Rabu, 15 Juli 2020

PRINSIP-PRINSIP PENDIDIKAN ISLAM

A.    LATAR BELAKANG

Pendidikan sangat penting dalam kehidupan dan tidak dapat dipisahkan dari kehidupan. Sifatnya mutlak dalam kehidupan seseorang, keluarga, maupun bangsa dan negara. Maju mundurnya suatu bangsa banyak ditentukan oleh maju mundurnya pendidikan bagsa itu. Mengingat sangat pentingnya pendidikan bagi kehidupan maka pendidikan harus dilaksanakan sebaik-baiknya, sehingga memperoleh hasil yang diharapkan.

Pendidikan Islam adalah pengembangan pikiran manusia dan penataan tingkah laku serta emosinya berdasarkan agama Islam dengan maksud merealisasikan tujuan Islam di dalam kehidupan individu dan masyarakat, yakni dalam seluruh lapangan kehidupan.

Pendidikan Islam bertolak dari pola pikir tentang padunya aspek teoritis (prisip-prinsip) dengan aspek praktis (metode). Prinsip diartikan sebagai permulaan, yang dengan suatu cara tertentu melahirkan hal-hal lain yang keberadaaannya tergantung dari pemula itu. Jadi kalau kita berbicara tentang prinsip pendidikan, maka pelaksanaan pendidikan itu tergantung atau digariskan oleh prinsip-prinsip tersebut yang menggariskannya.

Ajaran Islam yang sarat dengan konsep atau prinsip tertentu yang mendasari prilaku yang diharapkan. Pandangan bahwa manusia merupakan makhluk Allah, yang mempunyai implikasi bahwa kehidupan manusia, dasar dan tujuan hidupnya, upaya dan prilakunya tidak lepas dari hubungannya dengan Allah. Demikian pula tingkah laku yang ditujukan kepada manusia cara dan prosesnya harus dihubungkan dengan prinsip dasar bahwa manusia adalah makhluk Allah. Dalam kajian ini akan dijelaskan tentang prinsip keseimbangan dalam pendidikan Islam.

 

B.     RUMUSAN MASALAH

Dalam pembahasan makalah ini terdapat beberapa rumusan masalah, yaitu:

1.      Bagaimana prinsip-prinsip pendidikan Islam?

2.      Bagaimana prinsip keseimbangan dalam pendidikan Islam?

 

C.    TUJUAN PENULISAN

Berdasarkan rumusan masalah di atas maka tujuan penulisan pada makalah ini, yaitu:

1.      Mengetahui prinsip-prinsip pendidikan Islam

2.      Mengetahui prinsip keseimbangan dalam pendidikan Islam

 

 

A.    PENGERTIAN

Prinsip berasal dari bahasa Inggris, principle yang berarti قاعدة, مبدأ .[1] مبدأ   berarti tempat/titik permulaan; asas, dasar yang punya prinsip.[2] Adapun قاعدة berarti dasar, asas, fondamen; prinsip.[3] Menurut Kamus Besar Bahasa Indonesia, prinsip n asas (kebenaran yang menjadi pokok dasar berfikir, bertindak, dan lain sebagainya); dasar.[4] Prinsip dapat diartikan asas atau fondamen pokok untuk sesuatu itu terwujud.

Prinsip pendidikan Islam artinya asas fondamen yang mendasari terbentuknya pendidikan Islam terutama sebagai sebuah sistem pendidikan yang memiliki karakteristik tersendiri sekaligus membedakan dengan sistem pendidikan lainnya.[5]

Apabila dikaitkan dengan pendidikan, maka prinsip pendidikan dapat sebagai kebenaran yang universal sifatnya dan menjadi dasar dalam merumuskan perangkat pendidikan. Prinsip pendidikan diambil dari dasar pendidikan, baik berupa agama atau ideologi negara yang dianut.

Prinsip pendidikan Islam juga ditegakkan di atas dasar yang sama dan berpangkal dari pandangan Islam secara filosofis terhadap jagad raya, manusia, masyarakat, ilmu pengetahuan dan akhlak. Pandangan Islam terhadap masalah-masalah tersebut, melahirkan berbagai prinsip dalam pendidikan Islam.

