BAB I
PENDAHULUAN
A.
LATAR BELAKANG
Istilah motivasi menunjuk kepada semua gejala yang terkandung dalam
stimulasi tindakan kearah tindakan kearah tujuan tertentu dimana sebelumnya
tidak ada gerakan menuju kearah tujuan tersebut. Motivasi dapat berupa dorongan-dorongan
dasar atau internal dan insentif diluar diri individu atau hadiah. Sebagai
suatu masalah didalam kelas, motivasi adalah proses membangkitkan,
mempertahankan, dan mengontrol minat-minat.
Secara umum tujuan motivasi adalah untuk menggerakkan atau
menggugah seseorang agar timbul keinginan dan kemauannya untuk melakukan
sesuatu, sehingga dapat memperoleh hasil atau mencapai tujuan tertentu. [1]
B.
Rumusan Masalah
1.
Apa teori motivasi Abraham Maslow?
2.
Apa yang dimaksud teori motivasi menurut Islam ?
3.
Bagaimana cara-cara memotivasi belajar Anak ?
C.
Tujuan Penulisan
1.
Mengetahui teori Motivasi Abraham Maslow.
2.
Mengetahu teori motivasi menurut Islam.
3.
Mengetahui cara-cara memotivasi belajar anak.
BAB II
PEMBAHASAN
TEORI MOTIVASI BELAJAR
A.
Teori Motivasi Abraham Maslow
Sebagai seorang pakar psikologi, Maslow mengemukakan adanya lima
tingkatan kebutuhan pokok manusia. Kelima tingkatan kebutuhan inilah yang
kemudian dijadikan pengertian kunci dalam mempelajari motivasi manusia. Adapun
kelima tingkatan pokok yang dimaksud adalah sebagai berikut :
1.
Kebutuhan fisiologis : kebutuhan ini merupakan kebutuhan dasar, yang bersifat primer
dan vital, yang menyangkutfungsi-fungsi biologis dasar dari organisme manusia
seperti kebutuhan akan pangan, sandang dan papan, kesehatan fisik, kebutuhan
seks, dan sebagainya.
2.
Kebutuhan rasa aman dan perlindungan (safety and security) seperti terjamin keamanannya, terlindung
dari bahaya dan ancaman penyakit, kemiskinan, kelaparan, perlakuan tidak adil ,
dsb.
3.
Kebutuhan sosial (social Needs) yang meliputi antara lain kebutuhan akan dicintai,
diperhitungkan sebagai pribadi, diakui sebagai anggota kelompok, rasa setia
kawan, kerjasama.
4.
Kebutuhan akan penghargaan (esteem needs), termasuk kebutuhan dihargai karena prestasi,
kemampuan, kedudukan atau status, pangkat, dan sebagainya.
5.
Kebutuhan akan aktualisasi diri (self actualization) seperti antara lain kebutuhan mempertinggi
potensi-potensi yang dimiliki, pengembangan diri secara maksimum, kreatifitas,
danm ekspresi diri.[2]
Seperti kita ketahui setiap individu memiliki potensi atau bakat masing-masing
yang terkandung didalam dirinya. Anak dengan bakat atletik akan banyak
melakukan latihan. Anak yang berbakat musik akan berlatih dengan bersemangat.
Kalau seseorang mempelajari sesuatu yang sesuai dengan bakat dan minatnya, ia
akan belajar dengan kehendaknya sendiri.
Penekanan
terhadap aktualisasi diri berarti pengenalan terhadap kecenderungan heterostatik dari organisme manusia,
yaitu dorongan untuk tumbuh, untuk menjadi dan untuk belajar.[3]
Tingkatan atau hirarki kebutuhan dari Maslow ini tidak dimaksud
sebagai suatu yang dapat dipakai setiap saat, tetapi lebih merupakan acuan yang
dapat digunakan sewaktu-weaktu bila mana diperlukan untuk memprakirakan tingkat
kebutuhan mana yang mendorong seseorang_yang akan dimotivasi_bertindak
melakukan sesuatu.
