Rabu, 15 Juli 2020

FILSAFAT DAN MASA DEPAN MANUSIA

BAB I

PENDAHULUAN

A.     Latar Belakang

Semakin berkembangnya zaman, ilmu pengetahuan pun semakin luas karena manusianya itu sendiri yang semakin haus akan ilmu pemhetahuan. Manusia mendapatkan berbagai penemuan dari ilmu pengetahuan itu dari zaman ke zaman. Tidak hanya dalam bidang teknologi, tetapi hampir di setiap aspek kehidupan nyata baik kesehatan, obat-obatan dan lain sebagainya. Semuanya itu tidak lepas dari peran ilmu filsafat yang memberikan kontribusi besar dalam sejarah peradaban manusia dari hidup yang sederhana dan terbilang seadanya sampai kepada masa yang serba canggih dan serba instan.

Filsafat inilah yang telah mempengaruhi masa depan kehidupan dunia manusia. Masa depan manusia dapat dibaca dengan ilmu pengetahuan yang semakin berkembang dari masa ke masa. Namun, tidak semua yang dihasilkan oleh ilmu pengetahuan ini menghasilakan dampak-dampak yang positif. Bahkan tidak sedikit kehancuran yang dihasilkan oleh ilmu pengetahuan yang semakin berkembang itu.

Untuk lebih jelasnya, para pembaca bisa melihat pada bab pembahasan berikutnya yang telah penulis sajikan.

B.     Rumusan Masalah

1.      Bagaimana filsafat dan masa depan manusia?

2.      Bagaimana masa depan menurut Al-Qur’an?

3.      Apa pentingnya filsafat untuk masa depan manusia?

C.     Tujuan

1.      Mengetahui filsafat dan hubungannya dengan masa depan manusia.

2.      Mengerti bagaimana masa depan menurut Al-Qur’an.

3.      Mengetahui pentingnya filsafat untuk masa depan manusia.

 

 

 

 

 

 

 

 

 

 

 

 

 

 

 

 

 

 

 

 

 

BAB II

PEMBAHASAN

FILSAFAT DAN MASA DEPAN MANUSIA

A.     DEFINISI MANUSIA

Manusia secara bahasa disebut juga insan yang dalam bahasa Arabnya, yang berasal dari kata nasiya yang berarti lupa dan jika dilihat dari kata dasar al-uns yang berarti jinak. Kata insan dipakai untuk menyebut manusia, karena manusia memiliki sifat lupa dan jinak artinya manusia selalu menyesuaikan diri dengan keadaan yang baru disekitarnya. Manusia cara keberadaannya yang sekaligus membedakannya secara nyata dengan mahluk yang lain. Seperti dalam kenyataan mahluk yang berjalan diatas dua kaki, kemampuan berfikir dan berfikir tersebut yang menentukan hakekat manusia. Manusia juga memiliki karya yang dihasilkan sehingga berbeda dengan makhluk yang lain.

Manusia dalam memiliki karya dapat dilihat dalam seting sejarah dan seting psikologis situasi emosional an intelektual yang melatarbelakangi karyanya. Dari karya yang dibuat manusia tersebut menjadikan ia sebagai mahluk yang menciptakan sejarah. Manusia juga dapat dilihat dari sisi dalam pendekatan teologis. Dalam pandangan ini melengkapi dari pandangan yang sesudahnya dengan melengkapi sisi transendensi dikarenakan pemahaman lebih bersifat fundamental. Pengetahuan pencipta tentang ciptaannya jauh lebih lengkap dari pada pengetahuan ciptaan tentang dirinya. (Musa Asy’ari, Filsafat Islam, 1999).

Berbicara tentang manusia maka yang tergambar dalam fikiran adalah berbagai macam perspektif, ada yang mengatakan manusia adalah hewan rasional (animal rasional) dan pendapat ini diyakini oleh para filosuf. Sedangkan yang lain menilai manusia sebagai animal simbolik adalah pernyataan tersebut dikarenakan manusia mengkomunikasikan bahasa melalui simbol-simbol dan manusia menafsirkan simbol-simbol tersebut. Ada yang lain menilai tentang manusia adalah sebagai homo feber dimana manusia adalah hewan yang melakukan pekerjaan dan dapat gila terhadap kerja.

