Rabu, 15 Juli 2020

MODEL-MODEL KURIKULUM DAN PEMBELAJARAN

BAB I

PENDAHULUAN

 

 

A.    Latar Belakang Masalah

Kurikukulum memegang peranan yang sangat central dalam pendidikan, sebab sangat erat kaitannya dengan penentuan arah, isi dan proses pendidikan, yang pada akhirnya sangat menentukan macam dan kualifiikasi lulusan suatu lembaga pendidikan. kurikulum menyangkut rencana dan pelaksanaan pendidikaan baik dalam lingkup kelas, sekolah, daerah, wilayah maupun nasional. Kurikulum sekarang merupakan standar akademis yang harus dikuasai oleh seluruh peserta didik, dengan merinci tujuan pembelajaran setiap pokok bahasan dan cara mencapai tujuan.[1]

Dalam pendidikan ada empat aliran pendidikan yang terkenal, yaitu aliran pendidikan klasik, pribadi, teknologi, dan interaksionis. Empat aliran itu bertolak dari asumsi yang berbeda dan memiliki pandangan yang berbeda pula tentang kedudukan dan peranan pendidik, peserta didik, isi, serta proses pendidikan. Empat aliran atau teori pendidikan tersebut memiliki model konsep kurikulum dan praktek pendidikan yang berbeda.  Model konsep kurikulum dari teori pendidikan klasik disebut kurikulum subjek akademis, pendidikan pribadi disebut kurikulum humanistik, teknologi pendidikan disebut kurikulum teknologis dan dari pendidikan interaksionis, disebut kurikulum rekontruksi sosial.

Pada makalah ini, penulis hanya akan menjelaskan dua macam model konsep kurikulum tersebut diatas yaitu model kurikulum subjek akademis dan model kurikulum teknologis. semoga makalah ini bermanfaat bagi kita amin.

 

B.     Rumusan Masalah

1.      Apa yang dimaksud kurikulum akademis?

2.      Apa yang dimaksud kurikulum teknologis?

 

C.    Tujuan Penulisan

1.      Menjelaskan tentang kurikulum akademis

2.      Menjelaskan tentang kurikulum teknologis

BAB II

MODEL-MODEL KURIKULUM DAN PEMBELAJARAN

 

 

A.    Model Kurikulum Subjek Akademis

Pengetahuan berubah dan meluas dengan kelajuan yang kian cepat. Diperkirakan ribuan judul buku baru diterbitkan pada setiap tahunnya.[2] Bahkan ada seorang ilmuwan lulusan Universitas jurusan fisika mengatakan bahwa sebagian besar dari bahan pelajaran 15 tahun yang lalu telah berubah dan diganti dengan materi pelajaran baru.[3]

Kurikulum subjek akademis bersumber dari pendidikan klasik (perenialisme dan esensialisme) yang berorientasi pada masa lalu, semua ilmu pengetahuan dan nilai-nilai telah ditemukan oleh para pemikir masa lalu. Fungsi pendidikan memelihara dan mewariskan hasil-hasil budayamasa lalu tersebut. Kurikulum ini lebih mengutamakan isi pendidikan. Belajar adalah berusaha menguasai ilmu sebanyak-banyaknya. Orang yang berhasil dalam belajar adalah orang yang menguasai seluruh atau sebagian besar isi pendidikan yang diberikan atau disiapkan oleh guru.

Kurikulum subjek akademis tidak berarti hanya menekankan pada materi yang disampaikan, dalam perkembangannya secara berangsur memperhatiakan proses belajar yang dilakukan siswa. Proses belajar yang dipilih sangat beruntung pada segi apa yang dipentingkan dalam materi pelajaran tersebut.

Beberapa kegiatan belajar memungkinkan untuk mengadakan generalisasi, suatu pengetahuan dapat digunakan dalam konteks lain, daripada sekedar yang dipelajarinya, dapat merangsang ingatan apabila siswa diminta untuk menghubungkannya dengan masalah lain. seorang siswa yang belajar fisika, umpamanya, harus melakukan kegiatan belajar sebagaimana seorang ahli fisika melakukannya. Hal seperti itu akan mempermudah proses belajar fisika bagi siswa.

