BAB I
PENDAHULUAN
A.
LATAR BELAKANG
Manusia
merupakan makhluk yang diciptakn oleh Allah dengan sebaik-baiknya. Kita diberi
akal untuk memikirkan segala sesuatu yang ada di alam semesta ini, terlebih
lagi memikirkan betapa hebatnya orang yang menciptakan alam semesta ini. Oleh
karena itu, manusia beragama karena di dalam agama mereka menjelaskan orang
yang menciptakan alam semesta itu yaitu yang disebut dengan Tuhan.
Di dalam syarat
beragama salah satunya adalah “beriman”. Iman merupakan unsur yang diperlukan
karena seseorang tidak akan memeluk sebuah agama apabila tidak didasari oleh
iman atau percaya terhadap ajaran agama tersebut. Nah dalam makalah kami ini
membahas tentang problema keimanan.
B.
RUMUSAN MASALAH
1.
Apa definisi iman dan keimanan?
2.
Apa saja factor-faktor penyebab problema
keimanan?
3.
Bagaimana sikap keagamaan yang menyimpang?
4.
Apa saja factor-faktor yang
mempengaruhi sikap dalam beragama?
C.
TUJUAN PENULISAN
1. Mengetahui
definisi
iman dan keimanan.
2. Mengetahui
factor-faktor
penyebab problema keimanan.
3. Menjelaskan
sikap keagamaan yang menyimpang.
4. Mengetahui
factor-faktor yang mempengaruhi sikap dalam beragama.
BAB II
PROBLEMA KEIMANAN
A.
Pengertian Keimanan
Secara
etimologi, iman berarti tashdiq (membenarkan). Allah berfirman tentang
saudara-saudara Yusuf:
قَالُوا يَا أَبَانَا إِنَّا ذَهَبْنَا نَسْتَبِقُ
وَتَرَكْنَا يُوسُفَ عِنْدَ مَتَاعِنَا فَأَكَلَهُ الذِّئْبُ وَمَا أَنْتَ
بِمُؤْمِنٍ لَنَا وَلَوْ كُنَّا صَادِقِينَ
Artinya: “Mereka berkata: "Wahai ayah kami,
sesungguhnya kami pergi berlomba-lomba dan kami tinggalkan Yusuf di dekat
barang-barang kami, lalu dia dimakan serigala, dan kamu sekali-kali tidak akan
percaya kepada kami, sekalipun kami adalah orang-orang yang benar." (Q.S.
Yusuf: 17)
Iman juga dipakai untuk makna ta’min
(mengamankan). Allah berfirman:
الَّذِي أَطْعَمَهُمْ مِنْ جُوعٍ وَآمَنَهُمْ مِنْ خَوْفٍ
Artinya: “Yang telah memberi
makanan kepada mereka untuk menghilangkan lapar dan mengamankan mereka dari
ketakutan.”
(Q.S. Quraisy: 4)
Secara terminology, iman
menurut para ulama adalah:
“Ucapan dengan lisan,
keyakinan dengan hati dan pengamalan dengan anggota badan, bertambah karena
taat dan berkurang karena maksiat.” [1]
Adapun pendapat
lain mengatakan, Iman adalah kepercayaan ketetapan hati, keteguhan batin,
keseimbangan batin (yang berkenaan dengan agama); keyakinan dan kepercayaan
kepada Tuhan.[2]
Iman juga berarti kepercayaan yang meresap ke dalam hati, dengan penuh
keyakinan, tidak bercampur syak dan ragu, serta memberi pengaruh bagi pandangan
hidup, tingkah laku dan perbuatan sehari-hari.[3]
Sedangkan
keimanan adalah keyakinan, ketetapan hati, keteguhan hati dalan mempercayai
sesuatu (berkenaan dengan agama pula).
B.
Kualifikasi Keimanan
Menghadapi
permasalan pertama mengenai kadar kekokohan keimanan seseorang dalam agamanya,
W. H. Clark, (1969, 220-224) mengidentifikasi empat tingkat keimanan, yaitu:
1.
Keimanan yang Verbalistik
Keimanan ini
berkembang ditingkat usia sejak anak-anak, keimanan tingkat ini terbatas pada
pemahaman mengenai ucapan-ucapan serta kata-kata majis keagamaan. Proses
penerimaannya langsung melalui prinsip stimulus-stimulus. Proses belajarnya
persuasif dengan cara dicontohkan orang tua dan anak mengikutinya, terus
apabila anak bisa dalam pengucapan kata-kata itu maka diberi hadiah sebagai
imbalannya.
