Rabu, 15 Juli 2020

TEORI MOTIVASI BELAJAR

 BAB I

PENDAHULUAN

A.    LATAR BELAKANG

Istilah motivasi menunjuk kepada semua gejala yang terkandung dalam stimulasi tindakan kearah tindakan kearah tujuan tertentu dimana sebelumnya tidak ada gerakan menuju kearah tujuan tersebut. Motivasi dapat berupa dorongan-dorongan dasar atau internal dan insentif diluar diri individu atau hadiah. Sebagai suatu masalah didalam kelas, motivasi adalah proses membangkitkan, mempertahankan, dan mengontrol minat-minat.

Secara umum tujuan motivasi adalah untuk menggerakkan atau menggugah seseorang agar timbul keinginan dan kemauannya untuk melakukan sesuatu, sehingga dapat memperoleh hasil atau mencapai tujuan tertentu. [1]

B.     Rumusan Masalah

1.      Apa teori motivasi Abraham Maslow?

2.      Apa yang dimaksud teori motivasi menurut Islam ?

3.      Bagaimana cara-cara memotivasi belajar Anak ?

 

 

 

C.     Tujuan Penulisan

1.      Mengetahui teori Motivasi Abraham Maslow.

2.      Mengetahu teori motivasi menurut Islam.

3.      Mengetahui cara-cara memotivasi belajar anak.

 

 

 

BAB II

PEMBAHASAN

TEORI MOTIVASI BELAJAR

A.    Teori Motivasi Abraham Maslow

Sebagai seorang pakar psikologi, Maslow mengemukakan adanya lima tingkatan kebutuhan pokok manusia. Kelima tingkatan kebutuhan inilah yang kemudian dijadikan pengertian kunci dalam mempelajari motivasi manusia. Adapun kelima tingkatan pokok yang dimaksud adalah sebagai berikut :

1.      Kebutuhan fisiologis : kebutuhan ini merupakan kebutuhan dasar, yang bersifat primer dan vital, yang menyangkutfungsi-fungsi biologis dasar dari organisme manusia seperti kebutuhan akan pangan, sandang dan papan, kesehatan fisik, kebutuhan seks, dan sebagainya.

2.      Kebutuhan rasa aman dan perlindungan (safety and security) seperti terjamin keamanannya, terlindung dari bahaya dan ancaman penyakit, kemiskinan, kelaparan, perlakuan tidak adil , dsb.

3.      Kebutuhan sosial (social Needs) yang meliputi antara lain kebutuhan akan dicintai, diperhitungkan sebagai pribadi, diakui sebagai anggota kelompok, rasa setia kawan, kerjasama.

4.      Kebutuhan akan penghargaan (esteem needs), termasuk kebutuhan dihargai karena prestasi, kemampuan, kedudukan atau status, pangkat, dan sebagainya.

5.      Kebutuhan akan aktualisasi diri (self actualization) seperti antara lain kebutuhan mempertinggi potensi-potensi yang dimiliki, pengembangan diri secara maksimum, kreatifitas, danm ekspresi diri.[2] Seperti kita ketahui setiap individu memiliki potensi atau bakat masing-masing yang terkandung didalam dirinya. Anak dengan bakat atletik akan banyak melakukan latihan. Anak yang berbakat musik akan berlatih dengan bersemangat. Kalau seseorang mempelajari sesuatu yang sesuai dengan bakat dan minatnya, ia akan belajar dengan kehendaknya sendiri.

Penekanan terhadap aktualisasi diri berarti pengenalan terhadap kecenderungan heterostatik dari organisme manusia, yaitu dorongan untuk tumbuh, untuk menjadi dan untuk belajar.[3]

Tingkatan atau hirarki kebutuhan dari Maslow ini tidak dimaksud sebagai suatu yang dapat dipakai setiap saat, tetapi lebih merupakan acuan yang dapat digunakan sewaktu-weaktu bila mana diperlukan untuk memprakirakan tingkat kebutuhan mana yang mendorong seseorang_yang akan dimotivasi_bertindak melakukan sesuatu.