Didalam kehidupan sehari-hari kita dapat mengamati bahwa kebutuhan
manusia itu berbeda-beda. Faktor-faktor yang mempengaruhi adanya perbedaan
tingkat kebutuhan itun antara lain latar belakang pendidikan, tinggi rendahnya
kedudukan, pengalaman masa lampau, pandangan atau falsafah hidup, cita-cita dan
harapan masa depan, dari tiap individu.
Berdasarkan urutan tingkat kebutuhan menurut teori Maslow,
kehidupan tiap manusia dapat dijelaskan sebagai berikut : pada mulanya
kebutuhan manusia yang paling mendesak adalah kebutuhan fisiologis seperti
pangan, sandang, papan, dan kesehatan. Jika kebutuhan-kebutuhan berikutnya yang
mendesak ialah kebutuhan akan rasa aman dan terlindung. Apabila kebutuhan
inipun terpenuhi sehingga tidak dirasakan lagi sebagai kebutuhan yang mendesak,
maka timbul kebutuhan berikutnya yang dirasakan merndesak, yaitu kebutuhan
sosial seperti ingin masuk organisasi kemasyarakatan, ikut aktif dalam
perkumpulan arisan keluarga, dan sebagainya. Jika kebutuhan sosial inipun telah
dapat terpenuhi sdehingga tidak terasa lagi sebagai kebutuhan mendesak, yaitu
kebutuhan akan penghargaan atau prestasi. Demikian seterusnya sampai kepada
tingkat kebutuhan aktualisasi diri : ingin menjadi oranmg yang ternama,
terkenal diseluruh Negara atau dunia.
Proses kehidupan manusia itu
berbeda-beda dan tidak selalu menuruti garis lurus yang meningkat.
Kadang-kadang melompat dari tingkat kebutuhan tertentu ketingkat kebutuhan lain
dengan melampaui tingkat yang berada diatasnya.
Perlu kiranya dikemukakan disini bahwa meskipun teori tingkatan
kebutuhan dari Maslow ini secara luas telah diterima sangat sedikit adanya
bukti-bukti penelitian yang menyokong teori tersebut. Ahli-ahli psikologi lain
yang mengembangkanteori Maslow dan kemudian mengemukakan adanya beberapa teori
motivasi, antara lain ialah Lyman W, Porter, Clyton P. Alderfer, Frederick
Herzberg, dan Victor Vroom.[4]
B.
Pandangan Motivasi Menurut Beberapa Tokoh Islam
Ibrahim
el-fiky, dalam bukunya menyebutkan bahwa
ketika seseorang memiliki motivasi dan dorongan psikologi maka semangat akan
lebih banyak kemampuan akan lebih besar dan pengetahuan akan lebih baik.
Sebaliknya, jika semangat lemah maka sorang itu tidak akan memiliki kemampuan
dan konsentrasi hanya bertuju untuk hal negatif saja. Maka pekerjaan pun jadi
jelek.[5]
Ada 3 jenis
motivasi[6]
menurut Ibrahim El-fiky:
- Motivasi hidup
Motivasi
hiduplah mendorong manusia untuk kebutuhan primernya, misalnya
makanan, air, dan udara jika kebutuhan primer kurang maka ada motivasi dasar
didalam dirinya yang mengingatkan syarafnya di otak tentang kehususan-kehususan
tentang kekurangan ini yang akan mendorong seseorang untuk semangat
berkerja demi memenuhi kekurangan ini.
2.
Motivasi
Eksternal
Motivasi ini
berasal dari eksternal seperti motivator ulung , atau teman-teman, anggota
keluarga, majalah-majalah, buku, atau para pemimpin kita di kantor. Namun
motivasi ini cepat hilangnya
3.
