Rabu, 15 Juli 2020

HAKIKAT METODE DALAM FILSAFAT PENDIDIKAN ISLAM

BAB I

PENDAHULUAN

A.    LATAR BELAKANG

Pendidikan adalah upaya sadar dan tanggung jawab untuk memelihara, membimbing dan mengarah kan pertumbuhan dan perkembangan kehidupan peserta didik, agar ia memiliki makna dan tujuan hidup yang hakiki. Sementara proses pendidikan bertujuan  untuk menimbulkan perubahan perubahan yang diinginkan pada setiap peserta didik.

Perubahan perubahan yang diinginkan pada peserta didik meliputi tiga bidang yaitu (1)  tujuan yang personal dan yang berkaitan dengan individu-individu yang sedang belajar untuk terjadinya perubahan yang diinginkan ,baik perubahan tingkah laku ,aktivitas dan pencapai nya, serta pertumbuhan yang diingini pada peserta didik ; (2) tujuan sosial yang berkaitan dengan kehidupan masyarakat  sebagai unit sosial berikut dengan dinamika masyarakat umumnya; (3) tujuan tujuan profesional yang berkaitan dengan pendidikan dan pengajaran sebagai ilmu, seni dan profesi.proses pendidikan yang dimaksud tidak terlepas dari beberapa komponen yang mendukung. Salah satunya komponen yang urgen dalam melihat keberhasilan pendidikan adalah evaluasi.

B.     RUMUSAN MASALAH

1.      Apa pengertian evaluasi pendidikan Islam?

2.      Apa tujuan dan fungsi evaluasi pendidikan Islam?

3.      Bagaimana sistem evaluasi dalam pendidikan Islam?

C.     TUJUAN PENULISAN

1.      Mengetahui pengertian dari evaluasi pendidikan Islam.

2.      Mengetahui tujuan dan fungsi dari evaluasi pendidikan Islam.

3.      Menjelaskan sistem evaluasi dalam pendidikan Islam.


 

BAB II

PEMBAHASAN

HAKIKAT METODE DALAM FILSAFAT PENDIDIKAN ISLAM

Pengertian Metode secara etimologi, berasal dari dua perkataan yaitu meta dan hodos. Meta berarti “melalui” dan hodos berarti “jalan” atau “cara”. Menurut DR.  Ahmad Husain al-liqaniy, metode adalah : “Langkah–langkah yang diambil guru guna membantu para murid merealisasikan tujuan tertentu”. Dalam bahasa arab dikenal dengan istilah Thariqoh yang berarti langkah-langkah strategis yang harus dipersiapkan untuk melakukan suatu pekerjaan. Bila dihubungkan dengan Pendidikan maka langkah tersebut harus diwujudkan dalam proses pendidikan dalam rangka pembentukan kepribadian.

Muhammad Athiyah al-Abrasyi mengartikan metode sebagai jalan yang dilalui untuk memperoleh pemahaman pada peserta didik. Abd al-Aziz mengartikan metode kebiasaan berpikir, serta cinta kepada ilmu, guru, dan sekolah.[1] Jadi teknik merupakan pengejawantahan dari metode, sedangkan metode merupakan penjabaran asumsi-asumsi dasar dari pendekatan materi al-Islam.

Sementara itu , pendidikan merupakan usaha membimbing dan membina serta bertanggung jawab untuk mengembangkan intelektual pribadi anak didik ke arah kedewasaan dan dapat menerapkannya dalam kehidupan sehari-hari. Maka pendidikan Islam adalah sebuah proses dalam membentuk manusia-manusia muslim yang mampu mengembangkan potensi yang dimilikinya untuk mewujudkan dan merealisasikan tugas dan fungsinya sebagai Khalifah Allah SWT., baik kepada Tuhannya, sesama manusia, dan sesama makhluk lainnya. Pendidikan yang dimaksud selalu berdasarkan kepada ajaran Al Qur'an dan Al Hadits. Oleh karena itu, yang dimaksud dengan metodologi pendidikan Islam adalah cara yang dapat ditempuh dalam memudahkan pencapaian tujuan pendidikan Islam.[2]