Didalam kehidupan sehari-hari kita dapat mengamati bahwa kebutuhan manusia itu berbeda-beda. Faktor-faktor yang mempengaruhi adanya perbedaan tingkat kebutuhan itun antara lain latar belakang pendidikan, tinggi rendahnya kedudukan, pengalaman masa lampau, pandangan atau falsafah hidup, cita-cita dan harapan masa depan, dari tiap individu.

Berdasarkan urutan tingkat kebutuhan menurut teori Maslow, kehidupan tiap manusia dapat dijelaskan sebagai berikut : pada mulanya kebutuhan manusia yang paling mendesak adalah kebutuhan fisiologis seperti pangan, sandang, papan, dan kesehatan. Jika kebutuhan-kebutuhan berikutnya yang mendesak ialah kebutuhan akan rasa aman dan terlindung. Apabila kebutuhan inipun terpenuhi sehingga tidak dirasakan lagi sebagai kebutuhan yang mendesak, maka timbul kebutuhan berikutnya yang dirasakan merndesak, yaitu kebutuhan sosial seperti ingin masuk organisasi kemasyarakatan, ikut aktif dalam perkumpulan arisan keluarga, dan sebagainya. Jika kebutuhan sosial inipun telah dapat terpenuhi sdehingga tidak terasa lagi sebagai kebutuhan mendesak, yaitu kebutuhan akan penghargaan atau prestasi. Demikian seterusnya sampai kepada tingkat kebutuhan aktualisasi diri : ingin menjadi oranmg yang ternama, terkenal diseluruh Negara atau dunia.

Proses kehidupan  manusia itu berbeda-beda dan tidak selalu menuruti garis lurus yang meningkat. Kadang-kadang melompat dari tingkat kebutuhan tertentu ketingkat kebutuhan lain dengan melampaui tingkat yang berada diatasnya.

Perlu kiranya dikemukakan disini bahwa meskipun teori tingkatan kebutuhan dari Maslow ini secara luas telah diterima sangat sedikit adanya bukti-bukti penelitian yang menyokong teori tersebut. Ahli-ahli psikologi lain yang mengembangkanteori Maslow dan kemudian mengemukakan adanya beberapa teori motivasi, antara lain ialah Lyman W, Porter, Clyton P. Alderfer, Frederick Herzberg, dan Victor Vroom.[4]

B.     Pandangan Motivasi Menurut Beberapa Tokoh Islam

Ibrahim el-fiky, dalam bukunya menyebutkan bahwa ketika seseorang memiliki motivasi dan dorongan psikologi maka semangat akan lebih banyak kemampuan akan lebih besar dan pengetahuan akan lebih baik. Sebaliknya, jika semangat lemah maka sorang itu tidak akan memiliki kemampuan dan konsentrasi hanya bertuju untuk hal negatif saja. Maka pekerjaan pun jadi jelek.[5]

Ada 3 jenis motivasi[6] menurut Ibrahim El-fiky:

  1. Motivasi hidup

Motivasi hiduplah mendorong manusia  untuk  kebutuhan primernya, misalnya makanan, air, dan udara jika kebutuhan primer kurang maka ada motivasi dasar didalam dirinya yang mengingatkan syarafnya di otak tentang kehususan-kehususan tentang kekurangan ini  yang akan mendorong seseorang untuk semangat berkerja demi memenuhi kekurangan ini.

2.      Motivasi Eksternal

Motivasi ini berasal dari eksternal seperti motivator ulung , atau teman-teman, anggota keluarga, majalah-majalah, buku, atau para pemimpin kita di kantor. Namun motivasi ini cepat hilangnya

3.      Motivasi Internal

Jenis motivasi ini paling kuat dan paling lama tahanya. Karena dengan motivasi internal kita bisa mengendalikan kekuatan internal yang akan menuntun kita untuk mewujudkan pencapaian-pencapian besar.

