menanam tanaman
yang belum pernah mereka kenal sebelumnya, seperti tebu, pisang, dan
rempah-rempah.Rombongan pendatang juga telah menemukan biji-biji timah di daratan. Dalam perkembangannya,
kemudian terjalin hubungan perdagangan yang ramai dengan daratan Sumatera.
Salah satu komoditas penting yang diimporMalaka dari Sumatera saat itu adalah
beras. Malaka amat bergantung pada Sumatera dalam memenuhi kebutuhan beras ini,
karena persawahan dan perladangan tidak dapat dikembangkandi Malaka. Hal ini
kemungkinan disebabkan teknik bersawah yang belum mereka pahami, atau mungkin
karena perhatian mereka lebih tercurah pada sektor perdagangan, dengan posisi
geografis strategis yang mereka miliki. Berkaitan dengan asal usul nama Malaka,
bisa dirunut dari kisah berikut. Menurut Sejarah Melayu (Malay Annals) yang
ditulis Tun Sri Lanang pada tahun 1565, Parameswara melarikan diri dari
Tumasik, karena diserang oleh Siam. Dalampelarian tersebut, ia sampai ke Muar,
tetapi ia diganggu biawak yang tidak terkira banyaknya. Kemudian ia pindah ke
Burok dan mencoba untuk bertahan disitu, tapi gagal. KemudianParameswara
berpindah ke Sening Ujong hingga kemudian sampai di Sungai Bertam, sebuah
tempat yang terletak di pesisir pantai. Orang-orang Seletar yang mendiami
kawasan tersebut kemudian meminta Parameswara menjadi raja. Suatu ketika, ia
pergi berburu. Tak disangka, dalam perburuan tersebut, ia melihat salah satu
anjing buruannya ditendang oleh seekor pelanduk. Ia sangat terkesan dengan
keberanian pelanduk tersebut. Saat itu,
ia sedang berteduh di bawah pohon Malaka. Maka, kawasan tersebut kemudian ia
namakan Malaka.Dalam versi lain, dikatakan bahwa sebenarnya nama Malaka berasal
dari bahasa Arab Malqa,artinya tempat bertemu. Disebut demikian, karena
ditempat inilah para pedagang dari berbagai negeri bertemu dan melakukan
transaksi niaga. Demikianlah, entah versi mana yang benar, atau boleh jadi, ada
versi lain yang berkembang di masyarakat.
D. KERAJAAN PAGARUYUNG
Kerajaan
Pagaruyungadalah sebuah kerajaan yang pernah berdiri, meliputi provinsi Sumatra
Barat sekarang dan daerah-daerah di sekitarnya. Nama kerajaan ini berasal dari
ibukotanya, yang berada di nagari Pagaruyung. Kerajaan ini didirikan oleh
seorang pangeran dari Majapahit bernama Adityawarman pada tahun 1347. Kerajaan
Pagaruyung menjadi Kesultanan Islam sekitar tahun 1600-an. Walaupun
Adityawarman merupakan pangeran dari Majapahit, ia sebenarnya memiliki darah
Melayu. Dalam sejarahnya, pada tahun 1286, Raja Kertanegara menghadiahkan arca
Amogapacha untuk Kerajaan Darmasraya di Minangkabau. Sebagai imbalan atas
pemberian itu, Raja Darmas Raya memperkenankan dua putrinya, Dara Petak dan Dara Jingga untuk dibawa dan
dipersunting oleh bangsawan Singosari. Dari perkawinan Dara Jingga inilah
kemudian lahir Aditywarman.Ketika Singosari runtuh, mucul Majapahit. Adityawarman
merupakan seorang pejabat di Majapahit. Suatu ketika, ia dikirim ke Darmasraya
sebagai penguasa daerah tersebut. Tapi kemudian, Adityawarman justru melepaskan
diri dari Majapahit. Dalam sebuah
prasasti bertahun 1347, disebutkan bahwa Aditywarman menobatkan diri sebagai
raja atas daerah tersebut. Daerah kekuasaannya disebut Pagaruyung, karena ia
memagari daerah tersebut dengan ruyung pohon kuamang, agar aman dari gangguan
pihak luar. Karena itulah, negeri itu kemudian disebut dengan Pagaruyung.
Kekuasaan raja Pagaruyung sudah sangat lemah pada saat menjelang perang Padri,
meskipun raja masih tetap dihormati. Daerah-daerah di pesisir barat jatuh ke
dalam pengaruh Aceh, sedangkan Inderapura di pesisir selatan praktis menjadi
kerajaan merdeka meskipun resminya masih tunduk pada raja Pagaruyung. Kerajaan
ini runtuh pada masa Perang Padri akibat konflik yang terjadi dan campur tangan
kolonial Belanda pada pertengahan abad ke-19.Sebelum kerajaan ini berdiri,
sebenarnya masyarakatdi wilayah Minangkabau sudah memiliki sistem politik
semacam konfederasi yang merupakan lembaga musyawarah dari berbagai nagari dan
luhak. Dilihat dari kontinuitas sejarah,Kerajaan Pagaruyung merupakan semacam
perubahan sistem administrasi semata bagi masyarakat setempat (Suku Minang).
E. KERAJAAN SRIWIJAYA
Pengetahuan
mengenai sejarah Sriwijaya baru lahir pada permulaan abad ke-20 M, ketika
George Coedes menulis karangannya berjudulLe Royaume de Crivijayapada tahun
1918 M. Sebenarnya, lima tahun sebelum itu, yaitu pada tahun 1913 M, Kern telah
menerbitkan Prasasti Kota Kapur, sebuah prasasti peninggalan Sriwijaya yang
ditemukan di Pulau Bangka. Namun, saat itu, Kern masih menganggap nama
Sriwijaya yang tercantum pada prasasti tersebut sebagai nama seorang raja,
karena Cribiasanya digunakan sebagai
sebutan atau gelar raja.Pada tahun 1896 M, sarjana Jepang Takakusu menerjemahkan
karya I-tsing, Nan-hai-chi-kuei-nai
fa-ch‘uanke dalam bahasa Inggris dengan judul
A Record of the Budhist Religion as Practised in India and the Malay
Archipelago.Namun, dalam buku tersebut tidak terdapat nama Sriwijaya, yang ada
hanya Shih-li-fo-shih. Dari terjemahan
prasasti Kota Kapur yang memuat nama Sriwijaya dan karya I-Tsing yang
memuatnama Shih-li-fo-shih, Coedes
kemudian menetapkan bahwa, Sriwijaya adalah nama sebuah kerajaan di Sumatera
Selatan. Lebih lanjut, Coedes juga menetapkan bahwa, letak ibukota Sriwijaya
adalah Palembang,dengan bersandar pada anggapan Groeneveldt dalam
karangannya, Notes on the Malay
Archipelago and Malacca, Compiled from Chinese Source,yang menyatakan
bahwa, San-fo-ts‘Iadalah Palembang.
