BAB I
PENDAHULUAN
A.
LATAR BELAKANG
Dalam
melaksanakan analisis butir soal, para penulis soal dapat menganalisis secara
kualitatif, dalam kaitan dengan isi dan bentuknya, dan kuantitatif dalam kaitan
dengan ciri-ciri statistiknya (Anastasi dan Urbina, 1997: 172) atau prosedur
peningkatan secara judgment dan prosedur peningkatan secara empirik (Popham,
1995: 195). Analisis kualitatif mencakup pertimbangan validitas isi dan
konstruk, sedangkan analisis kuantitatif mencakup pengukuran kesulitan butir
soal dan diskriminasi soal yang termasuk validitas soal dan reliabilitasnya.
Jadi,
ada dua cara yang dapat digunakan dalam penelaahan butir soal yaitu penelaahan
soal secara kualitatif dan kuantitatif. Kedua teknik ini masing-masing memiliki
keunggulan dan kelemahan. Oleh karena itu teknik terbaik adalah menggunakan
keduanya (penggabungan).
B.
RUMUSAN MASALAH
1.
Bagaimana menganalisis instrument non tes?
2.
Bagaimana membuat transformasi instrument non
tes?
3.
Bagaimana membuat pembakuan instrument non tes?
C.
TUJUAN PENULISAN
1.
Mengetahui cara menganalisis instrument non
tes.
2.
Mengetahui cara membuat transformasi instrument
non tes.
3.
Mengetahui cara membuat pembakuan instrument
non tes.
BAB II
MENGANALISIS INSTRUMEN NONTES
Pengertian
instrumen dalam
lingkup evaluasi didefinisikan sebagai perangkat untuk mengukur hasil belajar
siswa yang mencakup hasil belajar dalam ranah kognitif, afektif dan
psikomotor.
Bentuk
instrumen dapat berupa tes dan non tes. Teknis non-tes ini pada umumnya
memegang peranan yang penting dalam rangka mengevaluasi hasil belajar peserta
didik dari segi ranah sikap hidup (affective domain) dan ranah keterampilan
(psychomotoric domain), sedangkan teknik tes sebagaimana telah dikemukakan
sebelum ini, lebih banyak digunakan untuk mengevaluasi hasil belajar peserta
didik dari segi ranah proses berfikirnya (cognitive domain).[1]
Instrumen bentuk tes mencakup: tes uraian (uraian objektif dan uraian bebas),
tes pilihan ganda, jawaban singkat, menjodohkan, benar-salah, unjuk kerja
(performance test), dan portofolio. Instrumen bentuk non tes mencakup:
wawancara, angket dan pengamatan (observasi).
Sebelum
instrumen digunakan hendaknya dianalisis terlebih dahulu. Dua
karakteristik penting dalam menganalisis instrumen adalah validitas
dan reliabilitasnya.
Instrumen
dikatakan valid (tepat, absah) apabila instrumen digunakan untuk mengukur apa yang seharusnya
diukur. Instrumen untuk mengukur kemampuan matematika siswa sekolah dasar tidak
tepat jika digunakan pada siswa Sekolah menengah. Dalam hal ini sasaran kepada
siapa instrumen itu ditujukan merupakan salah satu aspek yang harus
dipertimbangkan dalam menganalisis validitas suatu instrumen. Aspek lainnya
misalnya kesesuaian indikator dengan butir soal, penggunaan bahasa, kesesuaian
dengan kurikulum yang berlaku, kaidah-kaidah dalam penulisan butir soal dan
sebagainya.
A.
ANALISIS BUTIR SOAL SECARA
KUALITATIF
1.
Pengertian
Pada prinsipnya analisis butir soal secara kualitatif dilaksanakan
berdasarkan kaidah penulisan soal (tes tertulis, perbuatan, dan sikap).