Motivasi kuat untuk hidup sukses bahagia, sejahtra, dewasa, bermakna dan unggul  akan mengerakan kita untuk selalu besikap hidup positip dan produktif.[7]

Motivasi sebenarnya sangat menentukan kwalitas perbutan kita setiap perbutan pasti didasari motivasi tertentu. Teori –teori dasar dalam SDM semuanya mengenai motivasi , muli dari teori kebutuhan, Teori keadilan, Teori harapan. Benang merah dari semua tori tersebut adalah: Tak  mungkin ada perbuatan yang terjadi tanpa dilandasi motivasi apapun.

Menurut Asep Ridrid Niat jika disejajarkan lebih tinggi daripada motivasi karena motivasi seorang muslim harus timbul karena niat pada Allah. Pada prakteknya kata motivasi dan niat hampir sama, karena keduanya dapat   dipakai dengan arti yang sama, yaitu bisa kebutuhan (need), desakan (urge), keinginan (wish), dorongan (drive) atau kekuatan (strength).

Abdul Hamid Mursi menerangkan motivasi dalam perspektif Islam sebagai berikut:

1. Motivasi fisiologis

Allah telah memberikan ciri-ciri khusus pada setiap makhluk sesuai dengan fungsi-fungsinya. Diantara cirri-ciri khusus terpenting dalam tabiat penciptaan hewan dan manusia adalah motivasi fisiologis. Studi-studi fisiologis menjelaskan adanya kecenderungan alami dalam tubuh manusia unutk menjaga keseimbangan secara permanen. Bila keseimbangan itu lenyap maka timbul motivasi untuk melakukan aktivitas yang bertujuan mengembalikan keseimbangan tubuh seperti semula.

a. Motivasi Menjaga Diri

Allah SWT menyebutkan pada sebagian ayat Al-Quran tentang motivasi-motivasi fisiologis terpenting yang berfungsi menjaga individu dan kelangsungan hidupnya. Misalnya lapar, dahaga, bernapas dan rasa sakit. Secara tersirat dalam Surat Thaha ayat 117-121 tiga motivasi terpenting untuk menjaga diri dari lapar, haus, terik matahari, cinta kelangsungan hidup, ingin berkuasa. Sebagian ayat al-Qur’an menunjukkan pentingnya motivasi memenuhi kebutuhan perut dan perasaan takut dalam kehidupan.

b. Motivasi Menjaga Kelangsungan Jenis

Allah menciptakan motivasi-motivasi dasar yang merangsang manusia untuk menjaga diri yang mendorongnya menjalankan dua hal terpenting yakni motivasi seksual dan rasa keibuan. Motivasi seksual merupakan dasar pembentukan keluarga dan dalam penciptaan kaum wanita Allah menganugerahi motivasi dasar untuk melakukan misi penting yaitu melahirkan anak-anak. Al-Quran mengambarkan betapa beratnya seorang ibu mengandung dan merawat anaknya.

2. Motivasi Psikologis atau Sosial

a. Motivasi Kepemilikan

Motivasi memiliki merupakan motivasi psikologis yang dipelajari manusia di tengah pertumbuhan sosialnya, di dalam fase pertumbuhan, berkembang kecenderungan individu untuk memiliki, berusaha mengakumulasi harta yang dapat memenuhi kebutuhan dan jaminan keamanan hingga masa yang akan datang.