Sumber lain, yaitu Beal mengemukakan pendapatnya pada tahun 1886 bahwa,
Shih-li-fo-shih merupakan suatu daerah yang
terletak di tepi Sungai Musi, dekat kota Palembang sekarang. Dari
pendapat ini, kemudian muncul suatu kecenderungan di kalangan sejarawan untuk
menganggap Palembang sebagai pusat Kerajaan Sriwijaya.
Sumber lain yang
mendukung keberadaan Palembang sebagai pusat kerajaan adalah prasasti Telaga
Batu. Prasasti ini berbentuk batu lempeng mendekati segi lima, di atasnya ada
tujuh kepala ular kobra, dengan sebentuk mangkuk kecil dengan cerat (mulut
kecil tempat keluar air) di bawahnya. Menurut para arkeolog, prasasti ini
digunakan untuk pelaksanaan upacara sumpah kesetiaan dan kepatuhan para calon
pejabat. Dalam prosesi itu, pejabat yang
disumpah meminum air yang dialirkan ke batu dan keluar melalui cerat tersebut.
Sebagai sarana untuk upacara persumpahan, prasasti seperti itu biasanya ditempatkan di pusat kerajaan.
Karena ditemukan di sekitar Palembang pada tahun 1918 M, maka diduga kuat
Palembang merupakan pusat Kerajaan Sriwijaya. Petunjuk lain yang menyatakan
bahwa Palembang merupakan pusat kerajaan juga diperoleh dari hasil temuan
barang-barang keramik dan tembikar di situs Talang Kikim, Tanjung Rawa, Bukit
Siguntang dan Kambang Unglen, semuanya di daerah Palembang. Keramik dan
tembikar tersebut merupakan alat yang digunakan dalam kehidupan sehari-hari.
Temuan ini menunjukkan bahwa, pada masa dulu, di Palembang terdapat pemukiman
kuno. Dugaan ini semakin kuat dengan hasil interpretasi foto udara di daerah
sebelah barat Kota Palembang, yang menggambarkan bentuk-bentuk kolam dan kanal.
Kolam dan kanal-kanal yang bentuknya teratur itu kemungkinan besar buatan
manusia, bukan hasil dari proses alami. Dari hasil temuan keramik dan
kanal-kanal ini, makadugaan para arkeolog bahwa Palembang merupakan pusat kerajaan
semakin kuat. Sebagai pusat kerajaan, kondisi Palembang ketika itu bersifat
mendesa (rural), tidak seperti pusat-pusat kerajaan lain yang ditemukan di
wilayahAsia Tenggara daratan, seperti di Thailand, Kamboja, dan Myanmar. Bahan
utama yang dipakai untuk membuat bangunan di pusat kota Sriwijaya adalah kayu
atau bambu yang mudah didapatkan di sekitarnya. Oleh karena bahan itu mudah
rusak termakan zaman, maka tidak ada
sisa bangunan yang dapat ditemukan lagi. Kalaupun ada, sisa pemukiman
dengankonstruksi kayu tersebut hanya dapat ditemukan di daerah rawa atau tepian
sungai yang terendam air, bukan di pusat kota, seperti di situs Ujung Plancu,
Kabupaten Batanghari, Jambi.
Memang ada
bangunan yang dibuat dari bahan bata atau batu, tapi hanya bangunan sakral
(keagamaan), seperti yang ditemukan di Palembang, di situs Gedingsuro, Candi
Angsoka, dan Bukit Siguntang, yang terbuat dari bata. Sayang sekali, sisa
bangunan yang ditemukan tersebut hanya bagian pondasinya saja. Seiring
perkembangan, semakin banyak ditemukan datasejarah berkenaan dengan Sriwijaya.
Selain prasasti Kota Kapur, juga ditemukan prasastiKarang Berahi (ditemukan
tahun 1904 M), Telaga Batu (ditemukan tahun 1918 M), Kedukan Bukit (ditemukan
tahun 1920 M) Talang Tuo (ditemukan tahun 1920 M) dan Boom Baru. Di antara
prasasti di atas, prasasti Kota Kapur merupakan yang paling tua, bertarikh 682
M, menceritakan tentang kisah perjalanan suci Dapunta Hyang dari Minana dengan
perahu, bersama dua laksa (20.000) tentara dan 200 peti perbekalan, serta 1.213
tentara yang berjalan kaki.Perjalanan ini berakhir di mukha-p.Di tempat tersebut, Dapunta Hyang
kemudian mendirikan wanua(perkampungan)
yang diberi nama Sriwijaya. Dalam prasasti Talang Tuo yang bertarikh 684 M,
disebutkan mengenai pembangunan taman oleh Dapunta Hyang Sri Jayanasa untuk
semua makhluk, yang diberi nama Sriksetra. Dalam taman tersebut, terdapat
pohon-pohon yang buahnya dapat dimakan.Data tersebut semakin lengkap dengan
adanya berita Cina dan Arab. Sumber Cina yang paling sering dikutip adalah
catatan I-tsing. Ia merupakan seorang peziarah Budha dari China yang telah
mengunjungi Sriwijaya beberapa kali dan sempat bermukim beberapa lama.
