Rabu, 15 Juli 2020

EMPIRISME, POSITIVISME DAN PRAGMATISME

BAB I

PENDAHULUAN

A.     Latar Belakang

Tidak dapat dipungkiri, zaman filsafat modern telah dimulai. Secara historis, zaman modern dimulai sejak adanya krisi zaman pertengahan selama dua abad (abad ke-14 dan ke-15), yang ditandai munculnya Renaissance. Renaissance berarti kelahiran kembali, yang mengacu kepada gerakan keagamaan dan kemasyarakatan yang bermula di Italia (pertengahan abad ke-14). Tujuan utamanya adalah merealisasikan kesempurnaan pandangan hidup Kristiani dengan mengaitkan filsafat Yunani dengan ajaran agama kristen. Selain itu, juga dimaksudkan untuk mempersatukan kembali gereja yang terpecah-pecah.

Disamping itu, para humanis bermaksud meningkatkan suatu perkembangan yang harmonis dari keahlian-keahlian dan sifat-sifat alamiah manusia dengan mengupayakan kepustakaan yang baik dan mengikuti kultur klasik.

Untuk lebih jelasnya dapat dilihat dalam pembahasan makalah ini yang telah kami sajikan. Namun, dalam makalah ini kami tidak membahas semua aliran-aliran filsafat modern. Kami hanya menjelaskan tentang tiga (3) aliran filsafat, yaitu: empirisme, positivisme dan pragmatisme.

B.     Rumusan Masalah

1.      Apa pengertian dari empirisme, positivisme dan pragmatisme?

2.      Siapa tokoh-tokoh ketiga aliran filsafat tersebut?

3.      Bagaimana pemikiran-pemikiran dalam ketiga aliran filsafat tersebut?

C.     Tujuan

1.      Mengetahui pengertian dari empirisme, positivisme dan pragmatisme.

2.      Mengetahui tokoh-tokoh ketiga aliran filsafat tersebut.

3.      Mengetahui pemikiran-pemikiran dalam ketiga aliran filsafat tersebut.

 

 

 

 

 

 

 

 

 

 

 

 

 

 

 

 

 

 

 

 

BAB II

PEMBAHASAN

EMPIRISME, POSITIVISME DAN PRAGMATISME

A.    EMPIRISME

Empirisme adalah salah satu aliran dalam filosuf yang menekankan pengalaman dalam memperoleh pengetahuan serta pengetahuan itu sendiri, dan mengecilkan peranan akal. Istilah Empirisme diambil dari bahasa yunani empiria yang berarti coba-coba atau pengalaman. Aliran ini menegaskan bahwa pengetahuan manusia berdasarkan pengalaman. Atau meminjam kata-kata John Locke, salah satu tokohnya; “Manusia itu ibarat tabula rasa yang nantinya akan diwarnai oleh keadaan eksternalnya”. Dan Empirisme adalah lawan Rasionalisme.

         Filsafat empirisme tentang teori makna amat berdekatan dengan aliran Positivisme Logis (logical positivisme) dan filsafat Ludwig Wittegenstein, akan tetapi teori makna dan empirisme selalu harus dipahami lewat penafsiran pengalaman.

         Filsafat empirisme dengan teori yang kedua, yaitu teori pengetahuan, dapat diringkaskan sebagai berikut. Menurut orang rasionalis ada beberapa kebenaran umum seperti setiap kejadian tentu mempunyai sebab, dan kebenaran-kebenaran itu benar dengan sendirinya yang dikenal dengan istilah kebenaran apriori yang diperoleh lewat intuisi rasional.

         Diantara tokoh dan pengikut aliran empirisme adalah Francis Bacon, Thomas Hobbes, John Locke, David Hume, George Barkeley, dan Herbert Spencer. Karena adanya kemajuan ilmu pengetahuan dapat dirasakan manfaatnya, pandangan orang terhadap filsafat mulai merosot. Hal ini terjadi karena filsafat dianggap tidak berguna lagi bagi kehidupan. Pada sisi lain, ilmu pengetahuan besar sekali manfaatnya bagi kehidupan. Kemudian beranggapan bahwa pengetahuan yang bermanfaat, pasti, dan benar hanya diperoleh lewat indra (empiri), dan empirilah satu-satunya sumber pengetahuan. Pemikiran tersebut lahir dengan nama empirisme.