Meskipun
berkembang ditingkat usia anak-anak tapi ada juga yang sampai dewasa mereka
beriman tetap dalam fase ini. Sebenarnya fase keimanan seperti ini hanya
sekedar diarahkan untuk memperoleh jaminan keselamatan dan keamanan psikologis
semata-mata. Karena, seorang anak yang berada dalam fase ini dianggap telah
mampu mengekspresikan ucapan-ucapan keagamaan seperti itu sesuai dengan kondisi
stimulusnya, mereka akan merasa telah memperoleh jaminan perlindungan dari
orang tuanya atau dari orang lain yang dipandang menguasainya.
2.
Keimanan yang Intelektualistik
Pada tingkat
ini orang terikat oleh kelogisan dan alasan-alasan yang masuk akal dalam upaya
menerima keyakinan. Akan tetapi penerimaan keyakinan secara intelektual itu
tidak berarti semata-mata intelektual. Artinya sampai batas tertentu memang
diperlukan tuntutan kelogisan dalam upaya menerima keyakinannya. Selebihnya
perlu dipermasalahkan apakah keyakinan agama itu dicapai melalui proses berfikir
murni, sebagaimana tidak perlu sepenuhnya keyakinan agama itu dikaitkan dengan
kenyataan hidup. Biasanya tipe dan tingkat keyakinan ini diorientasikan pada
bukti-bukti adanya Tuhan, baik secara ontologi, kosmologi, theologi, maupun
secara pragmatik.
3.
Keimanan yang Demonstrative
Pada tingkat
ini keimanan lebih banyak diwujudkan dalam bentuk tingkah laku dan pengalaman
agama secara demonstrativa dari pada hanya dalam bentuk kata-kata. Dasar
pemikirannya adalah bahwa tingkah laku dan pengalaman agama yang ditampilkan
secara demonstrative belum tentu didahului oleh analisis tentang keyakinan itu
akan menjadi penyebab munculnya pengalaman ajaran agama. Sebabnya adalah bahwa
tingkah laku dan pengamalan agama di sini hanya merupakan kebiasaan yang
sudah melekat dalam aktifitas kehidupan sehari-hari.
4.
Keimanan yang Komprehensif Integrative
Tingkat ini
adalah keimanan yang paling tinggi. Karena tingkat keimanan ketiga tipe diatas
nampak perwujudannya dalam bentuk ekspresi partikel yang satu sama lainnya
terpisah. Justru karena keterpisahan itu, maka ketiganya tidak dapat memberikan
kepuasan kepada pemiliknya, mengingat masing-masing mengandung kepincangan.
Jadi tingkat
iman ini adalah merupakan perwujudan dari tiga tingkat di atas yang saling
melengkapi.[4]
C.
Faktor-Faktor Penyebab Problema Keimanan
Menurut Kalish
mengidentifikasikan lima hal yang dapat mendongkel ketegaran keimanan orang
yang beragama, yaitu:
1. Kontradiksi antara ilmu
dan agama.
2. Akibat mempelajari agama
lain.
3. Kesulitan membatasi
kebebesan agama.
4. Masalah tujuan hidup.
5. Arti mati dan hidup
sesudah mati.
Selain hal-hal tersebut, dipengaruhi juga
antara lain oleh:
1. Kondisi Iman.
2. Kondisi Fisik atau Psikis.
3. Kultur Masyarakat
(Lingkungan).[5]
D. Sikap
Keagamaan yang Menyimpang
Sesungguhnya
orang yang telah diberi nikmat Islam dan Iman oleh Allah wajib merasa takut dan
khawatir jika nikmat itu hilang. Karena musibah yang terberat dan terbesar
adalah musibah agama, atau musibah yang menyebabkan seseorang murtad atau
terjatuh dalam jurang fitnah, syubhat, syahwat, dan maksiat, setelah adanya
hidayah dan istiqamah. Seorang mukmin yang sadar tidak mungkin ber-muamalah
dengan hatinya seperti muamalah orang yang tenag dan merasa aman, tetapi ia selalu
ingat dengan hati dan lisannya: “Ya Rabb, Ya Rabb.”
