Rabu, 15 Juli 2020

ANAK DIDIK DALAM PERSPEKTIF PENDIDIKAN ISLAM



A.    Pengertian Peserta Didik

Peserta didik secara formal adalah orang yang sedang berada pada fase pertumbuhan dan perkembangan baik secara fisik maupun psikis, pertumbuhan dan perkembangan merupakan ciri dari dari seorang peserta didik yang perlu bimbingan dari seorang pendidik. Pertumbuhan menyangkut fisik, perkembangan menyangkut psikis.

            Syamsul Nizar[1] mendiskripsikan enam kriteria peserta didik :

1)      Peserta didik bukanlah miniature orang dewasa tetapi memiliki dunianya sendiri

2)      Peserta didik memiliki periodesasi perkembangan dan pertumbuhan

3)      Peserta didik adalah makhluk Allah yang memilki perbedaan individu baik disebabkan oleh faktor bawaan maupun lingkungan dimana ia berada

4)      Peserta didik merupakan dua unsur utama jasmani dan rohani, unsur jasmani memilki daya fisik dan unsur rohani memiliki daya akal hati nurani dan nafsu

5)      Peserta didik adalah manusia yang memilki potensi atau fitrah yang dapat dikembangkan dan berkembang secara dinamis.

Di dalam proses pendidikan peserta didik di samping sebagai objek juga sebagai subjek. Oleh karena itu agar seorang pendidik berhasil dalam proses pendidikan, maka ia haru smemahami peserta didik dengan segala karakteristiknya. Diantaranya yang harus dipahami oleh pendidik yaitu : (1) kebutuhannya, (2) dimensi-dimensinya, (3) intelegensinya, (4) kepribadiannya.

B.     Kebutuhan Peserta Didik

Banyak kebutuhan peserta didik yang harus dipenuhi oleh pendidik, diantaranya :

1)      Kebutuhan Fisik

Fisik peserta didik mengalami pertumbuhan yang cepat terutama pada masa pubertas. Kebutuhan biologis, yaitu berupa makanan, minum dan istirahat, dimana hal ini menurut peserta didik untuk memenuhinya.

2)      Kebutuhan Sosial

Kebutuhan sosial yaitu kebutuhan yang berhubungan langsung dengan masyarakat agar peserta didik dapat berinteraksi dengan masyarakat lingkungannya, seperti diterima oleh teman-temannya secara wajar.

3)      Kebutuhan Untuk Mendapatkan Status

Peserta didik terutama pada usia remaja membutuhkan suatu yang menjadikan dirinya berguna bagi masyarakat. Kebanggaan terhadap diri sendiri, baik dalam lingkungan keluarga, sekolah maupun di dalam masyarakat.

4)      Kebutuhan Mandiri

Peserta didik pada usia remaja ingin lepas dari batasan-batasan atau aturan-aturan orang tuanya, yagng mencoba untuk mengarahkan dan mendisiplinkan dirinya sendiri.

5)      Kebutuhan untuk Berprestasi

Kebuthan untuk berprestasi erat kaitannya dengan kebutuhan mendapat status dan mandiri. Artinya dengan terpenuhinya kebutuhan untuk memiliki status atau penghargaan dan kebutuhan untuk hidup mandiri dapat membuat peserta didik giat untuk mengejar prestasi.

6)      Kebutuhan Ingin Disayangi dan Dicintai

Rasa ingin disayangi dan dicintai merupakan kebutuhan yang asensial, karena dengan terpenuhi kebutuhan ini akan mempengaruhi sikap mental peserta didik.

7)      Kebutuhan untuk Curhat

Kebutuhan untuk curhat terutama remaja dimaksudkan suatu kebutuhan untuk dipahami ide-ide dan permasalahan yang dihadapinya. Peserta didik mengharapkan agar apa yangdialami, dirasakan terutama dalam masa pubertas.

