BAB
II
PEMBAHASAN
A. Teknis Penyusunan Karya Tulis Ilmiah
Dalam penyusunan
karya tulis ilmiah yang perlu diperhatikan teknik-teknik penggunaan bahasa,
tata cara penulisan, pengetikan format laporan, penulisan judul, penyajian
gambar dan tabel, pencatuman kutipan, pembuatan catatan kaki, penataan daftar
kepustakaan, penyusunan nama pada daftar kepustakaan, perbedaan penulisan
catatan kaki dan daftar kepustakaan.[1]
Teknis Penulisan Karya Ilmiah
1. Pengunaan bahasa
2. Tata cara
penulisan
3. pengetikan
format laporan
4. penulisan
judul
5. penyajian
gambar dan table
6. Pencantuman
kutipan
7.Pembuatan
catatan kaki
8. Penulisan
daftar pustaka
9. Penyusunan
nama pada daftar kepustakaan
10. Perbedaan
penulisan catatankaki dan daftar kepustakaan.
1. Penggunaan bahasa
Bahasa yang digunakan untuk mengungkapkan
pikiran menjadi kalimat yang benar dan baik dalam karya tulis ilmiah di tanah
air ini adalah indonesia. Karena
itu perlu memahami kaidah-kaidah dalam bahasa Indonesia.
Mesti dicermati
sebuah kalimat dalam tulisan sehingga memberi pengertian yang utuh, kait
mengait dengan kalimat lain sampai membentuk paragraf. Paragraf yang terdiri
dari beberapa kalimat, merupakan satuan terkecil dari sebuah karangan.
Membangun satuan pikiran sebagai bagian dari keseluruhan pesan yang disampaikan
oleh penulis dalam karangannya dalam bentuk bagian demi bagian atau bab demi
bab. Penulis ilmiah yang baik adalah perangkai paragraf demi paragraf dengan
baik dalam setiap bagian atau bab.
Paragrafyang
baik didahului penataan kalimat yang baik. Kalimat disusun dari deretan kata
sesuai aturan dan kaidah bahasa. Selain kalimt memiliki pokok bahasan, yang
disebut sebagai pokok kalimat ( subjek ), bagian kalimat lainnya memberikan
pokok bahasan yang dinamakan sebutan ( predikat ). Pada karangan ilmiah harus
digunakan kalimat yang lengkap. Setidak-tidaknya memiliki kedua unsur kalimat
tersebut.
Pedoman Umum
Ejaan Bahasa Indonesia yang yang disempurnakan berdasarkan Kepmen P dan K Nomor
0543/a/U/1997, menjadipedoman yang sebaiknya digunakan dalam penulisan karya
ilmiah dalam bahasa Indonesia sepanjang masih berlaku. Pedoman tersebut secara
rinci menjelaskan tata cara pemenggalan kata, ejaan dan peristilahan.
Setidak-tidaknya pedoman tersebut dipunyai dan selalu dipakai oleh seseorang
dalam menulis karya ilmiah yang disajikan dalam bahasa Indonesia.[2]
2. Tata Cara Penulisan
Penilaian karya tulis ilmiah, disamping
memperhatikan isi materi yang disajikan, juga pada tampilan atau wujud fisik
karya tlis tersebut Tampilan fisik tersebut meliputi format, kerapian dan
kesesuaian penyajian dengan aturan penulisan ilmiah yang berlaku.
Ada beberapa variasi dalam wujud fisik
penyajian karya tulis ilmiah. Namun pada prinsipnya satu sama lain tidak jauh
berbeda.yang penting dipegangnya prinsip konsistensinya terhadap aturan yang
dipakai.[3]
3. Pengetikan Format
Laporan
Umumnya laporan penelitian karya tulis
ilmiah, di tuliskan di atas kertas warna putih jenis HVS 80 gram atau 70 gram,
ukuran lebar 21,5 cm x panjang 28 cm (sering disebut kuarto). Pengetikan dengan
jenis huruf tertentu (umumnya jenis pica) yamg dilakukan hanya pada satu sisi
kertas, tidak timbal balik.
