Rabu, 15 Juli 2020

PROBLEMA KEIMANAN

BAB I

PENDAHULUAN

A.    LATAR BELAKANG

Manusia merupakan makhluk yang diciptakn oleh Allah dengan sebaik-baiknya. Kita diberi akal untuk memikirkan segala sesuatu yang ada di alam semesta ini, terlebih lagi memikirkan betapa hebatnya orang yang menciptakan alam semesta ini. Oleh karena itu, manusia beragama karena di dalam agama mereka menjelaskan orang yang menciptakan alam semesta itu yaitu yang disebut dengan Tuhan.

Di dalam syarat beragama salah satunya adalah “beriman”. Iman merupakan unsur yang diperlukan karena seseorang tidak akan memeluk sebuah agama apabila tidak didasari oleh iman atau percaya terhadap ajaran agama tersebut. Nah dalam makalah kami ini membahas tentang problema keimanan.

B.     RUMUSAN MASALAH

1.      Apa definisi iman dan keimanan?

2.      Apa saja factor-faktor penyebab problema keimanan?

3.      Bagaimana sikap keagamaan yang menyimpang?

4.      Apa saja factor-faktor yang mempengaruhi sikap dalam beragama?

C.     TUJUAN PENULISAN

1.      Mengetahui definisi iman dan keimanan.

2.      Mengetahui factor-faktor penyebab problema keimanan.

3.      Menjelaskan sikap keagamaan yang menyimpang.

4.      Mengetahui factor-faktor yang mempengaruhi sikap dalam beragama.

 

 

BAB II

PROBLEMA KEIMANAN 

A.  Pengertian Keimanan

Secara etimologi, iman berarti tashdiq (membenarkan). Allah berfirman tentang saudara-saudara Yusuf:

قَالُوا يَا أَبَانَا إِنَّا ذَهَبْنَا نَسْتَبِقُ وَتَرَكْنَا يُوسُفَ عِنْدَ مَتَاعِنَا فَأَكَلَهُ الذِّئْبُ وَمَا أَنْتَ بِمُؤْمِنٍ لَنَا وَلَوْ كُنَّا صَادِقِينَ

Artinya: “Mereka berkata: "Wahai ayah kami, sesungguhnya kami pergi berlomba-lomba dan kami tinggalkan Yusuf di dekat barang-barang kami, lalu dia dimakan serigala, dan kamu sekali-kali tidak akan percaya kepada kami, sekalipun kami adalah orang-orang yang benar." (Q.S. Yusuf: 17)

Iman juga dipakai untuk makna ta’min (mengamankan). Allah berfirman:

الَّذِي أَطْعَمَهُمْ مِنْ جُوعٍ وَآمَنَهُمْ مِنْ خَوْفٍ

Artinya: “Yang telah memberi makanan kepada mereka untuk menghilangkan lapar dan mengamankan mereka dari ketakutan.” (Q.S. Quraisy: 4)

Secara terminology, iman menurut para ulama adalah:

“Ucapan dengan lisan, keyakinan dengan hati dan pengamalan dengan anggota badan, bertambah karena taat dan berkurang karena maksiat.” [1]

Adapun pendapat lain mengatakan, Iman adalah kepercayaan ketetapan hati, keteguhan batin, keseimbangan batin (yang berkenaan dengan agama); keyakinan dan kepercayaan kepada Tuhan.[2] Iman juga berarti kepercayaan yang meresap ke dalam hati, dengan penuh keyakinan, tidak bercampur syak dan ragu, serta memberi pengaruh bagi pandangan hidup, tingkah laku dan perbuatan sehari-hari.[3]

Sedangkan keimanan adalah keyakinan, ketetapan hati, keteguhan hati dalan mempercayai sesuatu (berkenaan dengan agama pula).

B.  Kualifikasi Keimanan

Menghadapi permasalan pertama mengenai kadar kekokohan keimanan seseorang dalam agamanya, W. H. Clark, (1969, 220-224) mengidentifikasi empat tingkat keimanan, yaitu:

1.    Keimanan yang Verbalistik

Keimanan ini berkembang ditingkat usia sejak anak-anak, keimanan tingkat ini terbatas pada pemahaman mengenai ucapan-ucapan serta kata-kata majis keagamaan. Proses penerimaannya langsung melalui prinsip stimulus-stimulus. Proses belajarnya persuasif dengan cara dicontohkan orang tua dan anak mengikutinya, terus apabila anak bisa dalam pengucapan kata-kata itu maka diberi hadiah sebagai imbalannya.