Penelaahan ini biasanya dilakukan sebelum soal digunakan/diujikan. Aspek yang
diperhatikan di dalam penelaahan secara kualitatif ini adalah setiap soal
ditelaah dari segi materi, konstruksi, bahasa/budaya, dan kunci jawaban/pedoman
penskorannya. Dalam melakukan penelaahan setiap butir soal, penelaah perlu
mempersiapkan bahan-bahan penunjang seperti: (1) kisi-kisi tes, (2) kurikulum
yang digunakan, (3) buku sumber, dan (4) kamus bahasa Indonesia.
2.
Teknik Analisis Secara Kualitatif
Ada beberapa teknik yang dapat digunakan untuk menganalisis butir
soal secara kualitatif, diantaranya adalah teknik moderator dan teknik panel.
Teknik moderator merupakan teknik berdiskusi yang di dalamnya terdapat satu
orang sebagai penengah. Berdasarkan teknik ini, setiap butir soal didiskusikan
secara bersama-sama dengan beberapa ahli seperti guru yang mengajarkan materi,
ahli materi, penyusun/pengembang kurikulum, ahli penilaian, ahli bahasa,
berlatar belakang psikologi. Teknik ini sangat baik karena setiap butir soal
dilihat secara bersama-sama berdasarkan kaidah penulisannya. Di samping itu,
para penelaah dipersilakan mengomentari/ memperbaiki berdasarkan ilmu yang
dimilikinya. Setiap komentar/masukan dari peserta diskusi dicatat oleh notulis.
Setiap butir soal dapat dituntaskan secara bersama-sama, perbaikannya seperti
apa. Namun, kelemahan teknik ini adalah memerlukan waktu lama untuk
rnendiskusikan setiap satu butir soal. Teknik panel merupakan suatu teknik
menelaah butir soal yang setiap butir soalnya ditelaah berdasarkan kaidah
penulisan butir soal, yaitu ditelaah dari segi materi, konstruksi,
bahasa/budaya, kebenaran kunci jawaban/pedoman penskorannya yang dilakukan oleh
beberapa penelaah. Caranya adalah beberapa penelaah diberikan: butir-butir soal
yang akan ditelaah, format penelaahan, dan pedoman penilaian/ penelaahannya.
Pada tahap awal para penelaah diberikan pengarahan, kemudian tahap berikutnya
para penelaah berkerja sendiri-sendiri di tempat yang tidak sama. Para penelaah
dipersilakan memperbaiki langsung pada teks soal dan memberikan komentarnya
serta memberikan nilai pada setiap butir soalnya yang kriterianya adalah: baik,
diperbaiki, atau diganti.
Secara ideal penelaah butir soal di samping memiliki latar belakang
materi yang diujikan, beberapa penelaah yang diminta untuk menelaah butir soal
memiliki keterampilan, seperti guru yang mengajarkan materi itu, ahli materi,
ahli pengembang kurikulum, ahli penilaian, psikolog, ahli bahasa, ahli
kebijakan pendidikan, atau lainnya.
3.
Prosedur Analisis Secara Kualitatif
Dalam menganalisis butir soal secara kualitatif, penggunaan format
penelaahan soal akan sangat membantu dan mempermudah prosedur pelaksanaannya.
Format penelaahan soal digunakan sebagai dasar untuk menganalisis setiap butir
soal. Format penelaahan soal yang dimaksud adalah format penelaahan butir soal:
uraian, pilihan ganda, tes perbuatan dan instrumen non-tes.
Agar penelaah dapat dengan mudah menggunakan format penelaahan
soal, maka para penelaah perlu memperhatikan petunjuk pengisian formatnya.
Petunjuknya adalah seperti berikut ini.
a.
Analisislah setiap butir soal
berdasarkan semua kriteria yang tertera di dalam format!
b.
Berilah tanda cek (V) pada kolom
"Ya" bila soal yang ditelaah sudah sesuai dengan kriteria!
c.
Berilah tanda cek (V) pada kolom
"Tidak" bila soal yang ditelaah tidak sesuai dengan kriteria,
kemudian tuliskan alasan pada ruang catatan atau pada teks soal dan
perbaikannya.
