BAB I
PENDAHULUAN
A. Latar Belakang Masalah
Kurikukulum memegang
peranan yang sangat central dalam pendidikan, sebab sangat erat kaitannya
dengan penentuan arah, isi dan proses pendidikan, yang pada akhirnya sangat
menentukan macam dan kualifiikasi lulusan suatu lembaga pendidikan. kurikulum
menyangkut rencana dan pelaksanaan pendidikaan baik dalam lingkup kelas,
sekolah, daerah, wilayah maupun nasional. Kurikulum sekarang merupakan standar
akademis yang harus dikuasai oleh seluruh peserta didik, dengan merinci tujuan
pembelajaran setiap pokok bahasan dan cara mencapai tujuan.[1]
Dalam pendidikan ada
empat aliran pendidikan yang terkenal, yaitu aliran pendidikan klasik, pribadi,
teknologi, dan interaksionis. Empat aliran itu bertolak dari asumsi yang berbeda
dan memiliki pandangan yang berbeda pula tentang kedudukan dan peranan
pendidik, peserta didik, isi, serta proses pendidikan. Empat aliran atau teori
pendidikan tersebut memiliki model konsep kurikulum dan praktek pendidikan yang
berbeda. Model konsep kurikulum dari teori pendidikan klasik disebut
kurikulum subjek akademis, pendidikan pribadi disebut kurikulum humanistik,
teknologi pendidikan disebut kurikulum teknologis dan dari pendidikan
interaksionis, disebut kurikulum rekontruksi sosial.
Pada makalah ini,
penulis hanya akan menjelaskan dua macam model konsep kurikulum tersebut diatas
yaitu model kurikulum subjek akademis dan model kurikulum teknologis. semoga
makalah ini bermanfaat bagi kita amin.
B. Rumusan Masalah
1. Apa yang dimaksud
kurikulum akademis?
2. Apa yang dimaksud
kurikulum teknologis?
C. Tujuan Penulisan
1. Menjelaskan tentang
kurikulum akademis
2. Menjelaskan tentang
kurikulum teknologis
BAB II
MODEL-MODEL KURIKULUM DAN PEMBELAJARAN
A. Model Kurikulum Subjek Akademis
Pengetahuan berubah dan
meluas dengan kelajuan yang kian cepat. Diperkirakan ribuan judul buku baru
diterbitkan pada setiap tahunnya.[2] Bahkan
ada seorang ilmuwan lulusan Universitas jurusan fisika mengatakan bahwa
sebagian besar dari bahan pelajaran 15 tahun yang lalu telah berubah dan
diganti dengan materi pelajaran baru.[3]
Kurikulum subjek
akademis bersumber dari pendidikan klasik (perenialisme dan esensialisme) yang
berorientasi pada masa lalu, semua ilmu pengetahuan dan nilai-nilai telah
ditemukan oleh para pemikir masa lalu. Fungsi pendidikan memelihara dan mewariskan hasil-hasil budayamasa lalu
tersebut. Kurikulum ini lebih mengutamakan isi pendidikan. Belajar adalah
berusaha menguasai ilmu sebanyak-banyaknya. Orang yang berhasil dalam belajar
adalah orang yang menguasai seluruh atau sebagian besar isi pendidikan yang
diberikan atau disiapkan oleh guru.
Kurikulum subjek akademis tidak berarti hanya menekankan pada materi yang disampaikan, dalam perkembangannya secara
berangsur memperhatiakan proses belajar yang dilakukan siswa. Proses belajar
yang dipilih sangat beruntung pada segi apa yang dipentingkan dalam materi
pelajaran tersebut.
Beberapa kegiatan
belajar memungkinkan untuk mengadakan generalisasi, suatu pengetahuan dapat
digunakan dalam konteks lain, daripada sekedar yang dipelajarinya, dapat
merangsang ingatan apabila siswa diminta untuk menghubungkannya dengan masalah
lain. seorang siswa yang belajar fisika, umpamanya, harus melakukan kegiatan
belajar sebagaimana seorang ahli fisika melakukannya. Hal seperti itu akan mempermudah proses belajar
fisika bagi siswa.