Meskipun berkembang ditingkat usia anak-anak tapi ada juga yang sampai dewasa mereka beriman tetap dalam fase ini. Sebenarnya fase keimanan seperti ini hanya sekedar diarahkan untuk memperoleh jaminan keselamatan dan keamanan psikologis semata-mata. Karena, seorang anak yang berada dalam fase ini dianggap telah mampu mengekspresikan ucapan-ucapan keagamaan seperti itu sesuai dengan kondisi stimulusnya, mereka akan merasa telah memperoleh jaminan perlindungan dari orang tuanya atau dari orang lain yang dipandang menguasainya.

2.    Keimanan yang Intelektualistik

Pada tingkat ini orang terikat oleh kelogisan dan alasan-alasan yang masuk akal dalam upaya menerima keyakinan. Akan tetapi penerimaan keyakinan secara intelektual itu tidak berarti semata-mata intelektual. Artinya sampai batas tertentu memang diperlukan tuntutan kelogisan dalam upaya menerima keyakinannya. Selebihnya perlu dipermasalahkan apakah keyakinan agama itu dicapai melalui proses berfikir murni, sebagaimana tidak perlu sepenuhnya keyakinan agama itu dikaitkan dengan kenyataan hidup. Biasanya tipe dan tingkat keyakinan ini diorientasikan pada bukti-bukti adanya Tuhan, baik secara ontologi, kosmologi, theologi, maupun secara pragmatik.

3.    Keimanan yang Demonstrative

Pada tingkat ini keimanan lebih banyak diwujudkan dalam bentuk tingkah laku dan pengalaman agama secara demonstrativa dari pada hanya dalam bentuk kata-kata. Dasar pemikirannya adalah bahwa tingkah laku dan pengalaman agama yang ditampilkan secara demonstrative belum tentu didahului oleh analisis tentang keyakinan itu akan menjadi penyebab munculnya pengalaman ajaran agama. Sebabnya adalah bahwa tingkah laku dan  pengamalan agama di sini hanya merupakan kebiasaan yang sudah melekat dalam aktifitas kehidupan sehari-hari.

4.    Keimanan yang Komprehensif Integrative

Tingkat ini adalah keimanan yang paling tinggi. Karena tingkat keimanan ketiga tipe diatas nampak perwujudannya dalam bentuk ekspresi partikel yang satu sama lainnya terpisah. Justru karena keterpisahan itu, maka ketiganya tidak dapat memberikan kepuasan kepada pemiliknya, mengingat masing-masing mengandung kepincangan.

Jadi tingkat iman ini adalah merupakan perwujudan dari tiga tingkat di atas yang saling melengkapi.[4]

C.  Faktor-Faktor Penyebab Problema Keimanan

Menurut Kalish mengidentifikasikan lima hal yang dapat mendongkel ketegaran keimanan orang yang beragama, yaitu:

1.    Kontradiksi antara ilmu dan agama.

2.    Akibat mempelajari agama lain.

3.    Kesulitan membatasi kebebesan agama.

4.    Masalah tujuan hidup.

5.    Arti mati dan hidup sesudah mati.

Selain hal-hal tersebut, dipengaruhi juga antara lain oleh:

1.    Kondisi Iman.

2.    Kondisi Fisik atau Psikis.

3.    Kultur Masyarakat (Lingkungan).[5]

D.  Sikap Keagamaan yang Menyimpang

Sesungguhnya orang yang telah diberi nikmat Islam dan Iman oleh Allah wajib merasa takut dan khawatir jika nikmat itu hilang. Karena musibah yang terberat dan terbesar adalah musibah agama, atau musibah yang menyebabkan seseorang murtad atau terjatuh dalam jurang fitnah, syubhat, syahwat, dan maksiat, setelah adanya hidayah dan istiqamah. Seorang mukmin yang sadar tidak mungkin ber-muamalah dengan hatinya seperti muamalah orang yang tenag dan merasa aman, tetapi ia selalu ingat dengan hati dan lisannya: “Ya Rabb, Ya Rabb.”