B.
ANALISIS BUTIR SOAL SECARA
KUANTITATIF
1.
Pengertian
Penelaahan soal secara kuantitatif maksudnya adalah penelaahan
butir soal didasarkan pada data empirik dari butir soal yang bersangkutan. Data
empirik ini diperoleh dari soal yang telah diujikan.
2.
Analisis Butir Soal
Ada dua pendekatan dalam analisis secara kuantitatif, yaitu
pendekatan secara klasik dan modern.
a.
Klasik
Analisis butir soal secara klasik adalah proses penelaahan butir
soal melalui informasi dari jawaban peserta didik guna meningkatkan mutu butir
soal yang bersangkutan dengan menggunakan teori tes klasik. Kelebihan analisis
butir soal secara klasik adalah murah, dapat dilaksanakan sehari-hari dengan
cepat menggunakan komputer, murah, sederhana, familier dan dapat menggunakan
data dari beberapa peserta didik atau sampel kecil (Millman dan Greene, 1993:
358). Adapun proses analisisnya sudah banyak dilaksanakan para guru di sekolah
seperti beberapa contoh di bawah ini. a. Langkah pertama yang dilakukan adalah
menabulasi jawaban yang telah dibuat pada setiap butir soal yang meliputi
berapa peserta didik yang: (1) menjawab benar pada setiap soal, (2) menjawab
salah (option pengecoh), (3) tidak menjawab soal. Berdasarkan tabulasi ini,
dapat diketahui tingkat kesukaran setiap butir soal, daya pembeda soal,
alternatif jawaban yang dipilih peserta didik. b. Misalnya analisis untuk 32
siswa, maka langkah (1) urutkan skor siswa dari yang tertinggi sampai yang
terendah. (2) Pilih 10 lembar jawaban pada kelompok atas dan 10 lembar jawaban
pada kelompok bawah. (3) Ambil kelompok tengah (12 lembar jawaban) dan tidak
disertakan dalam analisis. (4) Untuk masing-masing soal, susun jumlah siswa
kelompok atas dan bawah pada setiap pilihan jawaban. (5) Hitung tingkat
kesukaran pada setiap butir soal. (6) Hitung daya pembeda soal. (7) Analisis
efektivitas pengecoh pada setiap soal (Linn dan Gronlund, 1995: 318-319). Aspek
yang perlu diperhatikan dalam analisis butir soal secara klasik adalah setiap
butir soal ditelaah dari segi: tingkat kesukaran butir, daya pembeda butir, dan
penyebaran pilihan jawaban (untuk soal bentuk obyektif) atau frekuensi jawaban
pada setiap pilihan jawaban.
1)
Tingkat Kesukaran
2) Daya
Pembeda
3) Reliabilitas
Skor Tes
4) Reliabilitas
Instrument Tes ( soal bentuk pilihan ganda).
b.
Modern
Analisis butir soal secara modern yaitu penelaahan butir soal
dengan menggunakan Item Response Theory (IRT) atau teori jawaban butir soal.
Teori ini merupakan suatu teori yang menggunakan fungsi matematika untuk
menghubungkan antara peluang menjawab benar suatu scal dengan kemampuan siswa.
Nama lain IRT adalah latent trait theory (LTT), atau characteristics curve
theory (ICC). Asal mula IRT adalah kombinasi suatu versi hukum phi-gamma dengan
suatu analisis faktor butir soal (item factor analisis) kemudian bernama Teori
Trait Latent (Latent Trait Theory), kemudian sekarang secara umum dikenal
menjadi teori jawaban butir soal (Item Response Theory) (McDonald, 1999: 8).
Dalam subbab ini akan disajikan kelebihan analisis secara IRT dan kalibrasi
butir soal dan pengukuran kemampuan orang.