Kunjungan I-sting pertama adalah tahun 671 M. Dalam catatannya disebutkan
bahwa, saat itu terdapat lebih dari seribu orang pendeta Budha di
Sriwijaya.Aturan dan upacara para pendeta Budha tersebut sama dengan aturan dan
upacara yang dilakukan oleh para pendeta Budha di India. I-tsing tinggal selama
6 bulan di Sriwijaya untuk belajar bahasa Sansekerta, setelah itu, baru ia
berangkat ke Nalanda, India. Setelah lama belajar di Nalanda, I-tsing kembali
ke Sriwijaya pada tahun 685 dan tinggal selama beberapa tahun untuk
menerjemahkan teks-teks Budha dari bahasa Sansekerta ke bahasa Cina. Catatan
Cinayang lain menyebutkan tentang utusan Sriwijaya yang datang secara rutin ke
Cina, yang terakhir adalah tahun 988 M.
Dalam sumber
lain, yaitu catatan Arab, Sriwijaya disebut Sribuza. Mas‘udi, seorang sejarawan
Arab klasik menulis catatan tentang Sriwijaya pada tahun 955 M. Dalam catatan itu, digambarkan
Sriwijaya merupakan sebuah kerajaan besar, dengan tentara yang sangat banyak.
Hasil bumi Sriwijaya adalah kapur barus, kayu gaharu, cengkeh, kayu cendana,
pala, kardamunggu, gambir dan beberapa hasil bumi lainya.Dari catatan asing
tersebut, bisa diketahui bahwa Sriwijaya merupakan kerajaan besar pada masanya,
dengan wilayah dan relasi dagang yang luassampai ke Madagaskar. Sejumlah bukti
lain berupa arca, stupika, maupun prasasti lainnya semakin menegaskan bahwa, pada masanya
Sriwijaya adalah kerajaan yang mempunyai komunikasi yang baik dengan para
saudagar dan pendeta di Cina, India dan Arab. Hal ini hanya mungkin bisa
dilakukan oleh sebuah kerajaan yang besar, berpengaruh, dan diperhitungkan di
kawasannya.Pada abad ke-11 M, Sriwijaya mulai mengalami kemunduran. Pada tahun
1006 M, Sriwijaya diserang oleh Dharmawangsa dari Jawa Timur. Serangan ini
berhasil dipukul mundur, bahkan Sriwijaya mampu melakukan serangan balasan dan
berhasil menghancurkan kerajaan Dharmawangsa. Pada tahun 1025 M, Sriwijaya
mendapatserangan yang melumpuhkan dari kerajaan Cola, India. Walaupun demikian,
serangan tersebut belum mampu melenyapkan Sriwijaya dari muka bumi. Hingga awal
abad ke-13 M,Sriwijaya masih tetap berdiri, walaupun kekuatan dan pengaruhnya
sudah sangat jauh berkurang.
F. KERAJAAN KUTAI
Sejarah mengenai
kerajaan Kutai berikut terbagi menjadi dua fase: (1), era Kutai Martadipura,
dan (2), era Kutai Kartanegara. Berikut ini sekilas sejarahnya.
a. Kutai Martadipura
Berdasarkan data
tektual tertua yang ditemukan, Kutai merupakan kerajaan tertua di Indonesia.
Kerajaan ini diperkirakan muncul pada abad 5 M, atau ± 400 M. Keberadaan
kerajaan tersebut diketahui berdasarkan prasasti berbentuk Yupa/tiang batu
berjumlah 7 buah, yang ditemukan di daerah Muara Kaman, Kabupaten Kutai
Kartanegara.Prasasti Yupa yang menggunakan huruf Pallawa dan bahasa Sansekerta
tersebut menceritakan tentang seorang raja bernama Mulawarman, yang menjadi
raja di Kerajaan Kutai Martadipura. Raja Mulawarman adalah putra Raja
Aswawarman, dan cucu dari Maharaja Kudungga. Pengetahuan mengenai keberadaan
Kerajaan Kutai Martadipura ini sangat
minim.Selama ini, para arkeologi amat bertumpu pada informasi tertulis yang
terdapat pada prasasti dan Salasilah Kutai.
b. Kutai Kartanegara Ing Martadipura
Secara umum,
penelitian sejarah mengenai Kutai amatkurang. Bahkan, situs purbakala tempat
ditemukannya peninggalan Kerajaan Kutai banyak yang rusak akibat kegiatan
penambangan. Periode gelap sejarah Kutai ini sedikit terkuak pada abad 13 ke
atas, seiring berdirinya Kerajaan Kutai Kartanegara, dengan raja pertama Aji Batara Agung Dewa Sakti
(1300-1325). Pusat kerajan berada di Tepian Batu atau Kutai Lama. Dalam
perkembangannya, Raja Kutai Kartanegara, Aji Pangeran Sinum Panji Mendapa
berhasil menaklukkan Kerajaan Kutai Martadipura pada abad ke-16, dan
menyatukannya dengan kerajaannya, Kutai Kartanegara. Selanjutnya, gabungan dua
kerajaan tersebut dinamakannya Kutai Kartanegara Ing Martadipura. Pada abad
ke-17, Islam mulai mulai masuk dan diterima dengan baik di Kerajaan Kutai
Kartanegara. Selanjutnya, Islam menjadi agama resmidi kerajaan ini, dan gelar
raja diganti dengan sultan. Sultan yang pertama kali menggunakannama Islam
adalah Sultan Aji Muhammad Idris (1735-1778).
Di era pemerintahan
Sultan Aji Muhammad Idris, ia bersama pengikutnya berangkat ke daerah Wajo
untuk membantu Sultan Wajo Lamaddukelleng yang juga menantunya itu, berperang
melawan VOC Belanda. Selama Sultan pergi,kerajaan dipimpin oleh sebuah Dewan
Perwalian. Pada tahun 1739, Sultan A.M. Idris gugur di medan laga. Sepeninggal
Sultan Idris, tahta kerajaan direbut oleh Aji Kado, yang sebenarnya tidak
berhak atas tahta kerajaan. Dalam peristiwa perebutan tahta ini, Putera Mahkota
Aji Imbut yang masih kecil terpaksa dilarikan ke Wajo, tanah kakeknya. Sejak
itu, Aji Kado secara resmi berkuasa di Kutai dengan gelar Sultan Aji Muhammad
Aliyeddin. Setelah dewasa, Aji Imbut sebagai putera mahkota yang sah dari
Kesultanan Kutai Kartanegara kembali ke tanah Kutai. Oleh kalangan Bugis dan
kerabat istana yang setia pada mendiang Sultan Idris, Aji Imbut dinobatkan
sebagai Sultan Kutai Kartanegara dengan gelar Sultan Aji Muhammad Muslihuddin.