رَبَّنَا لا تُزِغْ قُلُوبَنَا بَعْدَ إِذْ هَدَيْتَنَا وَهَبْ لَنَا مِنْ لَدُنْكَ رَحْمَةً إِنَّكَ أَنْتَ الْوَهَّابُ

Artinya: “(Mereka berdoa): "Ya Tuhan kami, janganlah Engkau jadikan hati kami condong kepada kesesatan sesudah Engkau beri petunjuk kepada kami, dan karuniakanlah kepada kami rahmat dari sisi Engkau; karena sesungguhnya Engkau-lah Maha Pemberi (karunia)." (Ali Imran: 8).[6]

Sikap keagamaan yang menyimpang terjadi bila sikap seseorang terhadap kepercayaan dan keyakinan terhadap agama yang dianutnya mengalami perubahan. Perubahan sikap seperti itu dapat terjadi pada orang per orang (dalam diri individu) dan juga pada kelompok atau masyarakat. Sedangkan perubahan sikap itu memiliki tingkat kualitas dan intensitas yang mungkin berbeda dan bergerak secara continue dari positif melalui areal netral ke arah negatif. Dengan demikian, sikap keagamaan yang menyimpang sehubungan dengan perubahan sikap tidak terlalu berkonotasi buruk.

Akan tetapi biasanya sikap keagamaan yang menyimpang merupakan masalah pada tingkat tertentu dapat menimbulkan tindakan yang negatif dari tingkat yang terendah sehingga ke tingkat yang tinggi, seperti sikap regresif (menarik diri) sehingga kesikap yang demostratif (unjuk rasa). Sikap menyimpang seperti itu umumnya berpeluang untuk terjadi dalam diri seseorang maupun kelompok pada setiap agama.[7]

E.  Faktor –Faktor yang Mempengaruhi Sikap dalam Beragama

Sikap berfungsi untuk menggugah motif untuk bertingkah laku baik dalam bentuk tingkah laku nyata, maupun tingkah laku tertutup. Dengan demikian, sikap mempengaruhi dua bentuk reaksi seseorang terhadap obyek, yaitu dalam bentuk nyata dan terselubung. Karena sikap diperoleh dari hasil belajar atau pengaruh lingkungan, maka sikap dapat diubah, walaupun sulit.

Selain itu ada juga beberapa teori psikologi mengungkapkan mengenai perubahan sikap tersebut antara lain teori stimulus dan respon, teori pertimbangan social, teori konsistensi dan teori fungsi. Masing-masing teori didasarkan atas pendekatan aliran psikologi tersebut.

Teori Stimulus dan Respon yang memandang manusia sebagai organisme menyamakan perubahan sikap dengan proses belajar. Menurut teori ini ada tiga variable yang mempengaruhi terjadinya perubahan sikap, yaitu perhatian, pengertian dan penerimaan.

Teori Pertimbangan Socialmelihat perubahan sikap dari pendekatan psikologi social. Menurut teori ini perubahan sikap ditentukan oleh factor internal dan factor eksternal. Faktor internal yang mempengaruhi perubahan sikap, yaitu:

1.    Persepsi social.

2.    Posisi social dan proses belajar social.

Sedangkan faktor eksternal terdiri dari atas:

1.    Faktor penguatan.

2.    Komunikasi persuasive.

3.    Harapan yang diinginkan.

Jadi perubahan sikap menurut teori ini ditentukan oleh keputusan-keputusan sosial sebagai hasil interaksi faktor internal dan eksternal.

Teori Konsistensi, menurut teori ini perubahan sikap lebih ditentukan oleh faktor intern, yang tujuannya untuk menyeimbangkan antara sikap dan perbuatan.

