BAB I
PENDAHULUAN
A. Latar Belakang
Tidak dapat dipungkiri, zaman filsafat modern telah dimulai. Secara
historis, zaman modern dimulai sejak adanya krisi zaman pertengahan selama dua
abad (abad ke-14 dan ke-15), yang ditandai munculnya Renaissance. Renaissance
berarti kelahiran kembali, yang mengacu kepada gerakan keagamaan dan
kemasyarakatan yang bermula di Italia (pertengahan abad ke-14). Tujuan utamanya
adalah merealisasikan kesempurnaan pandangan hidup Kristiani dengan mengaitkan
filsafat Yunani dengan ajaran agama kristen. Selain itu, juga dimaksudkan untuk
mempersatukan kembali gereja yang terpecah-pecah.
Disamping itu, para
humanis bermaksud meningkatkan suatu perkembangan yang harmonis dari
keahlian-keahlian dan sifat-sifat alamiah manusia dengan mengupayakan
kepustakaan yang baik dan mengikuti kultur klasik.
Untuk lebih jelasnya dapat
dilihat dalam pembahasan makalah ini yang telah kami sajikan. Namun, dalam
makalah ini kami tidak membahas semua aliran-aliran filsafat modern. Kami hanya
menjelaskan tentang tiga (3) aliran filsafat, yaitu: empirisme, positivisme dan
pragmatisme.
B. Rumusan Masalah
1. Apa pengertian dari empirisme, positivisme dan pragmatisme?
2. Siapa tokoh-tokoh ketiga aliran filsafat tersebut?
3. Bagaimana pemikiran-pemikiran dalam ketiga aliran filsafat tersebut?
C. Tujuan
1.
Mengetahui pengertian dari
empirisme, positivisme dan pragmatisme.
2.
Mengetahui tokoh-tokoh
ketiga aliran filsafat tersebut.
3.
Mengetahui
pemikiran-pemikiran dalam ketiga aliran filsafat tersebut.
BAB II
PEMBAHASAN
EMPIRISME, POSITIVISME DAN PRAGMATISME
A. EMPIRISME
Empirisme adalah salah satu aliran dalam
filosuf yang menekankan pengalaman dalam memperoleh pengetahuan serta
pengetahuan itu sendiri, dan mengecilkan peranan akal. Istilah Empirisme diambil
dari bahasa yunani empiria yang berarti coba-coba atau pengalaman.
Aliran ini menegaskan bahwa pengetahuan manusia berdasarkan pengalaman. Atau
meminjam kata-kata John Locke, salah satu tokohnya;
“Manusia itu ibarat tabula rasa yang nantinya akan diwarnai oleh keadaan
eksternalnya”. Dan Empirisme adalah lawan Rasionalisme.
Filsafat empirisme tentang teori makna amat berdekatan dengan aliran
Positivisme Logis (logical positivisme) dan filsafat Ludwig Wittegenstein, akan
tetapi teori makna dan empirisme selalu harus dipahami lewat penafsiran
pengalaman.
Filsafat empirisme dengan teori yang kedua, yaitu teori pengetahuan, dapat
diringkaskan sebagai berikut. Menurut orang rasionalis ada beberapa kebenaran
umum seperti setiap kejadian tentu mempunyai sebab, dan kebenaran-kebenaran itu
benar dengan sendirinya yang dikenal dengan istilah kebenaran apriori yang
diperoleh lewat intuisi rasional.
Diantara tokoh dan pengikut aliran empirisme adalah Francis Bacon, Thomas
Hobbes, John Locke, David Hume, George Barkeley, dan Herbert Spencer. Karena adanya kemajuan ilmu pengetahuan
dapat dirasakan manfaatnya, pandangan orang terhadap filsafat mulai merosot.
Hal ini terjadi karena filsafat dianggap tidak berguna lagi bagi kehidupan.
Pada sisi lain, ilmu pengetahuan besar sekali manfaatnya bagi kehidupan.
