BAB I
PENDAHULUAN
A.
LATAR
BELAKANG
Pendidikan adalah upaya
sadar dan tanggung jawab untuk memelihara, membimbing dan mengarah kan pertumbuhan dan perkembangan kehidupan peserta
didik,
agar ia memiliki makna dan tujuan hidup yang hakiki. Sementara proses pendidikan bertujuan
untuk menimbulkan perubahan perubahan yang diinginkan pada setiap
peserta didik.
Perubahan perubahan yang
diinginkan pada peserta didik meliputi tiga bidang yaitu (1) tujuan yang personal dan
yang berkaitan dengan individu-individu yang sedang belajar untuk terjadinya
perubahan yang diinginkan ,baik perubahan tingkah laku ,aktivitas dan pencapai
nya,
serta pertumbuhan yang diingini pada peserta didik ; (2) tujuan sosial yang
berkaitan dengan kehidupan masyarakat
sebagai unit sosial berikut dengan dinamika masyarakat umumnya; (3) tujuan tujuan profesional
yang berkaitan dengan pendidikan dan pengajaran sebagai ilmu, seni dan profesi.proses pendidikan yang dimaksud tidak terlepas dari
beberapa komponen yang mendukung. Salah satunya komponen yang
urgen dalam melihat keberhasilan pendidikan adalah evaluasi.
B.
RUMUSAN MASALAH
1.
Apa pengertian evaluasi pendidikan Islam?
2.
Apa tujuan dan fungsi evaluasi pendidikan
Islam?
3.
Bagaimana sistem evaluasi dalam pendidikan
Islam?
C.
TUJUAN PENULISAN
1.
Mengetahui pengertian dari evaluasi pendidikan
Islam.
2.
Mengetahui tujuan dan fungsi dari evaluasi
pendidikan Islam.
3.
Menjelaskan sistem evaluasi dalam pendidikan
Islam.
BAB II
PEMBAHASAN
HAKIKAT METODE DALAM FILSAFAT PENDIDIKAN ISLAM
Pengertian Metode secara etimologi, berasal dari dua perkataan yaitu meta
dan hodos. Meta berarti “melalui” dan hodos berarti “jalan” atau
“cara”. Menurut DR. Ahmad Husain al-liqaniy, metode adalah :
“Langkah–langkah yang diambil guru guna membantu para murid merealisasikan
tujuan tertentu”. Dalam bahasa arab dikenal dengan istilah Thariqoh yang
berarti langkah-langkah strategis yang harus dipersiapkan untuk melakukan suatu
pekerjaan. Bila dihubungkan dengan Pendidikan maka langkah tersebut harus
diwujudkan dalam proses pendidikan dalam rangka pembentukan kepribadian.
Muhammad Athiyah al-Abrasyi mengartikan metode sebagai jalan yang
dilalui untuk memperoleh pemahaman pada peserta didik. Abd al-Aziz mengartikan
metode kebiasaan berpikir, serta cinta kepada ilmu, guru, dan sekolah.[1]
Jadi teknik merupakan pengejawantahan dari metode, sedangkan metode merupakan
penjabaran asumsi-asumsi dasar dari pendekatan materi al-Islam.
Sementara itu ,
pendidikan merupakan usaha membimbing dan membina serta bertanggung jawab untuk
mengembangkan intelektual pribadi anak didik ke arah kedewasaan dan dapat
menerapkannya dalam kehidupan sehari-hari. Maka pendidikan Islam adalah sebuah
proses dalam membentuk manusia-manusia muslim yang mampu mengembangkan potensi
yang dimilikinya untuk mewujudkan dan merealisasikan tugas dan fungsinya
sebagai Khalifah Allah SWT., baik kepada Tuhannya, sesama manusia, dan sesama
makhluk lainnya. Pendidikan yang dimaksud selalu berdasarkan kepada ajaran Al
Qur'an dan Al Hadits. Oleh karena itu, yang dimaksud dengan metodologi
pendidikan Islam adalah cara yang dapat ditempuh dalam memudahkan pencapaian
tujuan pendidikan Islam.[2]
Dalam
penggunaan metode pendidikan Islam yang perlu dipahami adalah bagaimana
seseorang pendidik dapat memahami hakikat metode dalam relevansinya dengan
tujuan utama pendidikan Islam yaitu terbentuknya pribadi yang beriman yang
senantiasa siap sedia mengabdi kepada Allah SWT. Tujuan diadakan metode adalah
menjadikan proses dan hasil belajar mengajar ajaran Islam lebih berdaya guna
dan berhasil guna dan menimbulkan kesadaran peserta didik untuk mengamalkan ketentuan ajaran islam melalui
teknik motivasi yang menimbulkan gairah belajar peserta didik secara mantab.