1.      Francis Bacon (1210-1292 M)

Menurut Francis Bacon bahwa pengetahuan yang sebenarnya adalah pengetahuan yang diterima orang melalui persentuhan inderawi dengan dunia fakta. Pengalaman merupakan sumber pengetahuan yang sejati. Pengetahuan haruslah dicapai dengan induksi.

2.      Thomas Hobbes (1588-1679 M)

Ia seorang ahli pikir Inggris lahir di Malmesbury. Pada usia 15 tahun ia pergi ke Oxford untuk belajar logika Skolastik dan fisika, yang ternyata gagal, karena ia tidak berminat sebab gurunya beraliran Aristotelian. Sumbangan yang besar sebagai ahli pikir adalah suatu sistem materialistis yang besar, termasuk juga perikehidupan organis dan rohaniah. Dalam bidang kenegaraan ia mengemukakan teori Kontrak sosial.

Dalam tulisannya, ia telah menyusun suatu sistem pemikiran yang berpangkal pada dasar-dasar empiris, di samping juga menerima metode dalam ilmu alam yang matematis.

Pendapatnya adalah bahwa ilmu filsafat adalah suatu ilmu pengetahuan yang sifatnya umum. Menurutnya filsafat dalah suatu ilmu pengetahuan tentang akibat-akibat atau tentang gejala-gejala yang diperoleh dari sebabnya. Sasaran filsafat adalah fakta, yaitu untuk mencari sebab-sebabnya. Segala yang ada ditentukan oleh sebab, sedangkan prosesnya sesuai dengan hukum ilmu pasti/ilmu alam.

 Namanya sangat terkenal karena teorinya tentang Kontrak Sosial, yaitu manusia mempunyai kecendrungan untuk mempertahankan diri. Apabila setiap orang mempunyai kecendrungan demikian, maka pertentangan, pertengkaran atau perang  total tak dapat dihindari. Perang akan membuat kehidupan menjadi sengsara dan buruk. Bagaimana manusia dapat menghindarinya. Maka diperlukan akal sehat, agar setiap orang mau melepaskan  haknya untuk berbuat sekehendaknya sendiri. Untuk itu, mereka harus bersatu membuat perjanjian untuk menaati/tunduk terhadap penguasa. Orang-orang yang dipersatukan disebut Commonwealth.

3.      John Locke (1932-1704 M)

Ia dilahirkan di Wrington, dekat Bristol, Inggris. Di samping sebagai seorang ahli hukum, ia juga menyukai filsafat dan teologi, mendalami ilmu kedokteran dan penelitian kimia. Dalam mencapai kebenaran, sampai seberapa jauh (bagaimana) manusia memakai kemampuannya.

Dalam penelitiannya ia memakai istilah sensation dan reflection. Sensation adalah suatu yang dapat berhubungan dengan dunia luar, tetapi manusia tidak dapat mengerti dan meraihnya. Sementara itu, reflection adalah pengenalan intuitif yang memberikan pengetahuan kepada manusia, yang sifatnya lebih baik daripada sensation. Tiap-tiap pengetahuan yang diperoleh manusia terdiri dari sensation dan reflection.Walaupun demikian, manusia harus mendahulukan sensation. Mengapa demikian? Karena jiwa manusia di saat dilahirkan putih bersih (tabula rasa) yaitu jiwa itu kosong bagaikan kertas putih yang belum tertulisi. Tidak ada sesuatu dalam jiwa yang dibawa sejak lahir, melainkan pengalamanlah yang membentuk  jiwa seseorang.[1]

4.      David Hume (1711-1776 M)

Dalam pemikiran David Hume yang memilih pengalaman sebagai sumber utama pengetahuan. Pengalamn itu bersifat lahiriah (yang menyangkut dunia), maupun batiniah (yang menyangktu pribadi manusia).

