Rabu, 15 Juli 2020

MENGANALISIS INSTRUMEN NONTES

BAB I

PENDAHULUAN

A.    LATAR BELAKANG

Dalam melaksanakan analisis butir soal, para penulis soal dapat menganalisis secara kualitatif, dalam kaitan dengan isi dan bentuknya, dan kuantitatif dalam kaitan dengan ciri-ciri statistiknya (Anastasi dan Urbina, 1997: 172) atau prosedur peningkatan secara judgment dan prosedur peningkatan secara empirik (Popham, 1995: 195). Analisis kualitatif mencakup pertimbangan validitas isi dan konstruk, sedangkan analisis kuantitatif mencakup pengukuran kesulitan butir soal dan diskriminasi soal yang termasuk validitas soal dan reliabilitasnya.

Jadi, ada dua cara yang dapat digunakan dalam penelaahan butir soal yaitu penelaahan soal secara kualitatif dan kuantitatif. Kedua teknik ini masing-masing memiliki keunggulan dan kelemahan. Oleh karena itu teknik terbaik adalah menggunakan keduanya (penggabungan).

B.     RUMUSAN MASALAH

1.      Bagaimana menganalisis instrument non tes?

2.      Bagaimana membuat transformasi instrument non tes?

3.      Bagaimana membuat pembakuan instrument non tes?

C.     TUJUAN PENULISAN

1.      Mengetahui cara menganalisis instrument non tes.

2.      Mengetahui cara membuat transformasi instrument non tes.

3.      Mengetahui cara membuat pembakuan instrument non tes.

 

 

 

 

 

 

BAB II

MENGANALISIS INSTRUMEN NONTES

 

Pengertian instrumen dalam lingkup evaluasi didefinisikan sebagai perangkat untuk mengukur hasil belajar siswa yang mencakup hasil belajar dalam ranah kognitif,  afektif dan  psikomotor. 

Bentuk instrumen dapat berupa tes dan non tes. Teknis non-tes ini pada umumnya memegang peranan yang penting dalam rangka mengevaluasi hasil belajar peserta didik dari segi ranah sikap hidup (affective domain) dan ranah keterampilan (psychomotoric domain), sedangkan teknik tes sebagaimana telah dikemukakan sebelum ini, lebih banyak digunakan untuk mengevaluasi hasil belajar peserta didik dari segi ranah proses berfikirnya (cognitive domain).[1] Instrumen bentuk tes mencakup: tes uraian (uraian objektif dan uraian bebas), tes pilihan ganda, jawaban singkat, menjodohkan, benar-salah, unjuk kerja (performance test), dan portofolio. Instrumen bentuk non tes mencakup: wawancara, angket dan pengamatan (observasi). 

Sebelum instrumen digunakan hendaknya dianalisis terlebih dahulu. Dua karakteristik  penting  dalam menganalisis instrumen adalah validitas dan reliabilitasnya. 

Instrumen dikatakan valid (tepat, absah) apabila instrumen  digunakan untuk mengukur apa yang seharusnya diukur. Instrumen untuk mengukur kemampuan matematika siswa sekolah dasar tidak tepat jika digunakan pada siswa Sekolah menengah. Dalam hal ini sasaran kepada siapa instrumen itu ditujukan merupakan salah satu aspek yang harus dipertimbangkan dalam menganalisis validitas suatu instrumen. Aspek lainnya misalnya kesesuaian indikator dengan butir soal, penggunaan bahasa, kesesuaian dengan kurikulum yang berlaku, kaidah-kaidah dalam penulisan butir soal dan sebagainya. 