Sekurang-kurangnya ada tiga pendekatan dalam perkembangan kurikulum subjek
akademis.
1. Melanjutkan pendekatan struktur pengetahuan.
Murid-murid belajar bagaimana memperoleh dan mengurai fakta-fakta dan bukan
sekedar mengingat-ingatnya.
2. Studi yang bersifat integratif. Pendekatan ini
merupakan respons terhadap perkembangan masyarakat yang menuntut model-model
pengetahuan yang lebih komprehensif-terpadu. Pelajaran tersusun atas
satuan-satuan pelajaran, dalam satuan-satuan pelajaran tersebut batas-batas
ilmu menjadi hilang. Pengorganisasian tema-tema pengajaran didasarkan atas
fenomena-fenomena alam, proses kerja ilmiah dan problema-problema yang ada.
Mereka mengembangkan suatu model kurikulum yang terintegrasi (integrated
curriculum). Ada beberapa ciri model kurikulum yang dikembangkan.
a. Menentukan tema-tema yang membentuk satu
kesatuan (unifying theme).
b. Menyatukan kegiatan belajar dari beberapa
disiplin ilmu.
c. Menyatukan berbagai cara /metode belajar.
3. Pendekatan yang dilaksanakan pada
sekolah-sekolah pada fundamentalis. Mereka tetap mengajar berdasarkan mata-mata
pelajaran dengan menekankan membaca, menulis, dan memecahkan masalah-masalah
matematis. Pelajaran-pelajaran lain seperti ilmu kealaman, ilmu sosial, dan
lain-lain dipelajari tanpa dihubungkan dengan kebutuhan praktis pemecahan
masalah dalam kehidupan.
1. Ciri-ciri kurikulum subjek
akademis
Kurikulum subjek akademis mempunyai beberapa
ciri berkenaan dengan tujuan, metode, organisasi isi, dan evaluasi. Tujuan
kurikulum subjek akademis adalah pemberian pengetahuan yang solid serta melatih
para siswa menggunakan ide-ide dan proses “penelitian”. Dengan berpengetahuan
dalam berbagai disiplin ilmu, para siswa diharapkan memilik konsep-konsep dan cara-cara
yang dapat terus dikembangkan dalam masyarakat yang lebih luas. Para siswa
harus belajar menggunakan pemikiran dan dapat mengontrol dorongan-dorongannya.
Sekolah harus memberikan kesempatan kepada para siswa untuk merealisasikan
kemampuan mereka menguasai warisan budaya dan jika mungkin memperkayanya.
Metode yang paling banyak digunakan dalam
kurikulum subjek akademis adalah metode ekspositori dan inkuiri. Ide-ide
diberikan guru kemudian dielaborasi (dilaksanakan) siswa sampai mereka kuasai.
Konsep utama disusun secara sistematis, dengan ilustrasi yang jelas untuk
selanjutnya dikaji. Dalam materi disiplin ilmu yang diperoleh, dicari berbagai
masalah penting, kemudian dirumuskan dan dicari cara pemecahannya.
Melalui proses tersebut para siswa akan menemukan,
bahwa kemampuan berpikir dan mengamati digunakan dalam ilmu kealaman, logika
digunakan dalam matematika, bentuk dan perasaan digunakan dalam seni dan
koherensi dalam sejarah. Mereka mempelajari buku-buku standar untuk memperkaya
pengetahuan, dan untuk memahami budaya masa lalu dan mengeti keadaan masa kini.