Menurut Teori Fungsi, perubahan sikap seseorang dipengaruhi oleh kebutuhan seseorang. Sikap memiliki suatu fungsi untuk menghadapi dunia luar agar indvidu senantiasa mnyesuaikan dengan lingkungan menurut kebutuhannnya. Sikap itu mempunyai empat fungsi, yaitu:

1.    Fungsi Instrumental.

2.    Fungsi Pertahanan Diri.

3.    Fungsi Penerima dan Pemberi Arti.

4.    Fungsi Nilai Ekspresif.

Berkaitan dengan pluralitas agama, Al-Qur’an secara eksplisit berulang kali mengungkapkan bahwa keanekaragaman flora, fauna, bangsa, bahasa, serta agama merupakan tanda-tanda kebesaran Allah. Ditegaskan dalam Al-Qur’an, taka da paksaan dalam beragama karena sesungguhnya antara yang benar dan yang salah sudah begitu nyata bagi mereka yang hati dan fikirannya terbuka, termasuk terhadap orang-orang kafir yang membangkang. Allah mengajarkan Rasulullah, “Bagimu agamamu dan bagiku agamaku. Namun begitu, ingatlah bahwa papun pilihan iman dan amal seseorang, nantinya Aku (Allah) yang akan membuat perhitungan dan pengadilan.[8]

 

 

 

 

BAB III

PENUTUP

A.    Kesimpulan

Iman adalah kepercayaan ketetapan hati, keteguhan batin, keseimbangan batin (yang berkenaan dengan agama); keyakinan dan kepercayaan kepada Tuhan. Sedangkan keimanan adalah keyakinan, ketetapan hati, keteguhan hati dalan mempercayai sesuatu (berkenaan dengan agama pula).

Menurut Kalish mengidentifikasikan lima hal yang dapat mendongkel ketegaran keimanan orang yang beragama, yaitu: kontradiksi antara ilmu dan agama, akibat mempelajari agama lain, kesulitan membatasi kebebesan agama, masalah tujuan hidup, arti mati dan hidup sesudah mati.

Sikap keagamaan yang menyimpang terjadi bila sikap seseorang terhadap kepercayaan dan keyakinan terhadap agama yang dianutnya mengalami perubahan. Perubahan sikap seperti itu dapat terjadi pada orang per orang (dalam diri individu) dan juga pada kelompok atau masyarakat. Sedangkan perubahan sikap itu memiliki tingkat kualitas dan intensitas yang mungkin berbeda dan bergerak secara continue dari positif melalui areal netral ke arah negatif. Dengan demikian, sikap keagamaan yang menyimpang sehubungan dengan perubahan sikap tidak terlalu berkonotasi buruk.

Ada beberapa teori psikologi mengungkapkan mengenai perubahan sikap tersebut antara lain teori stimulus dan respon, teori pertimbangan social, teori konsistensi dan teori fungsi. Masing-masing teori didasarkan atas pendekatan aliran psikologi tersebut.

 

 

 

DAFTAR PUSTAKA

Al-Qardhawi, Yusuf, Iman dan Kehidupan, (Jakarta: PT  Bulan Bintang, 1993).

Anshari, H. Muhammad Hafiz, Dasar-Dasar Ilmu Jiwa Agama, (Surabaya: Usaha Nasional, 1991).

As-Sallum, Abdullah bin Fahd, Keajaiban Iman, (Surabaya: Pustaka Yassir, 2008).

Hidayat, Komaruddin, Psikologi Beragama, (Jakarta: PT Mizan Publika, 2010).

Jalaluddin, Psikologi Agama, (Jakarta: PT. Grafindo Persada, 1996).

Kamus Besar Bahasa Indonesia, edisi ke-1.

 

 



[1] Abdullah bin Fahd As-Sallum, Keajaiban Iman, (Surabaya: Pustaka Yassir, 2008), hlm. 15

[2] Kamus Besar Bahasa Indonesia, edisi ke-1, h. 345

[3] Yusuf Al-Qardhawi, Iman dan Kehidupan, (Jakarta: PT. Bulan Bintang, 1993), cet. 3, hlm. 3.

[4] H. Muhammad Hafiz Anshari, Dasar-Dasar Ilmu Jiwa Agama, (Surabaya: Usaha Nasional, 1991), Cet. 1, hlm. 57-58.

[5] Ibid, h. 60

[6] Abdullah bin Fahd As-Sallum, Op. Cit., hlm. 36.

[7] Jalaluddin, Psikologi Agama, (Jakarta: PT. Grafindo Persada, 1996), hlm. 187.

[8] Komaruddin Hidayat, Psikologi Beragama, (Jakarta: PT Mizan Publika, 2010), hlm. 47-48.


Tidak ada komentar:

Posting Komentar