Manusia memang sebagai mahluk yang aneh dikarenakan disatu pihak ia merupakan “mahluk alami”, seperti binatang ia memerlukan alam untuk hidup. Dipihak lain ia berhadapan dengan alam sebagai sesuatu yang asing ia harus menyesuaikan alam sesuai dengan kebutuhan-kebutuhannya. Manusia dapat disebut sebagai homo sapiens, manusia arif memiliki akal budi dan mengungguli makhluk yang lain. Manusia juga dikatakan sebagai homo faber hal tersebut dikarenakan manusia tukang yang menggunakan alat-alat dan menciptakannya.

B.     PROSES MODERNISASI (MASA DEPAN)

Modernisasi adalah suatu proses transformasi masyarakat dalam segala aspeknya, dalam data empiris menunjukkan, bahwa semua negara baru telibat dalam proses modernisasi, dengan menetapkan rencana-rencana pembangunannya yang menyentuh sektor-sektor ekonomi, politik, sosial dan pendidikan yang dianggap sebagai aspek-aspek dominan dalam modernisasi.[1]

Ciri modernisasi suatu masyarakat belum dapat didifinisikan secara mandiri, karenasetiap subyek pembahas memberikan interpretasinya sesuai dengan latar belakang disiplin ilmu yang dikuasainya atau kontek kajian yang dilakukannya. Dalam usaha menciptakansuatu masyarakat modern, dengan mendasarkan basis empiris, Myron Warner, juga G.E. Swanson mencoba mengemukakan sikap-sikap tertentu yang umumnya dimliiki oleh individu-individu yang hidup dalam kultur modern tersebut.[2]

Peranan ilmu pengetahuan dan teknologi memang nampak begitu besar dan menentukan di zaman modern ini, lebih-lebih bagi negara-negara berkembang yang sedang melaksanakan program pembangunannya. Pengaruh bukan saja terbatas pada pola pemakaian secara praktis, tetapi secara menyeluruh sampai pada kehidupan sosial budaya. Dari analisa dan refleksi kritis historis nampaklah implikasi dan konsekwensi luas yang perlu diperhatikan dan dipikirkan. Maka ilmu pengetahuan dan teknologi yang memang sangat dibutuhkan dalam pembangunan itu, menuntut jaminan dan kelengkapan strategis dalam konteks sosial budaya dan proses penyadarannya. Hal ini semua perlu diperhatikan, agar perkembanngannya di tanah air kita dapat berjalan sesuai dengan orientasi Dasar Negara.

C.     PENTINGNYA FILSAFAT

Manusia disebut “Homo Sapiens”. Artinya, makhluk yang mempunyai kemampuan untuk berilmu pengetahuan. Salah satu insting manusia adalah selalu cenderung ingin mengetahui segala sesuatu disekelilingnya, yang belum diketahuinya. Berawal dari rasa ingin tahu maka timbulah ilmu pengetahuan.

Orang yang telah mempelajari filsafat, apalagi telah mampu berfikir serius, akan mudah menjadi warga negara yang baik. Mengapa? Karena rahasia negara terletak pada filsafat negara itu; filsafat negara ditaksonomi ke dalam undang-undang negara; undang-undang itulah yang mengatur warga negara. Memahami isi filsafat negara dapat dilakukan dengan mudah oleh warga yang telah biasa belajar filsafat. Oleh karena itu belajar filsafat merupakan salah satu keharusan yang dilakukan oleh manusia.