Hume tidak menerima subtansi, sebab yang dialami hanya kesan-kesan saja tentang beberapa ciri yang selalu ada bersama-sama. Dari kesan muncul gagasan. Kesan adalah hasil penginderaan langsung, sedang gagasan adalah ingatan akan kesan-kesan seperti itu.

5.      Herbert Spencer (1820-1903 M)

Filsafat Herbert Spencer berpusat pada teori evolusi. Menurut Spencer, kita hanya dapat mengenali fenomena-fenomena atau gejala-gejal, memang benar dibelakang gejala-gejala itu ada suatu dasar absolute, tetapi yang absolute itu tidak dapat kita kenal.

 

B.     POSITIVISME

Positivisme adalah aliran filsafat yang berpangkal dari fakta yang positif, sesuatu yang diluar fakta atau kenyataan dikesampingkan dalam pembicaraan filsafat dan ilmu pengetahuan. Filsafat Positivisme lahir pada abad ke-19. Titik tolak pemikirannya, apa yang telah diketahui adalah yang faktual dan yang positif, sehingga metafisika ditolaknya. Maksud positif adalah segala gejala dan gejala yang tampak seperti apa adanya, sebatas pengalaman-pengalaman objektif. Jadi, setelah fakta diperolehnya, fakta-fakta tersebut kita atur dapat memberikan semacam asumsi (proyeksi) ke masa depan.

Positivisme adalah suatu aliran filsafat yang mengalalami banyak perubahan mendasar dalam perjalanan sejarahnya. Istilah ini kemudian digunakan oleh Agust Comte (1798-1857 M) dan dipatok secara mutlak sebagai tahapan paling akhir sesudah tahapan-tahapan agama dan filsafat. Agust Comte berkeyakinan bahwa makrifat-makrifat manusia melewati tiga (3) tahapan sejarah : pertama, tahapan agama dan ketuhanan, pada tahapan ini untuk menjelaskan fenomena-fenomena yang terjadi hanya berpegang kepada kehendak Tuhan; kedua, adalah tahapan filsafat, yang menjelaskan fenomena-fenomena dengan pemahaman-pemahaman metafisika seperti kauslitas, subtansi, dan aksiden, esensi dan eksistensi; dan adapun positivisme sebagai tahapan ketiga, menafikan semua bentuk tafsir agama dan tinjauan filsafat serta hanya mengedepankan metode empiris dalam menyingkap fenomena-fenomena.

         Menurut Agust Comte, perkembangan pemikiran manusia baik perorangan maupun bangsa melalui tiga zaman; yaitu zaman teologis, metafisis, dan positif. Zaman teologis adalah zaman dimana manusia percaya dibelakang gejala-gejala alam, terdapat kuasa-kuasa akrodati yang mengatur fungsi dan gerak gejala-gejala tersebut. Zaman metafisis adalah kekuatan yang adi kodrati diganti dengan ketentuan-ketentuan abstrak. Zaman positif yaitu ketika orang tidak lagi berusaha mencapai pengetahuan tentang yang mutlak baik teologis maupun metafisis.

         Hukum tiga tahap ini tidak hanya berlaku bagi perkembangan rohani seluruh umat manusia, tetapi juga berlaku bagi setiap perseorangan. Urutan perkembangan ilmu-ilmu pengetahuan tersusun sedemikian rupa, sehingga yang satu selalu mengandalkan semua ilmu yang mendahuluinya.

Beberapa tokoh: August Comte (1798-1857), John S. Mill (1806-1873). Herbert Spencer (1820-1903).

1.      August Comte (1798-1857 M)

Ia lahir di Montpellier, Prancis. Sebuah karyanya adalah Cours de philosophia positive (Kursus tentang filsafat positif) dan berjasa dalam mencipta ilmu sosiologi.

