A. Pengertian Peserta Didik
Peserta didik secara formal adalah
orang yang sedang berada pada fase pertumbuhan dan perkembangan baik secara
fisik maupun psikis, pertumbuhan dan perkembangan merupakan ciri dari dari
seorang peserta didik yang perlu bimbingan dari seorang pendidik. Pertumbuhan
menyangkut fisik, perkembangan menyangkut psikis.
Syamsul
Nizar[1]
mendiskripsikan enam kriteria peserta didik :
1)
Peserta didik bukanlah
miniature orang dewasa tetapi memiliki dunianya sendiri
2)
Peserta didik memiliki
periodesasi perkembangan dan pertumbuhan
3)
Peserta didik adalah
makhluk Allah yang memilki perbedaan individu baik disebabkan oleh faktor
bawaan maupun lingkungan dimana ia berada
4)
Peserta didik merupakan dua
unsur utama jasmani dan rohani, unsur jasmani memilki daya fisik dan unsur
rohani memiliki daya akal hati nurani dan nafsu
5)
Peserta didik adalah
manusia yang memilki potensi atau fitrah yang dapat dikembangkan dan berkembang
secara dinamis.
Di dalam proses
pendidikan peserta didik di samping sebagai objek juga sebagai subjek. Oleh
karena itu agar seorang pendidik berhasil dalam proses pendidikan, maka ia haru
smemahami peserta didik dengan segala karakteristiknya. Diantaranya yang harus
dipahami oleh pendidik yaitu : (1) kebutuhannya, (2) dimensi-dimensinya, (3)
intelegensinya, (4) kepribadiannya.
B.
Kebutuhan Peserta
Didik
Banyak
kebutuhan peserta didik yang harus dipenuhi oleh pendidik, diantaranya :
1) Kebutuhan Fisik
Fisik peserta didik mengalami pertumbuhan
yang cepat terutama pada masa pubertas. Kebutuhan biologis, yaitu berupa
makanan, minum dan istirahat, dimana hal ini menurut peserta didik untuk
memenuhinya.
2) Kebutuhan Sosial
Kebutuhan sosial yaitu kebutuhan yang
berhubungan langsung dengan masyarakat agar peserta didik dapat berinteraksi
dengan masyarakat lingkungannya, seperti diterima oleh teman-temannya secara
wajar.
3) Kebutuhan Untuk Mendapatkan Status
Peserta didik terutama pada usia remaja
membutuhkan suatu yang menjadikan dirinya berguna bagi masyarakat. Kebanggaan
terhadap diri sendiri, baik dalam lingkungan keluarga, sekolah maupun di dalam
masyarakat.
4) Kebutuhan Mandiri
Peserta didik pada usia remaja ingin lepas
dari batasan-batasan atau aturan-aturan orang tuanya, yagng mencoba untuk
mengarahkan dan mendisiplinkan dirinya sendiri.
5) Kebutuhan untuk Berprestasi
Kebuthan untuk berprestasi erat kaitannya
dengan kebutuhan mendapat status dan mandiri. Artinya dengan terpenuhinya
kebutuhan untuk memiliki status atau penghargaan dan kebutuhan untuk hidup
mandiri dapat membuat peserta didik giat untuk mengejar prestasi.
6) Kebutuhan Ingin Disayangi dan Dicintai
Rasa ingin disayangi dan dicintai
merupakan kebutuhan yang asensial, karena dengan terpenuhi kebutuhan ini akan
mempengaruhi sikap mental peserta didik.
7) Kebutuhan untuk Curhat
Kebutuhan untuk curhat terutama remaja dimaksudkan
suatu kebutuhan untuk dipahami ide-ide dan permasalahan yang dihadapinya.
Peserta didik mengharapkan agar apa yangdialami, dirasakan terutama dalam masa
pubertas.
8) Kebutuhan untuk Memilki Filsafat Hidup
Peserta didik pada usia remaja mulai
tertarik untuk mengetahui tentang kebenaran dan nilai-niali ideal. Mereka
mempunyai keingina untuk mengenal apa tujuan hidup dan bagaimana kebahagian itu
diperoleh.[2]
C.
