Rabu, 15 Juli 2020

TEKHNIK PENULISAN KARYA ILMIAH

BAB II
PEMBAHASAN

A. Teknis Penyusunan Karya Tulis Ilmiah

            Dalam penyusunan karya tulis ilmiah yang perlu diperhatikan teknik-teknik penggunaan bahasa, tata cara penulisan, pengetikan format laporan, penulisan judul, penyajian gambar dan tabel, pencatuman kutipan, pembuatan catatan kaki, penataan daftar kepustakaan, penyusunan nama pada daftar kepustakaan, perbedaan penulisan catatan kaki dan daftar kepustakaan.[1]
Teknis Penulisan Karya Ilmiah
1. Pengunaan bahasa

2. Tata cara penulisan

3. pengetikan format laporan

4. penulisan judul

5. penyajian gambar dan table

6. Pencantuman kutipan

7.Pembuatan catatan kaki

8. Penulisan daftar pustaka

9. Penyusunan nama pada daftar kepustakaan

10. Perbedaan penulisan catatankaki dan daftar kepustakaan.

1. Penggunaan bahasa

Bahasa yang digunakan untuk mengungkapkan pikiran menjadi kalimat yang benar dan baik dalam karya tulis ilmiah di tanah air ini adalah indonesia. Karena itu perlu memahami kaidah-kaidah dalam bahasa Indonesia.

            Mesti dicermati sebuah kalimat dalam tulisan sehingga memberi pengertian yang utuh, kait mengait dengan kalimat lain sampai membentuk paragraf. Paragraf yang terdiri dari beberapa kalimat, merupakan satuan terkecil dari sebuah karangan. Membangun satuan pikiran sebagai bagian dari keseluruhan pesan yang disampaikan oleh penulis dalam karangannya dalam bentuk bagian demi bagian atau bab demi bab. Penulis ilmiah yang baik adalah perangkai paragraf demi paragraf dengan baik dalam setiap bagian atau bab.

Paragrafyang baik didahului penataan kalimat yang baik. Kalimat disusun dari deretan kata sesuai aturan dan kaidah bahasa. Selain kalimt memiliki pokok bahasan, yang disebut sebagai pokok kalimat ( subjek ), bagian kalimat lainnya memberikan pokok bahasan yang dinamakan sebutan ( predikat ). Pada karangan ilmiah harus digunakan kalimat yang lengkap. Setidak-tidaknya memiliki kedua unsur kalimat tersebut.

Pedoman Umum Ejaan Bahasa Indonesia yang yang disempurnakan berdasarkan Kepmen P dan K Nomor 0543/a/U/1997, menjadipedoman yang sebaiknya digunakan dalam penulisan karya ilmiah dalam bahasa Indonesia sepanjang masih berlaku. Pedoman tersebut secara rinci menjelaskan tata cara pemenggalan kata, ejaan dan peristilahan. Setidak-tidaknya pedoman tersebut dipunyai dan selalu dipakai oleh seseorang dalam menulis karya ilmiah yang disajikan dalam bahasa Indonesia.[2]

2. Tata Cara Penulisan

Penilaian karya tulis ilmiah, disamping memperhatikan isi materi yang disajikan, juga pada tampilan atau wujud fisik karya tlis tersebut Tampilan fisik tersebut meliputi format, kerapian dan kesesuaian penyajian dengan aturan penulisan ilmiah yang berlaku.

Ada beberapa variasi dalam wujud fisik penyajian karya tulis ilmiah. Namun pada prinsipnya satu sama lain tidak jauh berbeda.yang penting dipegangnya prinsip konsistensinya terhadap aturan yang dipakai.[3]

3. Pengetikan Format Laporan

Umumnya laporan penelitian karya tulis ilmiah, di tuliskan di atas kertas warna putih jenis HVS 80 gram atau 70 gram, ukuran lebar 21,5 cm x panjang 28 cm (sering disebut kuarto). Pengetikan dengan jenis huruf tertentu (umumnya jenis pica) yamg dilakukan hanya pada satu sisi kertas, tidak timbal balik.