Uraian itu menunjukkan bahwa fungsi metode pandidikan Islam adalah mengarahkan
keberhasilan belajar, memberi kemudahan kepada peserta didik untuk belajar
berdasarkan minat, serta mendorong usaha kerja sama dalam kegiatan belajar
mengajar antara pendidik dengan peserta didik. Di samping itu, dalam uaraian
tersebut ditunjukkan bahwa fungsi metode pendidikan adalah memberi inspirasi
pada peserta didik melalui proses hubungan yang serasi antara pendidik dan
peserta didik.
Tugas utama
metode pendidikan Islam adalah mengadakan aplikasi prinsip-prinsip psikologis
dan paedagogis sebagai kegiatan antar hubungan pendidikan yang terealisasi melalui penyampaian keterangan dan
pengetahuan agar siswa mengetahui, memahami, menghayati, dan meyakini materi
yang diberikan, serta meningkatkan ketrampilan olah pikir.[3]
Dalam
penggunaan metode pendidikan Islam yang perlu dipahami adalah bagaimana seorang
pendidik dapat memahami hakikat metode dan relevansinya dengan tujuan utama
pendidikan Islam, yaitu terbentuknya pribadi yang beriman dan senantiasa siap
mengabdi kepada Allah SWT. Di samping itu, pendidik pun perlu memahami
metode-metode instruksional yang aktual yang ditujukan dalam Al-Qur’an atau
yang didedukasikan dari Al-Qur’an, dan dapat member motivasi dan disiplin atau
atau dalam istilah Al-Qur’an disebut dengan pemberian anugerah (tsawab)
dan hukuman (‘iqab).[4]
A.
PENGERTIAN
EVALUASI PENDIDIKAN ISLAM
Istilah
evaluasi berasal dari bahasa Inggris evaluation yang berarti
tindakan atau proses untuk menemukan nilai sesuatu atau dapat diartikan sebagai
tindakan atau proses untuk menentukan nilai segala sesuatu yang ada hubungannya
dengan. Dalam bahasa Arab evaluasi dikenal dengan istilah “imtihan” yang
berarti ujian. Dan dikenal dengan istilah khataman sebagai cara
menilai hasil akhir dari proses pendidikan.[5]
Menurut
Soegarda Poerbawakatja dalam “Ensiklopedi Pendidikan” menguraikan pengertian
pendidikan yang lebih luas, sebagai “semua perbuatan dan usaha dari generasi
tua untuk mengalihkan pengetahuan, pengalaman, kecakapan serta ketrampilannya
(orang menamakan ini juga “mengalihkan” kebudayaan) kepada generasi muda,
sebagai usaha menyiapkan agar dapat memenuhi fungsi hidupnya baik jasmaniah
maupun rohaniah”. Dapat pula dikatakan bahwa pendidikan adalah usaha secara
sengaja dari orang dewasa untuk meningkatkan pengaruh kedewasaan si anak yang
selalu diartikan mampu memikul tanggung jawab moril dari segala perbuatan.[6]
Jika kata
evaluasi dihubungkan dengan kata pendidikan, maka dapat diartikan sebagai
proses membandingkan situasi yang ada dengan kriteria tertentu terhadap
masalah-masalah yang berkaitan dengan pendidikan, untuk itu evaluasi pendidikan
sebenarnya tidak hanya menilai tentang hasil belajar siswa tersebut, seperti
evaluasi terhadap guru, kurikulum, metode, sarana prasarana, lingkungan dan
sebagainya.[7]
Selain istilah
evaluasi, terdapat pula istilah lain yang hampir berdekatan, yaitu pengukuran
dan penilaian. Sementara orang lebih cenderung mengartikan ketiga kata tersebut