A.    ANALISIS BUTIR SOAL SECARA KUALITATIF

1.      Pengertian

Pada prinsipnya analisis butir soal secara kualitatif dilaksanakan berdasarkan kaidah penulisan soal (tes tertulis, perbuatan, dan sikap). Penelaahan ini biasanya dilakukan sebelum soal digunakan/diujikan. Aspek yang diperhatikan di dalam penelaahan secara kualitatif ini adalah setiap soal ditelaah dari segi materi, konstruksi, bahasa/budaya, dan kunci jawaban/pedoman penskorannya. Dalam melakukan penelaahan setiap butir soal, penelaah perlu mempersiapkan bahan-bahan penunjang seperti: (1) kisi-kisi tes, (2) kurikulum yang digunakan, (3) buku sumber, dan (4) kamus bahasa Indonesia.

2.      Teknik Analisis Secara Kualitatif

Ada beberapa teknik yang dapat digunakan untuk menganalisis butir soal secara kualitatif, diantaranya adalah teknik moderator dan teknik panel. Teknik moderator merupakan teknik berdiskusi yang di dalamnya terdapat satu orang sebagai penengah. Berdasarkan teknik ini, setiap butir soal didiskusikan secara bersama-sama dengan beberapa ahli seperti guru yang mengajarkan materi, ahli materi, penyusun/pengembang kurikulum, ahli penilaian, ahli bahasa, berlatar belakang psikologi. Teknik ini sangat baik karena setiap butir soal dilihat secara bersama-sama berdasarkan kaidah penulisannya. Di samping itu, para penelaah dipersilakan mengomentari/ memperbaiki berdasarkan ilmu yang dimilikinya. Setiap komentar/masukan dari peserta diskusi dicatat oleh notulis. Setiap butir soal dapat dituntaskan secara bersama-sama, perbaikannya seperti apa. Namun, kelemahan teknik ini adalah memerlukan waktu lama untuk rnendiskusikan setiap satu butir soal. Teknik panel merupakan suatu teknik menelaah butir soal yang setiap butir soalnya ditelaah berdasarkan kaidah penulisan butir soal, yaitu ditelaah dari segi materi, konstruksi, bahasa/budaya, kebenaran kunci jawaban/pedoman penskorannya yang dilakukan oleh beberapa penelaah. Caranya adalah beberapa penelaah diberikan: butir-butir soal yang akan ditelaah, format penelaahan, dan pedoman penilaian/ penelaahannya. Pada tahap awal para penelaah diberikan pengarahan, kemudian tahap berikutnya para penelaah berkerja sendiri-sendiri di tempat yang tidak sama. Para penelaah dipersilakan memperbaiki langsung pada teks soal dan memberikan komentarnya serta memberikan nilai pada setiap butir soalnya yang kriterianya adalah: baik, diperbaiki, atau diganti.

Secara ideal penelaah butir soal di samping memiliki latar belakang materi yang diujikan, beberapa penelaah yang diminta untuk menelaah butir soal memiliki keterampilan, seperti guru yang mengajarkan materi itu, ahli materi, ahli pengembang kurikulum, ahli penilaian, psikolog, ahli bahasa, ahli kebijakan pendidikan, atau lainnya.

3.    Prosedur Analisis Secara Kualitatif

Dalam menganalisis butir soal secara kualitatif, penggunaan format penelaahan soal akan sangat membantu dan mempermudah prosedur pelaksanaannya. Format penelaahan soal digunakan sebagai dasar untuk menganalisis setiap butir soal. Format penelaahan soal yang dimaksud adalah format penelaahan butir soal: uraian, pilihan ganda, tes perbuatan dan instrumen non-tes.

Agar penelaah dapat dengan mudah menggunakan format penelaahan soal, maka para penelaah perlu memperhatikan petunjuk pengisian formatnya. Petunjuknya adalah seperti berikut ini.

a.       Analisislah setiap butir soal berdasarkan semua kriteria yang tertera di dalam format!

b.      Berilah tanda cek (V) pada kolom "Ya" bila soal yang ditelaah sudah sesuai dengan kriteria!

c.       Berilah tanda cek (V) pada kolom "Tidak" bila soal yang ditelaah tidak sesuai dengan kriteria, kemudian tuliskan alasan pada ruang catatan atau pada teks soal dan perbaikannya.

