BAB I
PENDAHULUAN
A.
Latar Belakang
Semakin berkembangnya zaman, ilmu pengetahuan
pun semakin luas karena manusianya itu sendiri yang semakin haus akan ilmu
pemhetahuan. Manusia mendapatkan berbagai penemuan dari ilmu pengetahuan itu
dari zaman ke zaman. Tidak hanya dalam bidang teknologi, tetapi hampir di
setiap aspek kehidupan nyata baik kesehatan, obat-obatan dan lain sebagainya.
Semuanya itu tidak lepas dari peran ilmu filsafat yang memberikan kontribusi
besar dalam sejarah peradaban manusia dari hidup yang sederhana dan terbilang
seadanya sampai kepada masa yang serba canggih dan serba instan.
Filsafat inilah yang telah mempengaruhi masa
depan kehidupan dunia manusia. Masa depan manusia dapat dibaca dengan ilmu
pengetahuan yang semakin berkembang dari masa ke masa. Namun, tidak semua yang
dihasilkan oleh ilmu pengetahuan ini menghasilakan dampak-dampak yang positif.
Bahkan tidak sedikit kehancuran yang dihasilkan oleh ilmu pengetahuan yang
semakin berkembang itu.
Untuk lebih jelasnya, para pembaca bisa
melihat pada bab pembahasan berikutnya yang telah penulis sajikan.
B.
Rumusan Masalah
1.
Bagaimana filsafat dan masa depan manusia?
2.
Bagaimana masa depan menurut Al-Qur’an?
3.
Apa pentingnya filsafat untuk masa depan manusia?
C.
Tujuan
1.
Mengetahui filsafat dan hubungannya dengan masa depan manusia.
2.
Mengerti bagaimana masa depan menurut Al-Qur’an.
3.
Mengetahui pentingnya filsafat untuk masa depan manusia.
BAB II
PEMBAHASAN
FILSAFAT DAN
MASA DEPAN MANUSIA
A.
DEFINISI MANUSIA
Manusia secara bahasa disebut juga insan yang dalam bahasa Arabnya, yang
berasal dari kata nasiya yang berarti lupa dan jika dilihat dari kata dasar
al-uns yang berarti jinak. Kata insan dipakai untuk menyebut manusia, karena
manusia memiliki sifat lupa dan jinak artinya manusia selalu menyesuaikan diri
dengan keadaan yang baru disekitarnya. Manusia cara keberadaannya yang
sekaligus membedakannya secara nyata dengan mahluk yang lain. Seperti dalam kenyataan
mahluk yang berjalan diatas dua kaki, kemampuan berfikir dan berfikir tersebut
yang menentukan hakekat manusia. Manusia juga memiliki karya yang dihasilkan sehingga
berbeda dengan makhluk yang lain.
Manusia dalam memiliki
karya dapat dilihat dalam seting sejarah dan seting psikologis situasi
emosional an intelektual yang melatarbelakangi karyanya. Dari karya yang dibuat
manusia tersebut menjadikan ia sebagai mahluk yang menciptakan sejarah. Manusia
juga dapat dilihat dari sisi dalam pendekatan teologis. Dalam pandangan ini melengkapi dari pandangan yang sesudahnya
dengan melengkapi sisi transendensi dikarenakan pemahaman lebih bersifat
fundamental. Pengetahuan pencipta tentang ciptaannya jauh lebih lengkap dari pada
pengetahuan ciptaan tentang dirinya. (Musa Asy’ari, Filsafat Islam,
1999).
Berbicara
tentang manusia maka yang tergambar dalam fikiran adalah berbagai macam
perspektif, ada yang mengatakan manusia adalah hewan rasional (animal rasional) dan
pendapat ini diyakini oleh para filosuf. Sedangkan yang
lain menilai manusia sebagai animal simbolik adalah pernyataan tersebut
dikarenakan manusia mengkomunikasikan bahasa melalui simbol-simbol dan manusia menafsirkan simbol-simbol
tersebut. Ada yang lain menilai tentang manusia adalah sebagai
homo feber dimana manusia adalah hewan yang melakukan pekerjaan dan dapat gila
terhadap kerja.