Motivasi
Internal
Jenis
motivasi ini paling kuat dan paling lama tahanya. Karena dengan motivasi
internal kita bisa mengendalikan kekuatan internal yang akan menuntun kita
untuk mewujudkan pencapaian-pencapian besar.
Motivasi
kuat untuk hidup sukses bahagia, sejahtra, dewasa, bermakna dan unggul akan
mengerakan kita untuk selalu besikap hidup positip dan produktif.[7]
Motivasi
sebenarnya sangat menentukan kwalitas perbutan kita setiap perbutan pasti
didasari motivasi tertentu. Teori –teori dasar dalam SDM semuanya mengenai
motivasi , muli dari teori kebutuhan, Teori keadilan, Teori harapan. Benang
merah dari semua tori tersebut adalah: Tak mungkin ada perbuatan yang
terjadi tanpa dilandasi motivasi apapun.
Menurut Asep
Ridrid Niat jika disejajarkan lebih tinggi daripada motivasi karena motivasi
seorang muslim harus timbul karena niat pada Allah. Pada prakteknya kata
motivasi dan niat hampir sama, karena keduanya dapat dipakai dengan
arti yang sama, yaitu bisa kebutuhan (need), desakan (urge), keinginan (wish),
dorongan (drive) atau kekuatan (strength).
Abdul Hamid Mursi menerangkan
motivasi dalam perspektif Islam sebagai berikut:
1. Motivasi fisiologis
Allah telah
memberikan ciri-ciri khusus pada setiap makhluk sesuai dengan fungsi-fungsinya.
Diantara cirri-ciri khusus terpenting dalam tabiat penciptaan hewan dan manusia
adalah motivasi fisiologis. Studi-studi fisiologis menjelaskan adanya
kecenderungan alami dalam tubuh manusia unutk menjaga keseimbangan secara
permanen. Bila keseimbangan itu lenyap maka timbul motivasi untuk melakukan
aktivitas yang bertujuan mengembalikan keseimbangan tubuh seperti semula.
a. Motivasi Menjaga Diri
Allah SWT
menyebutkan pada sebagian ayat Al-Quran tentang motivasi-motivasi fisiologis
terpenting yang berfungsi menjaga individu dan kelangsungan hidupnya. Misalnya
lapar, dahaga, bernapas dan rasa sakit. Secara tersirat dalam Surat Thaha ayat
117-121 tiga motivasi terpenting untuk menjaga diri dari lapar, haus, terik
matahari, cinta kelangsungan hidup, ingin berkuasa. Sebagian ayat al-Qur’an
menunjukkan pentingnya motivasi memenuhi kebutuhan perut dan perasaan takut
dalam kehidupan.
b. Motivasi Menjaga Kelangsungan
Jenis
Allah
menciptakan motivasi-motivasi dasar yang merangsang manusia untuk menjaga diri
yang mendorongnya menjalankan dua hal terpenting yakni motivasi seksual dan
rasa keibuan. Motivasi seksual merupakan dasar pembentukan keluarga dan dalam
penciptaan kaum wanita Allah menganugerahi motivasi dasar untuk melakukan misi
penting yaitu melahirkan anak-anak. Al-Quran mengambarkan betapa beratnya seorang
ibu mengandung dan merawat anaknya.
2. Motivasi Psikologis atau Sosial
a. Motivasi Kepemilikan
Motivasi
memiliki merupakan motivasi psikologis yang dipelajari manusia di tengah
pertumbuhan sosialnya, di dalam fase pertumbuhan, berkembang kecenderungan individu
untuk memiliki, berusaha mengakumulasi harta yang dapat memenuhi kebutuhan dan
jaminan keamanan hingga masa yang akan datang.