3. Langkah-langkah dalam Proses Analisis Butir Soal
(Analisis Kuantitatif)
a. Mengurutkan
daftar nilai hasil ulangan/ujian dari yang terbesar sampai yang terkecil setiap
kelas;
b. Daftar
nilai yang telah diurutkan dibagi ke dalam tiga kelompok, yaitu kelompok pandai
(uper group), kelompok kurang (lower group), dan kelompok sedang (middle group);
c. Melakukan
analisis pada kelompok pandai atau kelompok atas dan kelompok kurang atau
kelompok bawah, sedangkan kelompok menengah kita biarkan. Umumnya diambil
kelompok atas dan bawah masing-masing 27% - 27%, (perbandingan tersebut tidak
mutlak, tergantung pada kondisi jumlah objek yang akan dianalisis sehingga bisa
25% - 25%, 33% - 33% , dst);
d. Tiap
soal ditabulasikan kemudian dijumlahkan pada setiap kelompok atas dan kelompok
bawah.
C.
FORMAT
PENELAAHAN SOAL NON-TES
Nama tes :
Kelas/Semester :
Penelaah :
|
No. |
Aspek
yang ditelaah |
Nomor
Soal |
|||
|
1 |
2 |
3 |
... |
||
|
A. 1. |
Materi Pernyataan/soal sudah sesuai dengan rumusan
indikator dalam kisi-kisi. |
|
|
|
|
|
2 |
Aspek yang diukur pada setiap pernyataan
sudah sesuai dengan tuntutan dalam kisi-kisi (misal untuk tes sikap: aspek
koginisi, afeksi, atau konasinya dan pernyataan positif atau negatifnya). |
|
|
|
|
|
B. 1 |
Konstruksi Pernyataan dirumuskan dengan singkat (tidak
melebihi 20 kata) dan jelas. |
|
|
|
|
|
2 |
Kalimatnya bebas dari pernyataan yang tidak
relevan objek yang dipersoalkan atau kalimatnya merupakan pernyataan yang
diperlukan saja |
|
|
|
|
|
3 |
Kalimatnya bebas dari pernyataan yang
bersifat negatif ganda. |
|
|
|
|
|
4 |
Kalimatnya bebas dari pernyataan yang mengacu
pada masa lalu. |
|
|
|
|
|
5 |
Kalimatnya bebas dari pernyataan faktual atau
dapat diinterpretasikan sebagai fakta. |
|
|
|
|
|
6 |
Kalimatnya bebas dari pernyataan dapat
diinterpretasikan lebih dari satu makna |
|
|
|
|
|
7 |
Kalimatnya bebas dari pernyataan yang mungkin
disetujui atau dikosongkan oleh hampir semua responden. |
|
|
|
|
|
8 |
Setiap pernyataan hanya berisi satu gagasan
secara lengkap. |
|
|
|
|
|
10 |
Kalimatnya bebas dari pernyaan yang tidak
pasti pasti seperti semua, selalu, kadang-kadang, tidak satupun, tidak
pernah. |
|
|
|
|
|
11 |
Jangan banyak menggunakan kata hanya,
sekedar, semata-mata. Gunakan seperlunya. |
|
|
|
|
|
|
|
|
|
|
|
|
C |
Bahasa/Budaya |
|
|
|
|
|
1 |
Bahsa soa harus komunikatif dan sesuai dengan jenjang pendidikan siswa
atau responden. |
|
|
|
|
|
2 |
Soal harus menggunakan bahasa Indonesia baku.
|
|
|
|
|
|
3 |
Soal tidak menggunakan bahasa yang berlaku
setempat/tabu. |
|
|
|
|
Keterangan: Berilah tanda (V) bila tidak sesuai dengan aspek yang
ditelaah!
D.
MEMBUAT TRANSFORMASI
Tujuan
evaluasi adalah untuk melihat dan mengetahui proses
yang terjadi dalam proses pembelajaran. Proses pembelajaran memiliki 3 hal
penting yaitu, input, transformasi dan output. Input adalah peserta didik yang
telah dinilai kemampuannya dan siap menjalani proses pembelajaran. Transformasi
adalah segala unsur yang terkait dengan proses pembelajaran yaitu ; guru, media
dan bahan beljar, metode pengajaran, sarana penunjang dan sistem administrasi.