Dimensi-dimensi
Peserta Didik
1)
Dimensi Fisik (Jasmani)
Menurut Supriyono, manusia
merupakan makhluk multidimensional yang berbeda dengan makhluk-makhluk lainnya.
Secara garis besar ia membagi manusia pada dua dimensi yaitu dimensi fisik dan
rohani. Secara rohani, manusia mempunyai potensi kerohanian yang tak terhingga
banyaknya. Potensi-potensi tersebut Nampak dalam bentuk memahami sesuatu (ulil
albab), dapat berpikir atau merenung, mempergunakan akal, dapat beriman,
bertakwa,mengingat atau mengambil pelajaran, mendengar kebenaran firman Tuhan,
dapat berilmu, berkesenian, dapat menguasai teknologi tepat guna dan terakhir
manusia lahir ke dunia telah membawa fitrah.[3]
2)
Dimensi Akal
Al-Ishfahami,
membagi akal manusia kepada dua macam:
a.
Aql Al-Mathhu’ :
yaitu akal yang merupakan pancaran dari Allah sebagai fitrah ilahi. Akal ini
menduduki posisi yang sangat tinggi, namun demikian, akal ini tidak akan bias
berkembang dengan baik secara optimal, bila tidak dibarengi dengan kekuatan
akal lainnya, yaitu akal aql-masmu’.
b.
Aql al-masmu’,
yaitu akal yang merupakan kemampuan menerima yang dapat dikembangkan oleh
manusia. Akal ini bersifat aktif dan berkembang sebatas kemampuan yang
dimilkinya lewat bantuan proses penginderaan, secara bebas. Untuk mengarahkan
agar akal itu tetap berada di jalan Tuhannya, maka keberadaan aql al-masmu’
tidak dapat dilepaskan.
Sedangkan
fungsi akal manusia terbagi kepada enam yaitu:
a.
Akal penahan nafsu. Dengan
akal manusia dapat mengerti apa yang tidak dikehendaki oleh amanat yang
dibebankan kepadanya sebagi kewajiban
b.
Akal adalah pengertian dan
pemikiran yamg berubah-ubah dalam menghadapi sesuatu baik yang tampak jelas
maupun yang tidak jelas
c.
Akal adalah petunjuk yang
dapat membedakan hidayah dan kesesatan
d.
Akal adalah kesadaran batin
dan pengaturan
e.
Akal adalah pandangan
bathin yang berdaya tembus melebihi penglihatan mata
f.
Akal adalah daya ingat
mengambil dari yang telah lampau untuk masa yang akan dihadapi. Ia menghimpun
semua pelajaran dari apa yang pernah terjadi untuk menghadapi apa yang akan
terjadi. Ia menyimpan, mewadahi, memulai dan mengulangi semua pengertian itu.
Akal dapat memahami setiap perintah kebajikan dan memahami setiap larangan
mengenai kejahatan.[4]
3)
Dimensi Keberagamaan
Dalam pandangan islam, sejak lahir
manusia telah memilki jiwa agama, jiwa yang mengakui adanya zat yang maha
pencipta dan maha kuasa yaitu Allah Swt.
Sejak di dalam roh, manusia telah mempunyai komitmen bahwa Allah adalah
tuhannya.
Jiwa beragama tersebut disebit juga
fitrah beragama. Muhammad Hasan Hamshi, menafsirkan fitrah yaitu bahwa manusia
diciptakan Allah mempunyai naluri beragama yaitu, agama tauhid.[5]
4)
Dimensi Akhlak
Menurut Imam Al-Ghazali, bahwa
akhlak yang disebutnya dengan tabiat manusia dapat dilihat dalam dua bentuk,
yaitu: 1) tabiat-tabiat fitrah, kekuatan tabiat pada asal kesatuan tubuh dan
berkelanjutan selama hidup. Sebagian tabiat tersebut lebih kuat dan lebih lama
dibandingkan dengan tabiat lainnya. Seperti tabiat syahwat yang ada pada
manusia sejak ia dilahirkan, lebih kuat dan lebih sulit diluruskan dan
diarahkan dibandingkan tabiat marah. 2) akhlak yang muncul dari suatu perangai yang
banyak diamalkan dan ditaati, sehingga menjadikan bagian dari adat kebiasaan
yang berurat berakar pada dirinya.[6]
5)
Dimensi Kerohanian
(kejiwaan)
Dimensi kejiwaan merupakan suatu
dimensi yang sangat penting dan memiliki pengaruh dalam pengendalian keadaan
manusia agar dapat hidup sehat, tenteram dan bahagia. Penciptaan manusia
mengalami kesempurnaan setelah Allah meniupkan sebagian ruh ciptaan-Nya.