Manusia memang
sebagai mahluk yang aneh dikarenakan disatu pihak ia merupakan “mahluk alami”,
seperti binatang ia memerlukan alam untuk hidup. Dipihak lain ia berhadapan dengan alam
sebagai sesuatu yang asing ia harus menyesuaikan alam sesuai dengan kebutuhan-kebutuhannya. Manusia
dapat disebut sebagai homo sapiens, manusia arif memiliki akal
budi dan mengungguli makhluk yang lain. Manusia juga dikatakan sebagai homo
faber hal tersebut dikarenakan manusia tukang yang menggunakan alat-alat dan
menciptakannya.
B.
PROSES MODERNISASI (MASA DEPAN)
Modernisasi adalah
suatu proses transformasi masyarakat dalam segala aspeknya, dalam data empiris
menunjukkan, bahwa semua negara baru telibat dalam proses modernisasi, dengan
menetapkan rencana-rencana pembangunannya yang menyentuh sektor-sektor ekonomi,
politik, sosial dan pendidikan yang dianggap sebagai aspek-aspek dominan dalam
modernisasi.[1]
Ciri modernisasi suatu masyarakat belum dapat didifinisikan secara mandiri,
karenasetiap subyek pembahas memberikan interpretasinya sesuai dengan latar
belakang disiplin ilmu yang dikuasainya atau kontek kajian yang dilakukannya.
Dalam usaha menciptakansuatu masyarakat modern, dengan mendasarkan basis
empiris, Myron Warner, juga G.E. Swanson mencoba mengemukakan sikap-sikap
tertentu yang umumnya dimliiki oleh individu-individu yang hidup dalam kultur
modern tersebut.[2]
Peranan ilmu pengetahuan dan teknologi memang nampak begitu besar dan
menentukan di zaman modern ini, lebih-lebih bagi negara-negara berkembang yang
sedang melaksanakan program pembangunannya. Pengaruh bukan saja terbatas pada
pola pemakaian secara praktis, tetapi secara menyeluruh sampai pada kehidupan
sosial budaya. Dari analisa dan refleksi kritis historis nampaklah implikasi
dan konsekwensi luas yang perlu diperhatikan dan dipikirkan. Maka ilmu
pengetahuan dan teknologi yang memang sangat dibutuhkan dalam pembangunan itu,
menuntut jaminan dan kelengkapan strategis dalam konteks sosial budaya dan
proses penyadarannya. Hal ini semua perlu diperhatikan, agar perkembanngannya
di tanah air kita dapat berjalan sesuai dengan orientasi Dasar Negara.
C.
PENTINGNYA FILSAFAT
Manusia disebut “Homo Sapiens”. Artinya, makhluk yang mempunyai
kemampuan untuk berilmu pengetahuan. Salah satu insting manusia adalah selalu cenderung ingin mengetahui segala sesuatu disekelilingnya,
yang belum diketahuinya. Berawal dari rasa ingin tahu maka timbulah ilmu
pengetahuan.
Orang yang telah mempelajari filsafat, apalagi telah mampu berfikir serius,
akan mudah menjadi warga negara yang baik. Mengapa? Karena rahasia negara
terletak pada filsafat negara itu; filsafat negara ditaksonomi ke dalam
undang-undang negara; undang-undang itulah yang mengatur warga negara. Memahami
isi filsafat negara dapat dilakukan dengan mudah oleh warga yang telah biasa
belajar filsafat. Oleh karena itu belajar filsafat merupakan salah satu
keharusan yang dilakukan oleh manusia.