Kemudian beranggapan bahwa pengetahuan yang bermanfaat, pasti, dan benar hanya
diperoleh lewat indra (empiri), dan empirilah satu-satunya sumber pengetahuan.
Pemikiran tersebut lahir dengan nama empirisme.
1.
Francis Bacon
(1210-1292 M)
Menurut Francis Bacon bahwa pengetahuan yang
sebenarnya adalah pengetahuan yang diterima orang melalui persentuhan inderawi
dengan dunia fakta. Pengalaman merupakan sumber pengetahuan yang sejati.
Pengetahuan haruslah dicapai dengan induksi.
2. Thomas Hobbes (1588-1679 M)
Ia seorang ahli pikir Inggris lahir di
Malmesbury. Pada usia 15 tahun ia pergi ke Oxford untuk belajar logika
Skolastik dan fisika, yang ternyata gagal, karena ia tidak berminat sebab
gurunya beraliran Aristotelian. Sumbangan yang besar sebagai ahli pikir adalah
suatu sistem materialistis yang besar, termasuk juga perikehidupan organis dan
rohaniah. Dalam bidang kenegaraan ia mengemukakan teori Kontrak sosial.
Dalam tulisannya, ia telah menyusun suatu
sistem pemikiran yang berpangkal pada dasar-dasar empiris, di samping juga
menerima metode dalam ilmu alam yang matematis.
Pendapatnya adalah bahwa ilmu filsafat adalah
suatu ilmu pengetahuan yang sifatnya umum. Menurutnya filsafat dalah suatu ilmu
pengetahuan tentang akibat-akibat atau tentang gejala-gejala yang diperoleh
dari sebabnya. Sasaran filsafat adalah fakta, yaitu untuk mencari
sebab-sebabnya. Segala yang ada ditentukan oleh sebab, sedangkan prosesnya
sesuai dengan hukum ilmu pasti/ilmu alam.
Namanya
sangat terkenal karena teorinya tentang Kontrak Sosial, yaitu manusia mempunyai
kecendrungan untuk mempertahankan diri. Apabila setiap orang mempunyai
kecendrungan demikian, maka pertentangan, pertengkaran atau perang total tak dapat dihindari. Perang akan
membuat kehidupan menjadi sengsara dan buruk. Bagaimana manusia dapat
menghindarinya. Maka diperlukan akal sehat, agar setiap orang mau melepaskan haknya untuk berbuat sekehendaknya sendiri.
Untuk itu, mereka harus bersatu membuat perjanjian untuk menaati/tunduk
terhadap penguasa. Orang-orang yang dipersatukan disebut Commonwealth.
3. John Locke (1932-1704 M)
Ia dilahirkan di Wrington, dekat Bristol,
Inggris. Di samping sebagai seorang ahli hukum, ia juga menyukai filsafat dan
teologi, mendalami ilmu kedokteran dan penelitian kimia. Dalam mencapai
kebenaran, sampai seberapa jauh (bagaimana) manusia memakai kemampuannya.
Dalam penelitiannya ia memakai istilah sensation
dan reflection. Sensation adalah suatu yang dapat berhubungan
dengan dunia luar, tetapi manusia tidak dapat mengerti dan meraihnya. Sementara
itu, reflection adalah pengenalan intuitif yang memberikan pengetahuan
kepada manusia, yang sifatnya lebih baik daripada sensation. Tiap-tiap pengetahuan
yang diperoleh manusia terdiri dari sensation dan reflection.Walaupun
demikian, manusia harus mendahulukan sensation. Mengapa demikian? Karena
jiwa manusia di saat dilahirkan putih bersih (tabula rasa) yaitu jiwa itu
kosong bagaikan kertas putih yang belum tertulisi. Tidak ada sesuatu dalam jiwa
yang dibawa sejak lahir, melainkan pengalamanlah yang membentuk jiwa seseorang.[1]
4.
David Hume
(1711-1776 M)
Dalam pemikiran David Hume yang memilih
pengalaman sebagai sumber utama pengetahuan. Pengalamn itu bersifat lahiriah
(yang menyangkut dunia), maupun batiniah (yang menyangktu pribadi manusia).