Sedangkan output adalah capaian yang dihasilkan dari proses pembelajaran.
Evaluasi
pendidikan memiliki beberapa fungsi yaitu ;
1. Fungsi
selektif.
2. Fungsi
diagnostic.
3. Fungsi
penempatan.
4. Fungsi
keberhasilan.
Maksud
dari dilakukannya evaluasi adalah:
1. Perbaikan
system.
2. Pertanggungjawaban
kepada pemerintah dan masyarakat.
3. Penentuan
tindak lanjut pengembangan.
E.
PEMBAKUAN
INSTRUMEN
Peneliti
menjelaskan proses pembakuan
instrumen baku, kriteria tes baku, sampel uji coba, uji coba, metode
penskalaan dan norma serta validitas dan reliabilitas.
1.
Deskripsi
proses pembakuan
Proses atau langkah-langkah
sampai diperoleh instrumen yang baku.
2.
Kriteria
tes baku
Kriteria tes baku sesuai dengan prosedur statistik yang
ada, seperti uji validitas dan reliabilitas atau analisis faktor.
3.
Sampel uji coba
Sampel uji coba
disesuaikan dengan teknik pengambilan sampel yang digunakan.
4.
Uji
coba.
Uji validitas konstruk dan
uji validitas empirik dengan menggunakan teknik analisis faktor.Teknik ini
bertujuan untuk menjustifikasi ketepatan butir-butir yang mengukur dimensi
variabel yang telah disusun berdasarkan konstruk teoretis.
5.
Reliabilitas
Menghitung realibilitas disesuaikan teknik statistika yang
digunakan. Koefisien reliabilitas adalah besaran yang menunjukan kualitas atau
konsistensi hasil ukur instrumen. Batas nilai koefisien reliabilitas yang
dianggap layak merujuk pendapat yang sudah ada.
BAB III
PENUTUP
A.
SIMPULAN
Kegiatan menganalisis butir soal merupakan suatu kegiatan yang
harus dilakukan guru untuk meningkatkan mutu soal yang telah ditulis. Kegiatan
ini merupakan proses pengumpulan, peringkasan, dan penggunaan informasi dari
jawaban siswa untuk membuat keputusan tentang setiap penilaian (Nitko, 1996:
308). Tujuan penelaahan adalah untuk mengkaji dan menelaah setiap butir soal
agar diperoleh soal yang bermutu sebelum soal digunakan. Di samping itu, tujuan
analisis butir soal juga untuk membantu meningkatkan tes melalui revisi atau
membuang soal yang tidak efektif, serta untuk mengetahui informasi diagnostik
pada siswa apakah mereka sudah/belum memahami materi yang telah diajarkan
(Aiken, 1994: 63). Soal yang bermutu adalah soal yang dapat memberikan
informasi setepat-tepatnya sesuai dengan tujuannya di antaranya dapat
menentukan peserta didik mana yang sudah atau belum menguasai materi yang
diajarkan guru.
DAFTAR PUSTAKA
Arikunto,Suharsimi, Dasar-dasar Evaluasi Pendidikan. Jakarta :
Bumi Aksara, 1993.
Daryanto, Evaluasi
Pendidkan. Jakarta : PT. Rineka Cipta, 2001.
Sudijono, Anas, Pengantar
Evaluasi Pendidikan. Jakarta : PT. RajaGrafindo Persada, 2005.
Sutomo, Teknik
Penilaian Pendidikan. Surabaya : PT. Bina Ilmu, 1985.
Slamela, Evaluasi
Pendidikan. Jakarta : PT. Bina Aksara, 1988.
[1]
Prof. Drs. Anas Sudijono, Pengantar Evaluasi Pendidikan, (Jakarta: PT
RajaGrafindo Persada,
2008), hlm. 75-76.
Tidak ada komentar:
Posting Komentar