Harta mempunyai peranan dalam memenuhi kebutuhan manusia. Urutan pemuasan kebutuhan tersebut sebagai berikut :

1) Kebutuhan pangan dan papan

2) Kebutuhan kesehatan dan pendidikan

3) Kebutuhan bagi kelengkapan hidup

4) Kebutuhan posisi, status dan pengaruh sosial

b. Motivasi Berkompetensi

Berkompetensi (berlomba-lomba) merupakan dorongan psikologis yang diperoleh dengan mempelajari lingkungan dan kultur yang tumbuh di dalamnya. Manusia biasa berkompetensi dalam ekonomi, keilmuan, kebudayaan, sosial dan sebagainya. Al-Quran menganjurkan manusia agar berkompetensi dalam ketakwaan, amal shaleh, berpegang pada prinsip-prinsip kemanusiaan, dan mengikuti manhaj Ilahi dalam hubungan dengan sang pencipta dan sesama manusia sehingga memperoleh ampunan dan keridhan Allah SWT.

c. Motivasi Kerja

Motivasi kerja dimiliki oleh setiap manusia, tetapi ada sebagian orang yang lebih giat bekerja daripada yang lain. Kebanyakan orang mau bekerja lebih keras jika tidak menemui hambatan merealisasikan apa yang diharapkan. Selama dorongan kerja itu kuat, semakin besar peluang individu untuk lebih konsisten pada tujuan kerja. Ada juga yang menyukai dorongan kerja tanpa mengharapkan imbalan, sebab ia menemukan kesenangan dan kebahagiaan dalam perolehan kondisi yang dihadapi dan dalam mengatasi situasi yang sulit.

C.     Cara-Cara Memotivasi Belajar anak

ª      Pemberian penghargaan atau Ganjaran

Teknik ini dianggap berhasil bila menumbuhkembangkan minat siswa. Minat adalah perasaan seseorang bahwa apa yang dipelajari atau dilakukannya bermakna bagi dirinya.

Pemberian penghargaan dapat membangkitkan minta anak untuk mempelajari atau mengerjakan sesuatu. Tujuan pemberian penghargaan adalah membangkitkan atau mengembangkan minat. Jadi, penghargaan berperan untuk membuat pendahuluan saja. Penghargaan adalah alat, bukan tujuan. Tujuan pemnberian penghargaan dalam belajar adalah bahwa setelah seseorang menerima penghargaan karena telah melakukan kegiatan belajar dengan baik, ia akan terus melakukan kegiatan belajarnya sendiri diluar kelas.

ª      Pemberian Angka atau Grade

Apbila pemberian angka atau grade didasarkan atas pernbandingan interpersonal dalam prestasi akademis, hal ini akan menimbulkan dua hal : anak yang mendapat angka baik dan anak yang mendapat angka jelek. Pada anak yang mendapat angka jelek mungkin akan berkembang rasa rendah diri dan tak ada semangat terhadap pekerjaan sekolah.

Dalam hubungan ini Williams Glasser dalam Schools without follure (1969), “karena grade atau angka itu lebih banyak menekankan kegagalan daripada keberhasilan, dan karena kegagalan itu merupakan dasar bagi timbulnya masalah-masalah, maka saya menyarankan sistem pelaporan kemajuan sisdwa yang keseluruhannya menghilangkan kegagalan. Saya menyarankan jangan ada siswa yang tergolong gagal ataui hal-hakl yang menyebabkan ia merasa gagal dengan adanya sistemn angka”.

ª      Keberhasilan dan Tingkat Aspirasi

Isitilah “tingkat aspirasi” menunjuk kepada tingkat pekerjaan yang diharapkan pada masa depan berdasarkan keberhasilan atau kegagalan dalam tugas-tugas yang mendahuluinya. Konsep ini berkaitan erat dengan konsep seseorang tentang dirinya danm kekuatan-kekuatnnya.

Menurut Smith, apa yang dicita-citakan seseorang untuk dikerjakan pada masa datang bergantung pada mpengamatannya tentsang apa-apa yang mungkin baginya. Menurut Borow, tingkat aspirasi banyak bergantung pada intelegensi, status sosial-ekonomi, hubungan, dan harapan orang tua. Akan tetapi, faktor yang paling kuat adalah perbandingan besar-kecilnya (proporsi) pengalaman tentang keberhasilan dan kegagalan.