Manusia dalam kehidupannya mempunyai kebutuhan yang banyak sekali. Adanya
kebutuhan hidup inilah yang mendorong manusia untuk melakukan berbagai tindakan
dalam rangka pemenuhan kebutuhan tersebuut.[3] Di
zaman sekarang (era global) membuat/ melahirkan anak itu mudah, akan tetapi
membuat agar anak-anak kita yang menjadi cikal bakal manusia di masa depan yang
lebih berkualitas dari diri kita diperlukan berbagai pemikiran (inter
disipliner). Hal ini sejalan dengan keberadaan konsep-konsep pemikiran
filsafat tentang: manusia unggul menurut pemikiran barat, menurut pemikiran
orang timur, menurut pemikiran Indonesia dan lain-lain.
Ada beberapa kegunaan filsafat khususnya dalam membentuk masa depan manusia
yang lebih baik. Jan Hendrik Rappar membagi kegunaan filsafat ke dalam dua hal,
yakni bagi ilmu pengetahuan dan bagi kehidupan sehari-hari.[4]
1.
Ilmu Pengetahuan
Tatkala filsafat lahir dan mulai tumbuh, ilmu pengetahuan masih merupakan
bagian yang tak terpisahkan dari filsafat. Pada masa itu, para pemikir yang
terkenal sebagai filsuf adalah juga ilmuwan. Para filsuf pada masa itu adalah
ahli-ahli matematika, astronomi, ilmu bumi, dan berbagai ilmu pengetahuan
lainnya. Bagi mereka ilmu pengetahuan itu adsalah filsafat, dan filsafat adalah
ilmu pengetahuan. Dengan demikian, jelas terlihat bahwa pada mulanya filsafat
mencakup keseluruhan ilmu pengetahuan.
Berkat ilmu pengetahuanlah manusia dapat meraih kemajuan yang sangat
menakjubkan dalam segala bidang kehidupan. Teknologi canggih yang semakin
mencengangkan dan fantastis adalah salah satu produk dari ilmu pengetahuan.
Bahkan pada abad-abad terakhir ini, dalam peradaban dan kebudayaan Barat, ilmu
pengetahuan telah berperan sedimikian rupa sehingga telah menjadi tumpuan
harapan banyak orang.
Pesatnya perkembangan ilmu pengetahuan tersebut telah membuat manusia mulai
percaya bahwa ilmu pengetahuan benar-benar penting. Manusia semakin terpukau
oleh pesona ilmu pengetahuan, dan hal itu telah membuat begitu banyak orang
mendewakan ilmu pengetahuan. Bagi mereka, ilmu pengetahuan adalah
segala-galanya. Mereka berupaya untuk meyakinkan semua orang bahwa ilmu
pengetahuan dapat menyelesaikan segala persoalan. Anggapan itu dikukuhkan oleh
berbagai penemuan yang menggemparkan dan tampilnya teori-teori serta
metode-metode baru yang lebih meyakinkan kegunaan dan ketepatannya sehingga
semakin mengembangkan optimisme yang hampir tak terbatas.
Namun sayang, kemajuan ilmu pengetahuan yang amat mempesona itu telah membuat
banyak orang menjadi sinis terhadap filsafat. Orang-orang mulai meragukan
kegunaan filsafat. Banyak orang yang menganggap filsafat hanya sebagai suatu
benda antik yang layak dipajang di museum. Filsafat sudah terlampau “tua”
untuk “mengandung” dan “melahirkan” suatu ilmu pengetahuan baru. Filsafat tidak
bisa menghasilkan sesuatu yang baru, karena itu ia sama sekali tidak berguna
lagi.
Ilmu pengetahuan tidak mempersoalkan asas dan hakikat realitas. Pada
umummnya ilmu pengetahuan – khususnya yang diketengahkan oleh positivisme –
cenderung lebih bersifat kuantitatif. Karena itu, tentu saja pengetahuan itu
tak sanggup menguji kebenaran prinsip-prinsip yang menjadi landasan ilmu pengetahuan
itu sendiri. Ilmu pengetahuan membutuhkan bantuan dari sesuatu yang bersifat
tak terbatas yang sanggup mengujikebenaran prinsip-prinsip yang melandasi ilmu
pengetahuan. Dan hal itu hanya dapat dilakukan oleh filsafat, sang induk
segala ilmu pengetahuan.