Dalam penggunaan metode pendidikan Islam yang perlu dipahami adalah bagaimana seseorang pendidik dapat memahami hakikat metode dalam relevansinya dengan tujuan utama pendidikan Islam yaitu terbentuknya pribadi yang beriman yang senantiasa siap sedia mengabdi kepada Allah SWT. Tujuan diadakan metode adalah menjadikan proses dan hasil belajar mengajar ajaran Islam lebih berdaya guna dan berhasil guna dan menimbulkan kesadaran peserta didik untuk  mengamalkan ketentuan ajaran islam melalui teknik motivasi yang menimbulkan gairah belajar peserta didik secara mantab. Uraian itu menunjukkan bahwa fungsi metode pandidikan Islam adalah mengarahkan keberhasilan belajar, memberi kemudahan kepada peserta didik untuk belajar berdasarkan minat, serta mendorong usaha kerja sama dalam kegiatan belajar mengajar antara pendidik dengan peserta didik. Di samping itu, dalam uaraian tersebut ditunjukkan bahwa fungsi metode pendidikan adalah memberi inspirasi pada peserta didik melalui proses hubungan yang serasi antara pendidik dan peserta didik.

Tugas utama metode pendidikan Islam adalah mengadakan aplikasi prinsip-prinsip psikologis dan paedagogis sebagai kegiatan antar hubungan pendidikan yang terealisasi  melalui penyampaian keterangan dan pengetahuan agar siswa mengetahui, memahami, menghayati, dan meyakini materi yang diberikan, serta meningkatkan ketrampilan olah pikir.[3]

Dalam penggunaan metode pendidikan Islam yang perlu dipahami adalah bagaimana seorang pendidik dapat memahami hakikat metode dan relevansinya dengan tujuan utama pendidikan Islam, yaitu terbentuknya pribadi yang beriman dan senantiasa siap mengabdi kepada Allah SWT. Di samping itu, pendidik pun perlu memahami metode-metode instruksional yang aktual yang ditujukan dalam Al-Qur’an atau yang didedukasikan dari Al-Qur’an, dan dapat member motivasi dan disiplin atau atau dalam istilah Al-Qur’an disebut dengan pemberian anugerah (tsawab) dan hukuman (‘iqab).[4]

A.    PENGERTIAN EVALUASI PENDIDIKAN ISLAM

Istilah evaluasi berasal dari bahasa Inggris evaluation yang berarti tindakan atau proses untuk menemukan nilai sesuatu atau dapat diartikan sebagai tindakan atau proses untuk menentukan nilai segala sesuatu yang ada hubungannya dengan. Dalam bahasa Arab evaluasi dikenal dengan istilah “imtihan” yang berarti ujian. Dan dikenal dengan istilah khataman sebagai cara menilai hasil akhir dari proses pendidikan.[5]

Menurut Soegarda Poerbawakatja dalam “Ensiklopedi Pendidikan” menguraikan pengertian pendidikan yang lebih luas, sebagai “semua perbuatan dan usaha dari generasi tua untuk mengalihkan pengetahuan, pengalaman, kecakapan serta ketrampilannya (orang menamakan ini juga “mengalihkan” kebudayaan) kepada generasi muda, sebagai usaha menyiapkan agar dapat memenuhi fungsi hidupnya baik jasmaniah maupun rohaniah”. Dapat pula dikatakan bahwa pendidikan adalah usaha secara sengaja dari orang dewasa untuk meningkatkan pengaruh kedewasaan si anak yang selalu diartikan mampu memikul tanggung jawab moril dari segala perbuatan.[6]