رَبَّنَا لا تُزِغْ قُلُوبَنَا بَعْدَ إِذْ هَدَيْتَنَا
وَهَبْ لَنَا مِنْ لَدُنْكَ رَحْمَةً إِنَّكَ أَنْتَ الْوَهَّابُ
Artinya: “(Mereka berdoa): "Ya
Tuhan kami, janganlah Engkau jadikan hati kami condong kepada kesesatan sesudah
Engkau beri petunjuk kepada kami, dan karuniakanlah kepada kami rahmat dari
sisi Engkau; karena sesungguhnya Engkau-lah Maha Pemberi (karunia)." (Ali Imran: 8).[6]
Sikap keagamaan
yang menyimpang terjadi bila sikap seseorang terhadap kepercayaan dan keyakinan
terhadap agama yang dianutnya mengalami perubahan. Perubahan sikap seperti itu
dapat terjadi pada orang per orang (dalam diri individu) dan juga pada kelompok
atau masyarakat. Sedangkan perubahan sikap itu memiliki tingkat kualitas dan
intensitas yang mungkin berbeda dan bergerak secara continue dari positif
melalui areal netral ke arah negatif. Dengan demikian, sikap keagamaan yang
menyimpang sehubungan dengan perubahan sikap tidak terlalu berkonotasi buruk.
Akan tetapi biasanya
sikap keagamaan yang menyimpang merupakan masalah pada tingkat tertentu dapat
menimbulkan tindakan yang negatif dari tingkat yang terendah sehingga ke
tingkat yang tinggi, seperti sikap regresif (menarik diri) sehingga kesikap
yang demostratif (unjuk rasa). Sikap menyimpang seperti itu umumnya berpeluang
untuk terjadi dalam diri seseorang maupun kelompok pada setiap agama.[7]
E. Faktor
–Faktor yang Mempengaruhi Sikap dalam Beragama
Sikap berfungsi
untuk menggugah motif untuk bertingkah laku baik dalam bentuk tingkah laku
nyata, maupun tingkah laku tertutup. Dengan demikian, sikap mempengaruhi dua
bentuk reaksi seseorang terhadap obyek, yaitu dalam bentuk nyata dan
terselubung. Karena sikap diperoleh dari hasil belajar atau pengaruh
lingkungan, maka sikap dapat diubah, walaupun sulit.
Selain itu ada
juga beberapa teori psikologi mengungkapkan mengenai perubahan sikap tersebut
antara lain teori stimulus dan respon, teori pertimbangan social, teori
konsistensi dan teori fungsi. Masing-masing teori didasarkan atas
pendekatan aliran psikologi tersebut.
Teori Stimulus
dan Respon yang memandang manusia sebagai organisme menyamakan perubahan
sikap dengan proses belajar. Menurut teori ini ada tiga variable yang
mempengaruhi terjadinya perubahan sikap, yaitu perhatian, pengertian dan
penerimaan.
Teori Pertimbangan
Socialmelihat perubahan sikap dari pendekatan psikologi social. Menurut
teori ini perubahan sikap ditentukan oleh factor internal dan factor
eksternal. Faktor internal yang mempengaruhi perubahan sikap, yaitu:
1. Persepsi social.
2. Posisi social dan proses
belajar social.
Sedangkan faktor eksternal terdiri dari atas:
1. Faktor penguatan.
2. Komunikasi persuasive.
3. Harapan yang diinginkan.
Jadi perubahan
sikap menurut teori ini ditentukan oleh keputusan-keputusan sosial sebagai
hasil interaksi faktor internal dan eksternal.
Teori
Konsistensi, menurut teori ini perubahan sikap lebih
ditentukan oleh faktor intern, yang tujuannya untuk menyeimbangkan antara sikap
dan perbuatan.
Menurut Teori
Fungsi, perubahan sikap seseorang dipengaruhi oleh kebutuhan seseorang.
Sikap memiliki suatu fungsi untuk menghadapi dunia luar agar indvidu senantiasa
mnyesuaikan dengan lingkungan menurut kebutuhannnya. Sikap itu mempunyai empat
fungsi, yaitu:
1. Fungsi Instrumental.
2. Fungsi Pertahanan Diri.
3. Fungsi Penerima dan
Pemberi Arti.