Hume tidak menerima subtansi, sebab yang
dialami hanya kesan-kesan saja tentang beberapa ciri yang selalu ada
bersama-sama. Dari kesan muncul gagasan. Kesan adalah hasil penginderaan
langsung, sedang gagasan adalah ingatan akan kesan-kesan seperti itu.
5.
Herbert Spencer
(1820-1903 M)
Filsafat Herbert Spencer berpusat pada teori
evolusi. Menurut Spencer, kita hanya dapat mengenali fenomena-fenomena atau
gejala-gejal, memang benar dibelakang gejala-gejala itu ada suatu dasar
absolute, tetapi yang absolute itu tidak dapat kita kenal.
B. POSITIVISME
Positivisme adalah aliran
filsafat yang berpangkal dari fakta yang positif, sesuatu yang diluar fakta
atau kenyataan dikesampingkan dalam pembicaraan filsafat dan ilmu pengetahuan. Filsafat Positivisme lahir pada abad ke-19.
Titik tolak pemikirannya, apa yang telah diketahui adalah yang faktual dan yang
positif, sehingga metafisika ditolaknya. Maksud positif adalah segala gejala
dan gejala yang tampak seperti apa adanya, sebatas pengalaman-pengalaman
objektif. Jadi, setelah fakta diperolehnya, fakta-fakta tersebut kita atur
dapat memberikan semacam asumsi (proyeksi) ke masa depan.
Positivisme adalah suatu aliran filsafat yang
mengalalami banyak perubahan mendasar dalam perjalanan sejarahnya. Istilah ini
kemudian digunakan oleh Agust Comte (1798-1857 M) dan dipatok secara mutlak
sebagai tahapan paling akhir sesudah tahapan-tahapan agama dan filsafat. Agust
Comte berkeyakinan bahwa makrifat-makrifat manusia melewati tiga (3) tahapan
sejarah : pertama, tahapan agama dan ketuhanan, pada tahapan ini untuk
menjelaskan fenomena-fenomena yang terjadi hanya berpegang kepada kehendak
Tuhan; kedua, adalah tahapan filsafat, yang menjelaskan
fenomena-fenomena dengan pemahaman-pemahaman metafisika seperti kauslitas,
subtansi, dan aksiden, esensi dan eksistensi; dan adapun positivisme sebagai
tahapan ketiga, menafikan semua bentuk tafsir agama dan tinjauan
filsafat serta hanya mengedepankan metode empiris dalam menyingkap
fenomena-fenomena.
Menurut Agust Comte, perkembangan pemikiran manusia baik perorangan maupun
bangsa melalui tiga zaman; yaitu zaman teologis, metafisis, dan positif. Zaman
teologis adalah zaman dimana manusia percaya dibelakang gejala-gejala alam,
terdapat kuasa-kuasa akrodati yang mengatur fungsi dan gerak gejala-gejala
tersebut. Zaman metafisis adalah kekuatan yang adi kodrati diganti dengan
ketentuan-ketentuan abstrak. Zaman positif yaitu ketika orang tidak lagi
berusaha mencapai pengetahuan tentang yang mutlak baik teologis maupun
metafisis.
Hukum tiga tahap ini tidak hanya berlaku bagi perkembangan rohani seluruh umat
manusia, tetapi juga berlaku bagi setiap perseorangan. Urutan perkembangan
ilmu-ilmu pengetahuan tersusun sedemikian rupa, sehingga yang satu selalu
mengandalkan semua ilmu yang mendahuluinya.
Beberapa tokoh: August Comte (1798-1857), John
S. Mill (1806-1873). Herbert Spencer (1820-1903).
1. August Comte (1798-1857 M)
Ia lahir di Montpellier, Prancis. Sebuah
karyanya adalah Cours de philosophia positive (Kursus tentang filsafat positif)
dan berjasa dalam mencipta ilmu sosiologi.