Jika kata evaluasi dihubungkan dengan kata pendidikan, maka dapat diartikan sebagai proses membandingkan situasi yang ada dengan kriteria tertentu terhadap masalah-masalah yang berkaitan dengan pendidikan, untuk itu evaluasi pendidikan sebenarnya tidak hanya menilai tentang hasil belajar siswa tersebut, seperti evaluasi terhadap guru, kurikulum, metode, sarana prasarana, lingkungan dan sebagainya.[7]

Selain istilah evaluasi, terdapat pula istilah lain yang hampir berdekatan, yaitu pengukuran dan penilaian. Sementara orang lebih cenderung mengartikan ketiga kata tersebut sebagai suatu pengertian yang sama, sehingga dalam memaknainya tergantung dari kata mana yang siap diucapkan.[8]

Evaluasi pendidikan dalam islam dapat diberi batasan sebagai suatu kegiatan untuk menentukan kemajuan sutu pekerjaan dalam proses pendidikan islam. (Nizar, 2002: 77) dalam ruang lingkup terbatas, evaluasi dilakukan dalam rangka mengetahui tingkat keberhasilan pendidik dalam menyampaikan materi pendidikan islam pada peserta didik. Sedang dalam ruang lingkup luas, evaluasi dilakukan untuk mengetahui tingkat keberhasilan dan tingkat kelemahan suatu proses pendidikan islam (dengan seluruh komponen yang terlibat didalam nya) dalam mencapai tujuan pendidikan yang dicita-citakan.

           Bila dikaitkan dengan pendidikan Islam, maka evaluasi pendidikan Islam dapat diartikan sbg suatu kegiatan untuk menentukan taraf kemajuan suatu  pekerjaan dalam proses pendidikan Islam.

           Penilaian dalam pendidikan dimaksudkan untuk menetapkan berbagai keputusan kependidikan, baik yang menyangkut perencanaan pengelolaan ,prosesdan tindak lanjut pendidikan, baik yang menyangkut perorangan, kelompok maupun kelembagaan (Depdikbud, 1983/1984: 1).[9]

Disamping evaluasi terdapat pula istilah measurement, measurement berasal dari kata to measure yang berarti mengukur, measurement berarti perbandingan data kualitif dengan data kuantitatif yang lainnya yang sesuai dalam kerangka mendapatkan nilai (angka) (Qahar , 1972: 7) pengukuran dalam pendidikan adalah usaha untuk memahami kondisi-kondisi objektif tentang sesuatu yang akan dinilai. Dalam pendidikan islam, evaluasi akan objektif apabila didasarkan dengan tolak ukur Al-Qur’an atau Hadits.

Namun demikian, suharsimi arikunto (1955: 3) membedakan tiga istilah tersebut, yaitu pengukuran, penilaian, dan evaluasi. pengukuran adalah membandingkan sesuatu dengan suatu ukuran. pengukuran ini bersifat kuantitatif. Penilaian adalah mengambilan suatu keputusan terhadap sesuatu dengan ukuran baik dan buruk secara kualitatif. Sementara evaluasi adalah  mencakup pengukuran dan penilaian secara kuantitatif.

Namun dalam al-qur’an atau hadits, banyak sekali ditemui tolak ukur evaluasi dalam pendidikan islam misalnya tolak ukur sholat yg baik dan sempurna adalah mencegah orang dari perbuatan keji dan munkar. Tolak ukur watak seseorang yang beriman adalah bila melaksanakan sholat secara khusyuk, membayar zakat (lihat QS al-Nisa [4]: 162) menjaga kemaluan terhadap wanita yang bukan istri. tolak ukur perilaku seseorang yg beriman adalahmencintai saudaranya seperti mencintai dirinya sendiri (lihat, misalnya, QS,AL-Baqorah [2]: 148 ). Tolak ukur seseorang  yang munafik disebutkan oleh Nabi dalam tiga indikasi, yaitu dusta dalam berbicara, ingkar dalam berjanji, dan khianat apabila diberi kepercayaan (amanah) (Ramayulis dan Nizar, 2009: 235-236)

Kata evaluasi dalam wacana keislaman tidak dapat ditemukan padanan yang pasti, tetapi terdapat kata-kata tertentu yang mengarah pada makna evaluasi. Berikut ini penjelasan kata-kata tersebut.