Pada bagian pengantar tulisan, yang berdiri dari kata penngantar, daftar ini, daftar tabel, dftar gambaar da abstrak, diberi nomor halaman dengan ngka romawi kecil (i,ii,iii, ...dst). selanjutnya mulai di pendahuluan (Bagian Pertama atau Bab 1) sampai halaman terakhir dengan angka arab (1,2,3, dst). Nomor halaman dituliskan di tengah atau di sudut kanan atas halaman. Pada halaman yang mempunyai judul yang mempunyai judul bab dimana judul babnya dengan halaman tersendiri berpisah dari uraian bab sebelumnya, nomor halaman diletakan pada bagian bawah halaman adalah 1,5 cm. Bagi nomor halaman yang di letakan pada kanan atas pada kanan bawah margin teks, nomor diletakkan lurus dengan batas ketikan 1,5 cm. Batas-batas pengetikan pada kertas ialah; dari tepi 4 cm; Dari tepi kanan 3 cm; dari atas 4cm; sedangkan dari dari tepi bawah 3 cm. Jarak antara baris teks adalah 1,5 spasi atau 2 spasi, kecuali inti kutipan langsung, judul daftar tabel, daftar gambar, dan daftar kepustakaan menggunakan 1 spasi[4].   

4. Penulisan judul

Terdapat keragaman dalam tata cara penulisan judul. Hal terbaik yang dapat dilakukan Penulis adalah penyesuain dengan pedoman penulisan yang telah ditetapkan oleh instansi pamberi tugas ( bila ada ). Bila tidak pedoman ini dapat dipakai sebagai pegangan.

Judul bab ditulis dengan huruf besar (kapital), ditebalkan dan diatur sedemikian rupa hingga letaknya simetris di tengah halaman. Umumnya judul diletakkan di halaman baru. Jarak antara judul dengan teks diberi jarak 4 spasi. Judul tidak boleh ditempatkan dalam tanda kurung, tanda kutip, garis bawah, dan tidak boleh diakhiri dengan tanda titik.

Semua kata pada kalimat Judul Sub Bab dimulai dengan huruf kapital ( huruf besar ). Kecuali kata penghubung dan kata depan dan semuanya di beri garis bawah ( dengan menggunakan komputer, pemakaian garis bawah digantikan dengan penebalan huruf pada pengetikan ). Kalimat sub judul tidak diakhiri tanda titik. Terdapat dua pendapat dalam penempatan sub judul, yakni, dituliskan simetris di tengah halaman atau dituliskan rata kiri setelah nomor urut sub judul.

Judul sub-sub bab diketik rata rata kiri setelah nomor sub judul. Kalimat dimulai huruf besar ( hanya huruf awal kalimat saja yang lainnya huruf kecil saja), diberi garis bawah atau ditebalkan, serta diakhiri dengan titik. Kalimat pertama setelah judul, sub judul, maupun sub-sub judul dimulai dengan alinea baru.[5]

5.Penyajian gambar dan tabel

            Tulisan ilmiah umumnya dilengkapi dengan gambar, tabel, rumus-rumus atau persamaan-persamaan yang diletakan simetris terhadap tepi kiri dan kanan kertas. Setiap tabel dan gambar harus diberi nomor urut bab judul. Nomor urut menggunakan angka dua Arab yang dipisahkan oleh tanda titik-titik. Angka pertama menunjukan pada bab berapa tabel dan gambar itu berada. Sedangkan angka kedua menunjukan pada nomor urut atau gambar tersebut di bab yang bersangkutan. Misalnya: Gambar 2.1 artinya gambar pertama pada bab 2; Tabel 3.4 artinya tabel ke empat ada di bab 3. Nomor persamaan yang berbentuk matematis, ditulis dengan angka Arab di dalam kurung dan diletakan di batas tepi kanan.