Ada beberapa pola organisasi isi (materi
pelajaran) kurikulum subjek akademis. Pola-pola organisasi yang terpenting di
antaranya:
a. Correlated curriculum,adalah pola organisasi
materi atau konsep yang dipelajari dalam suatu pelajaran dikorelasikan dengan
pelajaran lainnya.
b. Unified atau Concentrated curriculum, adalah pola organisasi
bahan pelajaran tersusun dalam tema-tema pelajaran tertentu, yang mencakup
materi dari berbagai pelajaran disiplin ilmu.
c. Integrated curriculum,bahan ajar
diintergrasikan dalam suatu persoalan, kegiatan atau segi kehidupan tertentu.
d. Problem Solving curriculum,adalah pola organisasi
isi yang berisi topik pemecahan masalah sosial yang dihadapi dalam kehidupan
dengan menggunakan pengetahuan dan keterampilan yang diperoleh dari berbagai
mata pelajaran atau disiplin ilmu.[4]
Tentang kegiatan evaluasi, kurikulum subjek
akademis menggunakan bentuk evaluasi yang bervariasi disesuaikan dengan tujuan
dan sifat mata pelajaran. Dalam bidang study humaniora lebih banyak digunakan
bentuk uraian (essay test) daripada tes objektif. Bidang studi tersebut
membutuhkan jawaban yang merefleksikan logika, koherensi, dan integrasi secara
menyeluruh. Bidang studi seni yang sifatnya ekspresi membutuhkan penilaian
subjektif yang jujur, di samping standar keindahan dan cita rasa. Lain halnya
dengan matematika, nilai tertinggi diberikan bila siswa menguasai landasan
aksioma serta cara perhitungannya benar. Dalam ilmu kealaman penghargaan tertinggi
bukan hanya diberikan kepada jawaban yang benar tetapi juga pada proses
berpikir yang digunakan siswa.
Para ahli disiplin ilmu sering memiliki sifat ambivalen terhadap
evaluasi, satu pihak melihatnya sebagai suatu kegiatan yang sangat berharga,
yang dapat memberikan informasi yang dibutuhkan. Pada pihak lain mereka
mengkhawatirkan kegiatan evaluasi dapat mempengaruhi hubungan antara guru dan
siswa. Evaluasi yang dilakukan dalam waktu singkat tidak akan memberikan
gambaran yang benar tentang perkembangan dan penguasaan siswa. Kekhawatiran
mereka dapat sedikit dikurangi dengan dikembangknnya model evaluasi formatif
dan sumatif.
2. Pemilihan disiplin ilmu
Masalah besar yang dihadapi oleh para pengembang
kurikulum subjek akademis adalah bagaimana memilih materi pelajaran dari sekian
banyak disiplin ilmu yang ada. Apabila ingin memiliki penguasaan ynag cukup
mendalam maka jumlah disiplin ilmunya harus sedikit. Apabila hanya mempeljari
sedikit disiplin ilmu maka penguasaan para siswa akan sangat terbatas, sukar menerapkannya
dalam kehidupan masyarakat secara luas. Apabila disiplin ilmunya cukup banyak,
maka tahap penguasaannya akan mendangkal, Anak-anak akan tahu banyak tetapi
pengetahuannya hanya sedikit-sedikit (tidak mendalam).
Ada beberapa saran untuk
mengatasi masalah tesebut, yaitu :
a. Mengusahakan adanya penguasaan yang menyeluruh (comprehensiveness)
dengan menekankan pada bagaimana cara menguji kebenaran atau mendapatkan
pengetahuan.
b. Mengutamakan kebutuhan masyarakat (sosial
utility), memilih dan menentukan aspek-aspek dari disiplin ilmu yang sangat
diperlukan dalam kehidupan masyarakat.
c. Menekankan pengetahuan dasar, yaitu
pengetahuan-pengetahuan yang menjadi dasar (prerequisite) bagi
penguasaan disiplin-disipln ilmu yang lainnya.
3. Penyesuaian mata pelajaran
dengan perkembangan anak
Para pengembang kurikulum subjek akademis, lebih
mengutamakan penyusunan bahan secara logis dan sistematis daripada
menyelaraskan urutan bahan dengan kemampuan berpikir anak. Mereka umumnya
kurang memperhatikan bagaimana siswa belajar dan lebih mengutamakan susunan
isi, yaitu apa yang akan diajarkan. Proses belajar yang ditempuh oleh siswa
sama pentingnya sama dengan penguasaan konsep, prinsip-prinsip, dan
generalisasi. Para ahli kurikulum subjek akademis juga memandang materi yang akan
diajarkan bersifat universal, mereka mengabaikan karakteristik siswa dan
kebutuhan masyarakat setempat.