1.      Al-Hisab, memiliki makna mengira, menafsirkan dan menghitung.

2.      Al-bala, makna cobaan, ujian.

3.       Al-hukm, memiliki makna putusan atau vonis.

4.       Al-qodha, memiliki makna putusan.

5.      Al-nazhr, memiliki arti melihat.[10]

Dalam pendidikan islam , tujuan evaluasi lebih ditekankan pada penguasaan sikap (afektif dan psikomotor) ketimbangan aspek kognitif (Nizar,2002:80). Penekanan ini bertujuan untuk mengetahui kemampuan peserta didik yang secra garis besar meliputi 4 hal yaitu sebagai berikut.

1)      Sikap dan pengalaman terhadap hubungan pribadinya dengan tuhannya.

2)      Sikap dan pengalaman terhadap arti hubungan dirinya dengan masyarakat.

3)      Sikap dan pengalaman terhadap arti hubungan kehidupan nya dengan alam sekitarnya.

4)      Sikap dan dan pandangan terhadap dirinya sendiri selaku hamba allah, anggota masyarakat, serta khalifah allah.[11]

B.     TUJUAN DAN FUNGSI EVALUASI PENDIDIKAN ISLAM         

Menurut Sumadi Suryabrata (1993: 34-48) tujuan evaluasi pendidikan dapat  di kelompokan dalam tiga klasifikasi.

1.      Klasifikasi berdasarkan  fungsinya, evaluasi bertujuan untuk memenuhi kebutuhan.

a.       Psikologis; evaluasi dipakai sebagai kerangka acuan kearah mana ia harus bergerak menuju tujuan pendidikan.

b.      Didaktik/instruksiona; evaluasi bertujuan memotivasi peserta didik, memberikan pertimbangan dalam penentuan bahan pengajaran dan mengajar, serta dalam kerangka mengadakan bimbingan-bimbingan secara khusus kepada peserta didik.

c.       Administratif /manajerial; bertujuan untuk pengisian buku rapor;menentukan indeks Prestasi, pengisian STTB,dan menngenai ketentuan kenaikan peserta didik.

2.      Klasifikasi berdasarkan keputusan pendidikan

Tujuan evaluasi dapat digunakan untuk mengambil keputusan individual, institutional, didaktik instruksional, dan keputusan –keputusan penelitian.

3.      Klasifikasi formatif dan sumatif

a.       Evaluasi formatif diperlukan untuk mendapatkanumpan balik guna untuk menyempurnakan perbaikan proses belajar mengajar.

b.      Evaluasi sumatif berfungsi untuk mengukur keberhasilan seluruh program pendidikan yang dilaksanakan pada akhir pelaksanaan proses belajar mengajar (akhir semster /tahun).[12]

Secara umum, ada empat  fungsi evaluasi dalam pendidikan islam;

1.      Dari segi pendidikan, evaluasi berfungsi untuk membantu seorang pendidik mengetahui sejauh mana hasil yang dicapaidalam pelaksanaan tugasnya.

2.      Dari segi peserta didik, evaluasi membantu peserta didik untuk dapat mengubah atau mengubah tingkah laku nya secara sadar kearah yang lebih baik.

3.      Dari segi ahli pemikir pendidikan islam,evaluasi berfumgsi untuk membantu para pemikir pendidikan islam mengetahui kelemahan teori-teori pendidikan islam dan membantu mereka dalam merumuskan kembali teori-teori pendidikan islam yang relevan dengan arus dinamika zaman yang senantiasa berubah.