Pada
bagian pengantar tulisan, yang berdiri dari kata penngantar, daftar ini, daftar
tabel, dftar gambaar da abstrak, diberi nomor halaman dengan ngka romawi kecil
(i,ii,iii, ...dst). selanjutnya mulai di pendahuluan (Bagian Pertama atau Bab
1) sampai halaman terakhir dengan angka arab (1,2,3, dst). Nomor halaman
dituliskan di tengah atau di sudut kanan atas halaman. Pada halaman yang
mempunyai judul yang mempunyai judul bab dimana judul babnya dengan halaman
tersendiri berpisah dari uraian bab sebelumnya, nomor halaman diletakan pada
bagian bawah halaman adalah 1,5 cm. Bagi nomor halaman yang di letakan pada
kanan atas pada kanan bawah margin teks, nomor diletakkan lurus dengan batas
ketikan 1,5 cm. Batas-batas pengetikan pada kertas ialah; dari tepi 4 cm; Dari
tepi kanan 3 cm; dari atas 4cm; sedangkan dari dari tepi bawah 3 cm. Jarak
antara baris teks adalah 1,5 spasi atau 2 spasi, kecuali inti kutipan langsung,
judul daftar tabel, daftar gambar, dan daftar kepustakaan menggunakan 1 spasi[4].
4. Penulisan
judul
Terdapat
keragaman dalam tata cara penulisan judul. Hal terbaik yang dapat dilakukan
Penulis adalah penyesuain dengan pedoman penulisan yang telah ditetapkan oleh
instansi pamberi tugas ( bila ada ). Bila tidak pedoman ini dapat dipakai
sebagai pegangan.
Judul bab
ditulis dengan huruf besar (kapital), ditebalkan dan diatur sedemikian rupa
hingga letaknya simetris di tengah halaman. Umumnya judul diletakkan di halaman
baru. Jarak antara judul dengan teks diberi jarak 4 spasi. Judul tidak boleh
ditempatkan dalam tanda kurung, tanda kutip, garis bawah, dan tidak boleh
diakhiri dengan tanda titik.
Semua kata pada
kalimat Judul Sub Bab dimulai dengan huruf kapital ( huruf besar ). Kecuali
kata penghubung dan kata depan dan semuanya di beri garis bawah ( dengan
menggunakan komputer, pemakaian garis bawah digantikan dengan penebalan huruf
pada pengetikan ). Kalimat sub judul tidak diakhiri tanda titik. Terdapat dua
pendapat dalam penempatan sub judul, yakni, dituliskan simetris di tengah
halaman atau dituliskan rata kiri setelah nomor urut sub judul.
Judul sub-sub
bab diketik rata rata kiri setelah nomor sub judul. Kalimat dimulai huruf besar
( hanya huruf awal kalimat saja yang lainnya huruf kecil saja), diberi garis
bawah atau ditebalkan, serta diakhiri dengan titik. Kalimat pertama setelah
judul, sub judul, maupun sub-sub judul dimulai dengan alinea baru.[5]
5.Penyajian gambar dan tabel
Tulisan ilmiah
umumnya dilengkapi dengan gambar, tabel, rumus-rumus atau persamaan-persamaan
yang diletakan simetris terhadap tepi kiri dan kanan kertas. Setiap tabel dan
gambar harus diberi nomor urut bab judul. Nomor urut menggunakan angka dua Arab
yang dipisahkan oleh tanda titik-titik. Angka pertama menunjukan pada bab
berapa tabel dan gambar itu berada. Sedangkan angka kedua menunjukan pada nomor
urut atau gambar tersebut di bab yang bersangkutan. Misalnya: Gambar 2.1
artinya gambar pertama pada bab 2; Tabel 3.4 artinya tabel ke empat ada di bab
3. Nomor persamaan yang berbentuk matematis, ditulis dengan angka Arab di dalam
kurung dan diletakan di batas tepi kanan.
Judul tabel
ditulis setelah nomor tabel dengan huruf kecil dan ditempatkan simetris di atas tabel tanpa diakhiri dengan titik.