Ketakterbatasan filsafat itulah yang amat berguna bagi ilmu pengetahuan.
Ketakterbatasan filsafat ini tidak melulu berguna sebagai penghubung
antardisiplin ilmu penegtahuan. Akan tetapi, dengan ketakterbatasannya itu,
filsafat sanggup memeriksa, mengevaluasi, mengoreksi, dan lebih menyempurnakan
prinsip-prinsip dan asas-asas yang melandasi berbagai ilmu pengetahuan itu.
2.
Dalam Kehidupan Sehari-hari
Meskipun filsafat itu abstrak, bukan berarti ia sama sekali tidak
bersangkut paut dengan kehidupan sehari-hari yang kongkret. Keabstrakan
filsafat tidak berarti bahwa filsafat itu tak memiliki hubungan apa pun dengan
kehidupan nyata sehari-hari.
Kendati tidak memberi petunjuk praktis tentang bagaimana bangunan yang
aritistik dan elok, filsafat sanggup membantu manusia dengan memberi pemahaman
tentang apa itu artistik dan elok dalam kearsitekturan sehingga nilai keindahan
yang diperoleh lewat pemahaman itu akan menjadi patokan utama bagi pelaksanaan
pekerjaan pembangunan tersebut.
Dengan demikian, filsafat menggiring manusia ke pengertian yang terang dan
pemahaman yang jelas. Tak hanya itu, ia pun menuntun manusia ke dalam tindakan
dan perbuatan yang kongkret berdasarkan pengertian yang terang dan pemahaman
yang jelas.[5]
Pada dasarnya, manusia menghadapi tiga permasalahan yang bersifat
universal. Pertama, permasalahan menyangkut tata hubungan antara dirinya
sebagai makhluk otonom dan realitas lain yang menunjukkan bahwa manusia adalah
makhluk dependen. Kedua, manusia merupakan makhluk dengan kebutuhan jasmani dan
juga sebuah kesadaran tentang kebutuhan yang mengatasinya, mentransendensikan
kebutuhan jasmaniah, yang mengisyaratkan adanya kebutuhan rohaniah. Ketiga,
manusia juga menghadapi permasalahan yang menyangkut kepentingan diri, namun
juga tak dapat disangkal bahhwa tidak dapat hidup secara “soliter”, tetapi
harus “solider”, tak mungkin hidup sendiri tanpa kehadiran orang lain.
Masalah-masalah fundamental filsafati kontemporer yang dimaksud antara lain
adalah apa dan bagaimana manusia Indonesia seutuhnya yang kita cita-citakan, bagaimana
sikap dan pandangan hidup kita dalam menghadapi alam dari mana dan dimana kita
hidup, sikap dan pandangan kita mengenai ruang dan waktu dengan memberi arti
dan makna terhadap peristiwa-peristiwa yang kita hadapi, serta nilai-nilai dasar
yang lain dalam perspektif apa dan bagaimana hidup dan kehidupan kita ini dan
lain-lain sedemikian rupa sehingga suatu paradigma baru dapat kita peroleh
dalam menentukan arah kehidupan ke masa kini dan masa depan.
D.
MASA DEPAN MENURUT AGAMA
Para pemuka agama Islam, Kristen dan Yahudi menawarkan konteks untuk
direnungkan oleh komunitas ilmiah. Konteks itu dapat berupa “Menurut masa depan
yang anda banyangkan, akan menjadi manusia apakah kita ini; bukan semata apa
yang akan kita lakukan, tetapi akan menjadi siapakah kita ini?” Teolog Donald
Shriver sependapat. “Kekuatan gabungan antara rasa ingin tahu ilmiah, ambisi
teknologi, dan keuntungan ekonomi merupakan kekuatan tangguh. Menurutnya, jalan
keluarnya bukanlah bahwa para agamawan atau teolog harus menjadi satu-satunya
pihak yang menangani masalah ini, atau menjadi pakar dalam bidang ini. Yang
perlu dilakukan adalah dijalaninya kerja sama antara agamawan, insinyur, dan
peneliti.Harus ada kearifan, yang tidak mungkin bisa dibangun oleh profesi
saja. “Akan tetapi, para pemuka agama mempunyai peran, sebagaimana pihak lain,
untuk berpartisipasi dalam perdebatan, dan membawa nilai-nilai mereka ke meja
diskusi. Berbagai keprihatinan ini begitu jauh memasuki pemahaman sifat manusia
sehingga agama berperan lebih penting daripada filsafat.