Insan adalah makhluk yang dari
tubuh yang dapat dilihat oleh pandangan dan jiwa yang bisa ditanggapi oleh akal
dan bashirah. Tetapi tidak dengan panca indera. Tubuhnya dikaitkan dengan tanah
dan ruhnya pada nafs atau diri/jiwanya. Allah maksudkan ruh itu ialah apa yang
kita ketahui sebagai jiwa atau an-nafs.[7]
6)
Dimensi Seni (keindahan)\
Seni adalah ekspresi roh dan daya
manusia yang mengandung dan mengungkapkan keindahan. Seni adalah bagian dari
hidup manusia. Allah telah menganugerahkan kepada manusia berbagai potensi
rohani maupun inderawi (mata, telinga dan lain sebagainya). Seni merupakan
salah satu potensi rohani, maka nilai seni dapat diungkapkan oleh perorangan
sesuai dengan kecenderungannya, atau oleh sekelompok masyarakat sesuai dengan
budayanya, tanpa adanya batasan yang ketat kecuali yang digariskan Alla.
7)
Dimensi Sosial
Seorang manusia adalah makhluk
individual dan secara bersamaan adalah makhluk sosial. Keserasian antar
individu dan masyarakat tidak mempunyai kontradiksi antara tujuan sosial dan
tujuan individu.
Dalam islam tanggun jawab tidak
terbatas pada perorangan, tetapi juga sosial sekaligus. Tanggung jawab
perorangan pada pribadi merupakan asas, tapi ia tidak mengabaikan tanggung
jawab sosial yangmerupakan dasar pembentuk masyarakat.
D.
Intelegensi Peserta
Didik
Pada mulanya, kecerdasan hanya
berkaitan dengan kemampuan struktur akal (intellect) dalam menangkap gejala
sesuatu, sehingga kecerdasan hanya bersentuhan dengan aspek-aspek kognitif.
Namun pada perkembangan berikutnya, disadari bahwa kehidupan manusia bukan
semata-mata memenuhi struktur akal, melainkan terdapat struktur kalbu yang
perlu mendapat tempat tersendiri untuk menumbuhkan aspek-aspek efektif, seperti
kehidupan emosional, moral, spiritual dan agama. Pada saat ini pemahaman
terhadap kecerdasan itu sudah berkembang diantaranya: (1) kecerdasan
intelektual, (2)kecerdasan emosional,
(3) kecerdasan spiritual, dan (4) kecerdasan qalbu.
1)
Kecerdasan Intelektual
Kecerdasan intelektual adalah
kecerdasan yang menuntut pemberdayaan otak, hati, jasmani, dan pengaktifan
manusia untuk berinterksi secara fungsional dengan yang lain.
Ciri-ciri kecerdasan intelektual:
1.
Menururt Thurtone dengan
teri multifaktornya yang dapat menentukan keceradasan intelektual, tujuh
diantaranya dianggap paling utama untuk ebilitas-ebilitas mental, yaitu:[8]
a) Faktor inagatan, yaitu kemampuan untuk mengingat
b) Faktor ferbal yaitu kecakapan untuk menggunakan bahasa
c) Faktor bilangan yaitu kemampuan untuk bekerja dengan bilangan
d) Fakror kelancaran kata-kata yaitu seberapa lancar seseorang
mempergunakan kata-kata yang sukar ucapannya
e) Faktor penalaran yaitu faktor yang mendasari kecakapan untur
berpikir logis
f) Faktor persepsi yaitu kemampuan untuk mengamati dengan cepat dan
cermat
g) Faktor ruang yaitu kemampuan untuk mengadakan orientasi dalam
ruang.
2.