Manusia dalam kehidupannya mempunyai kebutuhan yang banyak sekali. Adanya kebutuhan hidup inilah yang mendorong manusia untuk melakukan berbagai tindakan dalam rangka pemenuhan kebutuhan tersebuut.[3] Di zaman sekarang (era global) membuat/ melahirkan anak itu mudah, akan tetapi membuat agar anak-anak kita yang menjadi cikal bakal manusia di masa depan yang lebih berkualitas dari diri kita diperlukan berbagai pemikiran (inter disipliner). Hal ini sejalan dengan keberadaan konsep-konsep pemikiran filsafat tentang: manusia unggul menurut pemikiran barat, menurut pemikiran orang timur, menurut pemikiran Indonesia dan lain-lain.

Ada beberapa kegunaan filsafat khususnya dalam membentuk masa depan manusia yang lebih baik. Jan Hendrik Rappar membagi kegunaan filsafat ke dalam dua hal, yakni bagi ilmu pengetahuan dan bagi kehidupan sehari-hari.[4]

1.      Ilmu Pengetahuan

Tatkala filsafat lahir dan mulai tumbuh, ilmu pengetahuan masih merupakan bagian yang tak terpisahkan dari filsafat. Pada masa itu, para pemikir yang terkenal sebagai filsuf adalah juga ilmuwan. Para filsuf pada masa itu adalah ahli-ahli matematika, astronomi, ilmu bumi, dan berbagai ilmu pengetahuan lainnya. Bagi mereka ilmu pengetahuan itu adsalah filsafat, dan filsafat adalah ilmu pengetahuan. Dengan demikian, jelas terlihat bahwa pada mulanya filsafat mencakup keseluruhan ilmu pengetahuan.

Berkat ilmu pengetahuanlah manusia dapat meraih kemajuan yang sangat menakjubkan dalam segala bidang kehidupan. Teknologi canggih yang semakin mencengangkan dan fantastis adalah salah satu produk dari ilmu pengetahuan. Bahkan pada abad-abad terakhir ini, dalam peradaban dan kebudayaan Barat, ilmu pengetahuan telah berperan sedimikian rupa sehingga telah menjadi tumpuan harapan banyak orang.

Pesatnya perkembangan ilmu pengetahuan tersebut telah membuat manusia mulai percaya bahwa ilmu pengetahuan benar-benar penting. Manusia semakin terpukau oleh pesona ilmu pengetahuan, dan hal itu telah membuat begitu banyak orang mendewakan ilmu pengetahuan. Bagi mereka, ilmu pengetahuan adalah segala-galanya. Mereka berupaya untuk meyakinkan semua orang bahwa ilmu pengetahuan dapat menyelesaikan segala persoalan. Anggapan itu dikukuhkan oleh berbagai penemuan yang menggemparkan dan tampilnya teori-teori serta metode-metode baru yang lebih meyakinkan kegunaan dan ketepatannya sehingga semakin mengembangkan optimisme yang hampir tak terbatas.

Namun sayang, kemajuan ilmu pengetahuan yang amat mempesona itu telah membuat banyak orang menjadi sinis terhadap filsafat. Orang-orang mulai meragukan kegunaan filsafat. Banyak orang yang menganggap filsafat hanya sebagai suatu benda antik yang layak dipajang di museum. Filsafat sudah terlampau “tua” untuk “mengandung” dan “melahirkan” suatu ilmu pengetahuan baru. Filsafat tidak bisa menghasilkan sesuatu yang baru, karena itu ia sama sekali tidak berguna lagi.

Ilmu pengetahuan tidak mempersoalkan asas dan hakikat realitas. Pada umummnya ilmu pengetahuan – khususnya yang diketengahkan oleh positivisme – cenderung lebih bersifat kuantitatif. Karena itu, tentu saja pengetahuan itu tak sanggup menguji kebenaran prinsip-prinsip yang menjadi landasan ilmu pengetahuan itu sendiri. Ilmu pengetahuan membutuhkan bantuan dari sesuatu yang bersifat tak terbatas yang sanggup mengujikebenaran prinsip-prinsip yang melandasi ilmu pengetahuan. Dan hal itu hanya dapat dilakukan oleh filsafat, sang induk segala ilmu pengetahuan.