Penobatan Sultan Muslihuddin ini dilaksanakan di Mangkujenang (Samarinda
Seberang). Sejak itu, dimulailah perlawanan terhadap Aji Kado.Perlawanan
berlangsung dengan cara mengembargo Pemarangan, ibukota Kutai Kartanegara.
Dalam perlawanan ini, Aji Imbut dibantu oleh para bajak laut dari Sulu.
Pemarangan mengalami kesulitan untuk menumpas blokade Aji Imbut yang dibantu
para bajak laut ini. kemudian Aji Kado meminta bantuan VOC, namun tidak bisa
dipenuhi oleh Belanda. Akhirnya, Aji Imbut berhasil merebut kembali tahta Kutai
Kartanegara dan menjadi raja dengan gelar Sultan Aji Muhammad Muslihuddin.
Sementara Aji Kadodihukum mati dan dimakamkan di Pulau Jembayan.Setelah menjadi
raja, Aji Imbut memindahkan ibukotaKesultanan Kutai Kartanegara ke Tepian
Pandan pada tanggal 28 September 1782. Perpindahan ini dilakukan untuk
menghapus kenangan pahit masa pemerintahan Aji Kado, dan juga, Pemarangan
(ibukota sebelumnya) dianggap telah kehilangan tuahnya. Karena raja berpindah
ke Tepian Pandan, maka nama Tepian Pandan kemudian diubah menjadi Tangga
Arung yang berarti Rumah Raja. Lambat
laun, Tangga Arung disebut orang dengan Tenggarong.Nama tersebut tetap bertahan
hingga saat ini. Pada tahun 1883, Aji Imbut mangkat dan digantikan oleh Sultan
Aji Muhammad Salehuddin.
G. KERAJAAN BANJAR
Berdasarkan
dari beberapa keterangan dapat diketahui bahwa karajaan Islam Banjar berdiri
mungkin pada tahun 1540. Kerajaan Islam Banjar berdiri dengan bantuan Kerajaan
Islam Demak pada masa pemerintahan Sultan Demak ketiga yaitu Sultan Tenggano
yang bergelar Sultan Surya Alam. Permintaan bantuan kepada Demak itu karena Demak
ketika itu merupakan kerajaan terkuat di Jawa setelah jatuhnya Majapahit.
Bantuan
Demak kepada Banjar atas dasar ukhuwwah Islamiyah dan merupakan dakwah Islam.
Bantuan itu tidak hanya berupa tentara dan muballigh juga bahan makanan untuk
mengatasi bahaya kelaparan. Di daerah Banjar sudah terdapat orang yang beragama
Islam.
Penghuni pertama
Kalimantan Selatan diperkirakan terkonsentrasi di desa-desa besar, di kawasan
pantai kaki Pegunungan Meratus yang lambat
laun berkembang menjadi kota-kota bandar yang memiliki hubungan
perdagangan dengan India dan Cina. Dalam perkembangannya, konsentrasi penduduk
juga terjadi di aliran Sungai Tabalong. Pada abad ke 5 M, diperkirakan telah
berdiri Kerajaan Tanjungpuri yang berpusat di Tanjung, Tabalong.
Jauh beberapa abad
kemudian, orang-orang Melayu dari Sriwijaya banyak yang datang ke kawasan ini.
Mereka memperkenalkan bahasa dan kebudayaan Melayu sambil berdagang.
Selanjutnya, kemudian terjadi asimilasi dengan penduduk tempatan yang terdiri
dari suku Maanyan, Lawangan dan Bukit. Maka, kemudian berkembang bahasa Melayu
yang bercampur dengan bahasa suku-suku daerah tempatan, yang kemudian membentuk
bahasa Banjar Klasik.Untuk mengetahui sejarah Banjar lebih lanjut,
historiografi tradisional masyarakat tempatan sangat banyak membantu.
Di antara sumber
yang paling populer adalah Hikayat
Lambung Mangkurat,atau Hikayat Banjar. Berdasarkan sumber tersebut, di daerah
Banjar telah berdiri Kerajaan Hindu, yaitu Negara Dipa yang berpusat di
Amuntai. Kemudian berdiri Negara Daha yang berpusat di daerah sekitar Negara
sekarang. Menurut Hikayat Banjar tersebut, Negara Dipa adalah kerajaan pertama
di Kalimantan Selatan.Cikal bakal Raja Dipa bisa dirunut dari keturunan Aria
Mangkubumi. Ia adalah seorang saudagar kaya, tapi bukan keturunan raja. Oleh
sebab itu, berdasarkan sistem kasta dalam Hindu, ia tidak mungkin menjadi raja.
Namun, dalam pratiknya, ia memiliki
kekuasaan dan pengaruh yang dimiliki oleh seorang raja. Ketika iameninggal,
penggantinya adalah Ampu Jatmika, yang kemudian menjadi raja pertama
Negara Dipa. Untuk menutupi
kekurangannya yang tidak berasal dari keturunan raja, Jatmika kemudian banyak
mendirikan bangunan, seperti candi, balairung, kraton dan arca
berbentuklaki-laki dan perempuan yang ditempatkan di candi. Segenap warga
Negara Dipa diwajibkan menyembah arca ini.Ketika Ampu Jatmika meninggal dunia,
ia berwasiat agar kedua anaknya, Ampu Mandastana dan Lambung Mangkurat tidak
menggantikannya, sebab mereka bukan
keturunan raja. Tapi kemudian, Lambung Mangkurat berhasil mencari pengganti
raja, dengan cara mengawinkan seorang putri Banjar, Putri Junjung Buih dengan
Raden Putera, seorang pangeran dari Majapahit. Setelah menjadi raja, Raden
Putera memakai gelar Pangeran Suryanata, sementara Lambung Mangkurat memangku jabatan
sebagai Mangkubumi.Setelah Negara Dipa runtuh, muncul Negara Daha yangberpusat
di Muara Bahan. Saat itu, yang memerintah di Daha adalah Maharaja Sukarama.