Sekurang-kurangnya ada tiga pendekatan dalam perkembangan kurikulum subjek akademis.

1.      Melanjutkan pendekatan struktur pengetahuan. Murid-murid belajar bagaimana memperoleh dan mengurai fakta-fakta dan bukan sekedar mengingat-ingatnya.

2.      Studi yang bersifat integratif. Pendekatan ini merupakan respons terhadap perkembangan masyarakat yang menuntut model-model pengetahuan yang lebih komprehensif-terpadu. Pelajaran tersusun atas satuan-satuan pelajaran, dalam satuan-satuan pelajaran tersebut batas-batas ilmu menjadi hilang. Pengorganisasian tema-tema pengajaran didasarkan atas fenomena-fenomena alam, proses kerja ilmiah dan problema-problema yang ada. Mereka mengembangkan suatu model kurikulum yang terintegrasi (integrated curriculum). Ada beberapa ciri model kurikulum yang dikembangkan.

a.       Menentukan tema-tema yang membentuk satu kesatuan (unifying theme).

b.      Menyatukan kegiatan belajar dari beberapa disiplin ilmu.

c.       Menyatukan berbagai cara /metode belajar.

3.      Pendekatan yang dilaksanakan pada sekolah-sekolah pada fundamentalis. Mereka tetap mengajar berdasarkan mata-mata pelajaran dengan menekankan membaca, menulis, dan memecahkan masalah-masalah matematis. Pelajaran-pelajaran lain seperti ilmu kealaman, ilmu sosial, dan lain-lain dipelajari tanpa dihubungkan dengan kebutuhan praktis pemecahan masalah dalam kehidupan.

 

1.      Ciri-ciri kurikulum subjek akademis

Kurikulum subjek akademis mempunyai beberapa ciri berkenaan dengan tujuan, metode, organisasi isi, dan evaluasi. Tujuan kurikulum subjek akademis adalah pemberian pengetahuan yang solid serta melatih para siswa menggunakan ide-ide dan proses “penelitian”. Dengan berpengetahuan dalam berbagai disiplin ilmu, para siswa diharapkan memilik konsep-konsep dan cara-cara yang dapat terus dikembangkan dalam masyarakat yang lebih luas. Para siswa harus belajar menggunakan pemikiran dan dapat mengontrol dorongan-dorongannya. Sekolah harus memberikan kesempatan kepada para siswa untuk merealisasikan kemampuan mereka menguasai warisan budaya dan jika mungkin memperkayanya.

Metode yang paling banyak digunakan dalam kurikulum subjek akademis adalah metode ekspositori dan inkuiri. Ide-ide diberikan guru kemudian dielaborasi (dilaksanakan) siswa sampai mereka kuasai. Konsep utama disusun secara sistematis, dengan ilustrasi yang jelas untuk selanjutnya dikaji. Dalam materi disiplin ilmu yang diperoleh, dicari berbagai masalah penting, kemudian dirumuskan dan dicari cara pemecahannya.

Melalui proses tersebut para siswa akan menemukan, bahwa kemampuan berpikir dan mengamati digunakan dalam ilmu kealaman, logika digunakan dalam matematika, bentuk dan perasaan digunakan dalam seni dan koherensi dalam sejarah. Mereka mempelajari buku-buku standar untuk memperkaya pengetahuan, dan untuk memahami budaya masa lalu dan mengeti keadaan masa kini.