 

B.     PRINSIP-PRINSIP PENDIDIKAN ISLAM

1.      Prinsip-Prinsip Umum

a.       Universal (Menyeluruh)

Agama Islam yang menjadi dasar Pendidikan Islam itubersifat menyeluruh dalam pandangan nya terhadap agama, manusia, masyarakat dan kehidupan. Islam berusaha membina individu sebagaimana ia membina masyarakat dan menghargainya sekaligus.[6]

Pendidikan Islam berdasar pada prinsip ini bertujuan untuk membuka, mengembangkan, dan mendidik segala aspek pribadi manusia dan dayanya. Juga mengembangkan segala segi kehidupan dalam masyarakat, turut menyelesaikan masalah sosial dan memelihara sejarah dan kebudayaan.[7] Dengan demikian, pendidikan Islam itu tidak bersifat eksklusif.

b.      Keseimbangan dan kesederhanaan

Pendidikan Islam pada prinsip ini bermakna mewujudkan keseimbangan antara aspek-aspek pertumbuhan anak dan kebutuhan-kebutuhan individu, baik masa kini maupun akan datang, secara sederhana yang beraplikasi sesuai dengan semangat fitrah yang sehat.[8]

Tidak hanya itu keseimbangan pendidikan juga bisa dilihat dari aspek jasmani dan rohani, ilmu dan amal, spritual dan material, individu dan kelompok, hak dan kewajiban, dan dunia akhirat.

c.       Kejelasan

            Prinsip ini memberi jawaban yang jelas dan tegas pada jiwa dan akal dalam memecahkan masalah, tantangan dan krisis. Prinsip ini merupakan prinsip penting yang harus ada dalam setiap tujuan-tujuan pengajaran. Kejelasan tujuan memberi makna dan kekuatan terhadap pengajaran. Mendorong pengajaran untuk bertolak pada arah yang jelas untuk mencapai tujuan dan menghalangi terjadinya perselisihan dalam persepsi dan interpretasi.[9]

 

 

 

d.      Realisme dan realisasi

            Kedua prinsip ini berusaha mencapai tujuan melalui metode yang praktis dan realistis. Sesuai dengan fitrah. Terealisasi sesuai dengan kondisi dan kesanggupan individu, sehingga dapat dilaksanakan pada setiap waktu dan tempat secara ideal.[10]

e.       Prinsip dinamisme

            Pendidikan Islam tidak beku dalam tujuan, kurikulum dan metode-metodenya, tetapi selalu memperbaharui dan berkembang. Ia memberi respon terhadap perkembangan individu, sosial dan masyarakat, bahkan inovasi-inovasi dari bangsa lain di dunia.

2.      Prinsip-prinsip Khusus

            Dalam konteks metode pendidikan dan pembelajaran terdapat beberapa prinsip:[11]

a.       Terbuka tidak boleh kitman

            Prinsip keterbukaan dan tidak boleh memberikan hanya sebagian dari yang diketahui oleh pendidik kepada anak didiknya. Nabi bersifat tabligh sebagai lawannya adalah kitman.

* $pkšr'¯»tƒ ãAqß§9$# õ÷Ïk=t/ !$tB tAÌRé& šøs9Î) `ÏB y7Îi/¢ ( bÎ)ur óO©9 ö@yèøÿs? $yJsù |Møó¯=t/ ¼çmtGs9$yÍ 4 ª!$#ur šßJÅÁ÷ètƒ z`ÏB Ĩ$¨Z9$# 3 ¨bÎ) ©!$# Ÿw Ïöku tPöqs)ø9$# tûï͍Ïÿ»s3ø9$# ÇÏÐÈ  

            Artinya: “Hai rasul, sampaikanlah apa yang diturunkan kepadamu dari Tuhanmu. dan jika tidak kamu kerjakan (apa yang diperintahkan itu, berarti) kamu tidak menyampaikan amanat-Nya. Allah memelihara kamu dari (gangguan) manusia[430]. Sesungguhnya Allah tidak memberi petunjuk kepada orang-orang yang kafir.”[12] (Q.S. Al-Maidah: 67)

b.      Menyebar kebaikan

Æ÷tGö/$#ur !$yJÏù š9t?#uä ª!$# u#¤$!$# notÅzFy$# ( Ÿwur š[Ys? y7t7ŠÅÁtR šÆÏB $u÷R9$# ( `Å¡ômr&ur !$yJŸ2 z`|¡ômr& ª!$# šøs9Î) ( Ÿwur Æ÷ö7s? yŠ$|¡xÿø9$# Îû ÇÚöF{$# ( ¨bÎ) ©!$# Ÿw =Ïtä tûïÏÅ¡øÿßJø9$# ÇÐÐÈ  