Ketika Sukarama meninggal, ia berwasiat agar cucunya Raden Samudera yang
menggantikan. Tapi, karena masih kecil, akhirnya Raden Samudera kalah bersaing
dengan pamannya, Pangeran Tumenggung yang juga berambisi menjadi raja. Atas
nasehat Mangkubumi Aria Tranggana dan agar terhindar dari pembunuhan, Raden
Samudera kemudian melarikan diri dari Daha, dengan cara menghilir sungai
melalui Muara Bahan ke Serapat, Balandian, dan memutuskan untuk bersembunyi di
daerah Muara Barito. Di daerah aliran Sungai Baritoini, juga terdapat beberapa
desa yang dikepalai oleh para kepala suku. Di antara desa-desa tersebut adalah
Muhur, Tamban, Kuwin, Balitung dan Banjar. Kampung Banjar merupakan
perkampungan Melayu yang dibentuk oleh lima buah sungai yakni Sungai Pandai,
Sungai Sigaling, Sungai Karamat, Jagabaya dan Sungai Pangeran (Pageran).
Semuanya anak Sungai Kuwin. Desa Banjar ini terletak di tengah-tengah pemukiman
Oloh Ngaju di Barito Hilir.
Orang-orang
Dayak Ngaju menyebut orang yang berbahasa Melayu dengan sebutan Masih. Oleh karena itu, desa Banjar tersebut
kemudian disebut Banjarmasih, dan pemimpinnya disebut Patih Masih. Desa-desa di
daerah Barito inisemuanya takluk di bawah Daha dengan kewajiban membayar pajak
dan upeti. Hingga suatu ketika, Patih Masih mengadakan pertemuan dengan Patih
Balit, Patih Muhur, Patih Balitung, Patih Kuwin untuk berunding, agar bisa keluar
dari pengaruh Daha, dan menjadikan kawasan mereka merdeka dan
besar.Keputusannya, mereka sepakat mencari Raden Samudera, cucu Maharaja
Sukarama yang kabarnya sedang bersembunyi di daerah Balandean, Sarapat.
Kemudian, mereka juga sepakat memindahkan bandar perdagangan ke Banjarmasih.
Selanjutnya, di bawah pimpinan Raden Samudera, mereka memberontak melawan
kerajaan Daha.Peristiwa ini terjadi pada abad ke-16 M. Pemberontakan ini amat
penting, karena telah mengakhiri
eksistensi Kerajaan Daha, yang berarti akhir dari era Hindu. Selanjutnya, masuk
ke era Islam dan berdirilah Kerajaan Banjar.Dalam sejarah pemberontakan itu,
Raden Samudera meminta bantuan Kerajaan Demak di Jawa. Dalam Hikayat Banjardisebutkan, Raden Samudera
mengirim duta ke Demak untuk mengadakan
hubungan kerja sama militer. Utusan tersebut adalah Patih Balit, seorang
pembesar Kerajaan Banjar. Utusan menghadap Sultan Demak dengan seperangkat
hadiah sebagai tanda persahabatan berupa sepikul rotan, seribu buah tudung
saji, sepuluh pikul lilin, seribu bongkah damar dan sepuluh biji intan.
Pengiring duta kerajaan ini sekitar 400 orang. Demak menyambut baik utusan ini,
dan sebagai persyaratan, Demak meminta kepada utusan tersebut, agar Raja Banjar
dan semua pembesar mau memeluk agama Islam. Atas bantuan Demak, Pangeran
Samudera berhasil mengalahkan Pangeran Tumenggung, penguasa Daha, sekaligus
menguasai seluruh daerah taklukan Daha.
Setelah berhasil
meruntuhkan dan menguasai kerajaan Daha, maka Raden (Pangeran) Samudera segera
menunaikan janji untuk memeluk Islam. Setelah masuk Islam, ia memakai gelar
Sultan Suriansyah. Gelar lainnya adalah Panembahan atau Susuhunan Batu Habang.
Dialah Raja Banjar pertama yang memeluk Islam, dan sejak itu, agama Islam berkembang pesat di
Kalimantan Selatan. Pangeran Samudera (Sultan Suriansyah) diislamkan oleh wakil
penghulu Demak, Khatib Dayan pada tanggal 24 September 1526 M, hari Rabu jam 10
pagi, bertepatan dengan 8 Zulhijjah 932 H. Khatib Dayan merupakan utusan
Penghulu Demak Rahmatullah, dengan tugas melakukan proses pengislaman raja
beserta pembesar kerajaan. Khatib Dayan bertugas di Kerajaan Banjar sampai
ia meninggal dunia, dan dikuburkan di
Kuwin Utara.
Sultan
Suriansyah telah membuka era baru di Kerajaan Banjar dengan masuk dan
berkembangnya agama Islam. Kerajaan Banjar yang dimaksud di sini adalah
kerajaan pasca masuknya agama Islam. Sementara era Negara Dipa danDaha
merupakan era tersendiri yang melatarbelakangi kemunculan Kerajaan Banjar.
Diperkirakan, Suriansyah meninggal dunia sekitar tahun 1550 M. Seiring masuknya
kolonial kulit putih Eropa, Kerajaan Banjar kemudian dihapuskan oleh Belanda
pada 11 Juni 1860.
H. KERAJAAN GOWA
Menurut
mitologi, sebelum kedatangan Tomanurung di tempat yang kemudian menjadi bagian
dari wilayah kerajaan Gowa, sudah terbentuk sembilan pemerintahan otonom yang
disebut Bate Selapang atau Kasuwiyang Salapang (gabungan/federasi). Sembilan
pemerintahan otonom tersebut adalah Tombolo, Lakiung, Parang-Parang, Data,
Agang Jekne, Bissei, Kalling dan Serro. Pada awalnya, kesembilan pemerintahan
otonom ini hidup berdampingan dengan damai, namun, lama kelamaan, muncul
perselisihan karena adanya kecenderugnan untuk menunjukkan keperkasaan dan
semangat ekspansi. Untuk mengatasi perselisihan ini, kesembilan pemerintahan
otonom ini kemudian sepakatmemilih seorang pemimpin di antara mereka yang
diberi gelar Paccallaya. Ternyata rivalitas tidak berakhir dengan kesepakan
ini, karena masing-masing wilayah berambisi menjadi ketua Bate Selapang. Di
samping itu, Paccallaya ternyata juga tidak mampu menyelesaikan permasalahan yang terjadi. Hingga suatu
ketika, tersiar kabar bahwa di suatu tempat yang bernama Taka Bassia di Bukit
Tamalate, hadir seorang putri yang memancarkan cahaya dan memakai dokoh yang
indah.Mendengar ada seorang putri di Taka Basia, Paccallaya dan Bate Salapang
mendatangi tempat itu, duduk tafakkur mengelilingi cahaya tersebut.