Disamping fitrah untuk beragama yang ditanamkan Tuhan dalam jiwa manusia
semenjak masih berada dalam rahim, manusia juga dibekali fitrah untuk berfikir
yang merupakan sebuah potensi dahsyat dalam diri manusia, potensi ini bukan
hanya membedakan manusia dengan makluk Tuhan yang lainnya, sebutlah tumbuhan,
hewan, benda-benda mati, atau bahkan malaikat dan jin, lebih dari itu sekaligus
mengantarkan manusia pada capaian-capaian kehidupan yang sangat mengagumkan
secara spiritual maupun material, tersirat secara jelas dalam firman Allah
swt.:
وَإِذْ قَالَ رَبُّكَ لِلْمَلائِكَةِ إِنِّي جَاعِلٌ فِي
الأرْضِ خَلِيفَةً قَالُوا أَتَجْعَلُ فِيهَا مَنْ يُفْسِدُ فِيهَا وَيَسْفِكُ
الدِّمَاءَ وَنَحْنُ نُسَبِّحُ بِحَمْدِكَ وَنُقَدِّسُ لَكَ قَالَ إِنِّي أَعْلَمُ
مَا لا تَعْلَمُونَ.
Artinya: “Dan
ingatlah ketika Berfirman Rabb-mu kepada para malaikat, “Sesungguhnya Aku
hendak Menjadikan di bumi khalifah.” Mereka berkata, “Apakah Engkau akan
Menjadikan di sana orang yang akan membuat kerusakan dan menumpahkan darah,
padahal kami senantiasa bertasbih dengan memuji-Mu dan menyucikan-Mu?” Dia
Berfirman, “Sesungguhnya Aku Maha Mengetahui apa-apa yang tidak kalian
ketahui.” (Q.S. Al-Baqarah; 30)
Dalam ayat ini Allah menjawab keraguan malaikat yang mengkhawatirkan akibat
negatif dari penciptaan manusia sebagai penguasa (khalifah) di dunia, dengan
ucapannya: "Sesungguhnya Aku mengetahui apa yang tidak kamu ketahui",
kata-kata ini mengisyaratkan adanya potensi yang besar dalam diri manusia yang
bahkan tidak diketahui para malaikat, sampai kemudian Allah SWT memerintahkan
Adam a.s. untuk membuktikannya (قال يا أدم أنبئهم بأسمائه).
Bahwa potensi itu adalah rasionalitas yang berpadu dengan spiritualitas,
rasionisasi yang menggerakkan spiritualitas ini, juga yang menggerakkan manusia
untuk bertanya dan mencari sekian juta hal yang memenuhi kehidupannya; tentang
alam, kehidupan, kematian, pencipta, masa depan dan sebagainya. Namun tidak
berarti fitrah rasionalitas ini berjalan tanpa problem, dimana pada perjalanannya
kita bisa melihat kasus-kasus historis yang menghadapkan kepada kita betapa
kegagalan rasionalitas itu pula yang menjerumuskan manusia kedalam liang-liang
penghancuran dirinya sendiri, kita bisa ambil contoh dari pengandaian sebagian
manusia bahwa kemampuan akal manusia dapat mengurai dan memecahkan segala
sesuatu telah melahirkan kaum atheis yang mengingkari keberadaan Tuhan.
E.