Menurut pendapatnya, perkembangan pemikiran manusia berlangsung dalam tiga tahap: tahap teologis, tahap metafisis, dan tahap ilmiah/positif.

Pada tahap teologis manusia mengarahkan pandangannya kepada hakikat yang bathiniah (sebab pertama). Disini manusia percaya kepada kemungkinan  adanya sesuatu yang  mutlak. Artinya, dibalik setiap kejadian tersirat adanya maksud tertentu.

Pada tahap metafisis manusia hanya sebagai tujuan pergeseran dari tahap teologis. Sifat yang khas adalah kekuatan yang tadinya bersifat adi kudrati, diganti dengan kekuatan-kekuatan yang mempunyai kekuatan abstrak, yang diintegrasikan dengan alam.

Pada tahap ilmiah/positif, manusia telah mulai mengetahui dan sadar bahwa upaya pengenalan teologis dan dan metafisis tidak ada gunanya. Sekarang manusia berusaha mencari hukum-hukum yang berasal dari fakta-fakta pengamatan dengan memakai akal.

Tahap-tahap tersebut berlaku pada setiap individu (dalam perkembangan rohani) juga dibidang ilmu pengetahuan.

Pada akhir hidupnya, ia berupaya untuk membangun agama baru tanpa teologi atas dasar filsafat positifnya. Agama baru tanpa teologi ini mengagungkan akal dan mendambakan kemanusiaan dengan semboyan “Cinta sebagai prinsip, teratur sebagai basis, kemajuan sebagai tujuan”.

Sebagai istilah ciptaannya yang terkenal altruism yaitu menganggap bahwa soal utama bagi manusia adalah usaha untuk hidup bagi kepentingan orang lain.[2]

C.    PRAGMATISME

Pragmatisme berasal dari kata pragma yang artinya guna. Pragma berasal dari kata Yunani. Maka Pragmatisme adalah suatau aliran yang mengajarkan bahwa yang benar adalah apa saja yang membuktikan dirinya sebagai yang benar akibat-akibat yang bermanfaat secara praktis. Misalnya, berbagai pengalaman pribadi tentang  kebenaran mistik, asalkan dapat membawa kepraktisan dan bermanfaat. Artinya, segala sesuatu dapat diterima asalkan bermanfaat bagi kehidupan. Dengan demikian filsafat pragmatisme beranggapan bahwa fikiran itu mengikuti tindakan. Pragmatisme menganggap bahwa suatu teori dapat dikatakan benar apabila teori itu bekerja. Ini berarti Pragmatisme dapat digolongkan kedalam pembahasan tentang makna kebenaran atau theory of thurth. Hal ini dapat kita lihat dalam buku William James yang berjudul The meaning of thurth. Menurut james kebenaran adalah sesuatu yang terjadi pada ide. Menurutnya kebenaran adalah sesuatu yang tidak statis dan tidak mutlak. Dengan demikian kebenaran adalah sesuatu yang bersifat relative. Hal ini dapat dijelaskan melalui sebuah contoh. Misalnya ketika kita menemukan sebuah teori yang masih bersifat relative sebelum kita membuktikan sendiri kebenaran dari teori itu.

Aliran ini pertama kali tumbuh di Amerika pada tahun 1878M. Ketika itu Charles Sanders Pierce (1839-1914M) menerbitkan sebuah makalah yang berjudul “How to make our ideas clear”. Namun pragmatisme sendiri lahir ketika William James membahas makalahnya yang berjudul “Philosophycal conceptions and pratical result” (1898M) dan mendaulat Pierce sebagai bapak pragmatisme. Selanjutnya aliran ini makin berkembang berkat kerja keras dari William James dengan berbagai karya tulisnya. John Dewey juga ikut mengambil bagian dalam mempopulerkan aliran ini. Namun ia dan para pengikutnya lebih suka menyebut filsafatnya sebagai Instrumentalisme.

1.      William James (1842-1910 M)

William James lahir di New York, memperkenalkan ide-idenya tentang pragmatisme kepada dunia. Ia ahli dalam bidang seni, psikologi, anatomi, fisiologi dan filsafat.