Lama-kelamaan, cahaya tersebut menjelma menjadi wanita cantik, yang tidak
diketahui nama dan asal-usulnya. Oleh karena itu, mereka menyebutnya
Tomanurung. Lalu, Paccallaya bersama Kasuwiyang Salapang berkata pada
Tomanurung tersebut, “kami semua datang kemari untuk mengangkat engkau menjadi
raja kami, sudilah engkau menetap di negeri kami dan sombaku lah yang merajai
kami”. Setelah permohonan mereka dikabulkan, Paccallaya bangkit dan berseru,
“Sombai Karaeng Nu To Gowa (sembahlah rajamu wahai orang-orang Gowa).
Tidak lama
kemudian, datanglah dua orang pemuda yang bernama Karaeng Bayo dan Lakipadada,
masing-masing membawa sebilah kelewang.Paccallaya dan kasuwiyang kemudian
mengutarakan maksud mereka, agar Karaeng Bayo dan Tomanurung dapat dinikahkan
agar keturunan mereka bisa melanjutkan pemerintahan kerajaan Gowa. Kemudain
semua pihak di situ membuat suatu ikrar yang intinya mengatur hak, wewenang dan
kewajiban orang yang memerintah dan diperintah. Ketentuan tersebut berlaku
hingga Tomanurung dan Karaeng Bayo menghilang, ketika anaktunggal mereka
Tumassalangga Baraya lahir. Anak tunggal inlah yang selanjutnya mewarisi
kerajaan Gowa. Kerajaan Gowa mencapai puncak keemasannya pada abadXVI yang
lebih populer dengan sebutan kerajaan kembar “Gowa-Tallo” atau disebut pula
zusterstaten(kerajaan bersaudara). Kerajaan Dwi-Tunggal ini terbentuk pada masa
pemerintahan Raja Gowa IX, Karaeng Tumaparissi Klonna (1510-1545), dan ini
sangat sulit dipisahkan karena kedua kerajaan telah menyatakan ikrar bersama,
yang terkenal dalam pribahasa “Rua Karaeng Na Se’re Ata”(“Dua Raja tetapai satu
rakyat”). Oleh karena itu, kesatuan dua kerajaan itu disebut Kerajaan Makassar.
Masa kejayaan
Kerajaan Gowa tidak terlepas dari peran yang dimainkan oleh Karaeng
Patingalloang, Mangkubumi Kerajaan yang berkuasa 1639-1654. Nama lengkapnya
adalah I Mangadicinna Daeng Sitaba Sultan Mahmud, putra RajaTallo VII,
Mallingkaang Daeng Nyonri Karaeng
Matowaya.Sewaktu Raja Tallo I Mappaijo Daeng Manyuru diangkat menjadi
raja Tallo, usianya baru satu tahun. Karaeng Pattingalloang diangkat untuk
menjalankan kekuasaannya sampai I Mappoijo cukup usia. Oleh karena itu dalam
beberapa catatan disebutkan bahwa Karaeng Pattingalloang adalah RajaTallo IX.
Karaeng
Pattingalloang diangkat menjadi sebagai Mengkubumi Kerajaan Gowa-Tallo pada
tahun 1639-1654, mendampingi Sultan Malikussaid, yang memerintah pada tahun
1639-1653. Karaeng Pattingalloang, dilantik menjadi Tumabbicara ButtaKerajaan pada hari Sabtu,
tanggal 18 Juni 1639. Jabatan itu didapatkannya setelah ia menggantikan ayahnya
Karaeng Matowaya.Pada saat ini menjabat Mangkubumi, Karajaan Makassar telah
menjadi sebuah kerajaan terkenal dan banyak mengundang perhatian negeri-negeri
lainnya.Karaeng Pattingalloang adalah putra Gowa yang kepandaiannya atau
kecakapannya melebihi orang-orang Bugis Makassar pada umumnya. Dalam usia18
tahun ia telah menguasai banyak bahasa, di antaranya bahasa Latin, Yunani,
Itali, Perancis, Belanda, Arab, dan beberapa bahasa lainnya. Selain itu juga
memperdalam ilmu falak. Pemerintah Belanda melalui wakil-wakilnya di Batavia di
tahun 1652 menghadiahkan sebuah bola dunia (globe) yang khusus dibuat di negeri
Belanda, yang diperkirakan harganya f 12.000. Beliau meninggal pada tanggal 17
September 1654 di Kampung Bontobiraeng. Sebelum
meninggalnya ia telah mempersiapkan 500 buah kapal yang masing-masing
dapat memuat 50 awak untuk menyerang Ambon.