B.     ANALISIS BUTIR SOAL SECARA KUANTITATIF

1.      Pengertian

Penelaahan soal secara kuantitatif maksudnya adalah penelaahan butir soal didasarkan pada data empirik dari butir soal yang bersangkutan. Data empirik ini diperoleh dari soal yang telah diujikan.

2.      Analisis Butir Soal

Ada dua pendekatan dalam analisis secara kuantitatif, yaitu pendekatan secara klasik dan modern.

a.       Klasik

Analisis butir soal secara klasik adalah proses penelaahan butir soal melalui informasi dari jawaban peserta didik guna meningkatkan mutu butir soal yang bersangkutan dengan menggunakan teori tes klasik. Kelebihan analisis butir soal secara klasik adalah murah, dapat dilaksanakan sehari-hari dengan cepat menggunakan komputer, murah, sederhana, familier dan dapat menggunakan data dari beberapa peserta didik atau sampel kecil (Millman dan Greene, 1993: 358). Adapun proses analisisnya sudah banyak dilaksanakan para guru di sekolah seperti beberapa contoh di bawah ini. a. Langkah pertama yang dilakukan adalah menabulasi jawaban yang telah dibuat pada setiap butir soal yang meliputi berapa peserta didik yang: (1) menjawab benar pada setiap soal, (2) menjawab salah (option pengecoh), (3) tidak menjawab soal. Berdasarkan tabulasi ini, dapat diketahui tingkat kesukaran setiap butir soal, daya pembeda soal, alternatif jawaban yang dipilih peserta didik. b. Misalnya analisis untuk 32 siswa, maka langkah (1) urutkan skor siswa dari yang tertinggi sampai yang terendah. (2) Pilih 10 lembar jawaban pada kelompok atas dan 10 lembar jawaban pada kelompok bawah. (3) Ambil kelompok tengah (12 lembar jawaban) dan tidak disertakan dalam analisis. (4) Untuk masing-masing soal, susun jumlah siswa kelompok atas dan bawah pada setiap pilihan jawaban. (5) Hitung tingkat kesukaran pada setiap butir soal. (6) Hitung daya pembeda soal. (7) Analisis efektivitas pengecoh pada setiap soal (Linn dan Gronlund, 1995: 318-319). Aspek yang perlu diperhatikan dalam analisis butir soal secara klasik adalah setiap butir soal ditelaah dari segi: tingkat kesukaran butir, daya pembeda butir, dan penyebaran pilihan jawaban (untuk soal bentuk obyektif) atau frekuensi jawaban pada setiap pilihan jawaban.

1)      Tingkat Kesukaran

2)      Daya Pembeda

3)      Reliabilitas Skor Tes

4)      Reliabilitas Instrument Tes ( soal bentuk pilihan ganda).

b.      Modern

Analisis butir soal secara modern yaitu penelaahan butir soal dengan menggunakan Item Response Theory (IRT) atau teori jawaban butir soal. Teori ini merupakan suatu teori yang menggunakan fungsi matematika untuk menghubungkan antara peluang menjawab benar suatu scal dengan kemampuan siswa. Nama lain IRT adalah latent trait theory (LTT), atau characteristics curve theory (ICC). Asal mula IRT adalah kombinasi suatu versi hukum phi-gamma dengan suatu analisis faktor butir soal (item factor analisis) kemudian bernama Teori Trait Latent (Latent Trait Theory), kemudian sekarang secara umum dikenal menjadi teori jawaban butir soal (Item Response Theory) (McDonald, 1999: 8). Dalam subbab ini akan disajikan kelebihan analisis secara IRT dan kalibrasi butir soal dan pengukuran kemampuan orang.