Ada beberapa pola organisasi isi (materi pelajaran) kurikulum subjek akademis. Pola-pola organisasi yang terpenting di antaranya:

a.       Correlated curriculum,adalah pola organisasi materi atau konsep yang dipelajari dalam suatu pelajaran dikorelasikan dengan pelajaran lainnya.

b.      Unified atau  Concentrated curriculum, adalah pola organisasi bahan pelajaran tersusun dalam tema-tema pelajaran tertentu, yang mencakup materi dari berbagai pelajaran disiplin ilmu.

c.       Integrated curriculum,bahan ajar diintergrasikan dalam suatu persoalan, kegiatan atau segi kehidupan tertentu.

d.      Problem Solving curriculum,adalah pola organisasi isi yang berisi topik pemecahan masalah sosial yang dihadapi dalam kehidupan dengan menggunakan pengetahuan dan keterampilan yang diperoleh dari berbagai mata pelajaran atau disiplin ilmu.[4]

Tentang kegiatan evaluasi, kurikulum subjek akademis menggunakan bentuk evaluasi yang bervariasi disesuaikan dengan tujuan dan sifat mata pelajaran. Dalam bidang study humaniora lebih banyak digunakan bentuk uraian (essay test) daripada tes objektif. Bidang studi tersebut membutuhkan jawaban yang merefleksikan logika, koherensi, dan integrasi secara menyeluruh. Bidang studi seni yang sifatnya ekspresi membutuhkan penilaian subjektif yang jujur, di samping standar keindahan dan cita rasa. Lain halnya dengan matematika, nilai tertinggi diberikan bila siswa menguasai landasan aksioma serta cara perhitungannya benar. Dalam ilmu kealaman penghargaan tertinggi bukan hanya diberikan kepada jawaban yang benar tetapi juga pada proses berpikir yang digunakan siswa.

Para ahli disiplin ilmu sering memiliki sifat ambivalen terhadap evaluasi, satu pihak melihatnya sebagai suatu kegiatan yang sangat berharga, yang dapat memberikan informasi yang dibutuhkan. Pada pihak lain mereka mengkhawatirkan kegiatan evaluasi dapat mempengaruhi hubungan antara guru dan siswa. Evaluasi yang dilakukan dalam waktu singkat tidak akan memberikan gambaran yang benar tentang perkembangan dan penguasaan siswa. Kekhawatiran mereka dapat sedikit dikurangi dengan dikembangknnya model evaluasi formatif dan sumatif.

2.      Pemilihan disiplin ilmu

Masalah besar yang dihadapi oleh para pengembang kurikulum subjek akademis adalah bagaimana memilih materi pelajaran dari sekian banyak disiplin ilmu yang ada. Apabila ingin memiliki penguasaan ynag cukup mendalam maka jumlah disiplin ilmunya harus sedikit. Apabila hanya mempeljari sedikit disiplin ilmu maka penguasaan para siswa akan sangat terbatas, sukar menerapkannya dalam kehidupan masyarakat secara luas. Apabila disiplin ilmunya cukup banyak, maka tahap penguasaannya akan mendangkal, Anak-anak akan tahu banyak tetapi pengetahuannya hanya sedikit-sedikit (tidak mendalam).

Ada beberapa saran untuk mengatasi masalah tesebut, yaitu :

a.       Mengusahakan adanya penguasaan yang menyeluruh (comprehensiveness) dengan menekankan pada bagaimana cara menguji kebenaran atau mendapatkan pengetahuan.

b.      Mengutamakan kebutuhan masyarakat (sosial utility), memilih dan menentukan aspek-aspek dari disiplin ilmu yang sangat diperlukan dalam kehidupan masyarakat.

c.       Menekankan pengetahuan dasar, yaitu pengetahuan-pengetahuan yang menjadi dasar (prerequisite) bagi penguasaan disiplin-disipln ilmu yang lainnya.

3.      Penyesuaian mata pelajaran dengan perkembangan anak

Para pengembang kurikulum subjek akademis, lebih mengutamakan penyusunan bahan secara logis dan sistematis daripada menyelaraskan urutan bahan dengan kemampuan berpikir anak. Mereka umumnya kurang memperhatikan bagaimana siswa belajar dan lebih mengutamakan susunan isi, yaitu apa yang akan diajarkan. Proses belajar yang ditempuh oleh siswa sama pentingnya sama dengan penguasaan konsep, prinsip-prinsip, dan generalisasi. Para ahli kurikulum subjek akademis juga memandang materi yang akan diajarkan bersifat universal, mereka mengabaikan karakteristik siswa dan kebutuhan masyarakat setempat.