Garis atas tabel dibuat rangkap atau tebal, sedangkan garis bawah hanya satu.
Jika tabel itu mempunyai catatan
(misalnya menyatakan sumber acuan, menjelaskan singkatan yang tidak
umum) dituliskan di bawah tabel, rata kiri. Untuk menghindari kekeliruan
catatan tabel ditambahi dengan bintang, asterik, atau huruf. Hanya catatan
untuk judul tabel tabel ditempatkan di tepi bawah halaman.
Usahakan tabel
jangan dipenggal. Bila hal itu terjadi, lanjutan tabel yang diletakan pada
halaman berikutnya, nomor tabel dan kata “lanjutan” atau “bersambung” ke
halaman berikutnya dituliskan. Di halaman tempat sambungan itu dituliskan
sambungan tabel sebelumnya (Contoh: Tabel 3.2 lanjutan). Tabel terdiri dari
kolom-kolom yang harus diberi nama dan pembatas yang tegas. Kalau jajaran kolom
lebih panjang dan lebar kertas, maka bagian atas tabel sebaiknya diletakan di
sebelah kiri kertas. Sedangkan tabel yang sangat lebar dan panjang sehingga
harus dilipat seyogyanya diletakan dalam lampiran.
Laporan penelitian
juga sering dilengkapi dengan sajian gambar: Grafik, peta, foto, daftar alir,
skedul dll. Penempatan gambar-gambar diusahakan sedekat mungkin dengan uraian dalam
teks yang berkaitan dengan gambar tersebut. Gambar hendaknya disajikan pada
bagian atau pada halaman sesudah uraian teksnya dan jangan sebaliknya.
Setiap gambar
harus mempunyai nomor gambar dan diikuti dengan judul gambar yang dibuat
sedemikian rupa sehingga simetris terhadap gambar dan di letakan di bawah
gambar (ingatlah: nomor dan judul tabel diletakan di atas tabel, sedangkan
nomor dan judul gambar diletakan di bawah gambar). Keterangan gambar sebaliknya
diletakan di tempat yang lowong di dalam
gambar. Gambar yang bentuknya memanjang sepanjang kertas, bagian atas gambar
ditempatkan di sebelah kiri kertas.[6]
6. Pencatuman
kutipan
Dalam penulisan
karya tulis ilmiah sering kali dipergunakaan kutipan-kutipan untuk memperjelas
dan menegaskan isi uraian atau untuk membuktikan apa yang dituliskan. Kutipan merupakan
pinjaman kalimatatau pendapat orang lain. Cukup banyak hal-hal penting dan yang
sudah ditulis dalam buku-buku. Penulis dapat mengutip pendapat tersebut, dengan
syaratharus menyebutkan dari mana dan dimana pendapat itu diambil.
Terdapat dua
macam kutipan yaitu kutipan lengkap dan kutipan isi. Kutipan lengkap artiny,
teks asli dikutip secara lengkap kata dan kalimatnya. Sedangkan pada kutipan
isi, hanya intisari pendapat yang dikutip. Kutipan lengkap haruw ditulis dengan
tanda kutip. Kutipan yang terlalu panjang, hendaknya diambil yang benar-benar
perlu saja.
Kutipan lengkap
yang panjangnya tidak lebih dari empat baris dapat langsung dimasukkan dalam
teks dengan diapit dengan tanda kutip. Sedangkan untuk kutipan isi tidak perlu
diberi tanda kutip. Pad akhir kutipan di beri nomor untuk menunjukkan ( hal ini
dilakukan bila penjelasan kutipan penulisan menggunakan catatan kaki seperti
terurai di bawah ). Terdapat cara penunjukkan kutipan yang lain, yakni yang
dikenal dengan cara Harvard. Menggunakan cara ini, pada akhir atau awal kutipan
dituliskan nama pengarang dan tahun terbitan serta halaman buku acuan.