8)      Kebutuhan untuk Memilki Filsafat Hidup

Peserta didik pada usia remaja mulai tertarik untuk mengetahui tentang kebenaran dan nilai-niali ideal. Mereka mempunyai keingina untuk mengenal apa tujuan hidup dan bagaimana kebahagian itu diperoleh.[2]

C.    Dimensi-dimensi Peserta Didik

1)      Dimensi Fisik (Jasmani)

Menurut Supriyono, manusia merupakan makhluk multidimensional yang berbeda dengan makhluk-makhluk lainnya. Secara garis besar ia membagi manusia pada dua dimensi yaitu dimensi fisik dan rohani. Secara rohani, manusia mempunyai potensi kerohanian yang tak terhingga banyaknya. Potensi-potensi tersebut Nampak dalam bentuk memahami sesuatu (ulil albab), dapat berpikir atau merenung, mempergunakan akal, dapat beriman, bertakwa,mengingat atau mengambil pelajaran, mendengar kebenaran firman Tuhan, dapat berilmu, berkesenian, dapat menguasai teknologi tepat guna dan terakhir manusia lahir ke dunia telah membawa fitrah.[3]

2)      Dimensi Akal

Al-Ishfahami, membagi akal manusia kepada dua macam:

a.       Aql Al-Mathhu’ : yaitu akal yang merupakan pancaran dari Allah sebagai fitrah ilahi. Akal ini menduduki posisi yang sangat tinggi, namun demikian, akal ini tidak akan bias berkembang dengan baik secara optimal, bila tidak dibarengi dengan kekuatan akal lainnya, yaitu akal aql-masmu’.

b.      Aql al-masmu’, yaitu akal yang merupakan kemampuan menerima yang dapat dikembangkan oleh manusia. Akal ini bersifat aktif dan berkembang sebatas kemampuan yang dimilkinya lewat bantuan proses penginderaan, secara bebas. Untuk mengarahkan agar akal itu tetap berada di jalan Tuhannya, maka keberadaan aql al-masmu’ tidak dapat dilepaskan.

Sedangkan fungsi akal manusia terbagi kepada enam yaitu:

a.       Akal penahan nafsu. Dengan akal manusia dapat mengerti apa yang tidak dikehendaki oleh amanat yang dibebankan kepadanya sebagi kewajiban

b.      Akal adalah pengertian dan pemikiran yamg berubah-ubah dalam menghadapi sesuatu baik yang tampak jelas maupun yang tidak jelas

c.       Akal adalah petunjuk yang dapat membedakan hidayah dan kesesatan

d.      Akal adalah kesadaran batin dan pengaturan

e.       Akal adalah pandangan bathin yang berdaya tembus melebihi penglihatan mata

f.       Akal adalah daya ingat mengambil dari yang telah lampau untuk masa yang akan dihadapi. Ia menghimpun semua pelajaran dari apa yang pernah terjadi untuk menghadapi apa yang akan terjadi. Ia menyimpan, mewadahi, memulai dan mengulangi semua pengertian itu. Akal dapat memahami setiap perintah kebajikan dan memahami setiap larangan mengenai kejahatan.[4]

3)      Dimensi Keberagamaan

Dalam pandangan islam, sejak lahir manusia telah memilki jiwa agama, jiwa yang mengakui adanya zat yang maha pencipta dan maha kuasa yaitu Allah Swt.  Sejak di dalam roh, manusia telah mempunyai komitmen bahwa Allah adalah tuhannya.

Jiwa beragama tersebut disebit juga fitrah beragama. Muhammad Hasan Hamshi, menafsirkan fitrah yaitu bahwa manusia diciptakan Allah mempunyai naluri beragama yaitu, agama tauhid.[5]

4)      Dimensi Akhlak

Menurut Imam Al-Ghazali, bahwa akhlak yang disebutnya dengan tabiat manusia dapat dilihat dalam dua bentuk, yaitu: 1) tabiat-tabiat fitrah, kekuatan tabiat pada asal kesatuan tubuh dan berkelanjutan selama hidup. Sebagian tabiat tersebut lebih kuat dan lebih lama dibandingkan dengan tabiat lainnya. Seperti tabiat syahwat yang ada pada manusia sejak ia dilahirkan, lebih kuat dan lebih sulit diluruskan dan diarahkan dibandingkan tabiat marah. 2) akhlak yang muncul dari suatu perangai yang banyak diamalkan dan ditaati, sehingga menjadikan bagian dari adat kebiasaan yang berurat berakar pada dirinya.[6]

5)      Dimensi Kerohanian (kejiwaan)

Dimensi kejiwaan merupakan suatu dimensi yang sangat penting dan memiliki pengaruh dalam pengendalian keadaan manusia agar dapat hidup sehat, tenteram dan bahagia. Penciptaan manusia mengalami kesempurnaan setelah Allah meniupkan sebagian ruh ciptaan-Nya.