Menurut pendapatnya, perkembangan pemikiran
manusia berlangsung dalam tiga tahap: tahap teologis, tahap metafisis, dan
tahap ilmiah/positif.
Pada tahap teologis manusia mengarahkan
pandangannya kepada hakikat yang bathiniah (sebab pertama). Disini manusia
percaya kepada kemungkinan adanya
sesuatu yang mutlak. Artinya, dibalik
setiap kejadian tersirat adanya maksud tertentu.
Pada tahap metafisis manusia hanya sebagai
tujuan pergeseran dari tahap teologis. Sifat yang khas adalah kekuatan yang
tadinya bersifat adi kudrati, diganti dengan kekuatan-kekuatan yang mempunyai
kekuatan abstrak, yang diintegrasikan dengan alam.
Pada tahap ilmiah/positif, manusia telah mulai
mengetahui dan sadar bahwa upaya pengenalan teologis dan dan metafisis tidak
ada gunanya. Sekarang manusia berusaha mencari hukum-hukum yang berasal dari
fakta-fakta pengamatan dengan memakai akal.
Tahap-tahap tersebut berlaku pada setiap
individu (dalam perkembangan rohani) juga dibidang ilmu pengetahuan.
Pada akhir hidupnya, ia berupaya untuk
membangun agama baru tanpa teologi atas dasar filsafat positifnya. Agama baru
tanpa teologi ini mengagungkan akal dan mendambakan kemanusiaan dengan semboyan
“Cinta sebagai prinsip, teratur sebagai basis, kemajuan sebagai tujuan”.
Sebagai istilah ciptaannya yang terkenal altruism
yaitu menganggap bahwa soal utama bagi manusia adalah usaha untuk hidup
bagi kepentingan orang lain.[2]
C. PRAGMATISME
Pragmatisme berasal dari kata pragma yang artinya guna.
Pragma berasal dari kata Yunani. Maka Pragmatisme adalah suatau aliran yang
mengajarkan bahwa yang benar adalah apa saja yang membuktikan dirinya sebagai
yang benar akibat-akibat yang bermanfaat secara praktis. Misalnya, berbagai
pengalaman pribadi tentang kebenaran
mistik, asalkan dapat membawa kepraktisan dan bermanfaat. Artinya, segala
sesuatu dapat diterima asalkan bermanfaat bagi kehidupan. Dengan demikian
filsafat pragmatisme beranggapan bahwa fikiran itu mengikuti tindakan.
Pragmatisme menganggap bahwa suatu teori dapat dikatakan benar apabila teori
itu bekerja. Ini berarti Pragmatisme dapat digolongkan kedalam pembahasan
tentang makna kebenaran atau theory of thurth. Hal ini dapat kita lihat
dalam buku William James yang berjudul The meaning of thurth. Menurut james
kebenaran adalah sesuatu yang terjadi pada ide. Menurutnya kebenaran adalah
sesuatu yang tidak statis dan tidak mutlak. Dengan demikian kebenaran adalah
sesuatu yang bersifat relative. Hal ini dapat dijelaskan melalui sebuah contoh.
Misalnya ketika kita menemukan sebuah teori yang masih bersifat relative
sebelum kita membuktikan sendiri kebenaran dari teori itu.
Aliran ini pertama kali tumbuh di Amerika pada
tahun 1878M. Ketika itu Charles Sanders Pierce (1839-1914M) menerbitkan sebuah
makalah yang berjudul “How to make our ideas clear”. Namun pragmatisme sendiri
lahir ketika William James membahas makalahnya yang berjudul “Philosophycal
conceptions and pratical result” (1898M) dan mendaulat Pierce sebagai bapak
pragmatisme. Selanjutnya aliran ini makin berkembang berkat kerja keras dari
William James dengan berbagai karya tulisnya. John Dewey juga ikut mengambil
bagian dalam mempopulerkan aliran ini. Namun ia dan para pengikutnya lebih suka
menyebut filsafatnya sebagai Instrumentalisme.