Nana Syaodah,[9]menyimpulkan
ciri-ciri perilaku cerdas atau perilaku individu yang meilki keceradasan tinggi
adalah:
a) Terarah kepada tujuan. Perilaku cerdas selalu mempunyai tujuan
dan diarahkan kepada pencapaian tujuan tersebut, tidak ada perilaku yang
sia-sia
b) Tingkahlaku terkoordinasi. Seluruh aktivitas dan perilaku cerdas
selalu terkoordinasi dengan baik. Tidak ada perilaku yang tidak direncanakan
atau tidak terkendali
c) Sikap jasmaniah yang baik. Perilku cerdas didukung oleh sikap
jasmaniah yang baik. Peserta didik yang belajar secara cerdas, duduk dengan
baik, menempatkan bahan pelajaran dengan baik, memegang alat tulis dengan baik
dan sebagainya,tidak belajar sambil tiduran, sambil tengkurap dan sebagainya
d) Memilki daya adaptasi yang tinggi. Perilaku cerdas cepat membaca
dan menyesuaikan diri dengan lingkungan, tidak banyak mengeluh atau merasakan
hambatan dan lingkungan
e) Berorientasi kepada sukses. Perilaku cerdas berorientasi kepada
keberhasilan, tidak takut gagal,selali optimis
f) Mempunyai motivasi yang tinggi. Perilaku cerdas selalu didorong
oleh motivasi yang kuat baik yang datangnya dari dalam dirinya maupun dari luar
g) Dilakukan dengan cepat, karena ia dengan cepat dapat memahami
situasi atau permasalahan
h) Menyangkut kegiatan yang luas dan kompleks yahngmembutuhkan
pemahaman dan pemikiran yang mendalam
2)
Kecerdasn emosional
Menurut Daniel Golemen, kecerdasan
emosional adalah kemampuan untuk memotivasi diri sendiri, bertahan mengahadapi
prustasi, mengendalikan dorongan hati, tidak melebih-lebihkan kesenangan,
mengatur suasana hait, menjaga beban stress tidak melumpuhkan kemampuan
berpikir, berempati dan berdoa.
Di dalam islam hal-hal yang
berhubungan dengan kecakapan emosi seperti konsisten (istiqamah), kerendahan
hati (tawaddu’), berusaha dan berserah diri (tawakal), ketulusan (keikhlasan),
totalitas (kaffah),keseimbangan (tawazun), integritas dan penyempurnaan
(ihsan). Dinamakan dengan akhlak al-karimah. Dalam kecerdasan emosional, itulah
yang menjadi tolak ukur kecerdasan emosi, seperti integritas, komitmen,
konsisten dan totalitas.
Jalaluddi rahmat mengemukakan bahwa
untuk memp[eroleh kecerdasan emosional yang tinggi harus dilakukan hal-hal
sebagai berikut:
a)
Musyarathah, berjanji pada
diri sendiri untuk membiasakan perbuatan baik dan membuang perbuatan buruk
b)
Muraqabah, memonitor reaksi
dan perilaku sehari-hari
c)
Muhasabah, melakuakn
perhitungan baik dan buruk yang pernah dilakukan, dan
d)
Mu’atabah dan mu’aqabah,
mengecam keburukan yang dilakukan dan menghukum, diri sendiri (sebagai hakim
sekaligus sebagai terdakwa)
3)
Kecerdasan Spiritual
Menurut Danah Yohar dan Ian
Murshal, kecerdasan spiritual adalah kecerdasan untuk menghadapi persoalan
makna atau value, yaitu kecerdasan untuk menempatkan perilaku dan hidup dalam
konteks makna yang lebih luas. Kecerdasan untuk menilai bahwa tindakan jalan
hidup seseorang lebih bermakna dibandingkan dengan yang lain.
Selanjutnya menurut Ary Ginanjar Agustian,
Kecerdasan spiritual adalah kemampuan untuk memberi makna abadah terhadap
setiap perilaku dan kegiatan, melalui langkah-langkah dan pemikiran yang
bersifat fitrah, menuju manusia yang seutuhnya dan memilki pola pemikiran
tauhid serta berprinsip hanya karena Allah.[10]
4)
Kecerdasan Qalbiyah
Keceradasan qalbiyah adalah
sejumlah kemampuan diri secara cepat dan sempurna, untuk mengenal qalbu dan
aktvitas-aktivitasnya, mengelola dan mengekspresikan jenis-jenis kalbu secara
benar, memotivasi kalbu untuk membina hubungan moralitas dengan orang lain dan
hubungan ubudiyah dengan tuhan.