Untuk mengatasi kelemahan-kelemahan di atas dalam perkembangan selanjutnya dilakukan beberapa penyempurnaan.

1)      untuk mengimbangi penekanannya pada proses berpikir, mereka mulai mendorong penggunaan intuisi dan tebak-tebakan.

2)      adanya upaya-upaya untuk menyesuaikan pelajaran dengan perbedaan individu dan kebutuhan setempat.

3)      pemanfaatan fasilitas dan sumber yang ada pada masyarakat.

 

B.     Model Kurikulum Teknologi

         Sejalan dengan perkembangan ilmu dan teknologi, di bidang pendidikan berkembang pula teknologi pendidikan. Aliran ini ada persamaannya dengan pendidikan klasik, yaitu menekan isi kurikulum, tetapi diarahkan bukan pada pemeliharaan dan pengawetan ilmu tersebut tetapi pada penguasaan kompetensi. Suatu kompetensi yang besar diuraikan menjadi kompetensi yang lebih sempit/khusus dan akhirnya menjadi perilaku-perilaku yang dapat diamati atau diukur.

         Teknologi dalam perspektif kurikulum difokuskan kepada efektivitas program, metode, dan bahan-bahan yang dianggap dapat mencapai tujuan.[5] Penerapan teknologi dalam bidang pendidikan khususnya kurikulum adalah dalam dua bentuk, yaitu bentuk perangkat lunak (software) dan perangkat keras (hardware). Penerapan teknologi perangkat keras dalam pendidikan dikenal sebagai teknologi alat (tools technology), sedangkan penerapan teknologi perangkat lunak disebut juga teknologi sistem (system technology).

            Teknologi adalah alat kurikulum yang dirancang dengan dukungan teknologi alat (hardware) seperti program kurikulum dengan dukungan teknologi komputer, internet, dan sebagainya. Sedangkan kurikulum yang dirancang dengan teknologi sistem (program) adalah kurikulum yang dirancang dengan dukungan system (program) yang menggunakan prinsip-prinsip kerja teknologi yang serba terprogram, terukur, terinci (khusus). Segenap komponen kurikulum dirancang dengan program dirancang dengan program yang terinci, terukur dan rigit. Tujuan yang dirancang dalam bentuk tujuan instruksional khusus atau kompetensi khusus adalah merupakan contoh dari kurikulum teknologis. [6]

1.      Beberapa ciri kurikulum teknologis

               Kurikulum yang dikembangkan dari konsep teknologi pendidikan, memiliki beberapa ciri khusus, yaitu:

a.       Tujuan.

               Tujuan diarahkan pada penguasaan kompetensi, yang dirumuskan dalam bentuk perilaku.

b.      Metode

            Metode yang merupakan kegiaatn pembelajaran sering dipandang sebagai proses mereaksi terhadap perangsang-perangsang yang diberikan dan apabila terjadi respons yang diharapkan maka respons tersebut diperkuat. Pelaksanaan pengajaran mengikuti langkah-langkah sebagai berikut.

1)      Penegasan tujuan

2)      Pelaksanaan pengajaran

3)      Pengetahuan tentang hasil

c.       Organisasi bahan ajar

            Bahan ajar atau isi kurikulum banyak diambil dari disiplin ilmu, tetapi telah diramu sedemikian rupa sehingga mendukung penguasaan suatu kompetensi.

d.      Evaluasi

            Kegiatan evaluasi dilakukan pada setiap saat, pada akhir suatu pelajaran, suatu unit ataupun semester.

Teknologi berperan dalam meningkatkan kualitas kurikulum, dengan mamberi kontribusi mengenai keefektifan intruksional, tahapan intruksional, dan memantau perkembangan peserta didik.Oleh karenanya sangat beralasan bahwa dewasa ini semakin banyak kurikulum efektif yang selaras dengan perkenbangan teknologi.Meskipun biaya yang dikeluarkan dalam pengembangan kurikulum teknologi ini cukup besar, tapi sebanding dengan nilai yang didapat dan pembelajaran bagi para siswa saat model ini diterapkan.