sebagai suatu pengertian yang sama, sehingga dalam memaknainya tergantung dari
kata mana yang siap diucapkan.[8]
Evaluasi pendidikan dalam
islam dapat diberi batasan sebagai suatu kegiatan untuk menentukan kemajuan
sutu pekerjaan dalam proses pendidikan islam. (Nizar, 2002: 77) dalam ruang
lingkup terbatas, evaluasi dilakukan dalam rangka mengetahui tingkat
keberhasilan pendidik dalam menyampaikan materi pendidikan islam pada peserta
didik. Sedang dalam ruang lingkup luas, evaluasi dilakukan untuk mengetahui
tingkat keberhasilan dan tingkat kelemahan suatu proses pendidikan islam (dengan
seluruh komponen yang terlibat didalam nya) dalam mencapai tujuan pendidikan
yang dicita-citakan.
Bila dikaitkan dengan pendidikan Islam, maka
evaluasi pendidikan Islam dapat diartikan sbg suatu kegiatan untuk menentukan
taraf kemajuan suatu pekerjaan dalam
proses pendidikan Islam.
Penilaian dalam pendidikan dimaksudkan untuk menetapkan
berbagai keputusan kependidikan, baik yang menyangkut perencanaan pengelolaan
,prosesdan tindak lanjut pendidikan, baik yang menyangkut perorangan, kelompok
maupun kelembagaan (Depdikbud, 1983/1984: 1).[9]
Disamping evaluasi
terdapat pula istilah measurement, measurement berasal dari kata to
measure yang berarti mengukur, measurement berarti
perbandingan data kualitif dengan data kuantitatif yang lainnya yang sesuai
dalam kerangka mendapatkan nilai (angka) (Qahar , 1972: 7) pengukuran dalam
pendidikan adalah usaha untuk memahami kondisi-kondisi objektif tentang sesuatu
yang akan dinilai. Dalam pendidikan islam, evaluasi akan objektif apabila
didasarkan dengan tolak ukur Al-Qur’an atau Hadits.
Namun demikian, suharsimi
arikunto (1955: 3) membedakan tiga istilah
tersebut, yaitu pengukuran, penilaian, dan evaluasi. pengukuran adalah
membandingkan sesuatu dengan suatu ukuran. pengukuran ini bersifat kuantitatif.
Penilaian adalah mengambilan suatu keputusan terhadap sesuatu dengan ukuran
baik dan buruk secara kualitatif. Sementara evaluasi adalah mencakup pengukuran dan penilaian secara
kuantitatif.
Namun dalam al-qur’an atau
hadits, banyak sekali ditemui tolak ukur evaluasi dalam pendidikan islam
misalnya tolak ukur sholat yg baik dan sempurna adalah mencegah orang dari
perbuatan keji dan munkar. Tolak ukur watak seseorang yang beriman adalah bila
melaksanakan sholat secara khusyuk, membayar zakat (lihat QS al-Nisa [4]: 162)
menjaga kemaluan terhadap wanita yang bukan istri. tolak ukur perilaku
seseorang yg beriman adalahmencintai saudaranya seperti mencintai dirinya
sendiri (lihat, misalnya, QS,AL-Baqorah [2]: 148 ). Tolak ukur seseorang yang munafik disebutkan oleh Nabi dalam tiga
indikasi, yaitu dusta dalam berbicara, ingkar dalam berjanji, dan khianat
apabila diberi kepercayaan (amanah) (Ramayulis dan Nizar, 2009: 235-236)
Kata evaluasi dalam wacana
keislaman tidak dapat ditemukan padanan yang pasti, tetapi terdapat kata-kata tertentu yang mengarah pada makna evaluasi. Berikut ini penjelasan kata-kata tersebut.