PENGARUH FILSAFAT TERHADAP SAINS MODERN
Berbicara tentang filsafat, maka tidak lepas dengan yang namanya sains. Humanisme
dan sains modern memiliki banyak kesamaan. Keduanya berkembang di zaman
Renaisans sebagai sarana-sarana pembebasan dari ajaran dan takhayul Abad
Tengah.[6]
Abad ke-20 telah menyaksikan kemajuan-kemajuan yang tak ada taranya dalam
beberapa bidang sains yang menyaksikan pula ditinggalkannya beberapa
interpretasi yang telah diterima selama dua atau tiga abad sebelumnya. Sains
abad ke-19 umpamanya menganggap materi, ruang dan waktu sebagai satuan-satuan
yang pokok dan tetap. Materi dianggap sebagai terbentuk dari atom yang
sederhana dan tak dapat dibagi dan terdapat dalam ruang dan waktu tertentu.
Konsep tentang reletivitas, teori quantum dan teori elektronik tentang materi
telah mengubah pandangan-pandangan lama secara mendalam. Nama-nama yang
termasyhur adalah terlalu banyak untuk disebutkan, tetapi daftar nama-nama
tentu memuat nama J.J. Thomson, Lord Rutherford, Einstein, Bohr dan Planck.
Pada waktu sekarang sains sangat erat hubungannya dengan matematika tinggi dan
telah lebih sadar atas keterbatasannya dan akan adanya bidang-bidang yang
sangat luas yang belum dapat diselidiki. Pada akhir-akhir ini penyelidikan
ilmiah diarahkan kepada penyelidikan masyarakat dan psikologi.
Perkembangan
sejarah manusia selalu diwarnai oleh perkembangan ilmu pengetahuan dan teknologi
yang melingkupinya. Hal ini tentunya berbanding lurus dengan upaya manusia
dalam memenuhi kebutuhan hidupnya sehari-hari. Dan teknologi adalah sarana yang
digunakan manusia untuk memenuhi kebutuhannya. Secara definitif, ilmu adalah
pengetahuan yang membantu manusia dalam mencapai tujuan hidupnya. Maka,
patutlah dikatakan, bahwa peradaban manusia sangat bergantung kepada ilmu dan
teknologi. Berkat kemajuan dalam bidang ini, pemenuhan kebutuhan manusia bisa
dilakukan secara lebih cepat dan lebih mudah. Secara lebih spesifik, Eugene
Staley menegaskan bahwa teknologi adalah sebuah metode sistematis untuk
mencapai setiap tujuan insani.
Pada tahap selanjutnya, seiring dengan perkembangan di bidang ilmu
pengetahuan dan teknologi, pemanfaatan ilmu pengetahuan dan turunannya yang
berbentuk teknologi ini, meluas bukan hanya untuk memenuhi kebutuhan manusia
secara sempit. Pemanfaatan teknologi meluas pada upaya penghapusan kemiskinan,
penghapusan jam kerja yang berlebihan, penciptaan kesempatan untuk hidup lebih
lama dengan perbaikan kualitas kesehatan manusia, membantu upaya-upaya
pengurangan kejahatan, peningkatan kualitas pendidikan, dan sebagainya. Bahkan secara
lebih komprehensif, ilmu pengetahuan dan teknologi juga dimanfaatkan pemerintah
dalam menunjang pembangunannya. Misalnya dalam perencanaan dan programing
pembangunan, organisasi pemerintah dan administrasi negara untuk pembangunan
sumber-sumber insani, dan teknik pembangunan dalam sektor pertanian, industri,
dan kesehatan.
Puncaknya,
perkembangan ilmu pengetahuan dan teknologi, bukan saja membantu manusia dalam
memenuhi kebutuhan hidupnya sehari-hari. Lebih jauh, ilmu pengetahuan dan
teknologi berhasil mendatangkan kemudahan hidup bagi manusia. Bendungan,
kalkulator, mesin cuci, kompor gas, kulkas, OHP, slide, TV, tape recorder,
telephon, komputer, satelit, pesawat terbang, merupakan produk-produk teknologi
yang, bukan saja membantu manusia memenuhi kebutuhan hidupnya, tetapi membuat
hidup manusia semakin mudah. Manfaat-manfaat inilah yang mula-mula menjadi
tujuan manusia mengembangkan ilmu pengetahuan hingga menghasilkan teknologi.