3.      Langkah-langkah dalam Proses Analisis Butir Soal (Analisis Kuantitatif)

a.       Mengurutkan daftar nilai hasil ulangan/ujian dari yang terbesar sampai yang terkecil setiap kelas;

b.      Daftar nilai yang telah diurutkan dibagi ke dalam tiga kelompok, yaitu kelompok pandai (uper group), kelompok kurang (lower group), dan kelompok sedang (middle group);

c.       Melakukan analisis pada kelompok pandai atau kelompok atas dan kelompok kurang atau kelompok bawah, sedangkan kelompok menengah kita biarkan. Umumnya diambil kelompok atas dan bawah masing-masing 27% - 27%, (perbandingan tersebut tidak mutlak, tergantung pada kondisi jumlah objek yang akan dianalisis sehingga bisa 25% - 25%, 33% - 33% , dst);

d.      Tiap soal ditabulasikan kemudian dijumlahkan pada setiap kelompok atas dan kelompok bawah.

C.     FORMAT PENELAAHAN SOAL NON-TES 

Nama tes               :

Kelas/Semester      :

Penelaah                :

No.

Aspek yang ditelaah

Nomor Soal

1

2

3

...

A.

1.

Materi

Pernyataan/soal sudah sesuai dengan rumusan indikator dalam kisi-kisi.

 

 

 

 

2

Aspek yang diukur pada setiap pernyataan sudah sesuai dengan tuntutan dalam kisi-kisi (misal untuk tes sikap: aspek koginisi, afeksi, atau konasinya dan pernyataan positif atau negatifnya).

 

 

 

 

B.

1

Konstruksi

Pernyataan dirumuskan dengan singkat (tidak melebihi 20 kata) dan jelas.

 

 

 

 

2

Kalimatnya bebas dari pernyataan yang tidak relevan objek yang dipersoalkan atau kalimatnya merupakan pernyataan yang diperlukan saja 

 

 

 

 

3

Kalimatnya bebas dari pernyataan yang bersifat negatif  ganda.

 

 

 

 

4

Kalimatnya bebas dari pernyataan yang mengacu pada masa lalu.

 

 

 

 

5

Kalimatnya bebas dari pernyataan faktual atau dapat diinterpretasikan sebagai fakta.

 

 

 

 

6

Kalimatnya bebas dari pernyataan dapat diinterpretasikan lebih dari satu makna

 

 

 

 

7

Kalimatnya bebas dari pernyataan yang mungkin disetujui atau dikosongkan oleh hampir semua responden.

 

 

 

 

8

Setiap pernyataan hanya berisi satu gagasan secara lengkap.

 

 

 

 

10

Kalimatnya bebas dari pernyaan yang tidak pasti pasti seperti semua, selalu, kadang-kadang, tidak satupun, tidak pernah.

 

 

 

 

11

Jangan banyak menggunakan kata hanya, sekedar, semata-mata.  

Gunakan seperlunya.

 

 

 

 

 

 

 

 

 

 

C

Bahasa/Budaya

 

 

 

 

1

Bahsa soa harus komunikatif  dan sesuai dengan jenjang pendidikan siswa atau responden.

 

 

 

 

2

Soal harus menggunakan bahasa Indonesia baku.

 

 

 

 

3

Soal tidak menggunakan bahasa yang berlaku setempat/tabu.

 

 

 

 

 

Keterangan: Berilah tanda (V) bila tidak sesuai dengan aspek yang ditelaah!

D.    MEMBUAT TRANSFORMASI

Tujuan evaluasi adalah untuk melihat dan mengetahui proses yang terjadi dalam proses pembelajaran. Proses pembelajaran memiliki 3 hal penting yaitu, input, transformasi dan output. Input adalah peserta didik yang telah dinilai kemampuannya dan siap menjalani proses pembelajaran. Transformasi adalah segala unsur yang terkait dengan proses pembelajaran yaitu ; guru, media dan bahan beljar, metode pengajaran, sarana penunjang dan sistem administrasi. Sedangkan output adalah capaian yang dihasilkan dari proses pembelajaran.