Salah satu kelemahan kurikulum teknologi ini adalah kurangnya perhatian pada penerapan dan dinamika inovasi. Model teknologi ini hanya menekankan pengembangan efektifitas produk saja, sedangkan perhatian untuk mengubah lingkungan yang lebih luas, seperti organisasi sekolah, sikap guru, dan cara pandang masyarakat sangat kurang.

2.      Pengembangan kurikulum

Pengembangan kurikulum teknologi berpegang pada beberapa kriteria, yaitu:

a.       Prosedur pengembangan kurikulum dinilai dan disempurnakan oleh pengembang kurikulum yang lain,

b.      Hasil pengembangan terutama yang berbentuk model adalah yang bisa diuji coba ulang, dan hendaknya memberikan hasil yang sama.

Inti dari pengembangan kurikulum teknologis adalah penekanan pada kompetensi. Pengembangan dan penggunaan alat dan media pengajaran bukan hanya sebagai alat bantu tetapi bersatu dengan program pengajaran dan ditujukan pada penguasaan kompetensi tertentu.

 

BAB III

PENUTUP

 

A.    Simpulan

Kurikulum yang digunakan dalam lingkungan pendidikan dapat berupa realisasi dari masing-masing model kurikulum hal dapat disesuaikan berdasarkan kebijakan yang diputuskan pemerintah dalam usaha meningkatkan kualitas pendidikan.

Kebijakan kurikulum yang ada dapat berdasarkan kepada satu model kurikulum atau berdasarkan gabungan dari setiap model kurikulum yang tercermin dari landasan filosofis, tujuan, materi, kegiatan belajar, mengajar dan sampai kepada evaluasi.

 

 

 

 

 

 

 

 

 

 

 

 

 

DAFTAR PUSTAKA

 

Hamalik, oemar, 2007, Dasar-dasar pengembangan kurikulum, Bandung: PT Remaja        Rosdakarya.

 

Mulyasa, E, 2006, Kurikulum Berbasis Kompetensi Konsep, Karakteristik, Implementasi, dan        Inovasi, Bandung: PT Remaja Rosdakarya.

 

Nasotion, S., 2006,  Kurikulum dan Pengajaran, Bandung: PT Bumi Aksara.

 

Sabda, Syaifuddin, 2011, Pengembangan Kurikulum (Tinjauan Teoritis), Yogyakarta:       Aswaja Pressindo.

 

Sanjaya, Wina, 2006, Pembelajaran dalam Implementasi Kurikulum Berbasis Kompetensi,            Jakarta: Kencana Prenada Media Grup.

 

Syaodih, sukmadinata, nana, 2011, Pengembangan kurikulum, Bandung: PT Remaja         Rosdakarya.

 

 



[1] E. Mulyasa, Kurikulum Berbasis Kompetensi Konsep, Karakteristik, Implementasi, dan Inovasi, (Bandung: PT Remaja Rosdakarya, 2006), h. 24

[2] Binti Maunah, Pengembangan Kurikulum Berbasis Kompetensi, (Yogyakarta: Teras, 2009), h. 28

                               

[3] S. Nasotion, Kurikulum dan Pengajaran, (Bandung: PT Bumi Aksara, 2006), h. 34

[4] Nana Syaodih Sukmadinata, Pengembangan Kurikulum Teori dan praktik, (Bandung: PT Remaja Rosdakarya, 2011), h. 84-85

[5] Wina Sanjaya, Pembelajaran dalam Implementasi Kurikulum Berbasis Kompetensi, (Jakarta: Kencana Prenada Media Grup, 2006), h. 48

 

[6] Syaifuddin Sabda, Pengembangan Kurikulum (Tinjauan Teoritis), (Yogyakarta: Aswaja Pressindo, 2011), h. 66-67


Tidak ada komentar:

Posting Komentar