Pemikiran filsafatnya lahir karena dalam sepanjang hidupnya mengalami konflik antara pandangan ilmu pengetahuan dengan pandangan agama. Ia beranggapan, bahwa masalah kebenaran tentang asal/tujuan dan hakikat bagi orang Amerika terlalu teoritis. Ia menginginkan hasil-hasil yang konkret. Dengan demikian, untuk mengetahui kebenaran dari ide atau konsep haruslah diselidiki konsekuensi-konsekuensi praktisnya.

Kaitannya dengan agama, apabila ide-ide agama dapat memperkaya kehidupan, ide-ide tersebut benar.

Menurut james, dunia tidak dapat diterangkan dengan berpangkal pada satu asas saja. Dunia adalah dunia yang terdiri dari banyak hal yang saling bertentangan. Tentang kepercayaan agama dikatakan, bagi orang-perorangan, kepercayaan adanya suatu realitas cosmis lebih tinggi itu merupakan nilai subyektif yang relative, sepanjang kepercayaan itu memberikan kepadanya suatu hiburan rohani, penguatan keberanian hidup, perasaan damai, keamanan dan sebagainya. Segala macam pengalaman keagamaan mempunyai nilai yang sama, jikalau akibatnya sama-sama memberikan kepuasan kepada kebutuhan keagamaan. Filsafat mulanya, sampai kapan pun merupakan usaha menjawab pertayaan yang penting-penting. James membawa pragmatisme. Isme ini diturunkan kepada Dewey yang mempraktekanya dalam pendidikan. Dengan kata lain, orang yang paling bertanggung jawab terhadap generasi Amerika sekarang adalah William James dan John Dewey.

 

 

 

 

 

 

 

 

 

 

 

 

SIMPULAN

·         Empirisme adalah salah satu aliran dalam filosuf yang menekankan pengalaman dalam memperoleh pengetahuan serta pengetahuan itu sendiri, dan mengecilkan peranan akal. Diantara tokoh dan pengikut aliran empirisme adalah Francis Bacon, Thomas Hobbes, John Locke, David Hume, George Barkeley, dan Herbert Spencer.

·         Positivisme adalah aliran filsafat yang berpangkal dari fakta yang positif, sesuatu yang diluar fakta atau kenyataan dikesampingkan dalam pembicaraan filsafat dan ilmu pengetahuan. Beberapa tokohnya; August Comte (1798-1857), John S. Mill (1806-1873). Herbert Spencer (1820-1903).

2.      Pragmatisme adalah suatau aliran yang mengajarkan bahwa yang benar adalah apa saja yang membuktikan dirinya sebagai yang benar akibat-akibat yang bermanfaat secara praktis. Dan salah satu tokohnya adalah William James (1842-1910 M).

 

 

 

 

 

 

 

 

 

 

 

 

 

 

 

 

 

 

 

 

 

DAFTAR PUSTAKA

Ahmadi, Asmoro. 2003. Filsafat Umum. Jakarta: PT Raja Grafindo Persada.

Delgauw, Bernand, 2001, Filsafat Abad 20, (terj., Soejono Soemargono), Yogyakarta: Tiara          Wacana.

Frasetya, 1997. Filsafat Pendidikan. Bandung: Pustaka Setia.

Ghazali, Adeng Muchtar, 2005, Ilmu Studi Agama, Bandung: Pustaka Setia.

Muslih, Moh., 2005, Filsafat Ilmu, Yogyakarta: Belukar.

Syadzali Ahmad. MA, Drs.H., Mudzakir. Drs. 1997. Filsafat Umum. Bandung: Pustaka Setia.

 



[1]Endang Daruni, et. al. Filosof-filosof Dunia dalam Gambar,  (Karya Kencana: Yogyakarta th. 1982), hlm. 65.

[2]Pringgodigdo, (Ed.), Ensiklopedi Umum, Kanisius, Yogyakarta, 1972, hlm. 42.


Tidak ada komentar:

Posting Komentar