Evaluasi pendidikan memiliki beberapa fungsi yaitu ;

1.      Fungsi selektif.

2.      Fungsi diagnostic.

3.      Fungsi penempatan.

4.      Fungsi keberhasilan.

Maksud dari dilakukannya evaluasi adalah:

1.      Perbaikan system.

2.      Pertanggungjawaban kepada pemerintah dan masyarakat.

3.      Penentuan tindak lanjut pengembangan.

E.     PEMBAKUAN INSTRUMEN

Peneliti menjelaskan proses pembakuan instrumen baku, kriteria tes baku, sampel uji coba, uji coba, metode penskalaan dan norma serta validitas dan reliabilitas.

1.       Deskripsi proses pembakuan

Proses atau langkah-langkah sampai diperoleh instrumen yang baku.

2.       Kriteria tes baku

Kriteria tes baku sesuai dengan prosedur statistik yang ada, seperti uji validitas dan reliabilitas atau analisis faktor.

3.       Sampel uji coba

Sampel uji coba disesuaikan dengan teknik pengambilan sampel yang digunakan. 

4.       Uji coba.

Uji validitas konstruk dan uji validitas empirik dengan menggunakan teknik analisis faktor.Teknik ini bertujuan untuk menjustifikasi ketepatan butir-butir yang mengukur dimensi variabel yang telah disusun berdasarkan konstruk teoretis.

5.       Reliabilitas

Menghitung realibilitas disesuaikan teknik statistika yang digunakan. Koefisien reliabilitas adalah besaran yang menunjukan kualitas atau konsistensi hasil ukur instrumen. Batas nilai koefisien reliabilitas yang dianggap layak merujuk pendapat yang sudah ada.

 

 

 

 

BAB III

PENUTUP

A.    SIMPULAN

Kegiatan menganalisis butir soal merupakan suatu kegiatan yang harus dilakukan guru untuk meningkatkan mutu soal yang telah ditulis. Kegiatan ini merupakan proses pengumpulan, peringkasan, dan penggunaan informasi dari jawaban siswa untuk membuat keputusan tentang setiap penilaian (Nitko, 1996: 308). Tujuan penelaahan adalah untuk mengkaji dan menelaah setiap butir soal agar diperoleh soal yang bermutu sebelum soal digunakan. Di samping itu, tujuan analisis butir soal juga untuk membantu meningkatkan tes melalui revisi atau membuang soal yang tidak efektif, serta untuk mengetahui informasi diagnostik pada siswa apakah mereka sudah/belum memahami materi yang telah diajarkan (Aiken, 1994: 63). Soal yang bermutu adalah soal yang dapat memberikan informasi setepat-tepatnya sesuai dengan tujuannya di antaranya dapat menentukan peserta didik mana yang sudah atau belum menguasai materi yang diajarkan guru.

 

 

 

 

 

 

 

 

 

 

 

 

 

 

 

DAFTAR PUSTAKA

 

Arikunto,Suharsimi, Dasar-dasar Evaluasi Pendidikan. Jakarta : Bumi Aksara, 1993.

Daryanto, Evaluasi Pendidkan. Jakarta : PT. Rineka Cipta, 2001.

Sudijono, Anas, Pengantar Evaluasi Pendidikan. Jakarta : PT. RajaGrafindo          Persada, 2005.

Sutomo, Teknik Penilaian Pendidikan. Surabaya : PT. Bina Ilmu, 1985.

Slamela, Evaluasi Pendidikan. Jakarta : PT. Bina Aksara, 1988.

 

 

 

 



[1] Prof. Drs. Anas Sudijono, Pengantar Evaluasi Pendidikan, (Jakarta: PT RajaGrafindo Persada,                           2008), hlm. 75-76.


Tidak ada komentar:

Posting Komentar