Insan adalah makhluk yang dari tubuh yang dapat dilihat oleh pandangan dan jiwa yang bisa ditanggapi oleh akal dan bashirah. Tetapi tidak dengan panca indera. Tubuhnya dikaitkan dengan tanah dan ruhnya pada nafs atau diri/jiwanya. Allah maksudkan ruh itu ialah apa yang kita ketahui sebagai jiwa atau an-nafs.[7]

6)      Dimensi Seni (keindahan)\

Seni adalah ekspresi roh dan daya manusia yang mengandung dan mengungkapkan keindahan. Seni adalah bagian dari hidup manusia. Allah telah menganugerahkan kepada manusia berbagai potensi rohani maupun inderawi (mata, telinga dan lain sebagainya). Seni merupakan salah satu potensi rohani, maka nilai seni dapat diungkapkan oleh perorangan sesuai dengan kecenderungannya, atau oleh sekelompok masyarakat sesuai dengan budayanya, tanpa adanya batasan yang ketat kecuali yang digariskan Alla.

7)      Dimensi Sosial

Seorang manusia adalah makhluk individual dan secara bersamaan adalah makhluk sosial. Keserasian antar individu dan masyarakat tidak mempunyai kontradiksi antara tujuan sosial dan tujuan individu.

Dalam islam tanggun jawab tidak terbatas pada perorangan, tetapi juga sosial sekaligus. Tanggung jawab perorangan pada pribadi merupakan asas, tapi ia tidak mengabaikan tanggung jawab sosial yangmerupakan dasar pembentuk masyarakat.

D.    Intelegensi Peserta Didik

Pada mulanya, kecerdasan hanya berkaitan dengan kemampuan struktur akal (intellect) dalam menangkap gejala sesuatu, sehingga kecerdasan hanya bersentuhan dengan aspek-aspek kognitif. Namun pada perkembangan berikutnya, disadari bahwa kehidupan manusia bukan semata-mata memenuhi struktur akal, melainkan terdapat struktur kalbu yang perlu mendapat tempat tersendiri untuk menumbuhkan aspek-aspek efektif, seperti kehidupan emosional, moral, spiritual dan agama. Pada saat ini pemahaman terhadap kecerdasan itu sudah berkembang diantaranya: (1) kecerdasan intelektual,  (2)kecerdasan emosional, (3) kecerdasan spiritual, dan (4) kecerdasan qalbu.

1)      Kecerdasan Intelektual

Kecerdasan intelektual adalah kecerdasan yang menuntut pemberdayaan otak, hati, jasmani, dan pengaktifan manusia untuk berinterksi secara fungsional dengan yang lain.

Ciri-ciri kecerdasan intelektual:

1.      Menururt Thurtone dengan teri multifaktornya yang dapat menentukan keceradasan intelektual, tujuh diantaranya dianggap paling utama untuk ebilitas-ebilitas mental, yaitu:[8]

a)      Faktor inagatan, yaitu kemampuan untuk mengingat

b)      Faktor ferbal yaitu kecakapan untuk menggunakan bahasa

c)      Faktor bilangan yaitu kemampuan untuk bekerja dengan bilangan

d)     Fakror kelancaran kata-kata yaitu seberapa lancar seseorang mempergunakan kata-kata yang sukar ucapannya

e)      Faktor penalaran yaitu faktor yang mendasari kecakapan untur berpikir logis

f)       Faktor persepsi yaitu kemampuan untuk mengamati dengan cepat dan cermat

g)      Faktor ruang yaitu kemampuan untuk mengadakan orientasi dalam ruang.