Seringkali nomor yang dikutip juga di tuliskan. Berikut disajikan beberapa
contoh : Suhardjono dan Mukidam (1993) menyatakan bahwa “....................”;
Dan Julius, 1992 ( dalam Amiuza, 1991 : 12 )
menulis “ ....................” (
Mismail, 1984: 119).[7]
7. Pembuatan Catatan
Kaki
Catatan kaki (footnotes) merupakan penjelsan keterangan isi dalam teks karangan
yang ditempatkn di kaki di kaki halaman. Tujuan penjelasan itu dapat berupa
(1) sumber asal kutipan (bila cara ini
di pakai); (2) keterangan tambahan lain yang perlu tentang isi keterangan; (3)
merujuk bagian lain dari teks.
Catatan kaki dimaksudkan untuk
memberikan informasi sumber asal kutipan harus mengungkapkakan (1) nama atau
nama-nama penulis-penulis sebagai sumber perhatikan cara penulisan nama yang
berbeda dengan cara penulisan nama pada daftar keperpustakaan); (2) judul buku
/makalah tulisan atau sumber; (3) penerbi; (4) kota dan tahun terbit, nama
penerbit berbeda dengan daftar
keperpustakaan yang harus menyebut nama penerbit; (5) halaman letak kutipan
pada buku sumber.
Aturan penulisan catatan kaki ini
berbeda dengan penulisan daftar pustaka yang tidak mencantumkan halaman.
Pembatas antara masing-masing informasi menggunakan tanda koma dan tanda kurang
(bedakan dengan daftar pustaka yang menandi tanda titik). Sumber kutipan dapat
dibuku, majalah, surat kabar, wawancara, peraturan atau mengutip dari kutipan.
Penulisan catatan kaki adalah sebagai
berikut: (1) harus diberikan nomor penunjukan pada teks yang dijelaskan; (2)
diletakan dibawah garis (sepanjang 15 kutipan) yang berada 3 spasi di bawah
teks bagian bawh; (3) masuk 5-7 ketikan dari sembir kiri; (4) menggunakan 1
spasi; (5) jarak antara dua catatan
kaki, sebanyak 2 spasi.
Catatan kaki disingkat dengan kata singkatan
bahasa latin, seperti : ibid, op. Cit dan loc. Cit. Ibid (singkatan dari ibidem) artinya pada tempat yang sama
pada halaman berbeda serta belum diantarai sumber lain. Singkatan ini dipakai
bila catatakan kaki yang berikut menunjuk kepada sumber yang disebut pada
catatan sebelumnya. Op. Cit (singkatan dari opera
cicato) berarti pada karya yang telah dikutip dan halamannya berbeda,
dipakai bila catatan kaki itu menunjuk pada sumber yang telah disebut dahulu,
tetapi telah diselangi oleh catatan kaki yang lain. Sedankan loc, cit (dari loco cicato) artinya pada tempat yang telah
dikutip pada halaman yang sama dan telah diantarai dan tidak dan tidk diantarai
oleh sumber lain.
Pedoman penyajian catatan kaki
sering kali berbeda dari satu kepustakaan dengan yang lain. Sangat bijaksna
untuk mengikuti pedoman dari pemberi tugas (bila ada). Bila tidak ada yang
penting adalah ketaat-asasan (konsistensi) dalam tata cara penulisan. Artinya
dalam satu karangan gunakan satu pedoman tata cara penulisn tertentu atau
penggabungan yang dapat dipertanggungjawabkan secara aturan dan etika ilmu
pengetahuan[8].
8. Penulisan
daftar kepustakaan
Daftar
kepustakaan (bibliography ) harus dapat memberikan informasi secara
lengkap mengenai nama penulis, judul kepustakaan, keterangan penerbit dan waktu
penerbitan. Dalam menuliskanya terdapat beberapa cara yang sedikit berbeda
antara yang satu dengan lainnya.
Secara umum
cara penulisan daftar kepustakaan adalah sebagai berikut:
a.
Jarak penulisan
dalam satu sumber daftar kepustakaan dibuat satu spasi, sedangkan antara satu
sumber kepustakaan dengan yang lainnya diberi jarak dua spasi;
b.
Huruf pertama
rapat sembir kiri, sedang baris berikutnya mundur 5 ketukan dari sembir kiri
sehingga ketukan pertama huruf adalah pada ketukan ke 6;
c.