Ketakterbatasan filsafat itulah yang amat berguna bagi ilmu pengetahuan. Ketakterbatasan filsafat ini tidak melulu berguna sebagai penghubung antardisiplin ilmu penegtahuan. Akan tetapi, dengan ketakterbatasannya itu, filsafat sanggup memeriksa, mengevaluasi, mengoreksi, dan lebih menyempurnakan prinsip-prinsip dan asas-asas yang melandasi berbagai ilmu pengetahuan itu.

2.      Dalam Kehidupan Sehari-hari

Meskipun filsafat itu abstrak, bukan berarti ia sama sekali tidak bersangkut paut dengan kehidupan sehari-hari yang kongkret. Keabstrakan filsafat tidak berarti bahwa filsafat itu tak memiliki hubungan apa pun dengan kehidupan nyata sehari-hari.

Kendati tidak memberi petunjuk praktis tentang bagaimana bangunan yang aritistik dan elok, filsafat sanggup membantu manusia dengan memberi pemahaman tentang apa itu artistik dan elok dalam kearsitekturan sehingga nilai keindahan yang diperoleh lewat pemahaman itu akan menjadi patokan utama bagi pelaksanaan pekerjaan pembangunan tersebut.

Dengan demikian, filsafat menggiring manusia ke pengertian yang terang dan pemahaman yang jelas. Tak hanya itu, ia pun menuntun manusia ke dalam tindakan dan perbuatan yang kongkret berdasarkan pengertian yang terang dan pemahaman yang jelas.[5]

Pada dasarnya, manusia menghadapi tiga permasalahan yang bersifat universal. Pertama, permasalahan menyangkut tata hubungan antara dirinya sebagai makhluk otonom dan realitas lain yang menunjukkan bahwa manusia adalah makhluk dependen. Kedua, manusia merupakan makhluk dengan kebutuhan jasmani dan juga sebuah kesadaran tentang kebutuhan yang mengatasinya, mentransendensikan kebutuhan jasmaniah, yang mengisyaratkan adanya kebutuhan rohaniah. Ketiga, manusia juga menghadapi permasalahan yang menyangkut kepentingan diri, namun juga tak dapat disangkal bahhwa tidak dapat hidup secara “soliter”, tetapi harus “solider”, tak mungkin hidup sendiri tanpa kehadiran orang lain.

Masalah-masalah fundamental filsafati kontemporer yang dimaksud antara lain adalah apa dan bagaimana manusia Indonesia seutuhnya yang kita cita-citakan, bagaimana sikap dan pandangan hidup kita dalam menghadapi alam dari mana dan dimana kita hidup, sikap dan pandangan kita mengenai ruang dan waktu dengan memberi arti dan makna terhadap peristiwa-peristiwa yang kita hadapi, serta nilai-nilai dasar yang lain dalam perspektif apa dan bagaimana hidup dan kehidupan kita ini dan lain-lain sedemikian rupa sehingga suatu paradigma baru dapat kita peroleh dalam menentukan arah kehidupan ke masa kini dan masa depan.

D.     MASA DEPAN MENURUT AGAMA

Para pemuka agama Islam, Kristen dan Yahudi menawarkan konteks untuk direnungkan oleh komunitas ilmiah. Konteks itu dapat berupa “Menurut masa depan yang anda banyangkan, akan menjadi manusia apakah kita ini; bukan semata apa yang akan kita lakukan, tetapi akan menjadi siapakah kita ini?” Teolog Donald Shriver sependapat. “Kekuatan gabungan antara rasa ingin tahu ilmiah, ambisi teknologi, dan keuntungan ekonomi merupakan kekuatan tangguh. Menurutnya, jalan keluarnya bukanlah bahwa para agamawan atau teolog harus menjadi satu-satunya pihak yang menangani masalah ini, atau menjadi pakar dalam bidang ini. Yang perlu dilakukan adalah dijalaninya kerja sama antara agamawan, insinyur, dan peneliti.Harus ada kearifan, yang tidak mungkin bisa dibangun oleh profesi saja. “Akan tetapi, para pemuka agama mempunyai peran, sebagaimana pihak lain, untuk berpartisipasi dalam perdebatan, dan membawa nilai-nilai mereka ke meja diskusi. Berbagai keprihatinan ini begitu jauh memasuki pemahaman sifat manusia sehingga agama berperan lebih penting daripada filsafat.