2.      Nana Syaodah,[9]menyimpulkan ciri-ciri perilaku cerdas atau perilaku individu yang meilki keceradasan tinggi adalah:

a)      Terarah kepada tujuan. Perilaku cerdas selalu mempunyai tujuan dan diarahkan kepada pencapaian tujuan tersebut, tidak ada perilaku yang sia-sia

b)      Tingkahlaku terkoordinasi. Seluruh aktivitas dan perilaku cerdas selalu terkoordinasi dengan baik. Tidak ada perilaku yang tidak direncanakan atau tidak terkendali

c)      Sikap jasmaniah yang baik. Perilku cerdas didukung oleh sikap jasmaniah yang baik. Peserta didik yang belajar secara cerdas, duduk dengan baik, menempatkan bahan pelajaran dengan baik, memegang alat tulis dengan baik dan sebagainya,tidak belajar sambil tiduran, sambil tengkurap dan sebagainya

d)     Memilki daya adaptasi yang tinggi. Perilaku cerdas cepat membaca dan menyesuaikan diri dengan lingkungan, tidak banyak mengeluh atau merasakan hambatan dan lingkungan

e)      Berorientasi kepada sukses. Perilaku cerdas berorientasi kepada keberhasilan, tidak takut gagal,selali optimis

f)       Mempunyai motivasi yang tinggi. Perilaku cerdas selalu didorong oleh motivasi yang kuat baik yang datangnya dari dalam dirinya maupun dari luar

g)      Dilakukan dengan cepat, karena ia dengan cepat dapat memahami situasi atau permasalahan

h)      Menyangkut kegiatan yang luas dan kompleks yahngmembutuhkan pemahaman dan pemikiran yang mendalam

2)      Kecerdasn emosional

Menurut Daniel Golemen, kecerdasan emosional adalah kemampuan untuk memotivasi diri sendiri, bertahan mengahadapi prustasi, mengendalikan dorongan hati, tidak melebih-lebihkan kesenangan, mengatur suasana hait, menjaga beban stress tidak melumpuhkan kemampuan berpikir, berempati dan berdoa.

Di dalam islam hal-hal yang berhubungan dengan kecakapan emosi seperti konsisten (istiqamah), kerendahan hati (tawaddu’), berusaha dan berserah diri (tawakal), ketulusan (keikhlasan), totalitas (kaffah),keseimbangan (tawazun), integritas dan penyempurnaan (ihsan). Dinamakan dengan akhlak al-karimah. Dalam kecerdasan emosional, itulah yang menjadi tolak ukur kecerdasan emosi, seperti integritas, komitmen, konsisten dan totalitas.

Jalaluddi rahmat mengemukakan bahwa untuk memp[eroleh kecerdasan emosional yang tinggi harus dilakukan hal-hal sebagai berikut:

a)      Musyarathah, berjanji pada diri sendiri untuk membiasakan perbuatan baik dan membuang perbuatan buruk

b)      Muraqabah, memonitor reaksi dan perilaku sehari-hari

c)      Muhasabah, melakuakn perhitungan baik dan buruk yang pernah dilakukan, dan

d)     Mu’atabah dan mu’aqabah, mengecam keburukan yang dilakukan dan menghukum, diri sendiri (sebagai hakim sekaligus sebagai terdakwa)

3)      Kecerdasan Spiritual

 

Menurut Danah Yohar dan Ian Murshal, kecerdasan spiritual adalah kecerdasan untuk menghadapi persoalan makna atau value, yaitu kecerdasan untuk menempatkan perilaku dan hidup dalam konteks makna yang lebih luas. Kecerdasan untuk menilai bahwa tindakan jalan hidup seseorang lebih bermakna dibandingkan dengan yang lain.

Selanjutnya menurut Ary Ginanjar Agustian, Kecerdasan spiritual adalah kemampuan untuk memberi makna abadah terhadap setiap perilaku dan kegiatan, melalui langkah-langkah dan pemikiran yang bersifat fitrah, menuju manusia yang seutuhnya dan memilki pola pemikiran tauhid serta berprinsip hanya karena Allah.[10]

4)      Kecerdasan Qalbiyah

Keceradasan qalbiyah adalah sejumlah kemampuan diri secara cepat dan sempurna, untuk mengenal qalbu dan aktvitas-aktivitasnya, mengelola dan mengekspresikan jenis-jenis kalbu secara benar, memotivasi kalbu untuk membina hubungan moralitas dengan orang lain dan hubungan ubudiyah dengan tuhan.