Harta
mempunyai peranan dalam memenuhi kebutuhan manusia. Urutan pemuasan kebutuhan
tersebut sebagai berikut :
1) Kebutuhan pangan dan papan
2) Kebutuhan kesehatan dan
pendidikan
3) Kebutuhan bagi kelengkapan hidup
4) Kebutuhan posisi, status dan
pengaruh sosial
b. Motivasi Berkompetensi
Berkompetensi
(berlomba-lomba) merupakan dorongan psikologis yang diperoleh dengan mempelajari
lingkungan dan kultur yang tumbuh di dalamnya. Manusia biasa berkompetensi
dalam ekonomi, keilmuan, kebudayaan, sosial dan sebagainya. Al-Quran
menganjurkan manusia agar berkompetensi dalam ketakwaan, amal shaleh, berpegang
pada prinsip-prinsip kemanusiaan, dan mengikuti manhaj Ilahi dalam hubungan
dengan sang pencipta dan sesama manusia sehingga memperoleh ampunan dan
keridhan Allah SWT.
c. Motivasi Kerja
Motivasi
kerja dimiliki oleh setiap manusia, tetapi ada sebagian orang yang lebih giat
bekerja daripada yang lain. Kebanyakan orang mau bekerja lebih keras jika tidak
menemui hambatan merealisasikan apa yang diharapkan. Selama dorongan kerja itu
kuat, semakin besar peluang individu untuk lebih konsisten pada tujuan kerja.
Ada juga yang menyukai dorongan kerja tanpa mengharapkan imbalan, sebab ia
menemukan kesenangan dan kebahagiaan dalam perolehan kondisi yang dihadapi dan
dalam mengatasi situasi yang sulit.
C.
Cara-Cara Memotivasi Belajar anak
ª Pemberian penghargaan atau Ganjaran
Teknik ini dianggap berhasil bila menumbuhkembangkan minat siswa.
Minat adalah perasaan seseorang bahwa apa yang dipelajari atau dilakukannya
bermakna bagi dirinya.
Pemberian penghargaan dapat membangkitkan minta anak untuk
mempelajari atau mengerjakan sesuatu. Tujuan pemberian penghargaan adalah
membangkitkan atau mengembangkan minat. Jadi, penghargaan berperan untuk
membuat pendahuluan saja. Penghargaan adalah alat, bukan tujuan. Tujuan
pemnberian penghargaan dalam belajar adalah bahwa setelah seseorang menerima
penghargaan karena telah melakukan kegiatan belajar dengan baik, ia akan terus
melakukan kegiatan belajarnya sendiri diluar kelas.
ª Pemberian Angka atau Grade
Apbila pemberian angka atau grade didasarkan atas pernbandingan
interpersonal dalam prestasi akademis, hal ini akan menimbulkan dua hal : anak
yang mendapat angka baik dan anak yang mendapat angka jelek. Pada anak yang
mendapat angka jelek mungkin akan berkembang rasa rendah diri dan tak ada
semangat terhadap pekerjaan sekolah.
Dalam hubungan ini Williams Glasser dalam Schools without follure
(1969), “karena grade atau angka itu lebih banyak menekankan kegagalan daripada
keberhasilan, dan karena kegagalan itu merupakan dasar bagi timbulnya
masalah-masalah, maka saya menyarankan sistem pelaporan kemajuan sisdwa yang keseluruhannya
menghilangkan kegagalan. Saya menyarankan jangan ada siswa yang tergolong gagal
ataui hal-hakl yang menyebabkan ia merasa gagal dengan adanya sistemn angka”.
ª Keberhasilan dan Tingkat Aspirasi
Isitilah “tingkat aspirasi” menunjuk kepada tingkat pekerjaan yang
diharapkan pada masa depan berdasarkan keberhasilan atau kegagalan dalam
tugas-tugas yang mendahuluinya. Konsep ini berkaitan erat dengan konsep
seseorang tentang dirinya danm kekuatan-kekuatnnya.