Disamping fitrah untuk beragama yang ditanamkan Tuhan dalam jiwa manusia semenjak masih berada dalam rahim, manusia juga dibekali fitrah untuk berfikir yang merupakan sebuah potensi dahsyat dalam diri manusia, potensi ini bukan hanya membedakan manusia dengan makluk Tuhan yang lainnya, sebutlah tumbuhan, hewan, benda-benda mati, atau bahkan malaikat dan jin, lebih dari itu sekaligus mengantarkan manusia pada capaian-capaian kehidupan yang sangat mengagumkan secara spiritual maupun material, tersirat secara jelas dalam firman Allah swt.:

وَإِذْ قَالَ رَبُّكَ لِلْمَلائِكَةِ إِنِّي جَاعِلٌ فِي الأرْضِ خَلِيفَةً قَالُوا أَتَجْعَلُ فِيهَا مَنْ يُفْسِدُ فِيهَا وَيَسْفِكُ الدِّمَاءَ وَنَحْنُ نُسَبِّحُ بِحَمْدِكَ وَنُقَدِّسُ لَكَ قَالَ إِنِّي أَعْلَمُ مَا لا تَعْلَمُونَ.

Artinya: “Dan ingatlah ketika Berfirman Rabb-mu kepada para malaikat, “Sesungguhnya Aku hendak Menjadikan di bumi khalifah.” Mereka berkata, “Apakah Engkau akan Menjadikan di sana orang yang akan membuat kerusakan dan menumpahkan darah, padahal kami senantiasa bertasbih dengan memuji-Mu dan menyucikan-Mu?” Dia Berfirman, “Sesungguhnya Aku Maha Mengetahui apa-apa yang tidak kalian ketahui.” (Q.S. Al-Baqarah; 30)

Dalam ayat ini Allah menjawab keraguan malaikat yang mengkhawatirkan akibat negatif dari penciptaan manusia sebagai penguasa (khalifah) di dunia, dengan ucapannya: "Sesungguhnya Aku mengetahui apa yang tidak kamu ketahui", kata-kata ini mengisyaratkan adanya potensi yang besar dalam diri manusia yang bahkan tidak diketahui para malaikat, sampai kemudian Allah SWT memerintahkan Adam a.s. untuk membuktikannya    (قال يا أدم أنبئهم بأسمائه).

Bahwa potensi itu adalah rasionalitas yang berpadu dengan spiritualitas, rasionisasi yang menggerakkan spiritualitas ini, juga yang menggerakkan manusia untuk bertanya dan mencari sekian juta hal yang memenuhi kehidupannya; tentang alam, kehidupan, kematian, pencipta, masa depan dan sebagainya. Namun tidak berarti fitrah rasionalitas ini berjalan tanpa problem, dimana pada perjalanannya kita bisa melihat kasus-kasus historis yang menghadapkan kepada kita betapa kegagalan rasionalitas itu pula yang menjerumuskan manusia kedalam liang-liang penghancuran dirinya sendiri, kita bisa ambil contoh dari pengandaian sebagian manusia bahwa kemampuan akal manusia dapat mengurai dan memecahkan segala sesuatu telah melahirkan kaum atheis yang mengingkari keberadaan Tuhan.