            Judul tabel ditulis setelah nomor tabel dengan huruf kecil dan ditempatkan simetris  di atas tabel tanpa diakhiri dengan titik. Garis atas tabel dibuat rangkap atau tebal, sedangkan garis bawah hanya satu. Jika tabel itu mempunyai catatan  (misalnya menyatakan sumber acuan, menjelaskan singkatan yang tidak umum) dituliskan di bawah tabel, rata kiri. Untuk menghindari kekeliruan catatan tabel ditambahi dengan bintang, asterik, atau huruf. Hanya catatan untuk judul tabel tabel ditempatkan di tepi bawah halaman.

            Usahakan tabel jangan dipenggal. Bila hal itu terjadi, lanjutan tabel yang diletakan pada halaman berikutnya, nomor tabel dan kata “lanjutan” atau “bersambung” ke halaman berikutnya dituliskan. Di halaman tempat sambungan itu dituliskan sambungan tabel sebelumnya (Contoh: Tabel 3.2 lanjutan). Tabel terdiri dari kolom-kolom yang harus diberi nama dan pembatas yang tegas. Kalau jajaran kolom lebih panjang dan lebar kertas, maka bagian atas tabel sebaiknya diletakan di sebelah kiri kertas. Sedangkan tabel yang sangat lebar dan panjang sehingga harus dilipat seyogyanya diletakan dalam lampiran.

            Laporan penelitian juga sering dilengkapi dengan sajian gambar: Grafik, peta, foto, daftar alir, skedul dll. Penempatan gambar-gambar diusahakan sedekat mungkin dengan uraian dalam teks yang berkaitan dengan gambar tersebut. Gambar hendaknya disajikan pada bagian atau pada halaman sesudah uraian teksnya dan jangan sebaliknya.

            Setiap gambar harus mempunyai nomor gambar dan diikuti dengan judul gambar yang dibuat sedemikian rupa sehingga simetris terhadap gambar dan di letakan di bawah gambar (ingatlah: nomor dan judul tabel diletakan di atas tabel, sedangkan nomor dan judul gambar diletakan di bawah gambar). Keterangan gambar sebaliknya diletakan di tempat yang lowong  di dalam gambar. Gambar yang bentuknya memanjang sepanjang kertas, bagian atas gambar ditempatkan di sebelah kiri kertas.[6]

6. Pencatuman kutipan

Dalam penulisan karya tulis ilmiah sering kali dipergunakaan kutipan-kutipan untuk memperjelas dan menegaskan isi uraian atau untuk membuktikan apa yang dituliskan. Kutipan merupakan pinjaman kalimatatau pendapat orang lain. Cukup banyak hal-hal penting dan yang sudah ditulis dalam buku-buku. Penulis dapat mengutip pendapat tersebut, dengan syaratharus menyebutkan dari mana dan dimana pendapat itu diambil.

Terdapat dua macam kutipan yaitu kutipan lengkap dan kutipan isi. Kutipan lengkap artiny, teks asli dikutip secara lengkap kata dan kalimatnya. Sedangkan pada kutipan isi, hanya intisari pendapat yang dikutip. Kutipan lengkap haruw ditulis dengan tanda kutip. Kutipan yang terlalu panjang, hendaknya diambil yang benar-benar perlu saja.

Kutipan lengkap yang panjangnya tidak lebih dari empat baris dapat langsung dimasukkan dalam teks dengan diapit dengan tanda kutip. Sedangkan untuk kutipan isi tidak perlu diberi tanda kutip. Pad akhir kutipan di beri nomor untuk menunjukkan ( hal ini dilakukan bila penjelasan kutipan penulisan menggunakan catatan kaki seperti terurai di bawah ). Terdapat cara penunjukkan kutipan yang lain, yakni yang dikenal dengan cara Harvard. Menggunakan cara ini, pada akhir atau awal kutipan dituliskan nama pengarang dan tahun terbitan serta halaman buku acuan. Seringkali nomor yang dikutip juga di tuliskan. Berikut disajikan beberapa contoh : Suhardjono dan Mukidam (1993) menyatakan bahwa “....................”; Dan Julius, 1992 ( dalam Amiuza, 1991 : 12 )   menulis “ ....................” ( Mismail, 1984: 119).[7]

 

7. Pembuatan Catatan Kaki

Catatan kaki (footnotes) merupakan penjelsan keterangan isi dalam teks karangan yang ditempatkn di kaki di kaki halaman. Tujuan penjelasan itu dapat berupa (1)  sumber asal kutipan (bila cara ini di pakai); (2) keterangan tambahan lain yang perlu tentang isi keterangan; (3) merujuk bagian lain dari teks.