4.      Dari segi politik pengambil kebijakan pendidikan islam (pemerintahan ) evaluasi berfungsi untuk membantu mereka dalam membenahi sistem pengawasan dan mempertimbangankan kebijakan yang akan diterapkan dalam sistem pendidikan islam.[13]  

      Tujuan utama melakukan evaluasi dalam proses belajar mengajar adalah untuk mendapatkan informasi  yang akurat mengenai tingkat pencapaian tujuan instruksionaloleh siswa sehingga dapat diupayakan tindak laanjut. Tindak lanjut termaksud merupakan fungsi evaluasi dan dapat berupa:

1)       Penempatan pada tempat yang tepat.

2)       Pemberian umpan balik.

3)       Diagnosis kesulitan belajar mengajar.

4)       Penentuan kelulusan.

   Untuk masing-masing tindak lanjut yang dikehendaki ini diadakan tes yang diberi nama:

1)         Tes penempatan.

2)         Tes formatif.

3)         Tes  diagnostik dan

4)         Tes sumatif.[14]

C.     SISTEM EVALUASI DALAM PENDIDIKAN ISLAM

Sistem evaluasi yang dijelaskan oleh Allah Swt dan Rasul-Nya yang berimplikasi pedagogis sebagai berikut:

1.      Untuk menguji daya kemampuan manusia beriman terhadap berbagai macam problema kehidupan yang dialami sesuai dengan Alquran surat Albaqarah ayat 155 :

وَلَنَبْلُوَنَّكُمْ بِشَيْءٍ مِنَ الْخَوْفِ وَالْجُوعِ وَنَقْصٍ مِنَ الأمْوَالِ وَالأنْفُسِ وَالثَّمَرَاتِ وَبَشِّرِ الصَّابِرِينَ

Artinya: “ Dan benar-benar Kami uji kamu manusia dengan sesuatu berupa rasa takut, rasa lapar dan kekurangan harta serta hilangnya jiwa berupa kematian serta kekurangan buah-buahan semacam paceklik namun demikian berilah kabar gembira bagi orang orang yang sabar.”

2.      Untuk mengetahui sejauh mana atau sampai dimana hasil pendidikan wahyu yang telah diaplikasikan oleh Rasulullah Saw kepada umatnya sesuai dengan Alquran surat an-Naml ayat 40 :

هَذَا مِنْ فَضْلِ رَبّي لِيَبْلُوَنِي أَأَشْكُرُ أَمْ أَكْفُرُ وَمَنْ شَكَرَ 

Artinya: “ … Ini adalah limpahan Karunia Tuhanku untuk menguji apakah aku adalah orang yang bersyukur atau tidak atas nikmat pemberianNya.”

3.      Untuk menentukan klasifikasi atau tingkat hidup keislaman atau keimanan seseorang, seperti pengevaluasian Allah terhadap Nabi Ibrahim yang meyembelih Ismail putera yang dicintainya.

4.      Untuk mengukur daya kognisi, hafalan manusia dari pelajaran yang telah diberikan padanya, seperti pengevaluasian terhadap Nabi Adam tentang asmaasma yang diajarkan kepadanya dihadapan para Malaikat.

5.      Memberikan semacam tabsyir (berita gembira) bagi yang beraktivitas baik, dan memberikan semacam iqab (siksa) bagi mereka yang beraktivitas buruk.

 

 

 

 

 

 

 

 

 

 

 

 

 

 

 

 

 

 

 

 

 

BAB III

PENUTUP

A.    SIMPULAN

Yang dimaksud dengan metodologi pendidikan Islam adalah cara yang dapat ditempuh dalam memudahkan pencapaian tujuan pendidikan Islam.

Evaluasi pendidikan Islam dapat diartikan sebagai suatu kegiatan untuk menentukan taraf kemajuan suatu  pekerjaan dalam proses pendidikan Islam.

Tujuan utama melakukan evaluasi dalam proses belajar mengajar adalah untuk mendapatkan informasi  yang akurat mengenai tingkat pencapaian tujuan instruksional oleh siswa sehingga dapat diupayakan tindak lanjut.