 

E.     PENGARUH FILSAFAT TERHADAP SAINS MODERN

Berbicara tentang filsafat, maka tidak lepas dengan yang namanya sains. Humanisme dan sains modern memiliki banyak kesamaan. Keduanya berkembang di zaman Renaisans sebagai sarana-sarana pembebasan dari ajaran dan takhayul Abad Tengah.[6]

Abad ke-20 telah menyaksikan kemajuan-kemajuan yang tak ada taranya dalam beberapa bidang sains yang menyaksikan pula ditinggalkannya beberapa interpretasi yang telah diterima selama dua atau tiga abad sebelumnya. Sains abad ke-19 umpamanya menganggap materi, ruang dan waktu sebagai satuan-satuan yang pokok dan tetap. Materi dianggap sebagai terbentuk dari atom yang sederhana dan tak dapat dibagi dan terdapat dalam ruang dan waktu tertentu. Konsep tentang reletivitas, teori quantum dan teori elektronik tentang materi telah mengubah pandangan-pandangan lama secara mendalam. Nama-nama yang termasyhur adalah terlalu banyak untuk disebutkan, tetapi daftar nama-nama tentu memuat nama J.J. Thomson, Lord Rutherford, Einstein, Bohr dan Planck. Pada waktu sekarang sains sangat erat hubungannya dengan matematika tinggi dan telah lebih sadar atas keterbatasannya dan akan adanya bidang-bidang yang sangat luas yang belum dapat diselidiki. Pada akhir-akhir ini penyelidikan ilmiah diarahkan kepada penyelidikan masyarakat dan psikologi.

Perkembangan sejarah manusia selalu diwarnai oleh perkembangan ilmu pengetahuan dan teknologi yang melingkupinya. Hal ini tentunya berbanding lurus dengan upaya manusia dalam memenuhi kebutuhan hidupnya sehari-hari. Dan teknologi adalah sarana yang digunakan manusia untuk memenuhi kebutuhannya. Secara definitif, ilmu adalah pengetahuan yang membantu manusia dalam mencapai tujuan hidupnya. Maka, patutlah dikatakan, bahwa peradaban manusia sangat bergantung kepada ilmu dan teknologi. Berkat kemajuan dalam bidang ini, pemenuhan kebutuhan manusia bisa dilakukan secara lebih cepat dan lebih mudah. Secara lebih spesifik, Eugene Staley menegaskan bahwa teknologi adalah sebuah metode sistematis untuk mencapai setiap tujuan insani.

Pada tahap selanjutnya, seiring dengan perkembangan di bidang ilmu pengetahuan dan teknologi, pemanfaatan ilmu pengetahuan dan turunannya yang berbentuk teknologi ini, meluas bukan hanya untuk memenuhi kebutuhan manusia secara sempit. Pemanfaatan teknologi meluas pada upaya penghapusan kemiskinan, penghapusan jam kerja yang berlebihan, penciptaan kesempatan untuk hidup lebih lama dengan perbaikan kualitas kesehatan manusia, membantu upaya-upaya pengurangan kejahatan, peningkatan kualitas pendidikan, dan sebagainya. Bahkan secara lebih komprehensif, ilmu pengetahuan dan teknologi juga dimanfaatkan pemerintah dalam menunjang pembangunannya. Misalnya dalam perencanaan dan programing pembangunan, organisasi pemerintah dan administrasi negara untuk pembangunan sumber-sumber insani, dan teknik pembangunan dalam sektor pertanian, industri, dan kesehatan.

Puncaknya, perkembangan ilmu pengetahuan dan teknologi, bukan saja membantu manusia dalam memenuhi kebutuhan hidupnya sehari-hari. Lebih jauh, ilmu pengetahuan dan teknologi berhasil mendatangkan kemudahan hidup bagi manusia. Bendungan, kalkulator, mesin cuci, kompor gas, kulkas, OHP, slide, TV, tape recorder, telephon, komputer, satelit, pesawat terbang, merupakan produk-produk teknologi yang, bukan saja membantu manusia memenuhi kebutuhan hidupnya, tetapi membuat hidup manusia semakin mudah. Manfaat-manfaat inilah yang mula-mula menjadi tujuan manusia mengembangkan ilmu pengetahuan hingga menghasilkan teknologi. Mulai dari teknologi manusia purba yang paling sederhana berupa kapak dan alat-alat sederhana lainnya. Sampai teknologi modern saat ini, yang perkembangannya jauh lebih pesat dari perkembangan teknologi sebelumnya. Perkembangan ilmu pengetahuan dan teknologi ini sanggup membawa berkah bagi umat manusia berupa kemudahan-kemudahan hidup, yang sebelumnya tidak pernah terpikirkan dalam benak manusia.