1.
Al-Hisab, memiliki makna mengira, menafsirkan dan menghitung.
2.
Al-bala, makna cobaan, ujian.
3.
Al-hukm, memiliki makna putusan atau vonis.
4.
Al-qodha, memiliki makna putusan.
5.
Al-nazhr, memiliki arti melihat.[10]
Dalam pendidikan islam ,
tujuan evaluasi lebih ditekankan pada penguasaan sikap (afektif dan psikomotor)
ketimbangan aspek kognitif (Nizar,2002:80). Penekanan ini bertujuan untuk
mengetahui kemampuan peserta didik yang secra garis besar meliputi 4 hal yaitu
sebagai berikut.
1)
Sikap dan pengalaman terhadap hubungan pribadinya dengan tuhannya.
2)
Sikap dan pengalaman terhadap arti hubungan dirinya dengan masyarakat.
3)
Sikap dan pengalaman terhadap arti hubungan kehidupan nya dengan alam
sekitarnya.
4)
Sikap dan dan pandangan terhadap dirinya sendiri selaku hamba allah, anggota masyarakat, serta khalifah allah.[11]
B.
TUJUAN DAN FUNGSI EVALUASI PENDIDIKAN ISLAM
Menurut Sumadi Suryabrata
(1993: 34-48) tujuan evaluasi pendidikan
dapat di kelompokan dalam tiga
klasifikasi.
1.
Klasifikasi berdasarkan fungsinya, evaluasi bertujuan untuk memenuhi kebutuhan.
a.
Psikologis; evaluasi dipakai sebagai
kerangka acuan kearah mana ia harus bergerak menuju tujuan pendidikan.
b.
Didaktik/instruksiona; evaluasi bertujuan
memotivasi peserta didik, memberikan pertimbangan dalam penentuan bahan pengajaran
dan mengajar, serta dalam kerangka mengadakan bimbingan-bimbingan secara khusus
kepada peserta didik.
c.
Administratif /manajerial; bertujuan untuk pengisian
buku rapor;menentukan indeks Prestasi, pengisian STTB,dan menngenai ketentuan
kenaikan peserta didik.
2.
Klasifikasi berdasarkan keputusan pendidikan
Tujuan evaluasi dapat
digunakan untuk mengambil keputusan individual, institutional, didaktik
instruksional, dan keputusan –keputusan penelitian.
3.
Klasifikasi formatif dan sumatif
a. Evaluasi formatif diperlukan
untuk mendapatkanumpan balik guna untuk menyempurnakan perbaikan proses belajar
mengajar.
b. Evaluasi sumatif berfungsi
untuk mengukur keberhasilan seluruh program pendidikan yang dilaksanakan pada
akhir pelaksanaan proses belajar mengajar (akhir semster /tahun).[12]
Secara umum, ada empat fungsi evaluasi dalam pendidikan islam;
1.
Dari segi pendidikan, evaluasi berfungsi untuk
membantu seorang pendidik mengetahui sejauh mana hasil yang dicapaidalam
pelaksanaan tugasnya.
2. Dari segi peserta didik, evaluasi
membantu peserta didik untuk dapat mengubah atau mengubah tingkah laku nya
secara sadar kearah yang lebih baik.
3. Dari segi ahli pemikir
pendidikan islam,evaluasi berfumgsi untuk membantu para pemikir pendidikan
islam mengetahui kelemahan teori-teori pendidikan islam dan membantu mereka
dalam merumuskan kembali teori-teori pendidikan islam yang relevan dengan arus
dinamika zaman yang senantiasa berubah.