Untuk mengatasi
kelemahan-kelemahan di atas dalam perkembangan selanjutnya dilakukan beberapa
penyempurnaan.
1) untuk mengimbangi penekanannya pada proses
berpikir, mereka mulai mendorong penggunaan intuisi dan tebak-tebakan.
2) adanya upaya-upaya untuk menyesuaikan pelajaran
dengan perbedaan individu dan kebutuhan setempat.
3) pemanfaatan fasilitas dan sumber yang ada pada
masyarakat.
B. Model Kurikulum Teknologi
Sejalan dengan perkembangan ilmu dan teknologi, di bidang pendidikan berkembang
pula teknologi pendidikan. Aliran ini ada persamaannya dengan pendidikan
klasik, yaitu menekan isi kurikulum, tetapi diarahkan bukan pada pemeliharaan
dan pengawetan ilmu tersebut tetapi pada penguasaan kompetensi. Suatu
kompetensi yang besar diuraikan menjadi kompetensi yang lebih sempit/khusus dan
akhirnya menjadi perilaku-perilaku yang dapat diamati atau diukur.
Teknologi dalam perspektif kurikulum difokuskan kepada efektivitas program,
metode, dan bahan-bahan yang dianggap dapat mencapai tujuan.[5] Penerapan teknologi dalam bidang pendidikan
khususnya kurikulum adalah dalam dua bentuk, yaitu bentuk perangkat lunak (software)
dan perangkat keras (hardware). Penerapan teknologi perangkat keras
dalam pendidikan dikenal sebagai teknologi alat (tools technology),
sedangkan penerapan teknologi perangkat lunak disebut juga teknologi sistem (system
technology).
Teknologi adalah alat
kurikulum yang dirancang dengan dukungan teknologi alat (hardware)
seperti program kurikulum dengan dukungan teknologi komputer, internet, dan
sebagainya. Sedangkan kurikulum yang dirancang dengan teknologi sistem
(program) adalah kurikulum yang dirancang dengan dukungan system (program) yang
menggunakan prinsip-prinsip kerja teknologi yang serba terprogram, terukur,
terinci (khusus). Segenap komponen kurikulum dirancang dengan program dirancang
dengan program yang terinci, terukur dan rigit. Tujuan yang dirancang dalam
bentuk tujuan instruksional khusus atau kompetensi khusus adalah merupakan
contoh dari kurikulum teknologis. [6]
1. Beberapa ciri kurikulum
teknologis
Kurikulum yang
dikembangkan dari konsep teknologi pendidikan, memiliki beberapa ciri khusus,
yaitu:
a. Tujuan.
Tujuan diarahkan pada penguasaan kompetensi,
yang dirumuskan dalam bentuk perilaku.
b. Metode
Metode yang merupakan kegiaatn pembelajaran sering dipandang sebagai proses
mereaksi terhadap perangsang-perangsang yang diberikan dan apabila terjadi
respons yang diharapkan maka respons tersebut diperkuat. Pelaksanaan pengajaran
mengikuti langkah-langkah sebagai berikut.
1) Penegasan tujuan
2) Pelaksanaan pengajaran
3) Pengetahuan tentang hasil
c. Organisasi bahan ajar
Bahan
ajar atau isi kurikulum banyak diambil dari disiplin ilmu, tetapi telah diramu
sedemikian rupa sehingga mendukung penguasaan suatu kompetensi.
d. Evaluasi
Kegiatan
evaluasi dilakukan pada setiap saat, pada akhir suatu pelajaran, suatu unit
ataupun semester.
Teknologi berperan
dalam meningkatkan kualitas kurikulum, dengan mamberi kontribusi mengenai keefektifan
intruksional, tahapan intruksional, dan memantau perkembangan peserta
didik.Oleh karenanya sangat beralasan bahwa dewasa ini semakin banyak kurikulum
efektif yang selaras dengan perkenbangan teknologi.Meskipun biaya yang
dikeluarkan dalam pengembangan kurikulum teknologi ini cukup besar, tapi
sebanding dengan nilai yang didapat dan pembelajaran bagi para siswa saat model
ini diterapkan.