Menurut Smith, apa yang dicita-citakan seseorang untuk dikerjakan
pada masa datang bergantung pada mpengamatannya tentsang apa-apa yang mungkin
baginya. Menurut Borow, tingkat aspirasi banyak bergantung pada intelegensi,
status sosial-ekonomi, hubungan, dan harapan orang tua. Akan tetapi, faktor yang
paling kuat adalah perbandingan besar-kecilnya (proporsi) pengalaman tentang
keberhasilan dan kegagalan.
Dalam hubungan ini guru dapat menggunakan prinsip bahwa
tujuan-tujuan harus dapat dicapai dan para siswa merasa bahwa mereka akan mampu
mencapainya.
ª Pemberian pujian
Teknik lain untuk memberikan motivasi adalah pujian. Namun, harus
diingat bahwa efek pujian itu bergantunmg pada siapa yang memberi pujian dan
siapa yang menerima pujian itu. Para siswa yang sangat membutuhkan keselamatan
dan harga diri, mengalamin kecemasan, dan merasa bergantungb kepada orang lain
akan responsif terhadap pujian. Pujian dapat ditunjukkan baik secara verbal
maupun secarav nonverbal. Dalam bentuk nonverbal misalnya anggukan kepala,
senyuman atau tepukan bahu.
ª Kompetisi dan Kooperasi
Persaingan merupakan insentif pada kondisi-kondisi tertentu, tetapi
dapat merusak pada kondisi yang lain. Dalam kompetisi itu harus terdapat
kesepakatan yang sama untuk menang. Kompetisi harus mengandung suatu tingkat
kesamaan dalam sifat-sifat para peserta.
Ada tiga jenis persaingan yang efektif :
1.
Kompetesi interpersonal antara teman-teman sebaya sering
menimbulkan semangat persaingan.
2.
Kompetisi kelompok dimana setiap anggota dapat memberikan sumbangan
dan terlibat didalam keberhasilan kelompok merupakan motivasi yang sangat kuat.
3.
Kompetesi dengan diri sendiri, yaitu dengan catatan tentang
prestasi terdahulu, dapat merupakan motivasi yang efektif.
Adapun kebutuhan akan realisasi diri, diterima oleh kelompok, dan
kebutuhan akan rasa aman dan keselamatan dapat lebih banyak dipenuhi dengan
cara kera sama. Menurut Lowry dan Rankin (1969), kerja sama adalah fungsi utama
dan meruapakan bentuk yang paling dasar dari hubungan-hubungan antar kelompok.
ª Pemberian Harapan
Harapan selalu mengacu kedepan. Artinya, jika seseorang berhasil
melaksanakan tugasnya atau berhasil dalam kegiatan belajarnya, dia dapat
memperoleh dan mencapai harapan-harapan yang telah diberikann kepadanya
sebelumnya. Itu sebabnya pemberian harapan kepada siswa dapat menggugah minat dan
motivasi belajar asalkan siswa yakin bahwa harapannya bakal terpenuhi kelak.
Harapan itu dapat merupakan hadiah, kedudukan, nama baik, atau sejenisnya.
Sebaliknya, cara itu tidak mengahasilkan apa-apa jika guru tidak memenuhi
harapan yang pernah diberikannya kepada siswa.[8]
D.
Peranan
Motivasi Dalam Kehidupan
Allah berfirman dalam Al-Quran:
“Sesungguhnya Allah tidak mengubah
keadaan suatu kaum sehingga mereka mengubah keadaan yang ada pada diri mereka
sendiri” (Ar-Ra’d: 11)
Dari ayat di
atas kita bisa mengambil kesimpulan bahwa ternyata motivasi yang paling kuat
adalah dari diri seseorang. Motivasi sangat berpengaruh dalam gerak-gerik
seseorang dalam setiap tindak-tanduknya.
Dalam
kaitannya dengan tingkah laku keagamaan motivasi tersebut penting untuk dibicarakan
dalam rangka mengetahui apa sebenarnya latar belakang suatu tingkah laku
keagaman yang dikerjakan seseorang. Disini peranan motivasi itu sangat
besar artinya dalam bimbingan dan mengarahkan seseorang terhadap tingkah laku
keagamaan. Namun demikian ada motivasi tertentu yang sebenarnya timbul
dalam diri manusia karena terbukanya hati manusia terhadap hidayah Allah.