4. Dari segi politik
pengambil kebijakan pendidikan islam (pemerintahan ) evaluasi berfungsi untuk membantu mereka dalam membenahi sistem pengawasan
dan mempertimbangankan kebijakan yang akan diterapkan dalam sistem pendidikan
islam.[13]
Tujuan utama melakukan evaluasi dalam proses belajar mengajar
adalah untuk mendapatkan informasi yang
akurat mengenai tingkat pencapaian tujuan instruksionaloleh siswa sehingga
dapat diupayakan tindak laanjut. Tindak lanjut termaksud merupakan fungsi evaluasi dan dapat berupa:
1)
Penempatan pada tempat yang tepat.
2)
Pemberian umpan balik.
3)
Diagnosis kesulitan belajar mengajar.
4)
Penentuan kelulusan.
Untuk masing-masing tindak lanjut
yang dikehendaki ini diadakan tes yang diberi nama:
1)
Tes penempatan.
2)
Tes formatif.
3)
Tes diagnostik dan
4)
Tes sumatif.[14]
C.
SISTEM EVALUASI DALAM PENDIDIKAN ISLAM
Sistem evaluasi
yang dijelaskan oleh Allah Swt dan Rasul-Nya yang berimplikasi pedagogis
sebagai berikut:
1.
Untuk menguji daya kemampuan manusia beriman
terhadap berbagai macam problema kehidupan yang dialami sesuai dengan Alquran
surat Albaqarah ayat 155 :
وَلَنَبْلُوَنَّكُمْ بِشَيْءٍ مِنَ الْخَوْفِ وَالْجُوعِ
وَنَقْصٍ مِنَ الأمْوَالِ وَالأنْفُسِ وَالثَّمَرَاتِ وَبَشِّرِ الصَّابِرِينَ
Artinya: “ Dan benar-benar Kami uji kamu
manusia dengan sesuatu berupa rasa takut, rasa lapar dan kekurangan harta serta
hilangnya jiwa berupa kematian serta kekurangan buah-buahan semacam paceklik
namun demikian berilah kabar gembira bagi orang orang yang sabar.”
2.
Untuk mengetahui sejauh mana atau sampai dimana
hasil pendidikan wahyu yang telah diaplikasikan oleh Rasulullah Saw kepada
umatnya sesuai dengan Alquran surat an-Naml ayat 40 :
هَذَا مِنْ فَضْلِ رَبّي لِيَبْلُوَنِي
أَأَشْكُرُ أَمْ أَكْفُرُ وَمَنْ شَكَرَ
Artinya: “ … Ini adalah limpahan Karunia
Tuhanku untuk menguji apakah aku adalah orang yang bersyukur
atau tidak atas nikmat pemberianNya.”
3.
Untuk menentukan klasifikasi atau tingkat hidup
keislaman atau keimanan seseorang, seperti pengevaluasian Allah terhadap Nabi
Ibrahim yang meyembelih Ismail putera yang dicintainya.
4.
Untuk mengukur daya kognisi, hafalan manusia
dari pelajaran yang telah diberikan padanya, seperti pengevaluasian terhadap
Nabi Adam tentang asmaasma yang diajarkan kepadanya dihadapan para Malaikat.
5.
Memberikan semacam tabsyir (berita
gembira) bagi yang beraktivitas baik, dan memberikan semacam iqab (siksa)
bagi mereka yang beraktivitas buruk.
BAB III
PENUTUP
A.
SIMPULAN
Yang dimaksud dengan metodologi pendidikan
Islam adalah cara yang dapat ditempuh dalam memudahkan pencapaian tujuan
pendidikan Islam.
Evaluasi pendidikan Islam dapat diartikan sebagai
suatu kegiatan untuk menentukan taraf kemajuan suatu pekerjaan dalam proses pendidikan Islam.
Tujuan utama melakukan
evaluasi dalam proses belajar mengajar adalah untuk mendapatkan informasi yang akurat mengenai tingkat pencapaian
tujuan instruksional oleh siswa sehingga dapat
diupayakan tindak lanjut.
Sistem evaluasi
yang dijelaskan oleh Allah Swt dan Rasul-Nya yang berimplikasi pedagogis
sebagai berikut:
1.