Dalam hubungan ini guru dapat menggunakan prinsip bahwa tujuan-tujuan harus dapat dicapai dan para siswa merasa bahwa mereka akan mampu mencapainya.

ª      Pemberian pujian

Teknik lain untuk memberikan motivasi adalah pujian. Namun, harus diingat bahwa efek pujian itu bergantunmg pada siapa yang memberi pujian dan siapa yang menerima pujian itu. Para siswa yang sangat membutuhkan keselamatan dan harga diri, mengalamin kecemasan, dan merasa bergantungb kepada orang lain akan responsif terhadap pujian. Pujian dapat ditunjukkan baik secara verbal maupun secarav nonverbal. Dalam bentuk nonverbal misalnya anggukan kepala, senyuman atau tepukan bahu.

ª      Kompetisi dan Kooperasi

Persaingan merupakan insentif pada kondisi-kondisi tertentu, tetapi dapat merusak pada kondisi yang lain. Dalam kompetisi itu harus terdapat kesepakatan yang sama untuk menang. Kompetisi harus mengandung suatu tingkat kesamaan dalam sifat-sifat para peserta.

Ada tiga jenis persaingan yang efektif :

1.      Kompetesi interpersonal antara teman-teman sebaya sering menimbulkan semangat persaingan.

2.      Kompetisi kelompok dimana setiap anggota dapat memberikan sumbangan dan terlibat didalam keberhasilan kelompok merupakan motivasi yang sangat kuat.

3.      Kompetesi dengan diri sendiri, yaitu dengan catatan tentang prestasi terdahulu, dapat merupakan motivasi yang efektif.

Adapun kebutuhan akan realisasi diri, diterima oleh kelompok, dan kebutuhan akan rasa aman dan keselamatan dapat lebih banyak dipenuhi dengan cara kera sama. Menurut Lowry dan Rankin (1969), kerja sama adalah fungsi utama dan meruapakan bentuk yang paling dasar dari hubungan-hubungan antar kelompok.

ª      Pemberian Harapan

Harapan selalu mengacu kedepan. Artinya, jika seseorang berhasil melaksanakan tugasnya atau berhasil dalam kegiatan belajarnya, dia dapat memperoleh dan mencapai harapan-harapan yang telah diberikann kepadanya sebelumnya. Itu sebabnya pemberian harapan kepada siswa dapat menggugah minat dan motivasi belajar asalkan siswa yakin bahwa harapannya bakal terpenuhi kelak. Harapan itu dapat merupakan hadiah, kedudukan, nama baik, atau sejenisnya. Sebaliknya, cara itu tidak mengahasilkan apa-apa jika guru tidak memenuhi harapan yang pernah diberikannya kepada siswa.[8]

D.    Peranan Motivasi Dalam Kehidupan

Allah berfirman dalam Al-Quran:

“Sesungguhnya Allah tidak mengubah keadaan suatu kaum sehingga mereka mengubah keadaan yang ada pada diri mereka sendiri” (Ar-Ra’d: 11)

Dari ayat di atas kita bisa mengambil kesimpulan bahwa ternyata motivasi yang paling kuat adalah dari diri seseorang. Motivasi sangat berpengaruh dalam gerak-gerik seseorang dalam setiap tindak-tanduknya.

Dalam kaitannya dengan tingkah laku keagamaan motivasi tersebut penting untuk dibicarakan dalam rangka mengetahui apa sebenarnya latar belakang suatu tingkah laku keagaman yang dikerjakan seseorang. Disini peranan  motivasi itu sangat besar artinya dalam bimbingan dan mengarahkan seseorang terhadap tingkah laku keagamaan. Namun demikian ada motivasi  tertentu yang sebenarnya timbul dalam diri manusia karena terbukanya hati manusia terhadap hidayah Allah. Sehingga orang tersebut menjadi orang yang beriman dan kemudian dengan iman itulah ia lahirkan tingkah laku keagaman.