Sehingga orang tersebut menjadi orang yang beriman dan kemudian dengan iman
itulah ia lahirkan tingkah laku keagaman.
Ada beberapa
peran motivasi dalam kehidupan manusia sangat banyak, diantaranya:
- Motivasi sebagai pendorong manusia dalam
melakukan sesuatu, sehingga menjadi unsur penting dan tingkah laku atau
tindakan manusia
- Motivasi bertujuan untuk menentukan arah dan
tujuan
- Motivasi berpungsi sebagai penguji sikap manusia
dalam beramal benar atau salah sehingga bisa dilihat kebenarannya dan
kesalahanya
- Motivasi berfungsi sebagai penyeleksi atas
perbuatan yang akan dilakukan oleh manusia baik atau buruk. Jadi motivasi
itu berfungsi sebagai pendorong, penentu, penyeleksi dan penguji sikap
manusia dalam kehidupanya.
BAB III
PENUTUP
SIMPULAN
Istilah motivasi menunjuk kepada semua gejala yang terkandung dalam
stimulasi tindakan kearah tindakan kearah tujuan tertentu dimana sebelumnya tidak
ada gerakan menuju kearah tujuan tersebut. Motivasi dapat berupa
dorongan-dorongan dasar atau internal dan insentif diluar diri individu atau
hadiah. Sebagai suatu masalah didalam kelas, motivasi adalah proses
membangkitkan, mempertahankan, dan mengontrol minat-minat.
DAFTAR PUSTAKA
El-Fiky, Ibrahim
El-Fiky, 10 Kesys To Ultimate Sucsses,Terj Bagus Dewanto, Jakarta:
Tugu Publisher, 2011,Hal 11,12,13
Dengan Sedikit Perubahan.
Hamzah B. Uno,
M.Pd., Dr., Teori Motivasi & Pengukurannya, Jakarta: PT Bumi Aksara, 2009.
M. Ngalim Purwanto. M. P., Drs.,
Psikologi Pendidikan, Bandung:
PT Remaja Rosdakarya, 1995.
Oemar Hamalik, Dr., Psikologi
Belajar dan Mengajar , Bandung: Sinar Baru Algensindo, 2002.
Romli Mustofa,Sepak Bola
Kehidupan, Bandung: Simbiosa Rekatama Media, 2012
Syaiful Bahri
Djamarah, Drs., Psikologi Belajar, Jakarta: Rineka Cipta, 2008.
Wade, Carol, Tavris, Carol., Psikologi: Jilid 2, Jakarta: Erlangga,
2007.
[1] Dr. Oemar
Hamalik, Psikologi Belajar dan Mengajar
,( Bandung : Sinar Baru Algensindo,2002). h. 173
[2] Drs. M. Ngalim
Purwanto. M. P. Psikologi Pendidikan,
(Bandung : PT REMAJA ROSDAKARYA, 1995) h. 77
[3] Dr. Oemar
Hamalik, Psikologi Belajar dan Mengajar
,( Bandung : Sinar Baru Algensindo,2002).. 177-178
[4] Drs. M. Ngalim
Purwanto. M. P. Op. Cit, h. 78-80
[5] Ibrahim El-Fiky, 10
Kesys To Ultimate Sucsses,Terj Bagus Dewanto, Jakarta: Tugu
Publisher, 2011,Hal 11,12,13 Dengan Sedikit Perubahan.
[6] Ibid, ringkasan halaman 14-24.
[7] Romli
Mustofa,Sepak Bola Kehidupan, Bandung: Simbiosa Rekatama Media, 2012,
Hal 28.
[8] Dr. Oemar
Hamalik, h. 184-186
Tidak ada komentar:
Posting Komentar