Salah satu kelemahan
kurikulum teknologi ini adalah kurangnya perhatian pada penerapan dan dinamika
inovasi. Model teknologi ini hanya menekankan pengembangan efektifitas produk
saja, sedangkan perhatian untuk mengubah lingkungan yang lebih luas, seperti
organisasi sekolah, sikap guru, dan cara pandang masyarakat sangat kurang.
2. Pengembangan kurikulum
Pengembangan kurikulum teknologi berpegang pada
beberapa kriteria, yaitu:
a. Prosedur pengembangan kurikulum dinilai dan
disempurnakan oleh pengembang kurikulum yang lain,
b. Hasil pengembangan terutama yang berbentuk model
adalah yang bisa diuji coba ulang, dan hendaknya memberikan hasil yang sama.
Inti dari pengembangan kurikulum teknologis
adalah penekanan pada kompetensi. Pengembangan dan penggunaan alat dan media
pengajaran bukan hanya sebagai alat bantu tetapi bersatu dengan program
pengajaran dan ditujukan pada penguasaan kompetensi tertentu.
BAB III
PENUTUP
A.
Simpulan
Kurikulum
yang digunakan dalam lingkungan pendidikan dapat berupa realisasi dari
masing-masing model kurikulum hal dapat disesuaikan berdasarkan kebijakan yang
diputuskan pemerintah dalam usaha meningkatkan kualitas pendidikan.
Kebijakan
kurikulum yang ada dapat berdasarkan kepada satu model kurikulum atau
berdasarkan gabungan dari setiap model kurikulum yang tercermin dari landasan
filosofis, tujuan, materi, kegiatan belajar, mengajar dan sampai kepada
evaluasi.
DAFTAR PUSTAKA
Hamalik, oemar, 2007, Dasar-dasar pengembangan kurikulum, Bandung:
PT Remaja Rosdakarya.
Mulyasa, E, 2006, Kurikulum Berbasis Kompetensi Konsep,
Karakteristik, Implementasi, dan Inovasi,
Bandung: PT Remaja Rosdakarya.
Nasotion, S.,
2006, Kurikulum dan Pengajaran,
Bandung: PT Bumi Aksara.
Sabda, Syaifuddin, 2011, Pengembangan Kurikulum (Tinjauan
Teoritis), Yogyakarta: Aswaja
Pressindo.
Sanjaya,
Wina, 2006, Pembelajaran dalam Implementasi Kurikulum Berbasis Kompetensi,
Jakarta: Kencana Prenada Media
Grup.
Syaodih, sukmadinata, nana, 2011, Pengembangan kurikulum, Bandung:
PT Remaja Rosdakarya.
[1] E. Mulyasa, Kurikulum
Berbasis Kompetensi Konsep, Karakteristik, Implementasi, dan Inovasi,
(Bandung: PT Remaja Rosdakarya, 2006), h. 24
[2] Binti Maunah, Pengembangan
Kurikulum Berbasis Kompetensi, (Yogyakarta: Teras, 2009), h. 28
[3] S. Nasotion,
Kurikulum dan Pengajaran, (Bandung: PT Bumi Aksara, 2006), h. 34
[4] Nana Syaodih
Sukmadinata, Pengembangan Kurikulum Teori dan praktik, (Bandung: PT Remaja
Rosdakarya, 2011), h. 84-85
[5] Wina Sanjaya, Pembelajaran
dalam Implementasi Kurikulum Berbasis Kompetensi, (Jakarta: Kencana Prenada
Media Grup, 2006), h. 48
[6] Syaifuddin
Sabda, Pengembangan Kurikulum (Tinjauan Teoritis), (Yogyakarta: Aswaja
Pressindo, 2011), h. 66-67
Tidak ada komentar:
Posting Komentar