Ada beberapa peran motivasi dalam kehidupan manusia sangat banyak, diantaranya:

  1. Motivasi sebagai pendorong manusia dalam melakukan sesuatu, sehingga menjadi unsur penting dan tingkah laku atau tindakan manusia
  2. Motivasi bertujuan untuk menentukan arah dan tujuan
  3. Motivasi berpungsi sebagai penguji sikap manusia dalam beramal benar atau salah sehingga bisa dilihat kebenarannya dan kesalahanya
  4. Motivasi berfungsi sebagai penyeleksi atas perbuatan yang akan dilakukan oleh manusia baik atau buruk. Jadi motivasi itu berfungsi sebagai pendorong, penentu, penyeleksi dan penguji sikap manusia dalam kehidupanya.

 

 

BAB III

PENUTUP

SIMPULAN

Istilah motivasi menunjuk kepada semua gejala yang terkandung dalam stimulasi tindakan kearah tindakan kearah tujuan tertentu dimana sebelumnya tidak ada gerakan menuju kearah tujuan tersebut. Motivasi dapat berupa dorongan-dorongan dasar atau internal dan insentif diluar diri individu atau hadiah. Sebagai suatu masalah didalam kelas, motivasi adalah proses membangkitkan, mempertahankan, dan mengontrol minat-minat.

 

 

 

 

 

 

 

 

 

 

 

 

 

 

 

 

 

DAFTAR PUSTAKA

El-Fiky, Ibrahim El-Fiky, 10 Kesys  To Ultimate Sucsses,Terj Bagus Dewanto, Jakarta:          Tugu Publisher, 2011,Hal 11,12,13 Dengan Sedikit Perubahan.

Hamzah B. Uno, M.Pd., Dr., Teori Motivasi & Pengukurannya, Jakarta: PT Bumi     Aksara, 2009.

M. Ngalim Purwanto. M. P., Drs.,  Psikologi Pendidikan, Bandung: PT Remaja          Rosdakarya,     1995.

Oemar Hamalik, Dr., Psikologi Belajar dan Mengajar , Bandung: Sinar Baru Algensindo,     2002.  

Romli Mustofa,Sepak Bola Kehidupan, Bandung: Simbiosa Rekatama Media, 2012

Syaiful Bahri Djamarah, Drs., Psikologi Belajar, Jakarta: Rineka Cipta, 2008.

Wade, Carol, Tavris, Carol., Psikologi: Jilid 2, Jakarta: Erlangga, 2007.

 

 

 

 

 

 

 

 

 

 

 

 

 



[1] Dr. Oemar Hamalik, Psikologi Belajar dan Mengajar ,( Bandung : Sinar Baru Algensindo,2002). h. 173

[2] Drs. M. Ngalim Purwanto. M. P. Psikologi Pendidikan, (Bandung : PT REMAJA ROSDAKARYA, 1995) h. 77

[3] Dr. Oemar Hamalik, Psikologi Belajar dan Mengajar ,( Bandung : Sinar Baru Algensindo,2002).. 177-178

[4] Drs. M. Ngalim Purwanto. M. P. Op. Cit, h. 78-80

[5] Ibrahim El-Fiky, 10 Kesys  To Ultimate Sucsses,Terj Bagus Dewanto, Jakarta: Tugu Publisher, 2011,Hal 11,12,13 Dengan Sedikit Perubahan.

[6] Ibid, ringkasan halaman 14-24.

[7] Romli Mustofa,Sepak Bola Kehidupan, Bandung: Simbiosa Rekatama Media, 2012, Hal 28.

 

[8] Dr. Oemar Hamalik, h. 184-186


Tidak ada komentar:

Posting Komentar