 

 

 

 

 

 

 

 

 

 

BAB III

PENUTUP

SIMPULAN

Manusia dalam memiliki karya dapat dilihat dalam seting sejarah dan seting psikologis situasi emosional an intelektual yang melatarbelakangi karyanya. Dari karya yang dibuat manusia tersebut menjadikan ia sebagai mahluk yang menciptakan sejarah. Manusia juga dapat dilihat dari sisi dalam pendekatan teologis, dalam pandangan ini melengkapi dari pandangan yang sesudahnya dengan melengkapi sisi transendensi dikarenakan pemahaman lebih bersifat fundamental. Pengetahuan pencipta tentang ciptaannya jauh lebih lengkap dari pada pengetahuan ciptaan tentang dirinya.

Orang yang telah mempelajari filsafat, apalagi telah mampu berfikir serius, akan mudah menjadi warga negara yang baik. Mengapa? Karena rahasia negara terletak pada filsafat negara itu; filsafat negara ditaksonomi ke dalam undang-undang negara; undang-undang itulah yang mengatur warga negara. Memahami isi filsafat negara dapat dilakukan dengan mudah oleh warga yang telah biasa belajar filsafat. Oleh karena itu belajar filsafat merupakan salah satu keharusan yang dilakukan oleh manusia.

 

 

 

 

 

 

 

 

 

 

 

 

 

 

 

 

 

 

 

 

 

 

 

 

 

 

 

 

 

 

DAFTAR PUSTAKA

 

 

v  Achmadi, Asmoro, Filsafat Umum, Jakarta: PT RajaGrafindo Persada, 2012.

v  Ahmad Tafsir, Prof. Dr., Filsafat Umum, Bandung: PT Remaja Rosdakarya, 2010.

v  Amsal Bakhtiar, M.A. Prof. Dr., Filsafat Ilmu, Jakarta: PT RajaGrafindo Persada, 2007.

v  Maksum, Ali, Pengantar Filsafat, Jogjakarta: Ar-Ruzz Media, 2011.

v  Soyomukti, Nurani, Pengantar Filsafat Umum, Yogyakarta: Ar-Ruzz Media, 2011.

v  Titus, Smith, Nolan, Persoalan-Persoalan Filsafat (terj. Prof. Dr. H. M. Rasjidi), Jakarta: PT Bulan Bintang, 1982.

v  Tholhah Hasan, Muhammad, Prospek Islam Dalam Menghadapi Tantangan Zaman, Jakarta Selatan: Lantabora Press, 2005.



[1] Schoorl J.W. Modernisasi, hal. 1-6.

[2] Winer, Myron, Modernization, The Dynamics of Growth, VOA Forum Lectur USIA, Washington, 1967.

   Cf. Swanson, Guy E, The Impact of  Modernization, Majalah Dialogue, No. 2, 1976, hal. 126-127.

[3] Jujun S. Suriasumantri, Filsafat Ilmu, (Jakarta: Pustaka Sinar Harapan, 2009), hlm. 261.

[4] Jan Hendrik Rappar, Pengantar Filsafat, (Yogyakarta: Kanisius, 1996). hlm.

[5] Ibid., hlm. 14.

[6] Jean Grondin, Sejarah Hermeneutik, (Jogjakarta: Ar-Ruzz media, 2012), hlm. 232.


Tidak ada komentar:

Posting Komentar