Catatan kaki dimaksudkan untuk memberikan informasi sumber asal kutipan harus mengungkapkakan (1) nama atau nama-nama penulis-penulis sebagai sumber perhatikan cara penulisan nama yang berbeda dengan cara penulisan nama pada daftar keperpustakaan); (2) judul buku /makalah tulisan atau sumber; (3) penerbi; (4) kota dan tahun terbit, nama penerbit berbeda dengan  daftar keperpustakaan yang harus menyebut nama penerbit; (5) halaman letak kutipan pada buku sumber.

Aturan penulisan catatan kaki ini berbeda dengan penulisan daftar pustaka yang tidak mencantumkan halaman. Pembatas antara masing-masing informasi menggunakan tanda koma dan tanda kurang (bedakan dengan daftar pustaka yang menandi tanda titik). Sumber kutipan dapat dibuku, majalah, surat kabar, wawancara, peraturan atau mengutip dari kutipan.

Penulisan catatan kaki adalah sebagai berikut: (1) harus diberikan nomor penunjukan pada teks yang dijelaskan; (2) diletakan dibawah garis (sepanjang 15 kutipan) yang berada 3 spasi di bawah teks bagian bawh; (3) masuk 5-7 ketikan dari sembir kiri; (4) menggunakan 1 spasi; (5) jarak antara  dua catatan kaki, sebanyak 2 spasi.

Catatan kaki disingkat dengan kata singkatan bahasa latin, seperti : ibid, op. Cit dan loc. Cit. Ibid (singkatan dari ibidem) artinya pada tempat yang sama pada halaman berbeda serta belum diantarai sumber lain. Singkatan ini dipakai bila catatakan kaki yang berikut menunjuk kepada sumber yang disebut pada catatan sebelumnya. Op. Cit (singkatan dari opera cicato) berarti pada karya yang telah dikutip dan halamannya berbeda, dipakai bila catatan kaki itu menunjuk pada sumber yang telah disebut dahulu, tetapi telah diselangi oleh catatan kaki yang lain. Sedankan loc, cit (dari loco cicato) artinya pada tempat yang telah dikutip pada halaman yang sama dan telah diantarai dan tidak dan tidk diantarai oleh sumber lain.

     Pedoman penyajian catatan kaki sering kali berbeda dari satu kepustakaan dengan yang lain. Sangat bijaksna untuk mengikuti pedoman dari pemberi tugas (bila ada). Bila tidak ada yang penting adalah ketaat-asasan (konsistensi) dalam tata cara penulisan. Artinya dalam satu karangan gunakan satu pedoman tata cara penulisn tertentu atau penggabungan yang dapat dipertanggungjawabkan secara aturan dan etika ilmu pengetahuan[8].

 

8. Penulisan daftar kepustakaan

Daftar kepustakaan (bibliography ) harus dapat memberikan informasi secara lengkap mengenai nama penulis, judul kepustakaan, keterangan penerbit dan waktu penerbitan. Dalam menuliskanya terdapat beberapa cara yang sedikit berbeda antara yang satu dengan lainnya.

Secara umum cara penulisan daftar kepustakaan adalah sebagai berikut:

a.       Jarak penulisan dalam satu sumber daftar kepustakaan dibuat satu spasi, sedangkan antara satu sumber kepustakaan dengan yang lainnya diberi jarak dua spasi;

b.      Huruf pertama rapat sembir kiri, sedang baris berikutnya mundur 5 ketukan dari sembir kiri sehingga ketukan pertama huruf adalah pada ketukan ke 6;

c.       Nam penulis disusun menurut abjad awal nama dan umumnya tidak perlu memberikan nomor urut;

Informasi disajikan sesuai urutan abjad awal nama pengarang, judul kepustakaan, keterangan penerbitan, tempat terbitnya dan waktu terbitan. Antar iformasi itu dipisahkan dengan tanda titik[9].