Karaeng
Pattingolloang adalah juga seorang pengusaha internasional, beliau bersama
dengan Sultan Malikussaid berkongsi dengan pengusaha besarPedero La Matta,
Konsultan dagang Spanyol di Bandar Somba Opu, serta dengan seorang pelaut ulung
Portugis yang bernama Fransisco Viera dengan Figheiro, untuk berdagang didalam
negeri. Karaeng Pattingalloang berhasil mengembangkan/meningkatkan perekonomian
dan perdagangan Kerajaan Gowa. Di kota Raya Somba Opu, banyak diperdagangkan
kain sutra, keramik Cina, kain katun India, kayu Cendana Timor, rempah-rempah
Maluku, dan IntanBerlian Borneo. Pada pedagang-pedagang Eropa yang datang ke
Makassar biasanya membawa buah tangan yang diberikan kepada para pembesar dan
bangsawan-bangsawan di Kerajaan Gowa. Buah tangan itu kerap kali juga
disesuaikan dengan pesanyang dititipkan ketika mereka kembali ke tempat
asalnya. Karaeng Pattingalloang ketika diminta buah tangan apa yang
diinginkannya, jawabnya adalah buku. Oleh karena itu tidak mengherankan jika
Karaeng Pattingalloang memiliki banyak koleksi buku dari berbagai bahasa. Karaeng
Pattingalloang adalah sosok cendikiawan yang dimiliki oleh Kerajaan Makassar
ketika itu. Karena itu pedulinya terhadap ilmu pengetahuan, sehingga seorang
penyair berkebangsaan Belanda yang bersama Joost van den Vondel, sangat memuji
kecendikiawannya dan membahasakannya dalam sebuah syair sebagai berikut: “Wiens
aldoor snuffelende brein Een gansche werelt valt te klein” Yang artinya sebagai
berikut: “Orang yang pikirannya selalu dan terus menerus mencari sehingga
seluruh dunia rasanya terlalu sempit baginya”.Karaeng Patingalloang tampil
sebagai seorang cendekiawan dan negarawan di masa lalu. Sebelum beliau
meninggal dunia, beliau pernah berpesan untuk generasi yang ditinggalkan antara
lain sebagai berikut:
Ada lima
penyebab runtuhnya suatu kerajaan besar, yaitu:
a.
Punna taenamo naero nipakainga’
Karaeng Mangguka,
b. Punna taenamo tumanggngaseng ri lalang
Pa’rasangnga,
c. Punna taenamo gau lompo ri lalang
Pa’rasanganga,
d. Punna angngallengasemmi soso’ Pabbicaraya,
dan
e. Punna taenamo nakamaseyangi atanna Mangguka.
Yang artinya
sebagai berikut :
a.
Apabila raja yang memerintah
tidak mau lagi dinasehati atau diperingati,
b. Apabila tidak ada lagi kaum cerdik cendikia
di dalam negeri,
c. Apabila sudah terlampau banyak kasus-kasus
di dalamnegeri,
d. Apabila sudah banyak hakim dan pejabat
kerajaan suka makan sogok, dan
e. Apabila raja yang memerintah tidak lagi
menyayangi rakyatnya.
Beliau wafat
ketika ikut dalam barisan Sultan Hasanuddin melawan Belanda. Setelah wafatnya,
ia kemudian mendapat sebutan “Tumenanga ri Bonto Biraeng”.Dari sudut pandang
terminologi, belum ada kesempatan (konsensus) arti kata Gowayang menjelaskan secara utuh asal-usul
kata serapan Gowa.Arti yang ada hanyalah
asumsi dan perkiraan antara lain: pertama, kata
Gowa berasal dari “goari”, yang berarti kamar atau
bilik/perhimpun; kedua, berasal dari kata “gua”, yang berarti liang yang
berkait dengan tempat kemunculan awal
Tomanurung ri Gowa (Raja Gowa I)
di gua/perbukitan Taka Bassia, Tamalate (dalam bahasa Makassar artinya tidak
layu)yang kemudian secara politik kata Gowadipakai untuk mengintegrasikan
kesembilan kasuwiang (Bate Salapang)yang bersifat federasi di bawah paccallaya,yang kemudian menjadi kekuasaan
tunggal Tomanurung, sehingga
leburlah Bate Salapang menjadi Kerajaan “Gowa” yang diperkirakan
berdiri pada abad XIII (1320).
Sampai masa
kekuasaan Raja Gowa VIII I Pakere’ Tau
Tunnijallo ri Passukki, pemerintahan kerajaan dipusatkan di Taka Bassia
(Tamalate) sebagai istana Raja Gowa I. Kemudian istana raja ini dipindahkan ke
Somba Opu oleh Raja Gowa IXDaeng Mantare Karaeng Mengunungi yang bergelar
Tumapa’risi Kallonna karena dianggap
lebih menguntungkan dan strategis sebagai kerajaan yang maju di bidang
ekonomi dan politik. Pada masa inilah Kerajaan Gowa mulai memperluas
kekuasaannya dan menaklukkan berbagai daerah sekitarnya termasuk menjalin
hubungan kerjasama dan perjanjian dengan kerajaan-kerajaan lain. Hal ini
berlangsung sampai Raja Gowa XII, I Manggorai DaengMammeta Karaeng Bonto
Langkasa (1565-1590). Ambisi itulah yang menjadikan KerajaanGowa-Tallo menjadi
kerajaan besar. Bandar yang dimilikinya menjadi bandar persinggahanniaga dunia
yang sangat maju karena telah memiliki berbagai fasilitas sebagaimana layaknya
negara-negara besar lain di abad XVI dan XVII. Pada waktu itu pemerintah
menjalankan sistem politik terbuka berdasarkan teori Mare Leberum (laut bebas) yang memberi jamina usaha para
pedagang asing. Akan tetapi, ambisi itu pula yang menciptakan persaingan yang
bersifat terselubung (laten) ketika ingin memegang hegomoni dan zuserenitasdi
Sulewasi, terutama persaingannya dengan Kerajaan Bone. Ketika persaingan itu
memuncak, Belanda memanfaatkan situasi tersebut dengan melancarkan politik devide et impera (pecah belah dan kuasai) serta menerapkan
sistem monopoli yang sangat bertentangan dengan prinsip mare liberumhingga
meletusnya perang Makassar (1666-1669).
Di sisi lain,
agama Islam salah satu alasan perlawanan Bone ketika Gowa berusaha
mengintroduksi agama Islam. Usaha itu diprakarsai oleh Raja Gowa XV I
Mangerangi Daeng Manrabbia Karaeng Lakiung bergelar Sultan Alauddin Tumenanga ri Gaukanna (1593-1639) yang menjadi muslim pada tanggal
9 Jumadil 1051 H atau 20 September 1605. Beliau berusaha mewujudkan penyatuan
Sulawesi tetapi tidakterealisir sampai masa pemerintahan Sultan Hasanuddin
(1653-1669) yang berakhir dengan
Pernjanjian Bungaya pada tanggal 18 November 1667 setelah Perang
Makassar.