Sistem evaluasi yang dijelaskan oleh Allah Swt dan Rasul-Nya yang berimplikasi pedagogis sebagai berikut:

1.      Untuk menguji daya kemampuan manusia beriman terhadap berbagai macam problema kehidupan yang dialami.

2.      Untuk mengetahui sejauhmana atau sampai dimana hasil pendidikan wahyu yang telah diaplikasikan oleh Rasulullah saw. kepada umatnya.

3.      Untuk menentukan klasifikasi atau tingkat hidup keislaman atau keimanan seseorang.

4.      Untuk mengukur daya kognisi, hafalan manusia dari pelajaran yang telah diberikan padanya.

5.      Memberikan semacam tabsyir (berita gembira) bagi yang beraktivitas baik, dan memberikan semacam iqab (siksa) bagi mereka yang beraktivitas buruk.

B.     SARAN

Sebagai calon guru agama sudah seharusnya kita mengetahui evaluasi dalam pendidikan Islam dan menerapkannya.

 

 

 

 

 

 

 

DAFTAR PUSTAKA

 

Al-Thaumi al-Syaibani, Omar Muhammad,  Falsafah Pendidikan Islam, terj. Arifin                                          Langgulung, Jakarta: Bulan Bintang, 1979.

Armai, Arief, Pengantar Ilmu dan Metodologi Pendidikan Islam, Jakarta : Ciputat Press,                                 2002.

Mujib, Abdullah, Ilmu  Pendidikan Islam, Jakarta : Fajar Inter Pratama Uffset, 2008.

Nata, Abuddin, Filsafat Pendidikan Islam I, Jakarta: Logos Wacana Ilmu, 1997.

Poerbawakatja, Sugarda, Ensiklopedi Pendidikan, Jakarta: Gunung Agung, 1976.

Shaleh ‘Abd Allah, Abd Rahman, Teori-teori Pendidikan Berdasarkan Al-Qur’an,                                     terj. Arifin HM, judul asli: Educational Theory, a Qur’anic Outlook,                                               Jakarta: Rineka Cipta, 1991.  

 



[1] Omar Muhammad al-Thaumi al-Syaibani, Falsafah Pendidikan Islam, terj. Arifin Langgulung                                (Jakarta: Bulan Bintang, 1979), hlm. 551-552.

[2] Arief Armai, Pengantar Ilmu dan Metodologi Pendidikan Islam (Jakarta : Ciputat Press, 2002),                             hlm. 41.

[3]Abdullah Mujib,  Ilmu  Pendidikan Islam (Jakarta : Fajar Inter Pratama Uffset, 2008), hlm. 167.

[4] Abd Rahman Shaleh ‘Abd Allah, Teori-teori Pendidikan Berdasarkan Al-Qur’an, terj.Arifin HM, judul                 asli: Educational Theory, a Qur’anic Outlook, (Jakarta:Rineka Cipta, 1991), hlm. 198.   

[5] Drs. H. Abuddin Nata, MA., Filsafat Pendidikan Islam I, Jakarta: Logos Wacana Ilmu, 1997, hlm. 131.

[6] Sugarda Poerbawakatja, Ensiklopedi Pendidikan, Jakarta: Gunung Agung, 1976, hlm. 214, Sebagaimana               dikutip oleh Drs. Zuhairini, dkk., op.cit.,hlm. 120.

[7] Drs. Abuddin Nata, MA., Op.Cit., hlm. 131.

[8] Ibid., hlm. 132.

[9] Drs.Bukhari Umar ,M.Ag., Ilmu Pendidikan Islam, hlm. 193-194.

[10] Moh.Haitami Salim & Syamsul kurniawan, Study Ilmu Pendidikan Islam, hlm. 241-244.

[11] Drs. Bukhari Umar, Op. Cit., hlm. 197.             

[12] Moh.Haitami Salim & Syamsul kurniawan, Op.Cit.,hlm. 250.

[13] Drs.Bukhari Umar, Op. Cit., hlm.198

[14] Dra.Hj.Nur Uhbiyati, ilmu Pendidikan Islam(IPI), hlm.139

Tidak ada komentar:

Posting Komentar