9.Penyusunan nama pada daftar kepustakaan

            Penyusunan nama pada daftar kepustakaan, seringkali membingungkan. Bila suatu kepustakaan mempunyai dua nama pengarang hendaknya diperhatikan cara penulisan nama pengarang pertama (nama keluarga dituliskan dibelakang).

            Penulisan nama di daftar kepustakaan tidak perlu dituliskan gelar kesarjanaan atau pangkatnya. Untuk nama indonesia yang

Hanya terdiri dari satu unsur, dituliskan sebagaimana adanya (misalnya: Suhardjono). Namun banyak nama yang terdiri dari dua unsur atau lebih. Untuk nama yang diikuti dengan nama ayah (Budiono Ismail), nama keluarga (Mohammad Farid Baradja), atau marga (Muchtar Lubis), maka nama ayah, nama keluarga, nama marga dituliskan terlebih dahulu dan disusul dengan unsur nama berikutnya setelah tanda koma.

            Saat ini makin sering juga dijumpai nama indonesia yang terdiri dari dua unsur atau lebih yang bukan merupakan gabungan nama ayah, keluarga atau marga misalnya: Riyanto Hariwibowo, Dwi Anita Rukmanasari, Sri Mulyani. Menuliskannya dilakukan dengan unsur nama terakhir diletakan di depan, jadi dituliskan sebagai berikut: Hariwibowo, Riyanto, Rukmanasari, Dwi Anita, Mulyana, Sri.

            Bila nama diikuti dengan gelar (Raden Udiyanto, Andi Adam) atau nama panggilan (Like Wilardjo) maka nama diri dituliskan terlebih dahulu dari gelarnya atau panggilannya (Udiyanto, Raden; Adam, Andi; Wilardjo, Like).

            Namun bila nama tersebut merupakan gabungan dari gelar, nama dan nama keluarga dilakukan terlebih dahulu (Nasution, Andi Hakim). Penulisan nama Bali (I Gusti Ngurah Adipara), dimulai dengan nama diri dan baru disusul unsur nama yang lain (Adipa, I Gusti Ngurah). Namun bila masih ada nama keluarga di belakangnya (I Wayan Wija Pagehgiri) dituliskan dengan menempatkan nama keluarga di depan (Pagehgiri, I Wayan Wija).

            Bila kepustakaan yang dirujuk tidak menunjukan nama penulisnya, dituliskan sebagai pengganti nama kata “anonim”.

            Secara umum, cara penulisan informasi tentang judul kepustakaan, keterangan penerbit, dan waktu penerbitan sama dengan aturan pada penulisan catatan kaki. Baik pada catatan kaki maupun daftar kepustakaan, nama judul sumber digarisbawahi atau dimiringkan.[10]

 

10. Perbedaan penulisan

a. pada catatan kaki nama diri ditulis terlebih dahulu ( contoh: Bodiono Mismail; J.E. Wert; Bambang Hadoyo; dan Stephen Kakisina ). Sedangkan pada daftar pustaka, nama keluarga, marga, ayah, ditulis terlebih dahulu (contoh: Mismail, Bodiono; Wert. J.E.; Handoyo, bambang dan kakisina, Stephen ).

b. pada catatan kaki antar informasi dipisahkan oleh tanda koma (contoh: Sri Harto, Hidrologi Terapan, Badan penerbit UGM, Yogyakarta, 1983, hal. 42 ). Sedangkan pada daftar kepustakaan dipisahkan oleh tanda titk (contoh: Harto, Sri. Hidrologi Terapan. Yogyakarta : Badan penerbit UGM, 1983).