            Artinya: “Dan carilah pada apa yang telah dianugerahkan Allah kepadamu (kebahagiaan) negeri akhirat, dan janganlah kamu melupakan bahagianmu dari (kenikmatan) duniawi dan berbuat baiklah (kepada orang lain) sebagaimana Allah telah berbuat baik, kepadamu, dan janganlah kamu berbuat kerusakan di (muka) bumi. Sesungguhnya Allah tidak menyukai orang-orang yang berbuat kerusakan.”[13] (Q.S. Al-Qashash:77)

c.       Prinsip: gembira-mudah

ãöky­ tb$ŸÒtBu üÏ%©!$# tAÌRé& ÏmŠÏù ãb#uäöà)ø9$# Wèd Ĩ$¨Y=Ïj9 ;M»oYÉit/ur z`ÏiB 3yßgø9$# Èb$s%öàÿø9$#ur 4 `yJsù yÍky­ ãNä3YÏB tök¤9$# çmôJÝÁuŠù=sù ( `tBur tb$Ÿ2 $³ÒƒÍsD ÷rr& 4n?tã 9xÿy ×o£Ïèsù ô`ÏiB BQ$­ƒr& tyzé& 3 ߃̍ムª!$# ãNà6Î/ tó¡ãŠø9$# Ÿwur ߃̍ムãNà6Î/ uŽô£ãèø9$# (#qè=ÏJò6çGÏ9ur no£Ïèø9$# (#rçŽÉi9x6çGÏ9ur ©!$# 4n?tã $tB öNä31yyd öNà6¯=yès9ur šcrãä3ô±n@ ÇÊÑÎÈ  

            Artinya: “(Beberapa hari yang ditentukan itu ialah) bulan Ramadhan, bulan yang di dalamnya diturunkan (permulaan) Al Quran sebagai petunjuk bagi manusia dan penjelasan-penjelasan mengenai petunjuk itu dan pembeda (antara yang hak dan yang bathil). karena itu, Barangsiapa di antara kamu hadir (di negeri tempat tinggalnya) di bulan itu, Maka hendaklah ia berpuasa pada bulan itu, dan Barangsiapa sakit atau dalam perjalanan (lalu ia berbuka), Maka (wajiblah baginya berpuasa), sebanyak hari yang ditinggalkannya itu, pada hari-hari yang lain. Allah menghendaki kemudahan bagimu, dan tidak menghendaki kesukaran bagimu. dan hendaklah kamu mencukupkan bilangannya dan hendaklah kamu mengagungkan Allah atas petunjuk-Nya yang diberikan kepadamu, supaya kamu bersyukur.”[14] (Q.S. Al-Baqarah: 185)

d.      Santun-lembut

$yJÎ6sù 7pyJômu z`ÏiB «!$# |MZÏ9 öNßgs9 ( öqs9ur |MYä. $ˆàsù xáÎ=xî É=ù=s)ø9$# (#qÒxÿR]w ô`ÏB y7Ï9öqym ( ß#ôã$$sù öNåk÷]tã öÏÿøótGó$#ur öNçlm; öNèdöÍr$x©ur Îû ͐öDF{$# ( #sŒÎ*sù |MøBztã ö@©.uqtGsù n?tã «!$# 4 ¨bÎ) ©!$# =Ïtä tû,Î#Ïj.uqtGßJø9$# ÇÊÎÒÈ  

                Artinya:”Maka disebabkan rahmat dari Allah-lah kamu Berlaku lemah lembut terhadap mereka. Sekiranya kamu bersikap keras lagi berhati kasar, tentulah mereka menjauhkan diri dari sekelilingmu. karena itu ma'afkanlah mereka, mohonkanlah ampun bagi mereka, dan bermusyawaratlah dengan mereka dalam urusan itu[246]. kemudian apabila kamu telah membulatkan tekad, Maka bertawakkallah kepada Allah. Sesungguhnya Allah menyukai orang-orang yang bertawakkal kepada-Nya.”[15] (Q.S. Ali Imran: 159)

e.       Kebermaknaan

Nåk÷]ÏBur `¨B ßìÏJtGó¡o y7øs9Î) #Ó¨Lym #sŒÎ) (#qã_tyz ô`ÏB x8ÏYÏã (#qä9$s% tûïÏ%©#Ï9 (#qè?ré& zOù=Ïèø9$# #sŒ$tB tA$s% $¸ÿÏR#uä 4 y7Í´¯»s9'ré& tûïÏ%©!$# yìt6sÛ ª!$# 4n?tã öNÍkÍ5qè=è% (#þqãèt7¨?$#ur óOèduä!#uq÷dr& ÇÊÏÈ  