4. Fungsi Nilai Ekspresif.
Berkaitan
dengan pluralitas agama, Al-Qur’an secara eksplisit berulang kali mengungkapkan
bahwa keanekaragaman flora, fauna, bangsa, bahasa, serta agama merupakan
tanda-tanda kebesaran Allah. Ditegaskan dalam Al-Qur’an, taka da paksaan dalam
beragama karena sesungguhnya antara yang benar dan yang salah sudah begitu
nyata bagi mereka yang hati dan fikirannya terbuka, termasuk terhadap
orang-orang kafir yang membangkang. Allah mengajarkan Rasulullah, “Bagimu
agamamu dan bagiku agamaku. Namun begitu, ingatlah bahwa papun pilihan iman dan
amal seseorang, nantinya Aku (Allah) yang akan membuat perhitungan dan
pengadilan.[8]
BAB III
PENUTUP
A. Kesimpulan
Iman
adalah kepercayaan ketetapan hati, keteguhan batin, keseimbangan batin (yang
berkenaan dengan agama); keyakinan dan kepercayaan kepada Tuhan. Sedangkan keimanan
adalah keyakinan, ketetapan hati, keteguhan hati dalan mempercayai sesuatu
(berkenaan dengan agama pula).
Menurut Kalish
mengidentifikasikan lima hal yang dapat mendongkel ketegaran keimanan orang
yang beragama, yaitu: kontradiksi antara ilmu dan agama, akibat mempelajari agama
lain, kesulitan membatasi kebebesan agama, masalah tujuan hidup, arti mati dan
hidup sesudah mati.
Sikap keagamaan
yang menyimpang terjadi bila sikap seseorang terhadap kepercayaan dan keyakinan
terhadap agama yang dianutnya mengalami perubahan. Perubahan sikap seperti itu
dapat terjadi pada orang per orang (dalam diri individu) dan juga pada kelompok
atau masyarakat. Sedangkan perubahan sikap itu memiliki tingkat kualitas dan
intensitas yang mungkin berbeda dan bergerak secara continue dari positif melalui
areal netral ke arah negatif. Dengan demikian, sikap keagamaan yang menyimpang
sehubungan dengan perubahan sikap tidak terlalu berkonotasi buruk.
Ada beberapa
teori psikologi mengungkapkan mengenai perubahan sikap tersebut antara lain teori
stimulus dan respon, teori pertimbangan social, teori konsistensi dan teori
fungsi. Masing-masing teori didasarkan atas pendekatan aliran psikologi
tersebut.
DAFTAR PUSTAKA
Al-Qardhawi,
Yusuf, Iman dan Kehidupan, (Jakarta: PT Bulan Bintang, 1993).
Anshari, H.
Muhammad Hafiz, Dasar-Dasar Ilmu Jiwa Agama, (Surabaya: Usaha Nasional,
1991).
As-Sallum, Abdullah bin Fahd, Keajaiban Iman, (Surabaya:
Pustaka Yassir, 2008).
Hidayat, Komaruddin, Psikologi
Beragama, (Jakarta: PT Mizan Publika, 2010).
Jalaluddin, Psikologi
Agama, (Jakarta: PT. Grafindo Persada, 1996).
Kamus Besar
Bahasa Indonesia, edisi ke-1.
[1]
Abdullah bin Fahd As-Sallum, Keajaiban Iman, (Surabaya: Pustaka Yassir,
2008), hlm. 15
[2]
Kamus Besar Bahasa Indonesia, edisi ke-1, h. 345
[3]
Yusuf Al-Qardhawi, Iman dan Kehidupan, (Jakarta: PT. Bulan Bintang,
1993), cet. 3, hlm. 3.
[4]
H. Muhammad Hafiz Anshari, Dasar-Dasar
Ilmu Jiwa Agama, (Surabaya: Usaha Nasional, 1991), Cet. 1, hlm. 57-58.
[5]
Ibid, h. 60
[6]
Abdullah bin Fahd As-Sallum, Op. Cit., hlm. 36.
[7]
Jalaluddin, Psikologi Agama, (Jakarta: PT. Grafindo Persada, 1996), hlm.
187.
[8]
Komaruddin Hidayat, Psikologi Beragama, (Jakarta: PT Mizan Publika,
2010), hlm. 47-48.
Tidak ada komentar:
Posting Komentar