Mulai dari teknologi manusia purba yang paling sederhana berupa kapak dan
alat-alat sederhana lainnya. Sampai teknologi modern saat ini, yang
perkembangannya jauh lebih pesat dari perkembangan teknologi sebelumnya.
Perkembangan ilmu pengetahuan dan teknologi ini sanggup membawa berkah bagi
umat manusia berupa kemudahan-kemudahan hidup, yang sebelumnya tidak pernah
terpikirkan dalam benak manusia.
BAB III
PENUTUP
SIMPULAN
Manusia dalam memiliki karya dapat dilihat dalam seting sejarah dan seting
psikologis situasi emosional an intelektual yang melatarbelakangi karyanya.
Dari karya yang dibuat manusia tersebut menjadikan ia sebagai mahluk yang
menciptakan sejarah. Manusia juga dapat dilihat dari sisi dalam pendekatan teologis,
dalam pandangan ini melengkapi dari pandangan yang sesudahnya
dengan melengkapi sisi transendensi dikarenakan pemahaman lebih bersifat
fundamental. Pengetahuan pencipta tentang ciptaannya jauh lebih lengkap dari pada
pengetahuan ciptaan tentang dirinya.
Orang yang telah mempelajari filsafat, apalagi
telah mampu berfikir serius, akan mudah menjadi warga negara yang baik.
Mengapa? Karena rahasia negara terletak pada filsafat negara itu; filsafat
negara ditaksonomi ke dalam undang-undang negara; undang-undang itulah yang
mengatur warga negara. Memahami isi filsafat negara dapat dilakukan dengan
mudah oleh warga yang telah biasa belajar filsafat. Oleh karena itu belajar
filsafat merupakan salah satu keharusan yang dilakukan oleh manusia.
DAFTAR PUSTAKA
v Achmadi, Asmoro, Filsafat Umum,
Jakarta: PT RajaGrafindo Persada, 2012.
v Ahmad Tafsir, Prof. Dr., Filsafat Umum,
Bandung: PT Remaja Rosdakarya, 2010.
v Amsal Bakhtiar, M.A. Prof. Dr., Filsafat
Ilmu, Jakarta: PT RajaGrafindo Persada, 2007.
v Maksum, Ali, Pengantar Filsafat,
Jogjakarta: Ar-Ruzz Media, 2011.
v Soyomukti, Nurani, Pengantar Filsafat Umum,
Yogyakarta: Ar-Ruzz Media, 2011.
v Titus, Smith, Nolan, Persoalan-Persoalan
Filsafat (terj. Prof. Dr. H. M. Rasjidi), Jakarta: PT Bulan Bintang, 1982.
v Tholhah Hasan, Muhammad, Prospek Islam
Dalam Menghadapi Tantangan Zaman, Jakarta Selatan: Lantabora Press, 2005.
[1] Schoorl J.W. Modernisasi, hal. 1-6.
[2] Winer, Myron, Modernization, The Dynamics of Growth, VOA
Forum Lectur USIA, Washington, 1967.
Cf. Swanson, Guy E, The Impact
of Modernization, Majalah Dialogue,
No. 2, 1976, hal. 126-127.
[3] Jujun S. Suriasumantri, Filsafat Ilmu, (Jakarta: Pustaka Sinar
Harapan, 2009), hlm. 261.
[4] Jan Hendrik Rappar, Pengantar Filsafat, (Yogyakarta: Kanisius,
1996). hlm.
[5] Ibid., hlm. 14.
[6] Jean Grondin, Sejarah Hermeneutik, (Jogjakarta: Ar-Ruzz media,
2012), hlm. 232.
Tidak ada komentar:
Posting Komentar