                Artinya: “Dan di antara mereka ada orang yang mendengarkan perkataanmu sehingga apabila mereka keluar dari sisimu orang-orang berkata kepada orang yang telah diberi ilmu pengetahuan (sahabat-sahabat Nabi): "Apakah yang dikatakannya tadi?" mereka Itulah orang-orang yang dikunci mati hati mereka oleh Allah dan mengikuti hawa nafsu mereka.[16] (Q.S. Muhammad: 16)

f.       Komunikatif dan terbuka menerima pendapat dari murid

tûïÏ%©!$# tbqãèÏJtFó¡o tAöqs)ø9$# tbqãèÎ6­Fusù ÿ¼çmuZ|¡ômr& 4 y7Í´¯»s9'ré& tûïÏ%©!$# ãNßg1yyd ª!$# ( y7Í´¯»s9'ré&ur öNèd (#qä9'ré& É=»t7ø9F{$# ÇÊÑÈ  

                Artinya: “Yang mendengarkan Perkataan lalu mengikuti apa yang paling baik di antaranya. mereka Itulah orang-orang yang telah diberi Allah petunjuk dan mereka Itulah orang-orang yang mempunyai akal.”[17] (Q.S. Az-Zumar: 18)

g.      Pengetahuan yang baru

óOÎgƒÎŽã\y $uZÏF»tƒ#uä Îû É-$sùFy$# þÎûur öNÍkŦàÿRr& 4Ó®Lym tû¨üt7oKtƒ öNßgs9 çm¯Rr& ,ptø:$# 3 öNs9urr& É#õ3tƒ y7În/tÎ/ ¼çm¯Rr& 4n?tã Èe@ä. &äóÓx« îÍky­ ÇÎÌÈ  

                Artinya: “Kami akan memperlihatkan kepada mereka tanda-tanda (kekuasaan) Kami di segala wilayah bumi dan pada diri mereka sendiri, hingga jelas bagi mereka bahwa Al Quran itu adalah benar. Tiadakah cukup bahwa Sesungguhnya Tuhanmu menjadi saksi atas segala sesuatu?”[18] (Q.S. Fushshilat: 53)

h.      Model perilaku/keteladanan

ôs)©9 tb%x. öNä3s9 Îû ÉAqßu «!$# îouqóé& ×puZ|¡ym `yJÏj9 tb%x. (#qã_ötƒ ©!$# tPöquø9$#ur tÅzFy$# tx.sŒur ©!$# #ZŽÏVx. ÇËÊÈ  

                Artinya: “Sesungguhnya telah ada pada (diri) Rasulullah itu suri teladan yang baik bagimu (yaitu) bagi orang yang mengharap (rahmat) Allah dan (kedatangan) hari kiamat dan Dia banyak menyebut Allah.”[19] (Q.S. Al-Ahzab: 21)

            Mengingat prinsip-prinsip pendidikan Islam merupakan rukun yang harus ada dalam pendidikan, ia bagaikan rukun dalam shalat, maka bilamana kurang salah satu rukunnya akan berakibat tidak syahnya shalat tersebut.[20]

C.    PRINSIP KESEIMBANGAN DALAM ISLAM DAN HUBUNGANNYA DENGAN PENDIDIKAN ISLAM

Æ÷tGö/$#ur !$yJÏù š9t?#uä ª!$# u#¤$!$# notÅzFy$# ( Ÿwur š[Ys? y7t7ŠÅÁtR šÆÏB $u÷R9$# ( `Å¡ômr&ur !$yJŸ2 z`|¡ômr& ª!$# šøs9Î) ( Ÿwur Æ÷ö7s? yŠ$|¡xÿø9$# Îû ÇÚöF{$# ( ¨bÎ) ©!$# Ÿw =Ïtä tûïÏÅ¡øÿßJø9$# ÇÐÐÈ  

 

Artinya: “Dan carilah pada apa yang telah dianugerahkan Allah kepadamu (kebahagiaan) negeri akhirat, dan janganlah kamu melupakan bagianmu dari (kenikmatan) duniawi dan berbuat baiklah (kepada orang lain) sebagaimana Allah telah berbuat baik kepadamu, dan janganlah kamu berbuat kerusakan di (muka) bumi. Sesungguhnya Allah tidak menyukai orang-orang yang berbuat kerusakan.”[21] [Al Qashash : 77].