I. KESULTANAN TERNATE
Pulau Ternate
merupakan sebuah pulau gunung api seluas 40 km persegi, terletak di Maluku
Utara, Indonesia. Penduduknya berasal dari Halmahera yang datang ke Ternate
dalam suatu migrasi. Pada awalnya, terdapat empat kampung di Ternate,
masing-masing kampung dikepalai oleh seorang Kepala Marga, dalam bahasa Ternate
disebut Momole.Lambat laun, empat
kampung ini kemudian bergabung membentuk sebuah kerajaan yang mereka namakan
Ternate. Selain Ternate, terdapat juga kerajaan lain di kawasan Maluku Utara,
yaitu: Tidore, Jailolo, Bacan, Obi dan Loloda.
Dalam
sejarahnya, Ternate merupakan daerah terkenalpenghasil rempah-rempah, karena
itu,banyak pedagang asing dari India, Arab, Cina dan Melayu yang datang untuk
berdagang. Sebagai wakil masyarakat, yang berhubungan dengan para pedagang
tersebut adalah para kepala marga (momole). Bagaimana awal cerita pembentukan
Kerajaan Ternate?Ceritanya, seiring semakin meningkatnya aktifitas perdagangan,
dan adanya ancaman eksternal dari para lanun atau perompak laut, maka kemudian
timbul keinginan untukmempersatukan kampung-kampung yang ada di Ternate, agar
posisi mereka lebih kuat.Atas prakarsa
momoleGuna, pemimpin Tobona, kemudian diadakan musyawarah untuk
membentuk suatu organisasi yang lebih kuat dan mengangkat seorang pemimpin
tunggal sebagai raja. Hasilnya,
momoleCiko, pemimpin Sampalu, terpilih dan diangkat sebagai Kolano(raja) pertama pada tahun 1257 M dengan
gelar Baab Mashur Malamo. Baab Manshur berkuasa hingga tahun 1272 M. Kerajaan
Ternate memainkan peranan penting di kawasan ini, dari abadke-13 hingga 17 M,
terutama di sektor perdagangan. Dalam sejarah Indonesia, Kesultanan Ternate
merupakan salah satu di antara kerajaan Islam tertua di nusantara, dikenal juga
dengan nama Kerajaan Gapi. Tapi, nama Ternate jauh lebih populer dibanding
Gapi.
b. Pembentukan Persekutuan
Sebagaimana
disebutkan di atas, selain Ternate, di
Maluku juga terdapat beberapa kerajaan lain yang juga memiliki pengaruh.
Masing-masing kerajaan bersaing untuk menjadi kekuatan hegemonik. Dalam
perkembangannya, Ternate tampaknyaberhasil menjadi kekuatan hegemonik di
wilayah tersebut, berkat kemajuan perdagangan dan kekuatan militer yang mereka
miliki. Selanjutnya, Ternate mulai melakukanekspansi wilayah, sehingga
menimbulkan kebencian kerajaan lainnya. Dari kebencian, akhirnya berlanjut pada
peperangan. Untuk menghentikan konflik yang berlarut-larut, kemudian Raja
Ternate ke-7, yaitu Kolano Cili Aiya (1322-1331) mengundang raja-raja Maluku
yang lain untuk berdamai. Setelah pertemuan, akhirnya mereka sepakat membentuk
suatu persekutuan yang dikenal sebagai Persekutan Moti atau Motir Verbond.
Hasil lain pertemuan adalah, kesepakatan untuk menyeragamkan bentuk lembaga
kerajaan di Maluku. Pertemuan ini diikuti oleh 4 raja terkuat Maluku, oleh
sebab itu, persekutuan tersebut disebut juga sebagai Persekutuan Moloku Kie Raha(Empat Gunung Maluku).
J. KERAJAAN DEMAK
Kerajaan Demak didirikan pada tahun 1478. Raja yang
pertama ialah Raden patah bergelar Sultan Syah Alam Akbar Penembahan Jimbun.
Raden Patah putra dari Raja Majapahit Kertabumi yang
bergelar Prabu Brawijaya V. Ibundanya putri Raja Champa (Kamboja) Dwarawati.
Raden Patah diangkat menjadi Adipati Bintara di bawah Kerajaan Majapahit.
Mula-mula Demak mencoba merebut kekuasaan kembali
dari Pajang dengan mengangkat Arya Pangiri putra Pangeran Prawarta menjadi
sultan. Sutawijaya dapat mengalahkan Arya Pangiri yang juga bermaksud menundukkan
Mataram.
BAB III
PENUTUP
Simpulan
Datangnya Islam ke Nusantara adalah apa
yang dikatakan sebagai salah satu fenomena “encounter of
civilizations”. Pada abad ke-VII Masehi sudah dikenal adanya kerajaan-kerajaan dengan
kebudayaan dan peradaban tersendiri. Diantara kerajaan-kerajaan itu ialah Kerajaan
Samudera Pasai, Kesultanan Perlak, Kesultanan malaka, Kerajaan Pagaruyung, Kerajaan
Sriwijaya, Kerajaan Kutai, Kerajaan Banjar, Kerajaan Gowa, Kesultanan Ternate
dan Kerajaan Demak.
DAFTAR
PUSTAKA
Ahmad Basuni, H., Nur Islam di
Kalimantan Selatan, PT Bina Ilmu, Jakarta, 1986.
Ensiklopedi Nasional Indonesia, Jilid
12. Jakarta: PT. Cipta Adi Pustaka. 1990.
Profil Propinsi Republik Indoensia, DI
Aceh. Jakarta: Yayasan Bakti Wawasan Nusantara. 1992.
Teuku Ibrahim Alfian, Wajah Aceh Dalam Lintasan Sejarah. Banda
Aceh: Pusat Dokumentasi dan Informasi Aceh. 1999.
Profil Republik Indonesia, Kalimatan Selatan. Jakarta: Yayasan
Bakti Wawasan Nusantara. 1992.
Prasetyo Eko Prihananto, Sejarah Kita Berawal Dari Kutai, dalam
Kompas 3 November 2004.
Imansyah Mahbara, Komplek Makam Sultan Suriansyah, Depdikbud Kalsel, 1988.
Tim Universitas Riau, Sejarah Riau,
Yogyakarta: Adicita Karya Nusa.
D.G.E. Hall, Sejarah Asia Tenggara. Surabaya: UsahaNasional.
Tidak ada komentar:
Posting Komentar