.           c. Pada daftar kepustakaan perlu mencantumkan nama penerbitnya, misalnya: Gramedia; Mc. Graw Hill company; Badan Penerbit UGM; dll. Sedangkan pada catatan kaki tidak terlalu diperlukan dan kalau dicantumkan juga tidak salah.

            d. Pada daftar kepustakaan tidak perlu menuliskan halaman tempat di mana kutipan pustaka tersebut diambil, sementara pada kutipan dalam teks atau pada catatan kaki itu perlu.

            e. Urutan penulisan daftar kepustakaan mempunyai beberapa variasi, misalnya ada yang menempatkan tahun terbitan setelah nama penerbit, dan beragam variasi lain. Untuk kita pedomani saja contoh yang telah ada pada buku pedoman ini.

            Demikianlah sejumlah teknik penulisan karya tulis ilmiah untuk pegangan dasar dalam memulai rancangan penelitian, pengembangan, evaluasi serta pelaporannya, pembuatan makalah, artikel, naskah media elektronik, pembuatan buku, modul, diktat, terjemahan, saduran dan dll.[11]

Tujuan dan manfaat dari makalah ini ialah :

1. Dapat memahami Tehnik Penulisan Karya Ilmiah

2. Dapat memahami Pengunaan bahasa dalam penulisan Karya tulis Ilmiah.

3. Dapat membuat sebuah karya tulis dengan pengetikan format laporan, penulisan judul, penyajian gambar dan table yang baik.

4..Dapat menulis karya ilmiah dengan baik dan benar sesuai tehnik penulisan karya ilmiah.

 

 

 

 

Daftar Pustaka

 

DR. Nana Sudjan : Tuntunan Penyusunan Karya Ilmiah  Makalah-Skripsi-Tesis-Disertasi Sinar Baru 2003 Bandung

Dr. Mahsun, M.S. : Metodee penelitian Bahasa PT. Raja Grafindo 2005 Jakarta.

Daeng Nurjamal, M.Pd, Warta Sumirat, M.Pd.. : Penentuan Perkuliahan Bahasa Indonesia PT. Alfabeta 2010 Bandung.

Dra. Isah Cahyani :Bahasa Indonesia Direktorat Jendral pendidikan Islam 2009 Jakarta Pusat.

 



[1]Dr. Mahsun, M.S. : Metodee penelitian Bahasa  hal.105

  

  

[2] DR. Nana Sudjan : Tuntunan Penyusunan Karya Ilmiah  Makalah-Skripsi-Tesis-Disertasi hal. 115.

[3]DR. Nana Sudjan : Tuntunan Penyusunan Karya Ilmiah  Makalah-Skripsi-Tesis-Disertasi hal. 116..

 

[4]DR. Nana Sudjan : Tuntunan Penyusunan Karya Ilmiah  Makalah-Skripsi-Tesis-Disertasi hal. 117

[5]DR. Nana Sudjan : Tuntunan Penyusunan Karya Ilmiah  Makalah-Skripsi-Tesis-Disertasi hal. 119

Daeng Nurjamal, M.Pd, Warta Sumirat, M.Pd.. : Penentuan Perkuliahan Bahasa Indonesia  hal 63.

 

[6] DR. Nana Sudjan : Tuntunan Penyusunan Karya Ilmiah  Makalah-Skripsi-Tesis-Disertasi hal. 120. ,

  Dra. Isah Cahyani :Bahasa Indonesia Direktorat hal 35.

[7] DR. Nana Sudjan : Tuntunan Penyusunan Karya Ilmiah  Makalah-Skripsi-Tesis-Disertasi hal. 122.

[8] DR. Nana Sudjan : Tuntunan Penyusunan Karya Ilmiah  Makalah-Skripsi-Tesis-Disertasi hal. 120.

[9] DR. Nana Sudjan : Tuntunan Penyusunan Karya Ilmiah  Makalah-Skripsi-Tesis-Disertasi hal. 124.

[10] DR. Nana Sudjan : Tuntunan Penyusunan Karya Ilmiah  Makalah-Skripsi-Tesis-Disertasi hal. 125.

[11] DR. Nana Sudjan : Tuntunan Penyusunan Karya Ilmiah  Makalah-Skripsi-Tesis-Disertasi hal. 127.

 


Tidak ada komentar:

Posting Komentar