Ibnu Katsir menjelaskan ayat ini sebagai berikut: “Pergunakanlah karunia yang telah Allah berikan kepadamu berupa harta dan kenikmatan yang berlimpah ini, untuk mentaati Rabb-mu dan mendekatkan diri kepadaNya dengan berbagai bentuk ketaatan. Dengan itu, kamu memperoleh balasan di dunia dan pahala di akhirat. Firman Allah “Janganlah kamu melupakan bagianmu dari kenikmatan duniawi”, yaitu dari apa-apa yang dibolehkan Allah berupa makanan, minuman, pakaian, tempat tinggal dan pernikahan. Sesungguhnya Allah mempunyai hak atas dirimu. Jiwa ragamu juga mempunyai hak atas dirimu. Keluargamu juga mempunyai hak atas dirimu. Tamu mu juga mempunyai hak atas dirimu. Maka berikanlah tiap-tiap hak kepada pemilikinya.”[22]

Ayat tersebut di atas menjelaskan bahwasanya harus ada keseimbangan antara kehidupan duniawi dan ukhrawi. Hubungan ayat tersebut di atas dengan pendidikan Islam ialah bahwasanya pendidikan juga harus ada keseimbangan yang relatif. Kalau perhatian pada aspek spritual dan ilmu syariat lebih besar,  maka aspek spritual tidak boleh melampaui aspek penting yang lain dalam kehidupan. Juga tidak boleh melampaui ilmu, seni dan kegiatan yang harus diadakan untuk individu dan masyarakat. Ini karena agama Islam yang menjadi sumber isi pendidikannya baik falsafah dan tujuannya, menekankan kepentingan dunia dan akhirat, serta mengakui pentingnya jasmani, akal dan jiwa dan kebutuhan tiap segi ini. Oleh sebab itu, kaum muslimin harus memilih jalan tengah, keseimbangan dan kesederhanaan dalam segala sesuatu.[23]

Ruang lingkup Pendidikan didalam pandangan Islam tidak sempit, tidak saja terbatas pada pendidikan agama dan tidak pula terbatas pada pendidikan duniawi semata-mata, tetapi Rasulullah sendiri pernah menghasung setiap individu dari ummat Islam supaya bekerja untuk agama dan dunianya sekaligus.[24] Karena perintah Allah kepada hamba untuk menyembah-Nya dan mengisi hatinya dengan ajaran agama serta menerima semua yang berlaku di dunia, bukan berarti mengharuskan hamba-Nya untuk menghindari masalah dunia, mengharamkan untuk menikmati kenikmatan dunia, dan mengharuskan bersikap zuhud,tanpa memperdulikan kesehatan diri. [25]

 

 

 

 

SIMPULAN

 

Agama Islam yang menjadi sumber isi pendidikannya baik falsafah dan tujuannya, menekankan kepentingan dunia dan akhirat, serta mengakui pentingnya jasmani, akal dan jiwa dan kebutuhan tiap segi ini. Oleh sebab itu, kaum muslimin harus memilih jalan tengah, keseimbangan dan kesederhanaan dalam segala sesuatu.

 

 

 

 

 

 

 

 

 

 

 

 

 

 

 

 

 

 

 

 

 

 

 

 

 

 

 

 

DAFTAR PUSTAKA

 

Abduh, Muhammad, 2005., Islam: Ilmu Pengetahuan, dan masyarakat Madani, Jakarta: PT          RajaGrafindo.

Ali al-Khauly, Muhammad, 1980., Kamus Tarbiyah-Arab, Beirut-Libanon: Dar Ilmi al-     Muallimin.

 

Al-Abrasyi, M. Athiyah, tt., Dasar-dasar Pokok Pendidikan Islam, terj., Jakarta: Bulan     Bintang.