Abd Mujib menytakan bahwa pengertian qalbiah dapat dijabarkan dalam beberapa jenis kecerdasan qalbiah sebagai berikut:

1.      Kecerdasan intelektual (intuitif), yaitu kecerdasan qalbu yang berkaitan dengan penerimaan dan pembenaran pengetahuan yang bersifat intuitif ilahiah seperti wahyu (untuk para rasul dan nabi) dan ilham atau firasat (untuk manusia biasa yang salih). Adanya sifat intuitif ilahiah ini sebagai pembeda dengan kecerdasan intelektual yang ditimbulkan oleh akal pikiran yang bersifat irasional ilahiah

2.      Kecerdasabn emosional, yaitu kecerdasan qalbu yang berkaitan dengan pengendalian nafsu-nafsu impulsive dan agresif. Kecerdasan ini  memgarahkan seseorang untuk bertindak secara hati-hati, waspada, tenang, sabar, dan tabah ketika mendapat musibah,dan berterima kasih ketika mendapat kenikmatan

3.      Kecerdasan moral yaitu kecerdasan qalbu yang berkaitan dengan hubungan kepada sesame manusia dan alam semesta. Kehidupkan ini mengarahkan orang agar berbuat dengan baik, sehingga orang lain merasa senang dan gembira, dan tidak membencinya

4.      Kecerdasan spiritual adalah kecerdasan qalbu yang berhubungan dengan kualitas batin seseorang. Kecerdasan ini mengarahkan orang berbuat lebih manusiawi, sehingga dapat menjangkau nilai-nilai luhur yang mungkin belum tersentuh oleh akal pikiran manusia

5.      Kecerdasan beragama adalah kecerdasan yang berhubungan dengan kualitas beragama dan bertuhan. Kecerdasan ini mengarahkan pada seseorang untuk berperilaku secara benar, yang puncaknya menghasilkan ketakwaan secara mendalam, dengan dilandasi oleh enam kompetensi keimanan, lima kompetensi keislaman dan multi kompetensi keikhlasan.



[1] Syamsul Nizar, Makalah yang tidak diterbitkan, PPs IAIN Imam Bonjol Padang, 1997

[2] Prof. Dr. H. Ramayulis, Ilmu Pendidikan Islam, (Jakarta: Kalam Mulia, 2008),h. 77-82

[3] Widodo Supriyono, Filsafat manusia dalam Islam, Repormasi Filsafat Pendidikan Islam, (Yogyakarta: Pustaka Pelajar, 1996), h.170-181

[4] Zakiah Drajat, Ilmu Pendidikan Islam, (Jakarta: Bumi Aksara, 1996), h.4

[5] Muhammad Hasan Hamshi, Qur’an Karim, Tafsir dan Bayan, (Beirut Dar-Rasyid, t.th), h.407

[6] M. Athiyah al-Abrasyi, Dasar-dasar Pokok Pendidikan Islam, (Jakarta: Bulan Bintang, 1993), h.104

[7] Al-Ghazali, Mi’raj as-Salikin, (Kairo: al-Saqafat al-Islamiyat, 1964), h. 16

[8] Sumadi Suryabrata, Psikologi Pendidikan, (Jakarta: PT. Raja Grapindo Persada, 2004) cet., ke-12, h.129-130

[9] Nana Syaodah Sukmadinata, Landasan Psikologi Prose Pendidikan, (Bandung: Remaja Rosdakarya, 2003), Cet. Ke-1, h. 97

[10] Ary Ginanjar Agustian, Rahasia Sukses Membangun Kecerdasn Emosi dan Spiritual Berdasarkan 6 Rukun Iman dan 5 Rukun Islam, (Jakarta : Arga, 2001), Cet. Ke-3, h. 57


Tidak ada komentar:

Posting Komentar