Abd Mujib menytakan bahwa
pengertian qalbiah dapat dijabarkan dalam beberapa jenis kecerdasan qalbiah
sebagai berikut:
1.
Kecerdasan intelektual
(intuitif), yaitu kecerdasan qalbu yang berkaitan dengan penerimaan dan
pembenaran pengetahuan yang bersifat intuitif ilahiah seperti wahyu (untuk para
rasul dan nabi) dan ilham atau firasat (untuk manusia biasa yang salih). Adanya
sifat intuitif ilahiah ini sebagai pembeda dengan kecerdasan intelektual yang
ditimbulkan oleh akal pikiran yang bersifat irasional ilahiah
2.
Kecerdasabn emosional,
yaitu kecerdasan qalbu yang berkaitan dengan pengendalian nafsu-nafsu impulsive
dan agresif. Kecerdasan ini memgarahkan
seseorang untuk bertindak secara hati-hati, waspada, tenang, sabar, dan tabah
ketika mendapat musibah,dan berterima kasih ketika mendapat kenikmatan
3.
Kecerdasan moral yaitu
kecerdasan qalbu yang berkaitan dengan hubungan kepada sesame manusia dan alam
semesta. Kehidupkan ini mengarahkan orang agar berbuat dengan baik, sehingga
orang lain merasa senang dan gembira, dan tidak membencinya
4.
Kecerdasan spiritual adalah
kecerdasan qalbu yang berhubungan dengan kualitas batin seseorang. Kecerdasan
ini mengarahkan orang berbuat lebih manusiawi, sehingga dapat menjangkau
nilai-nilai luhur yang mungkin belum tersentuh oleh akal pikiran manusia
5.
Kecerdasan beragama adalah
kecerdasan yang berhubungan dengan kualitas beragama dan bertuhan. Kecerdasan
ini mengarahkan pada seseorang untuk berperilaku secara benar, yang puncaknya
menghasilkan ketakwaan secara mendalam, dengan dilandasi oleh enam kompetensi
keimanan, lima kompetensi keislaman dan multi kompetensi keikhlasan.
[1]
Syamsul Nizar, Makalah yang tidak diterbitkan, PPs IAIN Imam Bonjol Padang,
1997
[2]
Prof. Dr. H. Ramayulis, Ilmu Pendidikan Islam, (Jakarta: Kalam Mulia,
2008),h. 77-82
[3]
Widodo Supriyono, Filsafat manusia dalam Islam, Repormasi Filsafat
Pendidikan Islam, (Yogyakarta: Pustaka Pelajar, 1996), h.170-181
[4]
Zakiah Drajat, Ilmu Pendidikan Islam, (Jakarta: Bumi Aksara, 1996), h.4
[5]
Muhammad Hasan Hamshi, Qur’an Karim, Tafsir dan Bayan, (Beirut
Dar-Rasyid, t.th), h.407
[6]
M. Athiyah al-Abrasyi, Dasar-dasar Pokok Pendidikan Islam, (Jakarta:
Bulan Bintang, 1993), h.104
[7]
Al-Ghazali, Mi’raj as-Salikin, (Kairo: al-Saqafat al-Islamiyat, 1964),
h. 16
[8]
Sumadi Suryabrata, Psikologi Pendidikan, (Jakarta: PT. Raja Grapindo
Persada, 2004) cet., ke-12, h.129-130
[9]
Nana Syaodah Sukmadinata, Landasan Psikologi Prose Pendidikan, (Bandung:
Remaja Rosdakarya, 2003), Cet. Ke-1, h. 97
[10]
Ary Ginanjar Agustian, Rahasia Sukses Membangun Kecerdasn Emosi dan
Spiritual Berdasarkan 6 Rukun Iman dan 5 Rukun Islam, (Jakarta : Arga,
2001), Cet. Ke-3, h. 57
Tidak ada komentar:
Posting Komentar