Asy-Syafi'i, Ismail bin Umar Al-Quraisyi bin Katsir Al-Bashri Ad-Dimasyqi, Imaduddin Abu       Al-Fida Al-Hafizh Al-Muhaddits, 2008.,  Tafsir Ibnu Katsir, Jakarta: Pustaka Imam     Syafi’i.

 

Buseri, Kamrani, 2014., Dasar, Asas, dan Prinsip Pendidikan Islam, Yogyakarta: Aswaja Pressindo.

 

Departemen Agama RI, 2005., Al-Qur’an Tajwid dan Terjemah, Jakarta: Khairul Bayan.

 

Departemen Pendidikan Nasional, tt., Kamus Besar Bahasa Indonesia, Jakarta: Balai        Pustaka, Edisi Ketiga.

 

Ihsan, Hamdani, A. Fuad Ihsan, 1998., Filsafat Pendidikan Islam, Bandung: CV Pustaka Setia.

 

Muhammad al-Taoumy al-Syaibani, Omar, 1979., Falsafah al-Tarbiyah al-Islamiyah, terj.             Hasan Langgulung (Falsafah Pendidikan Islam), Jakarta: Bulan Bintang.

 

Nata, Abudin, 2004., Sejarah Pendidikan Islam, Jakarta: PT RajaGrafindo Persada.

 

Warson Munawwar, Ahmad, 1984., Al-Munawwar Kamus Arab-Indonesia, Yogyakarta: tt.          Penerbit.

 

 

 



[1] Muhammad Ali al-Khauly, Kamus Tarbiyah-Arab, (Beirut-Libanon: Dar Ilmi al-Muallimin, 1980), h. 368

 

[2] Ahmad Warson Munawwar, Al-Munawwar Kamus Arab-Indonesia, (Yogyakarta: tt. Penerbit,  1984, h. 68

 

[3] Ibid., h. 1224

 

[4] Departemen Pendidikan Nasional, Kamus Besar Bahasa Indonesia, (Jakarta: Balai Pustaka, tt.), Edisi Ketiga, h. 896

 

[5] Kamrani Buseri, Dasar, Asas, dan Prinsip Pendidikan Islam, (Yogyakarta: Aswaja Pressindo, 2014), h.285

[6] Abudin Nata, Sejarah Pendidikan Islam, (Jakarta: PT RajaGrafindo Persada, 2004), h. 12-14

 

[7] Omar Muhammad al-Taoumy al-Syaibani, Falsafah al-Tarbiyah al-Islamiyah, terj. Hasan Langgulung (Falsafah Pendidikan Islam), (Jakarta: Bulan Bintang, 1979), h. 438

 

[8] Ibid. h. 438

 

[9] Ibid. h. 439

 

[10] Ibid. h. 440

 

[11] Kamrani Buseri, Op.Cit., h. 293-297

 

[12] Departemen Agama RI, Al-Qur’an Tajwid dan Terjemah, (Jakarta: Khairul Bayan, 2005), h. 153

[13] Ibid., h. 543

 

[14] Ibid., h. 94

 

[15] Ibid., h. 88

 

[16] Ibid., h. 718

[17] Ibid., h. 648

 

[18] Ibid., h. 678

 

[19] Ibid., h. 584

 

[20] Kamrani Buseri, Op. Cit., h. 297

 

[21] Ibid., h. 543

 

[22] Ismail bin Umar Al-Quraisyi bin Katsir Al-Bashri Ad-Dimasyqi, Imaduddin Abu Al-Fida Al-Hafizh Al-Muhaddits Asy-Syafi'i, Tafsir Ibnu Katsir, (Jakarta: Pustaka Imam Syafi’i, 2008), h.238

 

[23] Hamdani ihsan, A. Fuad Ihsan, Filsafat Pendidikan Islam, (Bandung: CV Pustaka Setia, 1998), h. 134

 

[24] M. Athiyah Al-Abrasyi, Dasar-dasar Pokok Pendidikan Islam, terj.  (Jakarta: Bulan Bintang, tt.), h. 16

 

[25] Muhammad Abduh, Islam: Ilmu Pengetahuan, dan masyarakat Madani, (Jakarta: PT RajaGrafindo, 2005), h. 137


Tidak ada komentar:

Posting Komentar