Nam penulis
disusun menurut abjad awal nama dan umumnya tidak perlu memberikan nomor urut;
Informasi
disajikan sesuai urutan abjad awal nama pengarang, judul kepustakaan,
keterangan penerbitan, tempat terbitnya dan waktu terbitan. Antar iformasi itu
dipisahkan dengan tanda titik[9].
9.Penyusunan nama pada daftar kepustakaan
Penyusunan nama
pada daftar kepustakaan, seringkali membingungkan. Bila suatu kepustakaan
mempunyai dua nama pengarang hendaknya diperhatikan cara penulisan nama
pengarang pertama (nama keluarga dituliskan dibelakang).
Penulisan nama di
daftar kepustakaan tidak perlu dituliskan gelar kesarjanaan atau pangkatnya.
Untuk nama indonesia yang
Hanya terdiri dari satu unsur, dituliskan sebagaimana adanya
(misalnya: Suhardjono). Namun banyak nama yang terdiri dari dua unsur atau
lebih. Untuk nama yang diikuti dengan nama ayah (Budiono Ismail), nama keluarga
(Mohammad Farid Baradja), atau marga (Muchtar Lubis), maka nama ayah, nama
keluarga, nama marga dituliskan terlebih dahulu dan disusul dengan unsur nama
berikutnya setelah tanda koma.
Saat ini makin
sering juga dijumpai nama indonesia yang terdiri dari dua unsur atau lebih yang
bukan merupakan gabungan nama ayah, keluarga atau marga misalnya: Riyanto
Hariwibowo, Dwi Anita Rukmanasari, Sri Mulyani. Menuliskannya dilakukan dengan
unsur nama terakhir diletakan di depan, jadi dituliskan sebagai berikut:
Hariwibowo, Riyanto, Rukmanasari, Dwi Anita, Mulyana, Sri.
Bila nama diikuti
dengan gelar (Raden Udiyanto, Andi Adam) atau nama panggilan (Like Wilardjo)
maka nama diri dituliskan terlebih dahulu dari gelarnya atau panggilannya
(Udiyanto, Raden; Adam, Andi; Wilardjo, Like).
Namun bila nama
tersebut merupakan gabungan dari gelar, nama dan nama keluarga dilakukan
terlebih dahulu (Nasution, Andi Hakim). Penulisan nama Bali (I Gusti Ngurah
Adipara), dimulai dengan nama diri dan baru disusul unsur nama yang lain
(Adipa, I Gusti Ngurah). Namun bila masih ada nama keluarga di belakangnya (I
Wayan Wija Pagehgiri) dituliskan dengan menempatkan nama keluarga di depan
(Pagehgiri, I Wayan Wija).
Bila kepustakaan
yang dirujuk tidak menunjukan nama penulisnya, dituliskan sebagai pengganti
nama kata “anonim”.
Secara umum, cara
penulisan informasi tentang judul kepustakaan, keterangan penerbit, dan waktu
penerbitan sama dengan aturan pada penulisan catatan kaki. Baik pada catatan
kaki maupun daftar kepustakaan, nama judul sumber digarisbawahi atau
dimiringkan.[10]
10. Perbedaan
penulisan
a. pada catatan
kaki nama diri ditulis terlebih dahulu ( contoh: Bodiono Mismail; J.E. Wert;
Bambang Hadoyo; dan Stephen Kakisina ). Sedangkan pada daftar pustaka, nama
keluarga, marga, ayah, ditulis terlebih dahulu (contoh: Mismail, Bodiono; Wert.
J.E.; Handoyo, bambang dan kakisina, Stephen ).
b. pada catatan
kaki antar informasi dipisahkan oleh tanda koma (contoh: Sri Harto, Hidrologi
Terapan, Badan penerbit UGM, Yogyakarta, 1983, hal. 42 ). Sedangkan pada daftar
kepustakaan dipisahkan oleh tanda titk (contoh: Harto, Sri. Hidrologi Terapan.
Yogyakarta : Badan penerbit UGM, 1983).