1. William James (1842-1910 M)
William James lahir di New York,
memperkenalkan ide-idenya tentang pragmatisme kepada dunia. Ia ahli dalam
bidang seni, psikologi, anatomi, fisiologi dan filsafat.
Pemikiran filsafatnya lahir karena dalam
sepanjang hidupnya mengalami konflik antara pandangan ilmu pengetahuan dengan
pandangan agama. Ia beranggapan, bahwa masalah kebenaran tentang asal/tujuan
dan hakikat bagi orang Amerika terlalu teoritis. Ia menginginkan hasil-hasil
yang konkret. Dengan demikian, untuk mengetahui kebenaran dari ide atau konsep
haruslah diselidiki konsekuensi-konsekuensi praktisnya.
Kaitannya dengan agama, apabila ide-ide agama
dapat memperkaya kehidupan, ide-ide tersebut benar.
Menurut james, dunia tidak dapat diterangkan
dengan berpangkal pada satu asas saja. Dunia adalah dunia yang terdiri dari
banyak hal yang saling bertentangan. Tentang kepercayaan agama dikatakan, bagi
orang-perorangan, kepercayaan adanya suatu realitas cosmis lebih tinggi itu
merupakan nilai subyektif yang relative, sepanjang kepercayaan itu memberikan
kepadanya suatu hiburan rohani, penguatan keberanian hidup, perasaan damai,
keamanan dan sebagainya. Segala macam pengalaman keagamaan mempunyai nilai yang
sama, jikalau akibatnya sama-sama memberikan kepuasan kepada kebutuhan
keagamaan. Filsafat mulanya, sampai kapan pun merupakan usaha menjawab
pertayaan yang penting-penting. James membawa pragmatisme. Isme ini diturunkan
kepada Dewey yang mempraktekanya dalam pendidikan. Dengan kata lain, orang yang
paling bertanggung jawab terhadap generasi Amerika sekarang adalah William
James dan John Dewey.
SIMPULAN
·
Empirisme adalah salah satu aliran dalam
filosuf yang menekankan pengalaman dalam memperoleh pengetahuan serta
pengetahuan itu sendiri, dan mengecilkan peranan akal. Diantara tokoh
dan pengikut aliran empirisme adalah Francis Bacon, Thomas Hobbes, John Locke,
David Hume, George Barkeley, dan Herbert Spencer.
·
Positivisme adalah aliran filsafat yang berpangkal dari fakta yang positif,
sesuatu yang diluar fakta atau kenyataan dikesampingkan dalam pembicaraan
filsafat dan ilmu pengetahuan. Beberapa tokohnya; August Comte (1798-1857), John S.
Mill (1806-1873). Herbert Spencer (1820-1903).
2. Pragmatisme adalah suatau aliran yang mengajarkan bahwa yang benar adalah
apa saja yang membuktikan dirinya sebagai yang benar akibat-akibat yang
bermanfaat secara praktis. Dan salah satu tokohnya adalah William James
(1842-1910 M).
DAFTAR PUSTAKA
Ahmadi, Asmoro. 2003. Filsafat
Umum. Jakarta: PT Raja Grafindo Persada.
Delgauw, Bernand, 2001, Filsafat
Abad 20, (terj., Soejono
Soemargono), Yogyakarta: Tiara Wacana.
Frasetya, 1997. Filsafat
Pendidikan. Bandung: Pustaka Setia.
Ghazali, Adeng Muchtar, 2005, Ilmu Studi
Agama, Bandung: Pustaka Setia.
Muslih, Moh., 2005, Filsafat
Ilmu, Yogyakarta:
Belukar.
Syadzali Ahmad. MA, Drs.H., Mudzakir. Drs.
1997. Filsafat Umum. Bandung: Pustaka Setia.
[1]Endang Daruni, et. al. Filosof-filosof
Dunia dalam Gambar, (Karya Kencana:
Yogyakarta th. 1982), hlm. 65.
[2]Pringgodigdo, (Ed.), Ensiklopedi
Umum, Kanisius, Yogyakarta, 1972, hlm. 42.
Tidak ada komentar:
Posting Komentar