Untuk menguji daya kemampuan manusia beriman
terhadap berbagai macam problema kehidupan yang dialami.
2.
Untuk mengetahui sejauhmana atau sampai dimana
hasil pendidikan wahyu yang telah diaplikasikan oleh Rasulullah saw. kepada
umatnya.
3.
Untuk menentukan klasifikasi atau tingkat hidup
keislaman atau keimanan seseorang.
4.
Untuk mengukur daya kognisi, hafalan manusia
dari pelajaran yang telah diberikan padanya.
5.
Memberikan semacam tabsyir (berita
gembira) bagi yang beraktivitas baik, dan memberikan semacam iqab (siksa)
bagi mereka yang beraktivitas buruk.
B.
SARAN
Sebagai calon guru agama sudah seharusnya kita
mengetahui evaluasi dalam pendidikan Islam dan menerapkannya.
DAFTAR PUSTAKA
Al-Thaumi
al-Syaibani, Omar Muhammad, Falsafah
Pendidikan Islam, terj. Arifin Langgulung, Jakarta: Bulan Bintang, 1979.
Armai, Arief, Pengantar Ilmu dan Metodologi Pendidikan Islam, Jakarta : Ciputat
Press, 2002.
Mujib,
Abdullah, Ilmu Pendidikan Islam, Jakarta : Fajar Inter
Pratama Uffset, 2008.
Nata,
Abuddin, Filsafat Pendidikan Islam I, Jakarta: Logos
Wacana Ilmu, 1997.
Poerbawakatja, Sugarda,
Ensiklopedi Pendidikan, Jakarta: Gunung Agung, 1976.
Shaleh ‘Abd
Allah, Abd Rahman, Teori-teori Pendidikan Berdasarkan Al-Qur’an, terj. Arifin
HM, judul asli: Educational Theory, a Qur’anic Outlook, Jakarta:
Rineka Cipta, 1991.
[1] Omar
Muhammad al-Thaumi al-Syaibani, Falsafah Pendidikan Islam, terj. Arifin
Langgulung (Jakarta: Bulan Bintang, 1979), hlm.
551-552.
[2] Arief
Armai, Pengantar Ilmu dan Metodologi
Pendidikan Islam (Jakarta : Ciputat Press, 2002),
hlm. 41.
[3]Abdullah Mujib,
Ilmu
Pendidikan Islam (Jakarta : Fajar Inter Pratama Uffset, 2008), hlm.
167.
[4] Abd
Rahman Shaleh ‘Abd Allah, Teori-teori Pendidikan Berdasarkan Al-Qur’an,
terj.Arifin HM, judul
asli: Educational Theory, a Qur’anic Outlook, (Jakarta:Rineka Cipta,
1991), hlm. 198.
[5] Drs.
H. Abuddin Nata, MA., Filsafat Pendidikan Islam I, Jakarta:
Logos Wacana Ilmu, 1997, hlm. 131.
[6] Sugarda
Poerbawakatja, Ensiklopedi Pendidikan, Jakarta: Gunung Agung,
1976, hlm. 214, Sebagaimana
dikutip oleh Drs. Zuhairini, dkk., op.cit.,hlm. 120.
[7] Drs.
Abuddin Nata, MA., Op.Cit., hlm. 131.
[8] Ibid., hlm. 132.
[9] Drs.Bukhari Umar ,M.Ag., Ilmu Pendidikan Islam, hlm. 193-194.
[10] Moh.Haitami Salim & Syamsul kurniawan, Study Ilmu Pendidikan Islam, hlm. 241-244.
[11] Drs. Bukhari Umar, Op.
Cit., hlm. 197.
[12] Moh.Haitami Salim & Syamsul kurniawan, Op.Cit.,hlm. 250.
[13] Drs.Bukhari Umar, Op. Cit.,
hlm.198
[14] Dra.Hj.Nur Uhbiyati, ilmu Pendidikan Islam(IPI), hlm.139
Tidak ada komentar:
Posting Komentar