. c. Pada
daftar kepustakaan perlu mencantumkan nama penerbitnya, misalnya: Gramedia; Mc.
Graw Hill company; Badan Penerbit UGM; dll. Sedangkan pada catatan kaki tidak
terlalu diperlukan dan kalau dicantumkan juga tidak salah.
d. Pada
daftar kepustakaan tidak perlu menuliskan halaman tempat di mana kutipan
pustaka tersebut diambil, sementara pada kutipan dalam teks atau pada catatan
kaki itu perlu.
e. Urutan
penulisan daftar kepustakaan mempunyai beberapa variasi, misalnya ada yang
menempatkan tahun terbitan setelah nama penerbit, dan beragam variasi lain.
Untuk kita pedomani saja contoh yang telah ada pada buku pedoman ini.
Demikianlah
sejumlah teknik penulisan karya tulis ilmiah untuk pegangan dasar dalam memulai
rancangan penelitian, pengembangan, evaluasi serta pelaporannya, pembuatan
makalah, artikel, naskah media elektronik, pembuatan buku, modul, diktat,
terjemahan, saduran dan dll.[11]
Tujuan dan
manfaat dari makalah ini ialah :
1. Dapat
memahami Tehnik Penulisan Karya Ilmiah
2. Dapat
memahami Pengunaan bahasa dalam penulisan Karya tulis Ilmiah.
3. Dapat membuat sebuah karya tulis
dengan pengetikan format laporan, penulisan judul, penyajian gambar
dan table yang baik.
4..Dapat menulis karya ilmiah dengan baik dan benar
sesuai tehnik penulisan karya ilmiah.
Daftar
Pustaka
DR. Nana Sudjan : Tuntunan Penyusunan Karya Ilmiah Makalah-Skripsi-Tesis-Disertasi Sinar Baru 2003 Bandung
Dr. Mahsun, M.S. : Metodee penelitian Bahasa PT. Raja Grafindo 2005 Jakarta.
Daeng Nurjamal, M.Pd, Warta Sumirat,
M.Pd.. : Penentuan Perkuliahan Bahasa Indonesia PT. Alfabeta 2010 Bandung.
Dra.
Isah Cahyani :Bahasa Indonesia Direktorat Jendral pendidikan Islam 2009 Jakarta Pusat.
[1]Dr. Mahsun, M.S. : Metodee penelitian Bahasa hal.105
[3]DR. Nana Sudjan : Tuntunan
Penyusunan Karya Ilmiah Makalah-Skripsi-Tesis-Disertasi hal. 116..
[4]DR. Nana Sudjan : Tuntunan
Penyusunan Karya Ilmiah Makalah-Skripsi-Tesis-Disertasi hal. 117
[5]DR. Nana Sudjan : Tuntunan
Penyusunan Karya Ilmiah Makalah-Skripsi-Tesis-Disertasi hal. 119
Daeng Nurjamal, M.Pd, Warta Sumirat,
M.Pd.. : Penentuan Perkuliahan Bahasa Indonesia hal 63.
[6] DR. Nana
Sudjan : Tuntunan Penyusunan Karya Ilmiah Makalah-Skripsi-Tesis-Disertasi
hal. 120. ,
Dra.
Isah Cahyani :Bahasa Indonesia Direktorat hal 35.
[7] DR. Nana
Sudjan : Tuntunan Penyusunan Karya Ilmiah Makalah-Skripsi-Tesis-Disertasi
hal. 122.
[8] DR. Nana
Sudjan : Tuntunan Penyusunan Karya Ilmiah Makalah-Skripsi-Tesis-Disertasi
hal. 120.
[9] DR. Nana Sudjan
: Tuntunan Penyusunan Karya Ilmiah Makalah-Skripsi-Tesis-Disertasi
hal. 124.
[10] DR. Nana
Sudjan : Tuntunan Penyusunan Karya Ilmiah Makalah-Skripsi-Tesis-Disertasi
hal. 125.
[11] DR. Nana Sudjan : Tuntunan Penyusunan Karya Ilmiah Makalah-Skripsi-Tesis-Disertasi hal. 127.
Tidak ada komentar:
Posting Komentar